Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 - DARAH DI TANGAN KAEL
Suara derit berat dari roda gigi mekanis memecah keheningan yang mencekam di dalam bunker. Terali baja setebal lengan orang dewasa yang memisahkan ruang utama dengan lorong pintu masuk perlahan-lahan ditarik ke atas.
Dari balik bayangan lorong yang dipenuhi debu beton itu, sosok Kael muncul.
Langkah pria raksasa itu terdengar berat dan terseret. Kemeja hitam yang tadi pagi dia pakai kini sudah hancur tak berbentuk, robek di sana-sini menampilkan kulitnya yang dipenuhi memar baru. Perban di bahu kanannya sudah jebol total, kain putihnya berubah warna menjadi merah gelap yang anyir. Peluh bercampur darah dan kotoran menutupi wajahnya, mengaburkan fitur ketampanannya dan menyisakan aura predator murni yang baru saja selesai berpesta nyawa.
Setiap kali sepatu bot Kael menginjak lantai beton, ada jejak noda merah yang tertinggal. Darah menetes konstan dari ujung-ujung jarinya yang masih terbalut plester hitam olahraga yang kini basah kuyup oleh darah musuh.
Di tengah ruangan, Valeria masih berdiri mematung di dekat meja monitor. Napasnya tertahan. Matanya yang membulat sempurna tidak bisa lepas dari sosok pria yang sedang berjalan ke arahnya itu.
Seumur hidupnya, Valeria sudah sering melihat darah. Dia pernah menyiksa musuh. Dia pernah melihat orang ditembak mati di depan matanya. Dia pikir, dia sudah cukup kejam untuk disebut sebagai iblis betina di dunia bawah.
Tapi melihat Kael saat ini... Valeria baru sadar bahwa kekejamannya selama ini tidak ada apa-apanya. Dia hanyalah seorang anak kecil yang bermain dengan pistol, sementara pria yang selama sepuluh tahun berdiri diam di belakang punggungnya ini adalah dewa kematian itu sendiri. Kael membantai dua belas pembunuh bayaran elit—pasukan *Ghost Hounds* yang ditakuti satu benua—hanya dengan tangan kosong dalam waktu kurang dari lima menit.
Kael berhenti melangkah saat jarak mereka tersisa sekitar tiga meter.
Adrenalin gila yang sejak tadi membakar urat nadi Kael perlahan mulai surut, digantikan oleh kesadaran yang menamparnya dengan keras. Kael menatap Valeria yang berdiri kaku, menatap matanya yang membelalak lebar.
Insting pertama Kael bukanlah rasa bangga karena sudah memenangkan pertarungan mematikan itu, melainkan rasa panik yang merayap di dadanya. Kael takut. Dia takut tatapan mematung Valeria itu adalah tatapan jijik. Dia takut ratunya melihat wujud aslinya yang mengerikan dan memutuskan bahwa dia memang monster menjijikkan yang tidak pantas berada di dekat manusia.
Dengan gerakan canggung yang terlihat sangat menyedihkan untuk ukuran seorang pembantai, Kael perlahan menyembunyikan kedua tangannya yang berlumuran darah ke belakang punggungnya. Pria itu menundukkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Valeria.
"Situasinya sudah aman, Nyonya," lapor Kael pelan, suaranya terdengar sangat serak dan bergetar menahan nyeri yang mulai meledak di sekujur tubuhnya. "Mereka semua sudah mati. Tidak ada yang lolos untuk melapor pada Surya."
Valeria tidak menjawab. Matanya turun menatap tetesan darah yang jatuh dari balik punggung Kael ke lantai beton yang bersih.
Suasana hening itu benar-benar menyiksa Kael. Rasa *insecure* yang selama ini dia kubur dalam-dalam kini menggerogoti kewarasannya.
"Maafkan saya, Val," gumam Kael mundur satu langkah, suaranya terdengar semakin lirih. "Saya akan membersihkan diri. Tolong jangan mendekat. Saya... saya sangat kotor. Darah mereka menempel di mana-mana."
Kael baru saja hendak berbalik menuju kamar mandi di sudut ruangan, ketika sebuah suara yang tegas menghentikan langkahnya.
"Diam di situ, Kael."
Kael membeku. Pria itu menoleh perlahan, masih dengan tangan disembunyikan di belakang punggung.
Valeria melangkah maju. Kakinya yang telanjang menginjak lantai beton yang dingin. Rasa kebas di betisnya akibat infeksi sama sekali tidak dia pedulikan. Mata wanita itu tidak lagi memancarkan syok atau ketakutan, melainkan sebuah intensitas luar biasa yang seolah ingin menelanjangi jiwa Kael.
