NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Ceklek.
Pintu terbuka sedikit, Rina muncul dengan wajah yang sangat pucat dan panik.
"M-maaf Pak Rahman, saya baru selesai memandikan Dimas."
"Ada perlu apa ya Pak?" tanya Rina dengan suara bergetar.
"Jangan bohong padaku."
"Suara mesin apa di dalam sana yang mendengung keras begitu?"
Rahman langsung mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
"Pak, tolong jangan masuk dulu!" Rina mencoba menahan tubuh Rahman namun tenaganya kalah.
Mata Rahman langsung tertuju pada sebuah alat berbentuk kotak besar di sudut ruangan.
Alat itu terlihat tua, berdebu, dan disambungkan dengan selang panjang yang mengarah ke kasur tempat anak Rina berbaring.
Mesin itu terus berbunyi keras menyedot listrik tanpa henti.
"Benda sialan apa ini?!" teriak Rahman marah sambil menunjuk mesin itu.
Rina langsung bersimpuh di lantai sambil menangis.
"Maafkan saya Pak, maafkan saya."
"Itu mesin konsentrator oksigen bekas, saya membelinya murah dari loakan."
"Untuk apa kamu pakai mesin sebesar ini di kontrakanku?!"
"Pantas saja tagihan listrikku jebol sampai delapan ratus ribu!"
Rahman berkacak pinggang menahan amarahnya yang memuncak.
"Dimas punya asma bawaan yang sangat parah Pak."
"Sejak dia demam tinggi minggu lalu, pernapasannya sering sesak kalau malam."
"Saya tidak punya uang untuk rawat inap di rumah sakit, jadi saya nekat beli mesin bekas ini."
Rina menjelaskan dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Rahman melihat ke arah kasur.
Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu sedang tidur dengan selang oksigen menempel di hidungnya.
Napas anak itu terdengar sedikit berat meskipun mesin sudah menyala.
"Kamu tahu kan aturan kontrakanku?"
"Membawa masuk elektronik berdaya besar tanpa izin dendanya sangat mahal!"
"Kamu harus bayar denda lima ratus ribu dan ganti uang tagihan listrikku!" bentak Rahman tanpa belas kasihan.
"Saya mohon Pak, jangan denda saya."
"Uang saya sudah habis untuk beli beras, saya janji akan mematikan mesinnya kalau siang."
Rina menyatukan kedua tangannya memohon ampun pada sang tuan tanah.
Di saat Rahman hendak mengusir Rina, suara mekanis sistem kembali berdering.
Ting!
[Peringatan: Ingat syarat khusus misi Anda.]
[Dilarang menjatuhkan denda finansial kepada pelaku.]
[Sistem menyarankan pengguna untuk menyita mesin bekas yang boros listrik tersebut dan memberikan solusi lain.]
Rahman mendengus kesal di dalam hatinya.
"Sistem sialan, kamu selalu menghalangiku menagih hakku."
"Lalu apa aku harus membiarkan anak ini mati sesak napas karena mesinnya kusita?"
[Sistem tidak pernah menyuruh pengguna membiarkan nyawa melayang.]
[Gunakan hadiah subsidi listrik 100 persen untuk menutupi kerugian Anda.]
[Beli alat nebulizer portabel hemat energi sebagai gantinya, anggap sebagai fasilitas khusus.]
Rahman menarik napas panjang untuk meredakan emosinya.
Ia harus memutar otak lagi agar tindakannya terlihat seperti tuan tanah yang kejam tapi solutif.
Ia tidak mau terlihat terlalu baik di depan Rina.
"Rina, bangun kamu."
Rahman menyuruh wanita itu berdiri dengan nada suara yang sedikit diturunkan.
Rina berdiri sambil mengusap air matanya ketakutan.
"Iya Pak?"
"Mesin rongsokan ini menyedot listrik terlalu besar dan suaranya mengganggu tetangga lain."
"Aku akan menyita mesin ini sekarang juga."
Rahman berjalan mendekati mesin itu dan langsung mencabut kabelnya dari stop kontak.
Suara mesin berdengung itu langsung mati seketika.
Anak itu yang sedang tidur sedikit menggeliat tidak nyaman.
"Jangan Pak, nanti anak saya tidak bisa bernapas!"
Rina kembali menangis panik dan mencoba merebut kabel itu.
"Diam dan dengarkan aku bicara dulu!" sentak Rahman tegas.
Rina langsung terdiam kaget, tidak berani melawan lagi.
