Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Beberapa hari kemudian, Kaisar memanggil seluruh pejabat menteri, Jendral dan pangeran secara mendadak.
Suasana di Aula Utama Istana kekaisaran begitu hening dan tegang. Di atas takhta, Kaisar Qinchuan duduk dengan wajah serius. Di hadapannya terbentang laporan-laporan yang berisi berita buruk salah satunya banjir besar telah melanda kota Xujiang, salah satu wilayah kekaisaran Qinchuan yang padat penduduknya. Air bah meluap, merusak rumah-rumah, meratakan ladang, dan memutus jalur perdagangan. Bencana ini membutuhkan penanganan segera, cepat, dan tegas.
"Kota Xujiang terendam banjir. Penduduk menderita, makanan habis, penyakit mulai menyebar," ucap Kaisar dengan suara berat namun tegas, menatap para pejabat di hadapannya. "Kita harus mengirim seseorang yang mampu menangani hal ini dengan cepat dan tepat. Siapa yang berani pergi?"
Suasana semakin hening. Tak ada satu pun yang berani mengangkat tangan. Para menteri saling berpandangan, menunduk, tak berani menatap mata Kaisar. Mereka tahu betul betapa sulitnya tugas itu, mengatur pengungsian, membagikan bantuan, menenangkan rakyat, dan membangun kembali kota dalam waktu singkat. Itu bukan pekerjaan mudah jika gagal maka Kaisar akan menghukumnya.
Kaisar menghela napas pelan, seakan sudah menduga jawaban mereka. Ia menatap ke arah salah satu pangeran yang berdiri di barisan depan, sosok yang sejak tadi berdiri diam, tenang namun memancarkan aura yang membuat siapa pun enggan mendekat.
"Jika kalian semua ragu, maka aku sendiri yang akan menunjuk orangnya," ucap Kaisar tegas. "Pangeran Ketiga, majulah."
Seketika, seluruh ruangan terasa lebih dingin. Para menteri menahan napas. Sosok yang dipanggil itu melangkah maju perlahan. Langkahnya tenang, mantap, tanpa suara. Ia mengenakan jubah hitam polos tanpa hiasan berlebih, wajahnya tampan namun dingin bak patung batu. Matanya sangat tajam, seakan mampu menembus kebohongan siapa pun yang berani berdiri di hadapannya.
Ia adalah Pangeran Ketiga putra kedua dari Selir Agung, yang dijuluki Dewa Kematian.
Di antara para menteri, nama Pangeran Ketiga bukanlah nama yang didengar dengan senang hati. Justru sebaliknya ia ditakuti, dihindari.
Ia dikenal karena sifatnya yang kejam tanpa ampun, tidak kenal belas kasihan jika berhadapan dengan orang yang lalai, berbohong, atau mengkhianati tugas. Tidak peduli siapapun itu apakah pejabat tinggi, kerabat, atau bahkan bangsawan jika bersalah di hadapannya, ia akan menghukum dengan tegas dan berat tanpa ragu sedikit pun. Banyak menteri yang gemetar jika dipanggil ke hadapannya, karena takut salah satu kata yang keluar dari mulutnya bisa berarti akhir dari jabatan bahkan nyawa mereka.
Namun di balik kekejamannya itu, tersembunyi kemampuan yang luar biasa. Ia cerdas, berwawasan luas, sangat tegas, dan tidak pernah membiarkan urusan setengah selesai. Setiap tugas yang dipercayakan padanya selalu selesai dengan sempurna, meskipun jalannya keras dan menyakitkan bagi banyak orang. Itulah sebabnya Kaisar sangat mempercayainya, karena dalam keadaan darurat seperti ini, hanya Pangeran Ketiga yang mampu bertindak cepat, tepat, dan tanpa ragu.
"Ayahanda," ucap Pangeran Ketiga, suaranya rendah namun berat, terdengar jelas di seluruh ruangan yang hening itu. "Saya siap pergi ke Xujiang."
Kaisar mengangguk puas. "Kau tahu apa yang harus dilakukan. Bawa pasukan bantuan, atur pengungsian, bagikan makanan, dan pastikan wabah penyakit tidak menyebar. Jangan biarkan satu pun pejabat setempat yang menyalahgunakan bantuan rakyat. Tindak tegas siapa pun yang berbuat curang."
"Baik, Yang Mulia," jawab Pangeran Ketiga singkat dan tegas. "Saya akan memastikan Xujiang pulih kembali. Dan siapa pun yang menghalangi... akan kuhukum sesuai peraturan kekaisaran, tanpa pandang bulu."
Para menteri menelan ludah mendengar kata-kata itu. Mereka tahu jika kota Xujiang mungkin akan selamat, tapi bagi para pejabat yang korup dan lalai di sana... kedatangan Pangeran Ketiga memang berarti kedatangan Dewa Kematian.
Tanpa menunggu lagi, Pangeran Ketiga berbalik dan berjalan keluar dari aula. Punggungnya tegak, tatapannya lurus ke depan, tak ada yang berani menyapanya, tak ada yang berani menatap matanya. Ia adalah sosok yang ditakuti sekaligus diandalkan.
