Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhadapan Dengan Kulkas Dua Pintu
Hari ketiga Andrian di NSM Company dimulai dengan kepanikan luar biasa di divisi operasional. Budi berlari-lari kecil melintasi kubikel sambil memegang setumpuk map, sementara Fajar terlihat memijat pangkal hidungnya di depan layar komputer.
“Kenapa Raka harus tipus di hari presentasi bulanan?!” keluh Budi dengan suara tertahan. Raka adalah staf senior yang biasanya mendampingi Fajar dan Budi saat presentasi laporan evaluasi di depan jajaran direksi.
Fajar menoleh dengan tajam, matanya menyapu seisi ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat di meja anak magang yang sedang sibuk mengetik.
“Andrian.”
Andrian mendongak. Fajar sudah berdiri di depannya dengan wajah tegang. “Kamu ikut saya dan Budi ke lantai VIP jam sepuluh nanti. Kamu yang bertugas mengoperasikan slide presentasi dan membagikan hardcopy laporan ke jajaran direksi.”
“S-Saya, Mas?” Andrian menunjuk dirinya sendiri, matanya melotot. “Tapi saya kan cuma anak magang. Rendy atau Doni aja gimana?”
Rendy dan Doni yang duduk tidak jauh dari sana mendadak pura-pura sangat sibuk menatap layar monitor yang sebenarnya hanya menampilkan desktop wallpaper.
“Kamu yang paling hafal data kuartal lalu karena kamu yang merangkum semuanya dua hari kemarin,” putus Fajar tidak menerima bantahan. “Pakai jas almamatermu, rapikan rambutmu, dan jangan sampai salah menekan tombol next di proyektor. Kalau kamu membuat kesalahan di depan Bu Elena, kita bertiga akan berakhir di jalanan besok pagi.”
Satu jam kemudian, Andrian mendapati dirinya berdiri di sudut ruang rapat VVIP yang luar biasa luas dan dingin. Meja oval panjang dari kayu mahoni mendominasi bagian tengah ruangan. Kursi-kursi kulit berwarna hitam telah terisi oleh beberapa manajer tingkat atas. Fajar dan Budi berdiri di dekat layar proyektor dengan wajah pucat pasi. Andrian menelan ludah, memegang clicker presentasi dengan tangan yang sedikit berkeringat.
Pintu ganda ruang rapat terbuka. Ruangan yang tadinya dipenuhi gumaman rendah langsung hening seketika.
Maya melangkah masuk lebih dulu, berdiri di sisi pintu dengan tablet di tangannya. Detik berikutnya, Elena masuk.
Andrian menahan napas. Ini adalah pertama kalinya dia melihat CEO itu dalam jarak sedekat ini. Elena mengenakan setelan jas abu-abu arang yang dipotong sempurna, membalut tubuhnya dengan siluet otoritas yang tidak terbantahkan. Wajahnya cantik, luar biasa cantik—namun kecantikan itu seolah dipahat dari bongkahan es. Tidak ada senyum. Tidak ada keramahan. Tatapannya sedingin pisau bedah saat dia berjalan menuju kursi utama di ujung meja.
“Mulai,” kata Elena pelan begitu dia duduk. Suaranya tidak keras, tetapi gaungnya menguasai seluruh ruangan.
Fajar berdeham, mencoba mengendalikan kegugupannya, dan mulai melakukan presentasi. Andrian bertugas menekan clicker untuk mengganti slide tepat pada waktunya. Sepuluh menit pertama berjalan lancar. Namun, ketika presentasi memasuki bagian evaluasi vendor operasional, bencana terjadi.
“Tunggu,” potong Elena tiba-tiba. Suaranya menghentikan kalimat Fajar di udara.
Elena menatap layar proyektor dengan mata memicing, lalu beralih menatap Fajar. “Angka margin di kuartal ketiga untuk vendor logistik. Kenapa ada selisih dua persen dari laporan bulan lalu? Jelaskan anomalinya.”
Fajar membeku. Budi yang berdiri di sebelahnya mulai berkeringat dingin. Mereka berdua sama-sama tahu bahwa data itu adalah bagian yang dikerjakan oleh Raka yang sedang terbaring di rumah sakit. Fajar mencoba mencari jawaban, membolak-balik catatannya dengan panik.
“I-Itu, Bu... sepertinya ada penyesuaian tarif dari pihak vendor pada bulan Agustus yang—”
“Saya tidak butuh 'sepertinya', Fajar,” potong Elena dingin. Tatapannya menembus pertahanan supervisor itu. “Saya butuh data pasti. Anda presentasi di depan saya tanpa mengetahui akar masalah dari angka yang Anda tampilkan?”
Keheningan yang mencekik menyelimuti ruangan. Manajer lain menundukkan kepala, tidak berani ikut campur saat Sang Ratu Es sedang mengeksekusi mangsanya.
Di sudut ruangan, Andrian menggigit bibir bawahnya. Dia ingat angka itu. Dia sangat ingat karena dia sendiri yang mengetik ulang data kotor tersebut sampai matanya perih dua hari yang lalu. Sebelum otaknya sempat mencegah mulutnya bertindak bodoh, Andrian bersuara.
“Selisih dua persen itu bukan karena penyesuaian tarif, Bu.”
