NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:431.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

"Dari mana saja kamu?! Enak sekali ya, cuma jadi ibu rumah tangga di rumah tapi menyiapkan sarapan untuk suamimu sendiri saja tidak bisa!" bentak Hendra langsung begitu pintu utama rumah mewah mereka terbuka.

Sore itu, Ningsih baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah setelah menyelesaikan beberapa urusan di luar sejak pagi.

Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya mengeras saat melihat Hendra berdiri di ruang tengah dengan berkacak pinggang, masih mengenakan kemeja kerja yang sudah agak kusut.

Ningsih melewatinya begitu saja tanpa berniat menyalami tangan suaminya. "Aku sibuk," jawab Ningsih singkat dan teramat ketus.

Hendra mendengus sinis, tawa meremehkannya menggema di ruangan. "Sibuk? Halah! Sibuk apa kamu, Ningsih?! Bukannya kerjaan kamu dari dulu itu cuma diam di rumah? Masak, nyapu, ngepel, mengurus Luna? Memangnya ada kerjaan lain? Apa jangan-jangan... di luar sana kamu sedang sibuk mencuci mata menggunakan uangku, hah?!" sarkas Hendra dengan tatapan menghina.

Ningsih menghentikan langkahnya tepat di anak tangga pertama. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Hendra lurus-lurus dengan dada yang kian bergemuruh menahan amarah yang sudah di ujung kepala.

"Mas! Kamu ini apa-apaan sih?!" sahut Ningsih, suaranya meninggi, bergetar hebat menahan emosi. "Bisa tidak sekali saja kamu tidak usah menuduhku yang tidak-tidak? Kamu yang jelas-jelas berselingkuh di luar sana, aku selama ini diam dan tidak protes, kan?!"

Wajah Hendra seketika berubah menjadi pias selama sedetik, terkejut karena istrinya yang biasa penurut kini berani berteriak membalasnya.

"Kenapa sekarang malah membahas soal aku?!" kilang Hendra, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada defensif. "Lagipula, aku dan Arumi itu—"

"Ya, aku sudah tahu! Dia sekretarismu, kan? Yang merangkap jadi wanita simpananmu?!" potong Ningsih dengan senyuman sinis yang teramat merendahkan. Tatapan matanya menusuk tepat ke manik mata Hendra. "Jadi, kalau kamu sendiri sibuk bersenang-senang dengan dia di luar sana, tidak usah sok peduli dan mengatur-atur jadwalku!"

Hendra mengepalkan tangannya, rahangnya mengetat keras karena harga dirinya sebagai kepala keluarga yang kaya raya merasa diinjak-injak.

"Jaga bicaramu, Ningsih! Arumi tidak serendah yang kamu pikirkan!"

"Oh, ya? Wanita mana yang tidak rendah kalau mau menampung suami orang?" sindir Ningsih, lalu membalikkan badan hendak melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua.

"Dia mau datang ke rumah kita malam ini. Masak yang banyak dan bersihkan rumah!" ucap Hendra setengah berteriak.

Kalimat itu seketika membuat langkah kaki Ningsih terhenti total di tengah anak tangga. Tubuhnya menegang kaku bagai batu. Jantungnya berdegup kencang karena syok yang teramat sangat.

Di dalam dekapannya, Ningsih meremas tali tas jinjingnya dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Maksudmu apa, Mas?" Ningsih menoleh perlahan, menatap Hendra dengan tatapan tidak percaya.

Hendra melipat kedua tangannya di dada, kembali menunjukkan wajah angkuhnya yang menyebalkan.

"Arumi mau datang malam ini ke sini. Dia berhati besar, dia bilang dia mau meminta maaf secara langsung pada Luna karena kejadian semalam yang membuatku terlambat menjemput. Jadi, pastikan kamu masak makanan yang enak untuk menyambutnya."

Ningsih terkekeh lirih, sebuah tawa hambar yang sarat akan rasa jijik.

"Kenapa tiba-tiba wanita itu mau datang ke rumah ini? Memangnya... siapa dia bagi hidupmu, Mas Hendra yang terhormat? Atas dasar apa seorang selingkuhan berani menginjakkan kakinya di rumah istri sah?!"

