"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15 -Proyek Damian
Malam pun tiba. Udara dingin perlahan membungkus kota, namun suasana di dalam unit apartemen pribadi milik Damian terasa begitu hangat dan tenang. Meski bukan apartemen eksklusif kelas atas seperti Mansion Laurent, tempat ini sangat bersih, rapi, dan nyaman untuk ditinggali.
Damian terlihat sibuk di dalam ruang kerjanya, fokus mengutak-atik laptop dan berkas-berkas penting untuk merancang langkah bisnis barunya. Sementara itu, Lilian berada di dapur, berniat menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Lilian membuka pintu kulkas dua pintu di depannya. Matanya memicing menatap isi kulkas yang hampir kosong melompong—hanya ada beberapa butir telur, roti tawar, dan botol air mineral.
"Yah... cuma ada ini?" gumam Lilian kecewa. Perutnya yang sudah keroncongan mendadak meronta. "Kangen masakan Indo banget gue... Mana kenyang kalau cuma makan roti sama telur dadar?"
Lilian menghela napas panjang, lalu berbisik pelan dalam hati. "Sistem... kamu bisa enggak beliin beras, telur, cabai, tomat, sayur, sama ayam segar? Gue mau masak makanan khas Indonesia, nih."
PING!
Peri Mini tiba-tiba muncul di udara, melipat kedua tangan mungilnya di dada dengan raut wajah menatap malas ke arah Lilian.
"Aduh, Host... Canggih-canggihnya teknologi Sistem 303, malah disuruh jadi jasa titip sayur online!" omel si Peri Mini gemas. "Bisa sih, Sistem punya fitur Emergency Daily Mart. Tapi kali ini dipotong dari saldo uang tunai di rekeningmu ya, bukan Poin Sistem! Poinmu yang berharga itu lagi dipakai penuh buat proses pemulihan dan investigasi kejahatan Gavin!"
Lilian tersenyum lebar, meringis tanpa dosa. "Ya sudah, iyaa! Potong uang tunai aja, lagian enggak bakal berkurang banyak ini, kan?"
"Melaksanakan transaksi... Pemotongan saldo sebesar 70 Dolar! Ini udah termasuk bahan segar sama ongkos kirim ekspres antar-dimensi ya, Host! Pokoknya terima beres!" cicit Peri Mini.
Lilian sempat melotot melihat nominalnya. "Anjir, mahal juga ongkirnya... Tapi demi nasi hangat sama sambal, enggak apa-apa deh!"
WUSSH!
Hanya dalam sekejap kilat, sebuah kantong belanjaan besar berisi bahan-bahan dapur yang masih sangat segar mendadak muncul di atas meja dapur. Ada beras, ayam potong segar, seikat kangkung, cabai merah, bawang, dan tomat yang ranum.
"Aaaah, mantap! Makasih, Peri Mini!" puji Lilian girang.
Si Peri Mini hanya mendengus bangga, lalu menghilang kembali ke dalam dimensi Sistem.
Lilian dengan semangat membara mulai menyingsingkan lengan bajunya. Suara racikan bumbu di atas talenan dan aroma gurih tumisan ayam balado serta kangkung tumis mulai memenuhi seluruh ruangan dapur.
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja terbuka. Damian melangkah keluar dengan wajah lelah setelah berjam-jam menatap layar laptop. Namun, langkahnya mendadak terhenti begitu aroma masakan yang sangat asing—tapi anehnya menggugah selera—menusuk indra penciumannya.
"Lilian? Kamu... masak apa?" tanya Damian heran sambil berjalan mendekati meja makan yang kini sudah tertata rapi.
Lilian menoleh sambil tersenyum bangga, membawa mangkuk berisi ayam balado yang masih mengepulkan asap hangat.
"Masakan khas dari kampung halamanku!" jawab Lilian penuh percaya diri. "Ayam balado, tumis kangkung, plus sambal terasi. Ayo duduk, kamu dari tadi belum makan, kan?"
Damian menatap hidangan berwarna merah merona itu dengan alis terangkat. Di keluarganya yang serba kebarat-baratan, ia belum pernah melihat masakan seperti ini.
"Ini... enggak keracunan, kan?" tebak Damian ragu, tapi tangannya tetap mengambil sendok karena perutnya memang sudah lapar setengah mati.
"Sembarangan! Ini enak banget tau!" omel Lilian seraya menyendokkan nasi hangat dan lauk ke piring Damian. "Cobain dulu!"
Damian menyuap satu sendokan penuh berisi nasi hangat, ayam balado, dan sedikit sambal ke dalam mulutnya.