Valeria berhenti tepat di depan pria raksasa itu. Jarak mereka sangat dekat, hawa panas dari tubuh Kael yang bercampur bau anyir darah menusuk hidung Valeria. Tapi wanita itu sama sekali tidak mundur.
Tanpa mengatakan apa-apa, Valeria mengulurkan kedua tangannya ke arah punggung Kael.
"Val, jangan. Tangan saya—"
"Keluarkan tanganmu," sela Valeria mutlak, nadanya tidak menerima bantahan apa pun.
Kael menelan ludah dengan susah payah. Dengan ragu dan enggan, pria itu memindahkan tangannya dari belakang punggung ke depan dada.
Valeria meraih kedua tangan raksasa itu. Dia tidak peduli darah merah pekat dan kental itu kini menodai telapak tangannya sendiri yang bersih. Valeria menunduk, menatap lekat-lekat kepalan tangan Kael yang masih terbalut plester hitam. Di sela-sela plester itu, kulit Kael robek dan memar parah akibat menghantam helm *kevlar* dan pelat baja berulang kali.
Tangan ini yang meremukkan tengkorak musuh. Tangan ini yang mematahkan tulang leher tanpa ampun. Tangan yang sama dengan tangan yang tadi malam mengompres dahinya dengan sangat lembut saat dia demam tinggi.
Valeria mengusap punggung tangan Kael dengan ibu jarinya yang kini ikut berlumuran darah. Sensasi hangat dan lengket dari darah itu membuat dada Valeria bergemuruh hebat.
"Kamu gila," bisik Valeria memecah keheningan, matanya masih menatap tangan Kael.
"Maafkan saya, Val. Saya tidak punya pilihan lain untuk menghentikan mereka," sahut Kael cepat, nada suaranya terdengar bersalah seolah dia baru saja menjatuhkan vas bunga kesayangan majikannya.
Valeria mendongak, mempertemukan matanya dengan mata elang Kael yang terlihat cemas.
"Bukan itu maksudku, bodoh," rutuk Valeria pelan. Tangan wanita itu beralih dari telapak tangan Kael, naik menyentuh dada bidang pria itu, lalu merambat naik hingga ke rahang Kael yang keras dan berdebu. "Kamu bener-bener gila. Selama ini... selama sepuluh tahun ini, kamu punya kekuatan sebuas ini di dalam dirimu, dan kamu milih buat diam?"
Kael terdiam, membiarkan sentuhan Valeria mengurai ketegangannya.
"Waktu kita rapat dewan tetua bulan lalu... Tetua Haris lempar asbak ke arahku, dan kamu cuma menangkisnya pakai tangan kosong sampai tanganmu retak. Kamu diam aja waktu dia maki-maki kamu sebagai anjing pungut yang nggak berguna," suara Valeria mulai bergetar, memori-memori masa lalu kembali berputar di otaknya dengan sudut pandang yang sama sekali baru.
Valeria mencengkeram kemeja robek di dada Kael. Matanya berkaca-kaca menatap pria itu.
"Waktu kita diserang di gudang senjata tahun lalu, kamu biarin dirimu ditembak dua kali buat ngelindungin aku, padahal kalau kamu gerak secepat tadi, kamu bisa aja ngebantai mereka semua tanpa harus luka sedikit pun!" cecar Valeria setengah berteriak, emosinya campur aduk antara marah, takjub, dan rasa bersalah yang luar biasa besar. "Kamu sengaja nahan dirimu? Kamu sengaja ngabur-ngaburin insting monstermu biar kelihatan kayak pengawal biasa?!"
"Val, tenanglah," bujuk Kael meletakkan tangan kirinya di atas tangan Valeria yang sedang mencengkeram dadanya.
"Gimana aku bisa tenang?!" isak Valeria, memukul dada Kael pelan. Air matanya menetes, jatuh bercampur dengan darah di kemeja Kael. "Kamu ngebahayain nyawamu sendiri berkali-kali cuma buat nyembunyiin ini dari aku! Kenapa, Kael? Kenapa kamu rela babak belur diinjek-injek orang padahal kamu bisa bikin mereka semua sujud di kakimu?!"
Kael menatap ratunya yang sedang menangis frustrasi itu dengan tatapan yang luar biasa dalam dan memuja. Beban rahasia yang dia simpan rapat-rapat selama sepuluh tahun akhirnya terbongkar.
