Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Makan malam bersama musuh
Keheningan di dalam ruang sempit itu mendadak mengkristal, menyisakan gesekan halus udara yang keluar dari hidung Ayden. Tatapan mata pria itu tidak sedikit pun bergeser dari wajah pucat Aisyah, walau telapak tangannya masih mengelus sisa hangat pada gagang telepon rumah hitam di dinding.
Aisyah membalas tatapan itu dengan mata yang sepenuhnya kosong. Tidak ada kebohongan yang ia racik, tidak pula ada raut panik yang ia perlihatkan.
Ayden menarik napas panjang, lalu perlahan menyunggingkan sebuah senyuman tipis—sebuah senyum tanpa kehangatan yang amat mendinginkan suasana.
"Kau tak perlu menjawabnya sekarang di sudut sempit ini, Aisyah," ucap Ayden. Suaranya mengalun sangat tenang, namun terselip intonasi intrik yang mengancam. "Bi Sumi!" panggil Ayden dengan intonasi tinggi menembus lorong.
Bi Sumi setengah berlari datang dari arah pantry, wajahnya memucat ketakutan melihat atmosfer tegang di dekat perpustakaan. "I-iya, Mas Ayden?"
"Siapkan meja makan utama," perintah Ayden seraya memundurkan langkahnya, memberi jalan bagi Aisyah untuk keluar dari ruang sempit itu. "Gunakan taplak meja terbaik, nyalakan lilin, dan hidangkan menu makan malam formal terlengkap. Malam ini, aku dan istriku akan merayakan sesuatu yang sangat spesial."
"M-merayakan apa, Mas?" tanya Bi Sumi ragu-ragu.
Ayden melirik Aisyah dari sudut matanya. "Merayakan kejujuran. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi topeng, dan tidak ada lagi dinding sandiwara di antara kita berdua. Cepat siapkan."
"B-baik, Mas Ayden," sahut Bi Sumi cepat, lalu tergesa-gesa menyiapkan ruang makan.
Ayden memiringkan tubuhnya, menatap Aisyah yang masih membisu di tempatnya berdiri. "Ayo, Istriku. Mandilah dan berganti pakaian. Aku menunggumu di meja makan dalam tiga puluh menit."
Tiga puluh menit kemudian, area makan utama penthouse yang megah itu telah bertransformasi menjadi panggung jamuan yang asing. Di atas meja kayu jati raksasa yang dilapisi kain linen putih bersih, deretan lilin perak menyala remang, memantulkan pendar porselen mahal dan gelas-gelas kristal.
Aisyah melangkah kaku memasuki area makan. Ia mengenakan gaun satin hitam berlengan panjang—gaun pilihan Ayden yang tergantung di depan lemari. Wajahnya yang polos tanpa polesan rias tampak kontras dengan kemewahan suasana di sekelilingnya.
Ayden sudah duduk di ujung meja utama. Pria itu telah berganti kemeja hitam yang digulung hingga ke siku, memancarkan aura dominan yang mengintimidasi. Di hadapan mereka, tersaji steak daging wagyu, sup krim, serta hidangan pencuci mulut yang ditata sangat artistik oleh Bi Sumi.
"Duduklah, Aisyah," panggil Ayden seraya mengisyaratkan kursi di sisi kanan meja utama—kursi yang ditarik tepat berhadapan dengannya.
Aisyah melangkah pelan lalu duduk di kursi tersebut. Postur tubuhnya tegak, namun tatapannya lurus menatap piring kosong di hadapannya tanpa berniat menyentuh peralatan makan perak yang tersusun rapi.
Di sekeliling ruangan, suasana begitu hening hingga suara nyala api lilin seolah dapat terdengar. Bi Sumi dan Pak Broto berdiri cemas di area foyer yang agak jauh, tak berani mendekat sedikit pun.