Awalnya, bumbu gurih dan rempahnya terasa sangat lezat di lidah. Namun... hanya dalam hitungan tiga detik, rasa pedas membakar yang menggigit langsung meledak di seluruh tenggorokannya!
UHUK! UHUK!
Damian mendadak tersedak hebat. Wajahnya yang tampan langsung berubah merah padam sampai ke ujung telinga. Matanya sampai berkaca-kaca menahan rasa panas yang membakar lidahnya.
"A-air... Lilian, air!" bisik Damian serak, menepuk-nepuk meja dengan napas terengah-engah.
Lilian yang kaget setengah mati langsung melompat dari kursinya, lari ke dispenser dan mengambilkan segelas air dingin. "Aduh! Lupa aku kalau kamu enggak biasa makan pedas! Ini, minum dulu, minum!"
Damian langsung meneguk air dingin itu sampai kandas dalam sekali teguk. Tapi rasa panas di lidahnya belum sepenuhnya hilang. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas memburu, menatap Lilian dan hidangan merah di meja dengan tatapan campur aduk antara trauma dan heran.
"Kamu... mau membunuhku secara perlahan, ya?" protest Damian dengan suara serak, menyapu keringat dingin di dahinya.
Lilian tertawa canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya maaf! Di kampung halamanku, sambal segini tuh terhitung manis tau! Yaa udah, nih makan telur dadar aja sama nasi hangat, enggak pedas sama sekali, kok."
Lilian menyendokkan telur dadar lembut tanpa cabai ke piring Damian.
Damian menatap piringnya ragu-ragu, lalu melirik Lilian yang menatapnya dengan raut merasa bersalah yang lucu. Pria itu akhirnya menghela napas pasrah, lalu menyuap telur dadar tersebut.
"Enak?" tanya Lilian pelan, takut-takut.
"Ini jauh lebih mendingan daripada bahan peledak yang kamu kasih tadi," cetus Damian datar, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. Ia lalu kembali melahap makan malamnya dengan tenang.
Lilian tersenyum lega, ikut menyantap masakan pedasnya sendiri dengan nikmat.
"Lagian, kamu tuh jangan terlalu tegang terus, Damian," ucap Lilian lembut usai menyelesaikan makan malamnya. "Jangan tanggung beban semuanya sendirian. Ada aku yang bakal bantu kamu hancurin Gavin."
Damian tertegun sejenak, menatap Lilian yang tersenyum hangat di hadapannya. Rasa pedas di lidahnya perlahan berganti dengan rasa hangat yang menjalar sampai ke dadanya.
Usai makan malam dan merapikan meja, Lilian masuk ke ruang kerja membawa dua cangkir teh hangat. Ia menatap layar laptop Damian yang dipenuhi skema sistem komputasi rumit yang sama sekali tidak ia pahami.
"Minum dulu," bisik Lilian seraya meletakkan cangkir di samping laptop. "Lagi ngerjain apa, sih?"
Damian menyandarkan punggungnya, mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Aku lagi menyempurnakan arsitektur sistem Aetheria. Aku ingin merebut proyek Data Center AI yang diadakan oleh perusahaan raksasa global minggu depan. Kalau berhasil, perusahaan baru kita langsung terkenal dan dapat penghargaan bergengsi. Apalagi mereka secara khusus mencari sistem AI yang ramah lingkungan, hemat energi, dan tidak membuang-buang air."
Mata Lilian berbinar mendengarnya. "Wah, keren! Jadi kamu mau merebut tender itu dari Gavin dan Laurent Group?"
"Iya. Gavin itu bodoh, dia tidak meneliti dampak plus minusnya dan cuma tahu untungnya saja," kata Damian dingin.
Lilian mengangguk-angguk kagum. Matanya menatap lagi ke arah layar laptop Damian yang berisi deretan laporan proyek, grafik, dan kode-kode rumit yang tak ia mengerti sama sekali. Tapi satu hal yang Lilian tahu pasti... Damian benar-benar seorang jenius yang siap mengguncang dunia bisnis.
"Mantap!" sahut Lilian seraya bersedekap, tersenyum lebar. "Gak sabar ngeliat muka Gavin pas tahu proyek AI kebanggaannya ditikung tajam sama kamu."
Damian terkekeh lepas—kekehan hangat pertama yang terdengar dari bibirnya sejak malam pengusiran dan pengasingan di keluarga kandunganya sendiri. Di dalam ruangan yang tenang itu, kehangatan baru perlahan tercipta, siap melipatgandakan kekuatan mereka untuk menghadapi pertempuran bisnis esok hari.
Bersambung ...
d'ajak nikah gak mau
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav