NovelToon NovelToon
Suamiku, Beban Atau Rumah?

Suamiku, Beban Atau Rumah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trik Air Ibu Mata Mertua

Langkah kaki Eda menyusuri gang kontrakan pagi itu terasa jauh lebih ringan. Suara bantingan pintu yang dilakukan Agus di belakangnya tak lagi mampu menggetarkan nyalinya. Namun, Eda tahu betul karakter orang-orang di rumah itu. Ketika gertakan kasar dan bentakan tak lagi mempan, mereka akan berganti wujud menggunakan senjata paling ampuh yang selama belasan tahun ini selalu berhasil melumpuhkannya: rasa iba dan ratapan air mata.

Benar saja, sore harinya saat Eda melangkah pulang dari SD Harapan Bangsa, suasana rumah kontrakan tampak lengang dan muram secara tidak wajar. Tidak ada Doni yang duduk merokok di teras, tidak ada pula Rini yang biasanya mondar-mandir sambil mengomel.

Pintu depan rumah hanya tertutup separuh. Ketika Eda mendorong pintu kayu berpelitur pudar itu, aroma minyak kayu putih dan balsem menyengat hidungnya. Di atas sofa kain yang kusam di ruang tengah, Ibu Ratna terbaring miring dengan selimut batik tebal menutupi dadanya. Rini duduk di sampingnya sambil mengusap-usap dahi wanita tua itu dengan kain basah, sementara Agus berdiri di sudut ruangan dengan wajah dilipat ketus.

Melihat kehadiran Eda di ambang pintu, Rini langsung menghela napas panjang, sengaja dikencangkan agar terdengar menggema ke seluruh ruangan.

"Nah, datang juga kan orang yang dicari-cari," sindir Rini dengan nada menyayat. "Mbak Eda, lihat ini Mama dari tadi siang muntah-muntah dan badannya panas tinggi. Dari kemarin kepikiran mobil Mas Doni sama perlakuan Mbak Eda tadi pagi, tensi Mama langsung naik drastis."

Ibu Ratna yang terbaring merintih pelan, memegangi dadanya dengan mata terpejam rapat. "Aduh... dadaku sesak sekali... Ya Allah, kenapa anak yang saya kandung dan saya besarkan tega sekali buat mamanya sakit begini..."

Agus melangkah maju, menatap Eda dengan sorot mata penuh tuduhan. "Kamu puas sekarang, Ed? Gara-gara kamu mogok masak dan bentak-bentak tadi pagi, Mama jatuh sakit! Sebagai anak, di mana nuranimu melihat mamamu terbaring lemah begini?!"

Eda meletakkan tas kerjanya di atas meja dengan tenang. Ia berdiri diam sejenak, memperhatikan gerak-gerik ibunya. Jika ini terjadi setahun lalu, Eda dipastikan bakal panik setengah mati, menyalahkan diri sendiri, lalu merogoh seluruh sisa tabungannya atau meminjam uang ke sekolah demi membawa sang ibu ke rumah sakit terbaik demi menebus rasa bersalah.

Namun hari ini, Eda menarik napas panjang. Matanya yang tajam menangkap ritme napas sang ibu yang sebenarnya stabil dan gerakan matanya di balik kelopak yang sengaja dipejamkan erat-erat.

Eda melangkah mendekati sofa, lalu berlutut perlahan di samping ibunya. Ia menyentuh dahi Ibu Ratna dengan punggung tangannya. Hangat, tapi jelas bukan panas tinggi akibat demam parah.

"Ma," panggil Eda dengan suara yang sangat lembut, jernih, dan tenang. "Kalau Mama benar-benar sesak dan sakit parah, Eda antar ke Puskesmas kecamatan sekarang ya. Pak Manto tetangga sebelah punya motor dengan keranjang samping, Eda bisa minta tolong buat antar Mama."

Rintihan Ibu Ratna mendadak terhenti sejenak. Kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Eda dengan tatapan heran.