Ayden memegang pisau dan garpu mewahnya, memotong sepotong kecil daging wagyu di piringnya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Ia mengunyahnya secara perlahan, menikmati kemewahan tekstur daging tersebut di dalam mulutnya sebelum menelannya.
Namun, Aisyah tetap bergeming bagaikan patung.
Ayden meletakkan pisau dan garpunya kembali ke atas piring porselen. Bunyi dentang halus logam yang membentur keramik bergema nyaring di dalam ruangan yang sunyi.
"Kenapa kau tidak menyentuh makananmu, Aisyah?" tanya Ayden, suaranya terdengar ramah namun sarat akan tuntutan mutlak. "Bi Sumi mengolahnya khusus sesuai standar restoran berbintang. Daging ini sangat lembut."
Aisyah tidak menjawab. Kelopak matanya bahkan tidak berkedip. Makanan mewah di hadapannya tak ubahnya tumpukan tanah kering yang tak memiliki rasa.
Ayden menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, meraih gelas kristal berisi jus anggur pekat, lalu meminumnya seteguk. Matanya menyipit halus, mengamati raut wajah kaku istrinya dari seberang meja.
"Aku tahu, Paman Haris pasti menceritakan hal-hal buruk tentangku di telepon tadi," cetus Ayden tiba-tiba, membuka percakapan dengan nada santai yang provokatif. "Pria tua itu pasti menyebutku iblis, predator, atau manusia tanpa nurani yang akan memusnahkan keturunan Surya Rahardja, bukan?"
Aisyah tetap membisu. Tidak ada reaksi terkejut atau bantahan yang keluar dari bibirnya.
Ayden terkekeh pelan—sebuah tawa kecil tanpa intonasi humor yang bergema dingin. "Haris Rahardja selalu menjadi pengecut. Dia melarikan diri saat Dinantara hancur, dan sekarang dia bertindak seolah-olah dia adalah pahlawan pelindungmu. Kasihan sekali."
Ayden mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang kedua siku tangannya di atas meja makan, menatap lurus ke arah Aisyah.
"Tapi mari kita abaikan Haris," lanjut Ayden, nada suaranya berubah menjadi lebih serius dan tertata. "Malam ini, semua kartu sudah terbuka di atas meja. Kau sudah tahu siapa aku. Kau sudah tahu apa yang kulakukan pada perusahaan papamu, dan kau sudah tahu alasan di balik pernikahan kita."
Ayden merentangkan tangannya sedikit ke udara.
"Dendam masa laluku pada Surya Rahardja sudah tuntas, Aisyah," tegas Ayden lisan. "Dinantara Utama sudah rata dengan tanah. Aset-asetnya sudah berpindah tangan ke perusahaanku. Hutang darah ayahku telah dibayar lunas oleh kematian papamu."
Aisyah memiringkan pandangannya sangat tipis, mendengar kata demi kata dari mulut pria yang telah meremukkan seluruh kehidupannya.
"Sekarang... skenario balas dendam itu telah berakhir," ucap Ayden lagi, suaranya merendah, mencoba menyuntikkan nada kehangatan yang manipulatif ke dalam artikulasinya. "Tapi kita masih berada di sini, Aisyah. Kita masih terikat dalam sebuah pernikahan yang sah di mata hukum dan agama."
"Pernikahan?" bisik Aisyah—itu adalah kata pertama yang keluar dari mulutnya malam itu. Suaranya terdengar begitu tipis, dingin, dan serak.
"Ya, pernikahan kita," sahut Ayden cepat, matanya berkilat penuh obsesi yang intens. "Aku memulainya dengan rencana dendam, aku mengakuinya. Tapi selama beberapa bulan kita hidup bersama di rumah ini... rasa peduliku padamu itu nyata, Aisyah. Aku tidak pernah memukulmu. Aku tidak pernah memperlakukanmu secara kasar secara fisik. Aku memberimu kehidupan terbaik yang bisa dibeli dengan uang."