Seluruh kepala di ruang rapat menoleh serempak ke arah sumber suara. Ke arah seorang anak magang berjas almamater yang berdiri di sudut ruangan. Mata Fajar membelalak horor, memberi isyarat agar Andrian diam.
Namun, Elena tidak marah. Dia perlahan memutar kursinya, menatap langsung ke arah Andrian. Mata cokelat gelap milik sang CEO bertemu dengan mata Andrian. Ada kilatan kecil yang melintas di mata Elena—sebuah kilatan geli yang tersembunyi dengan sangat rapi.
“Oh?” nada suara Elena tetap datar. “Lalu karena apa?”
Andrian menelan ludah kasar. Auranya dari dekat benar-benar mengintimidasi. Dia memaksakan diri menatap kembali mata CEO tersebut.
“K-Karena ada penundaan pengiriman akibat cuaca buruk di awal September, yang memaksa perusahaan menggunakan jalur logistik udara darurat untuk dua proyek utama,” jelas Andrian, suaranya sedikit bergetar namun artikulasinya jelas. “Biaya surcharge udara itu yang menyebabkan margin terpotong dua persen. Datanya ada di lampiran tiga, halaman empat puluh dua.”
Ruangan kembali hening. Maya dengan cepat membuka tabletnya, memeriksa halaman yang disebutkan, lalu mengangguk kecil ke arah Elena, mengonfirmasi bahwa ucapan anak magang itu akurat.
Elena terdiam selama beberapa detik. Dia terus menatap Andrian, membuat pemuda itu merasa seolah sedang diadili di pengadilan militer.
“Siapa namamu?” tanya Elena akhirnya.
“Andrian Pratama, Bu. Anak magang divisi operasional.”
“Andrian,” ulang Elena pelan, seolah sedang mengecap nama itu di lidahnya. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Setidaknya ada satu orang dari divisi operasional yang benar-benar membaca laporan sebelum masuk ke ruangan ini. Lanjutkan, Fajar.”
Fajar nyaris merosot ke lantai saking leganya. Presentasi kembali dilanjutkan, dan Andrian tidak berani mengeluarkan satu patah kata pun sampai rapat selesai.
Begitu Elena dan Maya keluar dari ruangan, Budi langsung memeluk Andrian dengan dramatis. “Ndri! Lu penyelamat nyawa gue sama Fajar! Asli, gue udah mikir mau buka warung pecel lele besok kalau sampai dipecat tadi.”
“Sumpah, Mas, jantung saya mau copot. Tatapannya serem banget,” keluh Andrian sambil bersandar ke dinding, kakinya terasa lemas.
Sore harinya, saat jam kerja hampir berakhir, Andrian bersembunyi di toilet kantor. Dia butuh ketenangan. Tentu saja, hal pertama yang dia lakukan adalah membuka ruang obrolannya dengan Elena.
> Andrian: Len, lu harus tahu. Hari ini gue hampir mati jantungan.
Hanya butuh sepuluh detik sebelum notifikasi balasan muncul.
> Elena: Kenapa? Bos kulkas dua pintumu itu marah lagi?
> Andrian: Lebih parah. Gue dibawa ke ruang rapat direksi. Dia nanya data yang bos gue nggak bisa jawab, terus dengan bodohnya gue yang nyaut. Dia natap gue, Len! Matanya tajem banget kayak mau nelan orang hidup-hidup. Pas dia nanya nama gue, rasanya gue mau pingsan di tempat.
Di dalam ruangannya yang nyaman, Elena menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha keras menahan tawa agar tidak terdengar oleh Maya di luar. Membayangkan wajah pucat Andrian saat di ruang rapat tadi membuat mood kerjanya sangat luar biasa hari ini.
> Elena: Tapi kamu selamat, kan? Dia tidak memakanmu. Mungkin dia sebenarnya terkesan padamu, Andrian.
> Andrian: Terkesan apanya? Muka dia datar banget. Nggak ada senyum-senyumnya acan. Kalau lu jadi gue, lu pasti juga ikutan tremor, Len. Untung gue inget lu bilang jangan nilai orang dari luarnya aja. Jadi gue berusaha mikir positif kalau dia mungkin lagi sakit gigi makanya jutek banget.
Elena akhirnya melepaskan tawa kecilnya. Sakit gigi, batinnya geli. Pemuda ini benar-benar tidak punya rasa takut di dunia maya.
> Elena: Kamu berani sekali mengatai bosmu sakit gigi. Bagaimana kalau ternyata dia diam-diam menyukaimu karena keberanianmu tadi?
Andrian membalas dengan sangat cepat, seolah jijik dengan ide tersebut.
> Andrian: Hahaha! Ngaco! Kalau Ratu Es itu sampai suka sama gue, gue traktir lu makan sepuasnya, Len. Orang kayak dia itu nggak punya waktu buat cinta-cintaan. Hidupnya isinya cuma grafik saham sama margin laba. Udah ah, gue mau siap-siap pulang. Lu jangan lembur terus, ntar tua di jalan.
Elena menatap layar ponselnya, membaca baris demi baris pesan itu dengan senyum yang belum pudar. Jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme pelan.
"Traktir makan sepuasnya, ya," gumam Elena pelan. "Aku akan memegang janji itu, Andrian."
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