"Dia calon istri keduaku, Ningsih! Jadi dia punya hak untuk mengenal anakku!" jawab Hendra tanpa urat malu sedikit pun, merasa di atas angin karena mengira Ningsih tidak akan bisa berbuat apa-apa. "Arumi itu wanita berpendidikan, dia tahu cara menempatkan diri. Tidak seperti kamu yang kampungan dan bisanya cuma protes! Ingat ya, siapkan semuanya malam ini. Jangan bikin aku malu di depan Arumi!"

"Apa katamu? Calon istri kedua?"

Ningsih terdiam sejenak. Alih-alih menangis histeris seperti wanita yang dikhianati pada umumnya, Ningsih justru menyunggingkan sebuah senyuman misterius yang sangat dingin.

Keberanian Hendra membawa selingkuhannya ke rumah ini benar-benar telah menyalakan sumbu peledak yang sudah ia siapkan sejak semalam.

"Baik. Aku akan memasak makanan yang sangat spesial untuk menyambut wanita simpananmu itu, Mas. Aku pastikan makan malam nanti akan menjadi malam yang tidak akan pernah bisa kalian lupakan seumur hidup."

Setelah mengatakan itu, Ningsih melangkah naik tanpa menunggu balasan dari Hendra. Di dalam benaknya, Ningsih tersenyum puas.

Hendra baru saja menggali lubang kuburnya sendiri, dan Ningsih dengan senang hati akan mendorong suaminya itu masuk ke dalamnya malam ini juga.

"Bersabarlah sebentar lagi, Ningsih," batinnya.

*

*

Tepat pukul tujuh malam, bel rumah berbunyi. Hendra dengan wajah berseri-seri langsung bergegas membuka pintu. Arumi benar-benar datang. Malam ini, ia tampak sangat cantik dan seksi dalam balutan gaun ketat berwarna merah menyala yang memperlihatkan belahan paha dan dadanya dengan jelas.

Di sampingnya, berdiri seorang wanita paruh baya yang tak kalah glamor—ibunya.

"Mas Hendra! Aku bawakan banyak hadiah untuk Luna, lho," ucap Arumi manja, menyerahkan beberapa kantong belanjaan bermerek kepada Hendra.

"Astaga, kamu repot-repot sekali, Sayang. Ayo, silakan masuk," sambut Hendra penuh sanjungan.

Mereka melangkah ke ruang tamu, di mana Ningsih dan Luna sudah menunggu. Arumi melirik Ningsih yang malam ini hanya memakai daster, lalu menyunggingkan senyum angkuh.

"Mas Hendra, kenalkan, ini Ibuku," ujar Arumi formal, lalu menatap Ningsih dengan dagu terangkat. "Dan ini... Mbak Ningsih, kan? Halo, Mbak. Maaf ya, kedatangan kami agak mendadak. Oh iya, ini aku bawakan gaun bagus dari butik ternama untuk Mbak Ningsih, biar penampilan Mbak di rumah agak modis sedikit."

Ibu Arumi ikut menimpali sambil melirik sekeliling rumah dengan pandangan menilai.

"Iya, Hendra sering cerita tentang kamu, Ningsih. Katanya kamu kurang paham selera barang bermerek, jadi anak saya berbaik hati membelikan ini."

Ningsih tidak menyentuh kotak hadiah itu. Ia hanya menatap keduanya dengan senyum tipis yang amat dingin.

"Terima kasih. Tapi maaf, selera saya tidak serendah wanita yang suka memakai pakaian kurang bahan demi memamerkan dada di depan suami orang."

Wajah Arumi seketika berubah merah padam. "Mbak Ningsih, jaga ya bicaramu! Aku ke sini berniat baik!"

"Ningsih! Sopan sedikit pada tamu!" bentak Hendra jengkel.

Sebelum Ningsih membalas, Arumi langsung beralih berlutut di depan Luna, mencoba mengalihkan suasana.

"Hai, cantik. Ini Tante Arumi bawakan boneka edisi terbatas dari luar negeri untuk Luna. Bagus, kan? Sini, sayang, peluk Tante..."

Luna melihat boneka mahal itu, lalu menatap wajah Arumi yang penuh riasan tebal. Alih-alih tertarik, Luna justru berjalan mundur dan bersembunyi di balik kaki Ningsih, memeluk erat paha ibunya.

"Nggak mau! Luna nggak mau boneka dari Tante genit! Luna cuma mau sama Mama!" seru Luna ketakutan, menolak mentah-mentah hadiah tersebut.

