NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Keguguran di Keputren

Air di baskom tembaga itu sudah diganti tujuh kali, dan Tabib Keraton masih belum berhenti mencuci tangannya.

Ia lelaki tua yang sama yang dulu berlari memanggil muridnya di pelataran candi, membawa air kelapa dan arang untuk para menteri yang tumbang. Malam ini tidak ada air kelapa yang bisa menolong. Ia berlutut di samping ranjang Selir Madya Nimas Larasati dengan lengan kain yang digulung sampai siku, dan setiap kali ia mengangkat tangannya dari balik kain selimut, seorang dayang memalingkan wajah.

Bau anyir memenuhi bilik itu. Menindih wangi kemuning dari luar jendela, menindih dupa yang dibakar di keempat sudut ruangan untuk mengusir roh jahat.

Nimas Larasati tidak lagi menjerit. Ia hanya mengerang, rendah dan putus-putus, dengan kedua tangan mencengkeram tepi kasur sampai kain sutranya robek di bawah kukunya. Rambutnya basah oleh keringat, menempel di pipi dan leher.

Di lantai, di dekat kaki ranjang, boneka tanah liat itu tergeletak di tempat ia melemparnya. Kain morinya terbuka. Tiga jarum tembaga masih menancap di tubuhnya.

Tidak ada yang berani memungutnya.

***

Prajurit Estri tiba lebih dulu, dua belas orang dengan belati terhunus.

Mereka tidak sampai ke serambi. Para dayang Selir Madya berdiri berjajar di ambang pintu dengan tangan terentang, wajah-wajah mereka basah dan pucat.

"Jangan masuk!" teriak dayang tertua, suaranya pecah. "Gusti Selir tidak mau melihat orang-orang Permaisuri!"

Pemimpin barisan Prajurit Estri itu ragu. Hanya sesaat. Tetapi di Keputren, ragu sesaat adalah kekalahan.

Dari selasar barat, derap langkah yang lebih berat terdengar. Dua puluh prajurit berzirah hitam Sayap Dalam, dipimpin Lurah Lembu Peteng dengan obor di tangannya. Ia tidak menatap para Prajurit Estri. Ia hanya berdiri di antara mereka dan pintu paviliun, kakinya terbuka selebar bahu.

"Atas perintah Sinuwun, paviliun ini di bawah penjagaan Sayap Dalam sampai fajar," ucapnya datar. "Silakan kembali."

Para Prajurit Estri saling melirik. Lalu, perlahan, mereka mundur.

***

Fajar belum menyingsing ketika Tabib Keraton akhirnya berdiri.

Ia membasuh tangannya untuk kedelapan kali. Kali ini air di baskom hanya berubah keruh. Ia menyeka tangannya dengan kain bersih, lalu berlutut di sisi kepala ranjang dan berbisik ke telinga Nimas Larasati.

Selir Madya itu tidak bereaksi. Matanya terbuka, menatap langit-langit, tidak berkedip.

Lalu bibirnya mulai bergetar.

Bukan tangisan yang keluar. Tawa. Pendek dan kering, seperti napas yang tersedak. Para dayang menatap junjungan mereka dengan ngeri.

"Empat bulan," bisik Nimas Larasati. "Tabib bilang laki-laki. Dari cara ia menendang."

Dayang tertua merangkak ke sisi ranjang dan menggenggam tangannya. Nimas tidak membalas genggaman itu.

Di serambi belakang, seorang dayang muda yang ditugaskan menyapu pecahan kendi di dekat pintu menjerit kecil. Ia berlari masuk dengan sesuatu di telapak tangannya, sesuatu yang berkilau kekuningan di bawah cahaya pelita.

Lempeng perunggu kecil. Teratai yang ditembus belati.

"Di ambang pintu belakang, Gusti," katanya terbata-bata. "Di celah papan."

Tabib Keraton mengambilnya lebih dulu. Ia membaliknya di antara jemarinya yang tua. Wajahnya berubah, perlahan, seperti air kolam yang mengeruh saat dasarnya diaduk.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak perlu. Setiap orang di Keputren pernah melihat lencana itu tergantung di sabuk kulit seorang perempuan dengan bekas luka di alisnya.

***

Nimas Larasati duduk.

Dua dayang berusaha menahannya kembali ke bantal. Ia menepis mereka dengan kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki perempuan yang baru kehilangan begitu banyak darah. Ia merebut lencana itu dari tangan tabib. Menggenggamnya. Lalu matanya bergeser ke lantai, ke boneka tanah liat di kaki ranjang.

"Ambilkan itu."

Tidak ada yang bergerak.

"Ambilkan."