"Mesin ini bahaya, kabelnya sudah mengelupas, bisa bikin kontrakanku kebakaran."
"Sebagai gantinya, sore ini aku akan membelikan alat uap portabel yang wattnya kecil."
"Aku tidak mau tahu, kamu harus pakai alat baru itu biar listrikku tidak jebol lagi."
Rahman menjelaskan keputusannya dengan wajah galak.
Rina melongo mendengar ucapan bapak kosnya.
"Bapak... bapak mau membelikan alat uap baru untuk Dimas?" tanyanya tidak percaya.
"Tentu saja tidak gratis, dasar wanita bodoh!"
"Kamu harus menyewanya dariku lima puluh ribu sebulan."
"Dan soal denda listrik hari ini, aku hapuskan karena mesin bututmu ini aku sita sebagai barang rongsokan."
Rahman mengarang alasan dengan sangat lancar agar gengsinya tetap terjaga.
Rina kembali menangis, tapi kali ini bukan tangisan ketakutan.
Ia menangis karena rasa syukur yang luar biasa.
Lima puluh ribu sebulan untuk sewa alat medis jauh lebih murah daripada ia harus menebus obat di rumah sakit.
"Terima kasih banyak Pak Rahman."
"Bapak benar-benar penolong keluarga saya, saya tidak tahu harus balas pakai apa."
Rina membungkuk berkali-kali di hadapan Rahman.
"Balas pakai uang sewa yang lancar, itu saja sudah cukup."
"Sekarang bereskan kamarmu, aku mau bawa rongsokan ini keluar."
Rahman mengangkat mesin berat itu dengan susah payah karena sisa kebugarannya sudah habis kemarin.
"Sini Pak, biar saya bantu angkat."
Rina segera membantu Rahman membawa mesin itu keluar kamar.
Ting!
[Misi Utama Harian Selesai.]
[Pengguna berhasil menemukan sumber kebocoran listrik dan menyelesaikan masalah tanpa denda finansial.]
[Penyewa Rina merasa sangat berutang budi dan tersentuh oleh kebaikan terselubung pengguna.]
[Hadiah: Tambahan umur 3 hari telah didistribusikan.]
[Hadiah: Subsidi tagihan listrik 100 persen Rp 800.000 telah ditransfer ke dompet pengguna.]
Rahman meletakkan mesin berat itu di gudang belakang dengan napas ngos-ngosan.
Ia langsung merogoh saku celananya.
Benar saja, ada tambahan uang delapan ratus ribu di dalam dompetnya yang tipis.
"Hahaha, sistem ini memang tahu cara membuatku bekerja sama."
"Aku bisa bayar tagihan listrik pakai uang ini, lalu pakai sisa pemasukanku untuk beli alat uap kecil."
"Masih ada untung bersih kalau dia bayar uang sewa alat itu bulan depan."
Rahman tersenyum puas menghitung perhitungan bisnisnya di gudang yang gelap.
Tanpa ia sadari, keputusannya hari ini telah menyelamatkan nyawa seorang anak kecil.
Dan diam-diam, para penyewa yang melihat Rahman membawa mesin tua itu keluar mulai menaruh rasa hormat.
Maya yang sedari tadi mengintip dari balik pintu kamarnya hanya bisa tersenyum simpul.
"Pak Rahman itu mulutnya memang pedas dan pelitnya minta ampun."
"Tapi anehnya, belakangan ini dia selalu punya cara buat menolong orang yang sedang susah."
Maya bergumam sendiri sebelum kembali menutup pintu kamarnya.
Sore harinya, Rahman benar-benar kembali dari apotek membawa sebuah kotak alat nebulizer baru.
Ia menyerahkan kotak itu kepada Rina tanpa banyak bicara.
"Ini alatnya, baca sendiri buku petunjuknya."
"Ingat, uang sewa alat ini ditagih sekalian sama uang kos bulan depan."
Rahman langsung berbalik pergi sebelum Rina sempat mengucapkan terima kasih lagi.
Malam itu, tidak ada lagi suara mesin berdengung keras yang mengganggu.
Hanya terdengar suara jangkrik dan embusan napas anak kecil yang jauh lebih tenang dan teratur berkat alat uap portabel yang baru.
Rahman duduk di teras kamarnya, menikmati secangkir teh hangat dengan perasaan yang sangat damai.
"Menjadi rentenir berhati emas ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan."
Rahman menutup matanya, menikmati sisa umur yang terus bertambah sedikit demi sedikit.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...