Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Kepingan Berdarah di Tengah Muara
Air sungai yang dingin menusuk tulang membungkus tubuh Ma Huang saat ia timbul tenggelam dalam arus deras kanal bawah Balai Kota Yunjiang. Bau amis darah segar bercampur minyak pelumas meriam menyengat hidungnya setiap kali kepalanya muncul menembus permukaan air. Di dalam rongga dadanya, getaran Inti Bencana Racun Hitam terus tergoncang hebat, berusaha menahan gumpalan darah beracun agar tidak menyumbat pembuluh jantung.
Rasa sakit paling menyiksa berasal dari bahu kanannya. Anak panah baja berujung kait menghujam dalam, merobek otot belikat dan mengunci persendian lengannya secara kaku. Batang kayu panah yang patah bergoyang-goyang mengikuti ayunan gelombang, mengikis tepi luka hingga darah hitam kental terus mengalir membasahi jubah birunya yang terkoyak.
Ma Huang mengatupkan rahangnya kencang-kencang, membiarkan tubuhnya terseret arus sejauh dua mil menuju arah muara. Ia hanya menggunakan tangan kirinya yang masih utuh untuk menjaga agar kepala dan kotak kayu berukir naga tetap berada di atas permukaan air. Setiap kayuhan terasa seperti sabetan sembilu yang memotong urat lehernya.
Cahaya obor dari atas tembok kota perlahan mengabur, tergantikan oleh pekatnya kabut malam yang membumbung tinggi di atas tumpukan pohon bakau. Di balik rumpun bambu air yang membentang di tepi sungai, sebuah bayangan perahu kayu terbengkalai tampak samar di bawah remang rembulan.
Jemari kaku Ma Huang akhirnya berhasil mencengkeram tiang kayu gubuk penyimpanan sampan. Ia merayap naik ke atas lumpur cair yang dingin, membiarkan dadanya terhempas kaku ke atas tanah berlumpur.
"Tuan Muda!" suara bisikan Lu Gang terdengar panik dari balik semak belukar.
Langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat. Dua pasang tangan kekar menyambar ketiak Ma Huang, menyeret tubuhnya yang basah kuyup masuk ke dalam ruang gubuk kayu yang gelap. Bau minyak tanah dan ramuan penawar luka bakar menyengat udara di dalam ruangan sempit itu.
Master Han berlutut di samping tubuh Ma Huang, memegang bumbung bambu berisi air hangat dan sebilah pisau bedah kecil yang telah dipanaskan di atas bara api. Wajah kakek tua itu melarat oleh kecemasan saat melihat ujung panah kait mencuat keluar setengah inci di bagian depan dada kanan Ma Huang.
"Pengait bajanya mencengkeram selangka," bisik Master Han dengan tangan gemetar. "Jika ditarik paksa dari belakang, pembuluh darah utama di bawah leher akan sobek."
Ma Huang mengangguk kaku, mengganjal mulutnya sendiri dengan sepotong kayu tempa tebal. "Dorong keluar... dari depan," ucapnya dengan suara parau yang nyaris tenggelam di antara desis napasnya.
Lu Gang memegang kedua bahu Ma Huang dari belakang, mengunci posisi tubuh tuannya agar tidak bergeser. Master Han menggenggam sisa batang kayu panah yang mencuat di punggung Ma Huang, lalu menyalurkan dorongan kuat secara mendadak.
Daging dan jaringan otot di dada kanan Ma Huang terkoyak kencang saat mata kait baja yang bergerigi dipaksa menembus kulit depan. Daging segar memercik ke lantai kayu, diikuti erangan tertahan Ma Huang yang mematahkan potongan kayu di dalam gigitannya. Darah kental berwarna kehitaman menyembur deras dari dua celah luka.
Master Han dengan cepat menyambar tang besi yang membara, menempelkan permukaan logam panas itu lurus ke atas celah luka terbuka di dada Ma Huang. Bau daging terbakar langsung memenuhi gubuk sempit itu. Asap putih membumbung tinggi diikuti suara desisan nyaring yang menghentikan pendarahan secara paksa.
Ma Huang memejamkan matanya rapat-rapat. Pusing luar biasa menghantam kesadarannya, namun ia memaksakan Qi hitam dari Dantiannya meluncur mengelilingi luka bakar tersebut. Kristal-kristal racun tipis membeku di dalam pembuluh darahnya, membendung kebocoran tenaga dalam dan meredam rasa sakit yang membakar.
Dua puluh napas berlalu sebelum Ma Huang kembali membuka matanya. Keringat dingin membasahi seluruh dahinya, tetapi pandangan matanya telah kembali tajam memancar di dalam kegelapan gubuk.
Ia mengulurkan tangan kirinya yang gemetar ke samping tubuh, menyambar kotak kayu berukir naga yang dipenuhi lumpur kering. Papan kayu berpelitur hitam itu terasa dingin dan berat di telapak tangannya.
"Ini kotak penyimpanan pusaka utama milik Tuan Besar Ma Ren," kata Master Han seraya menyapu darah di tangannya dengan kain lap basah. "Engselnya terbuat dari baja meteorit yang menyatu dengan kait rahasia di bagian dalam."