"Puskesmas?!" semprot Rini cepat-cepat sebelum Ibu Ratna sempat menjawab. "Puskesmas itu obatnya cuma generik, Mbak! Mana mempan buat penyakit jantung dan darah tinggi Mama! Harusnya dibawa ke rumah sakit swasta di kota, diperiksa dokter spesialis! Tapi ya itu... butuh uang jaminan masuk minimal dua juta rupiah hari ini juga. Mas Doni lagi tidak pegang uang sama sekali gara-gara mobilnya disita."

Nah, batuk Eda dalam hati. Ujung-ujungnya kembali ke angka nominal uang.

Eda berdiri kembali, menegakkan punggungnya. Ia menatap Rini, lalu beralih menatap Agus dan ibunya secara bergantian.

"Aku seorang guru PPPK, Mbak Rini, Agus," tutur Eda tanpa mengendurkan ketegasannya. "Kartu BPJS Kesehatan milik Mama aktif dan selalu aku bayar iurannya tiap bulan dari potongan gajiku. Di Puskesmas atau RSUD yang bekerja sama dengan BPJS, semua perawatan Mama dijamin penuh tanpa perlu bayar uang jaminan dua juta rupiah."

"Kamu itu tega sekali ya, Ed!" potong Agus dengan nada tinggi, menyela perkataan istrinya. "Masa orang tua sakit malah mau dibawa ke Puskesmas biasa?! Kamu kan bisa pinjam uang dulu ke koperasi sekolah atau minta kasbon sama Pak Burhan! Apa artinya uang dua juta dibanding keselamatan mamamu sendiri?!"

"Uang dua juta itu tidak ada, Agus," sahut Eda cepat, menembak lurus ke mata suaminya. "Dan aku tidak akan pernah mengajukan pinjaman baru lagi ke sekolah hanya untuk menutupi ketidakmampuan kalian. Kalau Mama memang benar-benar sakit dan butuh penanganan medis, ayo kita ke Puskesmas atau rumah sakit rujukan BPJS sekarang. Eda yang urus semua berkas dan obatnya."

Ibu Ratna yang mendengar keteguhan anak perempuannya itu seketika mengubah taktiknya. Wanita tua itu mendadak duduk tegak di sofa, menepis kain kompres di dahinya dengan kasar. Wajahnya yang tadi tampak layu kini memerah padam oleh rasa jengkel yang tak tertahankan.

"Tidak usah! Tidak usah bawa Mama ke mana-mana!" bentak Ibu Ratna dengan suara yang mendadak nyaring dan bertenaga, sama sekali hilang rintihan lemasnya. "Mama lebih baik mati di rumah ini daripada punya anak pelit dan hitung-hitungan sama orang tua sendiri! Kamu itu keras kepala, Eda! Kamu sudah berubah jadi anak durhaka sejak pegang gaji sendiri!"

Rini melongo melihat perubahan drastis mertuanya yang lupa berpura-pura sakit, sementara Agus membuang muka dengan napas gusar, merasa sandiwara mereka telah terbongkar mentah-mentah.

Eda menatap ibunya tanpa ada rasa marah atau dendam. Di dalam benaknya, rasa iba itu tetap ada sebagai seorang anak, tetapi ia sadar bahwa menyerahkan uang tunai hanya akan memberi makan kemalasan dan kepura-puraan mereka.

"Eda sayang sama Mama," ucap Eda pelan, suaranya tenang mengalun di ruang tengah yang hening. "Kalau Mama butuh obat rutin, Eda yang beli langsung ke apotek pakai resep dokter. Kalau Mama butuh makan, Eda yang masakkan bahan makanan sehat. Tapi kalau Mama dan kalian semua minta uang tunai untuk alasan yang tidak jelas... maaf, Eda tidak akan pernah kasih lagi."

Tanpa menunggu sahutan atau makian berikutnya, Eda mengambil tas kerjanya di atas meja. Ia melangkah menuju kamarnya, memutar kunci slot besi dari dalam, lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu yang dingin.

Di luar kamar, suara omelan Ibu Ratna dan sumpah serapah Agus kembali terdengar meredup. Namun di dalam kamar yang tenang itu, Eda menghembuskan napas panjang. Trik air mata yang selama belasan tahun mengurungnya dalam rasa bersalah kini telah runtuh, dan Eda tahu, benteng dirinya kini makin tak tergoyahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!