*
*
*
Sebulan berlalu begitu saja. Malam itu, bulan bersamar redup, seakan ikut menutupi langkah kaki Feng Wu yang kembali menyusup menuju kediaman Feng. Kali ini, ia tidak datang hanya untuk memberi pelajaran pada dua orang. Ia datang untuk membuat seluruh penghuni kediaman itu merasakan sedikit saja penderitaan yang pernah ia rasakan sejak kecil.
Dari balik pepohonan, Feng Wu menatap gerbang megah kediaman Feng dengan tatapan dingin dan tak tergoyahkan.
"Kalian semua hidup tenang di atas penderitaan Ibu dan aku... malam ini, biarkan kalian merasakan betapa pahitnya hidup dalam rasa malu dan gatal yang tak berkesudahan" gumamnya.
Feng Wu mengeluarkan sejumlah bubuk dari Ruangan Ajaib di dalam cincinnya, kali ini jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya. Ia telah meracik ramuan yang sama, namun dikalikan lipatannya, cukup untuk seluruh penghuni kediaman itu.
Dengan gerakan yang ringan dan tak bersuara, ia menyusup ke setiap paviliun, setiap ruangan, setiap tempat tidur menyebarkan bubuk itu perlahan ke udara di dalam kamar tidur para selir, hingga para pelayan dan pengawal kediaman Feng.
- Bubuk merah gatal untuk wajah dan kulit akan muncul bintik merah yang gatal luar biasa, menyebar ke seluruh tubuh, dan tak kunjung hilang selama tujuh hari.
- Bubuk berbau busuk untuk mulut dan napas setiap kali berbicara atau menghembuskan napas, akan keluar bau busuk yang menyengat, bau yang tak hilang meski berkumur berapa pun kali.
Tak ada satu pun yang luput, mulai dari Menteri Feng, Selir Yu, anak-anak mereka, selir-selir lain, hingga para pelayan yang dulu pernah ikut menindasnya. Semua akan merasakannya.
"Mulai besok pagi... biarkan kalian semua menderita bersama," bisiknya dingin sebelum menghilang kembali ke dalam kegelapan malam.
Saat matahari terbit pagi berikutnya, jeritan histeris bergema dari setiap sudut kediaman Feng.
"AAAA!!! Kenapa wajahku begini?! Gatal... sangat gatal!"
"Jangan mendekat! Baumu busuk sekali!"
"Kau juga bau! Semua orang bau! Dan kulitku... gatal sekali!"
"Tabib! Panggil Tabib sekarang juga!"
Kekacauan total terjadi. Seluruh penghuni kediaman Feng bangun dengan wajah dan tubuh penuh bintik merah yang gatal tak tertahankan, serta napas yang berbau busuk menyengat. Setiap orang saling menjauhi, saling membenci, saling menuduh. Tak ada yang berani berbicara satu sama lain, tak ada yang berani keluar rumah. Wajah-wajah yang dulu tampan dan cantik kini berubah merah dan bengkak, penuh bintik yang tak henti digaruk.
Berita aneh itu menyebar seperti api kering ke seluruh ibukota tak bisa dirahasiakan lagi. Aib kediaman Feng terbongkar ke mana-mana. Para tetangga, pejabat, hingga rakyat biasa mulai berbisik-bisik.
"Kediaman Menteri Feng dikutuk! Semua orang di sana sakit kulit dan bau busuk!
Dan dampak terbesar jatuh pada Feng Xia putri pertama dari Menteri Feng dan Selir Yu, gadis yang paling dibanggakan kecantikannya, yang sebentar lagi akan menikah dengan putra Menteri Chu, pernikahan yang disorot seluruh ibukota.
Kabar itu sampai ke telinga keluarga Menteri Chu tak butuh waktu lama. Bahkan sebelum utusan dari kediaman Feng sempat memberi penjelasan, Menteri Chu sendiri sudah datang dengan wajah murka dan jijik.
"Ini tidak mungkin!" seru Menteri Chu di ruang tamu kediaman Feng, menutup hidungnya karena bau yang menyengat meski dari jarak jauh. "Putri kalian yang katanya cantik jelita... kini wajahnya penuh bintik merah busuk dan tubuhnya berbau tak tertahankan! Bagaimana mungkin putraku menikah dengannya? Itu akan menjadi aib bagi seluruh keluarga Chu!"
Selir Yu yang wajahnya sudah bengkak dan merah karena digaruk, menangis merayu. "Tolong... ini hanya penyakit sementara... akan sembuh... mohon jangan batalkan pernikahan ini..."
Namun Menteri Chu menolak mendengarkan. "Cukup! Keputusanku sudah bulat. Pernikahan ini dibatalkan mulai detik ini juga. Jangan pernah harap keluarga Chu akan bersanding dengan keluarga yang penuh aib dan kutukan seperti kalian!"
Dengan keras, ia berbalik dan pergi meninggalkan kediaman Feng yang hancur lebur. Feng Xia, gadis yang dulu sombong dan angkuh, jatuh berlutut di lantai sambil menangis histeris. Pernikahan yang ia impikan sejak lama, masa depan yang cerah, semuanya musnah dalam satu malam.
Sementara itu, di kediaman Wen...
Feng Wu berdiri kamarnya, Ia tidak merasa gembira berlebihan, hanya tenang. Satu per satu, keadilan mulai datang.
"Yang kalian derita saat ini belum ada apa-apanya, kalian harus membayar hutang penderitaan padaku "