Lu Gang mendekatkan lampion minyak kecil untuk menerangi permukaan kotak. Di bagian atas kotak, terukir dua ekor naga yang saling melilitkan ekornya mengelilingi sebuah lubang berbentuk belah ketupat seukuran ibu jari.
Ma Huang mengamati celah kecil di tengah ukiran naga itu. Ia tidak menemukan engsel luar atau lubang kunci biasa. Sebaliknya, di dalam celah batu hitam itu terdapat tiga jarum perunggu tipis yang melintang secara simetris.
"Kotak ini tidak bisa dibuka dengan kunci besi biasa," gumam Ma Huang. Tangannya memegang Pedang Tulang Hitam, menggores ujung telapak tangan kirinya hingga darah segar berwarna hitam kebiruan menetes keluar.
Ia menempelkan luka di telapak tangannya tepat di atas lubang belah ketupat tersebut. Darah beracun miliknya mengalir masuk, membasahi jarum-jarum perunggu di dalam kotak. Mekanisme kuno di dalam kayu berdecit halus saat cairan racun khusus dari garis keturunan Keluarga Ma melarutkan lapisan kerak minyak yang menyumbat roda gigi di dalamnya.
Suara gemeretak kencang terdengar saat tiga kait baja di dalam kotak terlepas secara bersamaan. Penutup kayu berukir naga terangkat perlahan, membuka ruangan berlapis kain sutra kuning yang telah kusam dimakan usia.
Di dalam kotak itu terletak kepingan logam berbentuk setengah lingkaran berlapis ukiran garis-garis rumit berwarna hijau lumut. Kepingan itu adalah bagian kiri dari Kunci Makam Leluhur Ma. Di bawah kepingan perunggu tersebut, terlipat selembar kertas kulit tipis berdaging kering yang dipenuhi tulisan tinta darah.
Lu Gang menahan napasnya saat Ma Huang membentangkan gulungan kertas kulit itu di atas lututnya. Gambar petunjuk lokasi dalam gulungan memperlihatkan denah guratan tebing terjal di Lembah Tengkorak, tempat di mana makam bawah tanah leluhur Keluarga Ma tersembunyi selama ratusan tahun.
Namun, perhatian Ma Huang tertuju pada sebaris kalimat tipis yang terukir di pinggiran kepingan perunggu hijau itu. Tulisannya dipahat menggunakan gaya kuno yang hampir terkikis.
"Kunci ini hanya separuh," baca Master Han dengan suara mengecil dan gemetar. "Kepingan bagian kanan tidak pernah berada di tangan Keluarga Ma... Kepingan itu disimpan di dalam Ruang Pusaka Rahasia Sekte Pedang Suci sejak lima belas tahun lalu."
Lu Gang terbelalak kaku, menatap wajah Ma Huang yang mengeras bagaikan batu karang. "Artinya... untuk membuka pintu makam itu, kita harus kembali merobek kediaman utama Sekte Pedang Suci?"
Ma Huang menggenggam kepingan perunggu hijau itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Zhao Feng dan Jian Yue tidak pernah berniat menjual pusaka ini. Mereka sengaja mengumpankan setengah kunci ini agar aku menunjukkan jalan menuju Lembah Tengkorak."
Sebelum Ma Huang sempat melipat kembali gulungan kertas kulit itu, gema benturan terompet tembaga bersahut-sahutan dari arah tikungan muara sungai. Cahaya merah dari puluhan obor tampak membelah kabut tebal di atas air, bergerak cepat menuju tempat persembunyian mereka.
Suara kepakan dayung kayu yang menghantam air secara teratur terdengar makin jelas dari jarak kurang dari seratus langkah. Tiga perahu perang berukuran sedang milik pengawal Balai Kota tampak meluncur memotong gelombang muara.
"Mereka menemukan jejak darah di tepi sungai!" teriak Lu Gang seraya mencabut dua pisau pemotong daging dari balik pinggangnya.
Ma Huang menyimpan kepingan perunggu dan gulungan kertas kulit ke dalam saku jubah dalamnya. Ia mengibaskan Pedang Tulang Hitam ke samping, mengalirkan gelombang racun dingin yang membekukan sisa air di lantai perahu.
"Dorong sampan ini ke tengah arus," perintah Ma Huang dingin, mata gelapnya menembus kegelapan kabut di mana bayangan perahu perang pertama mulai terlihat membentang di atas air.
Lu Gang memotong tali pengikat perahu kayu dengan satu tebasan cepat, lalu menggunakan galah bambu panjang untuk menolak dinding gubuk kencang-kencang. Sampan kecil mereka meluncur deras ke dalam pekatnya arus muara, menghilang di antara pekatnya gelombang malam.
Namun dari arah kabut tebal di depan mereka, sebuah panah suar merah meledak nyaring di udara, menerangi posisi sampan mereka di tengah sungai secara benderang. Dari atas geladak perahu perang terdepan, sosok bergaun sutra merah berdiri dengan busur besar berukir naga di tangannya. Jian Yue telah menunggu di mulut muara.