Ayden mengulurkan tangan kanannya di atas meja, berniat meraih jemari Aisyah yang terbaring kaku di samping piring.
"Kita bisa membuka lembaran baru, Aisyah," bujuk Ayden, suaranya makin intens dan menuntut. "Kita bisa membangun masa depan hubungan ini di atas fondasi kejujuran yang baru saja kita tegakkan. Tidak ada lagi kebohongan di antara kita. Aku akan tetap menjadi suamimu, melindungimu, dan menjagamu di rumah ini. Kau hanya perlu menerimanya dan melupakan masa lalu papamu."
Keheningan yang amat tebal kembali menyergap meja makan tersebut. Lilin-lilin perak meliuk pelan tersiram angin halus dari pendingin udara.
Permintaan Ayden untuk membangun masa depan di atas puing-puing kehancuran keluarganya menggantung di udara bagaikan gurauan paling kejam yang pernah tercipta.
Aisyah perlahan menggeser tangannya sedikit ke samping, menolak sentuhan jemari Ayden tanpa perlu melakukan perlawanan histeris.
Ia mengangkat kepalanya secara perlahan. Manik matanya yang dulunya penuh dengan kehangatan cinta kini terkunci rapat, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Ayden.
Tidak ada amarah di dalam tatapan Aisyah. Tidak ada histeria, tidak ada isakan air mata, dan tidak ada lagi ketakutan yang tersisa. Wajah porselen itu benar-benar mengkristal menjadi topeng mati rasa yang teramat pekat.
Aisyah menatap pria di hadapannya seolah-olah Ayden hanyalah seonggok raga kosong yang tak lagi memiliki kuasa atas jiwa maupun raganya.
Dengan bibir yang memucat dan suara yang mengalun datar, dingin, serta tanpa getaran emosi sedikit pun, Aisyah mengucapkan satu kalimat mematikan:
"Kau telah mendapatkan kehancuranku, Ayden... lalu apa lagi yang kau inginkan dari bangkai ini?"
Deg!!!
Kalimat singkat yang diucapkan dengan nada begitu dingin dan hampa itu bergema keras di dalam area makan yang sunyi. Setiap kata yang meluncur dari bibir Aisyah menyusup masuk ke dalam indra pendengaran Ayden bagaikan dentuman palu berat yang dihantamkan tepat ke tengah dadanya.
Ayden tertegun kaku di atas kursinya.
Tangannya yang terulur di atas meja membeku seketika di udara. Senyuman manipulatif dan keangkuhan yang sejak tadi bertengger di wajah tampannya mendadak luntur tanpa bekas, digantikan oleh ekspresi syok yang teramat luar biasa.
Napas Ayden tertahan keras di pangkal tenggorokannya. Dadanya mendadak terasa begitu sesak dan menghimpit—sebuah sensasi ngilu yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Kata 'bangkai' yang diucapkan oleh istrinya sendiri menghantam kesadaran batinnya secara telak.
Ia telah memenangkan perang balas dendamnya. Ia telah menghancurkan Dinantara Utama. Ia telah menundukkan putri tunggal Surya Rahardja di dalam rumah mewahnya.
Namun, saat ia menatap mata Aisyah yang sepenuhnya hampa dan mati rasa malam itu, Ayden mendadak menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan: ia tidak sedang berhadapan dengan seorang korban yang kalah dan meratap, melainkan dengan sesosok raga tanpa jiwa yang telah ia bunuh sendiri dengan tangannya.
Aisyah tidak lagi membencinya. Aisyah tidak lagi mencintainya. Aisyah hanya... tidak lagi merasakan keberadaannya.
Ayden membuka mulutnya, mencoba membalas ucapan Aisyah. Coba menyusun kalimat perintah, ancaman, atau pembelaan diri yang biasa ia kuasai dengan sempurna dalam setiap perundingan bisnis papan atas.
Namun, tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Lidahnya terasa kelu dan membeku total.