Dayang tertua, dengan tangan yang gemetar hebat, memungut boneka itu dengan ujung kain. Ia menyerahkannya. Nimas Larasati mengangkatnya ke depan wajah, ke dekat pelita, dan menarik napas dalam-dalam.

Cendana dan kantil. Samar, terselip di antara bau tanah lembap.

Ia mencabut segumpal rambut dari dada boneka itu. Hitam, tebal, bergelombang di ujungnya.

"Aku duduk di sebelah kanannya selama enam tahun," ucapnya. Suaranya tidak lagi histeris. Datar, rata, dan jauh lebih menakutkan. "Aku memijat kakinya ketika ia hamil Putra Mahkota. Aku menyisir rambutnya ketika dayangnya sakit."

Ia menggenggam rambut itu dan lencana perunggu itu dalam satu kepalan.

"Ia mengunjungiku tiga hari lalu. Ia menyentuh perutku dan tersenyum. Ia berkata, semoga perempuan, Adik. Keputren butuh lebih banyak putri cantik."

Ia tertawa lagi. Sekali. Lalu wajahnya runtuh, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menangis. Bukan dengan isakan. Dengan suara yang terdengar seperti sesuatu yang dicabik dari dalam dadanya.

"Prabaswari," desisnya di antara tangisan, cukup keras untuk didengar para prajurit di serambi. "Pembunuh. Pembunuh anak. Semoga para dewa mengeringkan rahimmu seperti kau mengeringkan rahimku."

***

Rakryan Tumenggung Jayaprana tiba ketika langit timur mulai kelabu.

Lelaki bertubuh besar dengan kumis tebal yang mulai memutih, panglima pasukan pengawal ibu kota selama dua puluh tahun. Ia datang dengan zirah perang setengah terpasang, tali-talinya belum diikat, seolah ia meloncat dari ranjang dan menyambar zirah pertama yang ia temukan.

Lurah Lembu Peteng membiarkannya lewat.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam bilik itu. Para dayang diusir keluar. Para prajurit berjaga di serambi. Selama sepemakan sirih, tidak ada suara apa pun dari dalam.

Lalu Rakryan Jayaprana keluar. Wajahnya kelabu, matanya merah. Di tangannya, ia menggenggam lencana Prajurit Estri itu begitu erat sampai pengaitnya yang bengkok melukai telapak tangannya.

Ia tidak berjalan ke arah Paviliun Permaisuri. Ia berjalan ke arah Kedaton.

Pada Sidang Dewan pagi itu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Rakryan Tumenggung Jayaprana tidak duduk di samping Rakryan Wiradipa. Ia duduk di barisan seberang, di samping Mahapatih Gajahwira.

Ketika Rakryan Wiradipa mengusulkan agar penyelidikan kasus Selir Madya diserahkan kepada hukum adat Keputren, Rakryan Jayaprana bangkit dari tikarnya.

"Hukum adat Keputren dipegang oleh perempuan yang rambutnya ditemukan di dalam boneka santet itu," ucapnya. Suaranya parau. "Pasukan pengawal ibu kota tidak akan lagi menerima perintah dari siapa pun yang terkait dengan Keputren. Mulai hari ini, kami hanya menjawab langsung kepada Sinuwun."

Ia menatap Rakryan Wiradipa di seberang ruangan. Lama.

"Cucumu sudah duduk di kursi Putra Mahkota, Rakryan. Apakah itu belum cukup?"

***

Prabu Hayam Vira tidak memanggil Permaisuri ke Balai Agung.

Ia datang sendiri ke Paviliun Permaisuri, menjelang tengah hari, dengan Lurah Lembu Peteng dan sepuluh prajurit Sayap Dalam di belakangnya. Para Prajurit Estri di gerbang menyingkir tanpa diperintah.

Gusti Prabaswari menunggunya di pendapa paviliun. Ia mengenakan kemben sutra putih tanpa perhiasan, rambutnya digelung tanpa mahkota. Wajahnya tidak dirias. Di sebelah kirinya, Nyi Ageng Rukmi berlutut dengan kepala tertunduk, sabuk kulitnya tanpa lencana.

"Sinuwun." Permaisuri bersujud. "Hamba tidak melakukan ini. Hamba bersumpah demi nama ayahanda hamba, demi leluhur hamba, demi putra kita."

Hayam Vira tidak duduk.

"Rambutmu," ucapnya. "Lencana pengawalmu."

"Rambut bisa diambil dari sisir mana pun, Sinuwun! Rukmi sudah melaporkan lencananya hilang kemarin siang, saat ia berlatih di halaman! Ada yang mencurinya!" Suara Prabaswari meninggi, pecah sedikit di ujungnya. "Siapa pun bisa membuat boneka itu! Siapa pun bisa..."