Arumi membeku di tempat, tangannya yang mengambang di udara gemetar karena malu luar biasa di depan ibunya dan Hendra.

Ningsih mengusap kepala Luna, lalu menatap Arumi yang terduduk kaku dengan tatapan meremehkan.

"Ternyata, naluri anak kecil jauh lebih peka dalam mengenali mana manusia tulus... dan mana wanita murahan. Silakan duduk, hidangan spesial kalian sudah siap di meja makan."

1
Kembarr Kembaarr
apem bosok di tawak2ne. ngono ko yoo enek seng gelem . tp seng gelem biasane podo bosok'e
Kembarr Kembaarr
lanangan nek wes diwei apem bosok lali anak bojo.
Kembarr Kembaarr
jngn terlalu bodoh ningsih. dn jngn terlalu banyak bicara buktikn kemampuanmu dn tunjukn pd laki2 gak guna itu
Kembarr Kembaarr
lepas saja ningsih laki macam itu. gak guna. dari pd stres sendiri punya suami tak tau diri
merry
ko ning msh ksh krjaan le selingkuhan mntn laki ya 🤔🤔🤔pdhl Hendra rela keluarin uang bnyk demi arumi bli tas mewah
arniya
luar biasa kak
Elina thea
semakin lama semakin menjengkelkan sich iklan2 ini...datang gak di jemput tapi pulang harus di antar....ngeselin bangettt,lagi enak2 baca juga....
Senja: Banyk iklan skrg ya kak? kok tumben yah ntoon iklan bejibun, coba di pengaturan hapenya
total 1 replies
Lesmana
makan noh yeni kelakuan lu tuh.. elu nolak cucu dr hendra , diksh dobel ama Tuhan..skalian keturunan elu putus sampai di nawang aja..😄😄😄
Lesmana
sadis gila nih nenek lampir😡😡 hendra cacat jg gara2 nolongin nawang anak elu sndr.. astagaa nyawa gak berharga amat yah dimata nih nenek lampir😭😭
Setiawan
loh td kan udah liat2an sama ningsih & satria..kog skrng nanya mana ningsih ??🙄🙄
Dewa Nara
baru mampir Thor
Lesmana
kirain rmh mamanya pun pny satria , secara satria kan prnh ngaku sama ningsih kalo dulu msh jaman sekolah , satria msh susah ekonominya..
Lesmana
mending janda ketauan gak perawan skalian , hilang perawan nya jg jelas.. drpd gadis tp gak perawan , gak jelas siapa yg merawanin😄😄😄
Setiawan
hendra keliatan nya sdh insyaf.. tp kog aneh yah , wkt mertua nya yudha serangan jantung , katanya krn dgr alasan hendra yg ribut dgn yeni , mamanya nawang.. hendra suruh yeni jualan rmh warisan kakek nawang utk nutupin hutang hendra.. kog gak dibahas lg yah wkt yudha sembuh ?? bukannya hendra cm korupsi 10M di ktr yudha doang yah ?? masa sih hendra ada hutang juga diluaran ?? 🙄🙄🙄
Setiawan
nih si nawang yah.. dulu hendra msh calon suami aja , dia cemburu sama ningsih , gak mau lelaki miliknya diganggu cwe lain.. eh eh eh skrng dia sndr yg gangguin lelaki org.. emang wataknya ulet bulu nih cwe.. emak nya aja yg mantan ulet bulu jd ikut malu liat kelakuan anaknya😄😄😄😄
Lesmana
author sadis🤣🤣🤣 udah ky ditampol bulak balik , pake sendal jepit pula🤣🤣🤣
Lesmana
kan kan si bloon🤣🤣 jelas2 lg hamil , jatuh pula😄😄😄
Lesmana
krn ningsih mau terima satria walopun dlm keadaan lumpuh.. nah elu ?? yg ada menghina satria cacat.. ente sombong pisan euyy 🤣🤣
Lesmana
elu emang sial , hendra...dimata elu , mantan slalu dah lbh indah.. pdhl arumi cm OB , msh aja di blng lbh modis , konslet emang otak si hendra kynya nih🤣🤣🤣
Lesmana
perasaan td satria ksh nya bunga matahari , gak sebut ada bunga mawar nya🙄🙄
Senja: blm kurevisi 🤣🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!