Pria raksasa itu menghela napas panjang. Dia tidak memedulikan darahnya yang menetes ke lantai. Kael menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Valeria.
"Karena kalau saya menunjukkan seberapa mematikannya saya... mereka akan menganggap saya sebagai ancaman untuk takhta Anda, Val," bisik Kael, suaranya serak dan berat, menembus langsung ke relung hati Valeria.
Valeria membeku. Pukulannya di dada Kael terhenti. Wanita itu mendongak menatap Kael dengan mulut sedikit terbuka.
"Apa maksudmu?" gumam Valeria tidak percaya.
"Dunia mafia tidak pernah menyukai kekuatan absolut yang tidak bisa dikendalikan," Kael mulai menjelaskan, matanya menatap tajam memori masa lalunya yang kelam. "Jika para tetua tahu bahwa anjing penjaga Anda memiliki kekuatan yang setara dengan satu pasukan elit... mereka tidak akan pernah membiarkan Anda tidur nyenyak. Mereka akan terus meracuni pikiran Anda, mengatakan bahwa suatu saat nanti saya akan mengkhianati Anda dan merebut klan itu dengan kekuatan saya."
Kael mengusap lembut sisa air mata di pipi Valeria dengan punggung tangannya yang bersih dari darah.
"Saya lebih memilih dihina, dipukul, dan ditembak ratusan kali... daripada harus melihat keraguan di mata Anda. Saya menekan insting membunuh saya, merantai monster ini di dasar jiwa saya, hanya agar Anda merasa aman bahwa saya adalah alat yang sepenuhnya berada di bawah kendali Anda," lanjut Kael, pengakuannya meluncur begitu tulus dan menyayat hati. "Saya tidak ingin menjadi mimpi buruk Anda, Valeria. Saya hanya ingin menjadi perisai Anda."
Air mata Valeria mengalir semakin deras mendengar pengakuan itu. Pria ini... pria gila ini mengubur potensi terbesarnya, membiarkan dirinya dihina layaknya sampah oleh para mafia kelas teri, hanya demi menjaga kedudukan politik Valeria di mata para tetua klan. Dia merantai dirinya sendiri agar ratunya merasa aman.
Pengorbanan yang begitu masif, begitu bodoh, sekaligus begitu indah.
Valeria terisak keras. Dia tidak peduli lagi dengan bau amis darah atau kotoran yang menempel di tubuh Kael. Wanita itu berjinjit, lalu mengalungkan kedua lengannya ke leher Kael, memeluk pria raksasa berlumuran darah itu dengan sangat erat. Kaus hitam kebesarannya ikut ternoda oleh warna merah.
Kael sempat terkejut, otot-ototnya menegang sesaat sebelum akhirnya dia melebur dalam pelukan itu. Pria itu membalas pelukan Valeria dengan kedua tangannya yang terluka, mendekap wanita itu seolah Valeria adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia ini.
"Kamu bodoh... kamu bener-bener bodoh, Kael," isak Valeria di ceruk leher pria itu. Hatinya terasa dirobek-robek oleh rasa haru yang luar biasa.
"Saya tahu, Nyonya," kekeh Kael pelan, suara tawanya bergetar hangat di dada Valeria.
Valeria menarik kepalanya sedikit, menatap mata elang pria yang mendekapnya. Wanita itu mengangkat tangannya yang sudah bernoda darah, lalu menangkup kedua belah pipi Kael. Ibu jari Valeria mengusap noda darah di sudut bibir Kael.
"Dengerin aku baik-baik," desis Valeria dengan tatapan penuh otoritas yang tak terbantahkan, kembali menjadi sang ratu seutuhnya. "Mulai detik ini, rantai itu benar-benar putus. Aku nggak butuh perisai yang pura-pura lemah. Aku butuh monster yang bisa ngancurin siapa pun yang berani nyentuh kita."
Valeria mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan dahinya ke dahi Kael.
"Jangan pernah nahan dirimu lagi untukku, Kael. Bantai mereka semua. Bikin mereka nyesel udah ngebangunin iblis yang selama ini tidur di belakangku," bisik Valeria dengan seringai mematikan, menyerap seluruh kegelapan yang Kael tawarkan.
Kael menyeringai lebar. Darah di tangannya terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan api dendam yang kini membakar mata ratunya.
"Dengan senang hati, Ratuku," jawab Kael mutlak, mengikat janji pembantaian yang akan mengubah sejarah dunia bawah untuk selamanya.