"Siapa?"

Satu kata. Pelan.

Prabaswari membuka mulutnya. Lalu menutupnya lagi.

Dyah Ayu tidak ada di sana untuk melihatnya. Tetapi Ratih ada, bersimpuh di sudut pendapa dengan nampan sirih di pangkuannya. Malam itu, Ratih akan menceritakannya melalui keranjang pakaian kotor: bagaimana wajah Permaisuri berubah dari merah menjadi putih, lalu menjadi sesuatu yang tidak berwarna sama sekali.

Karena Prabaswari tahu dari mana boneka itu berasal.

Ia tahu siapa yang membuatnya, dari tanah siapa, di bilik dupa siapa. Ia tahu boneka itu seharusnya berada di bawah ranjang di Srigading, dengan rambut lain di dadanya.

Dan ia tidak bisa mengatakan satu kata pun tentang itu tanpa mengakui bahwa ia sendiri yang mengirim santet ke ranjang selir kesayangan Raja.

"Hamba tidak tahu, Sinuwun," bisiknya akhirnya. Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar kecil.

Hayam Vira menatapnya untuk waktu yang lama.

"Mulai hari ini, kau tidak lagi menghadiri Sidang Dewan," ucapnya. "Kau tidak lagi memegang hukum adat Keputren. Urusan Keputren dikembalikan kepada Mahapatih sampai aku memutuskan lain. Prajurit Estri tetap menjagamu, tetapi hanya di dalam pagar paviliunmu sendiri."

Prabaswari tidak menjawab. Tangannya yang bertumpu di lantai pendapa mengepal.

"Dan putra kita," lanjut Hayam Vira, lebih pelan, "akan tinggal di Kedaton bersamaku. Sampai keadaan Keputren tenang."

Di sudut pendapa, nampan sirih di pangkuan Ratih bergetar.

Permaisuri mengangkat wajahnya. Matanya kering. Tidak ada air mata yang dikenakan di sana, tidak ada senyum. Hanya dua mata hitam yang menatap suaminya seolah melihat orang asing.

"Sinuwun mengambil putraku."

"Aku menjaga putraku," jawab Hayam Vira. "Dari Keputren yang sudah tidak bisa menjaga anak siapa pun."

Ia berbalik dan pergi.

***

Dari jendela belakang Srigading, Dyah Ayu bisa melihat asap.

Bukan asap kebakaran. Asap dupa. Mengepul tipis dan kelabu dari halaman belakang Paviliun Selir Madya di sisi barat, naik lurus ke langit yang tak berangin. Pagi tadi, Ki Bongkok mengabarkan bahwa para brahmana sudah datang. Mereka akan menguburkan kendil tanah liat kecil di bawah pohon kemuning, dengan bunga tujuh rupa dan doa-doa untuk jiwa yang belum sempat bernama.

Di bawah pohon kemuning yang sama, tempat ia merayap semalam.

Ia menatap asap itu lama sekali.

Di Kedaton, Rakryan Jayaprana kini duduk di samping Mahapatih. Di Paviliun Permaisuri, Prabaswari duduk sendirian tanpa putranya, tanpa Dewan, tanpa hukum adat. Nyi Ageng Rukmi berjalan tanpa lencana, dan setiap Prajurit Estri yang melihatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi semalam. Nimas Larasati tidak akan pernah lagi duduk di sebelah kanan siapa pun.

Tiga pilar. Runtuh dalam satu malam. Dan tidak satu pun dari mereka menyebut nama Srigading.

Dyah Ayu tidak pernah menyentuh Nimas Larasati. Ia tidak pernah menyentuh Permaisuri. Ia membersihkan jarum-jarum itu sampai tidak ada lagi bau kecubung yang tersisa. Ia memastikannya. Ia menggosoknya dua kali.

Ketakutan tidak bisa digosok dengan abu sekam.

Ia mengangkat tangannya ke cahaya pagi yang masuk lewat jendela. Telapak tangan yang bersih, dibasuh semalam dengan air kendi. Jemari yang ramping. Kuku-kuku yang dipotong rapi.

Kecuali di bawah kuku ibu jari kanannya. Di sana, terselip garis tipis tanah cokelat dari lorong pelayan. Ia tidak menyadarinya semalam.

Dyah Ayu menatap garis tanah itu. Lalu ia mengambil tusuk konde perak dari sanggulnya dan mengoreknya keluar, perlahan, sampai kukunya bersih.

Asap dupa dari pohon kemuning masih naik ke langit. Ia menutup jendela.

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!