Cherry adalah seorang gadis yang beruntung, ia memiliki keluarga yang hangat dan sangat menyayanginya, hidupnya seperti impian banyak gadis seusianya terlebih ia memiliki Kakak Laki laki yang selalu melindunginya Kevin, di sekolah berpacaran dengan pria paling populer sekaligus ketua OSIS Dion Prince, namun setelah kehadiran dua Pria bernama Bumi dan Langit hidupnya berubah, masa lalu yang selama ini ia cari kebenarannya perlahan mulai terungkap. Akankah Cherry berhasil mengetahui masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki yang Mencurigakan
Hari ini jadwal kunjungan kerja Ibu dan Ayah di kota Nirwana, karena sedang butuh hiburan Cherry ijin tak masuk sekolah ia memilih ikut bersama orangtuanya selama beberapa hari, seharian ikut meeting dan berdiam diri di Hotel membuatnya bosan, berjalan jalan mungkin bisa menghilangkan rasa bosannya fikir ia saat itu.
Setelah ijin pada Ayah Cherry keluar dari hotel untuk berjalan jalan mencari jajanan, sambil masih bingung mau jajan apa, tadinya Ayah cukup khawatir namun gelang yang terpasang di tangan kiri gadis kecil itu membuat Ayah menepis rasa khawatirnya, gelang itu dilengkapi GPS yang bisa mengetahui kemanapun gadis itu pergi.
Hingga akhirnya sampailah gadis itu disini di gang penuh mural, gang yang memang sering ia lewati.
Hari itu Selasa Sore, cuacanya agak mendung, gadis bermata coklat terang itu mengenakan blouse berwarna coklat susu, dengan short pans denim dan flat shoes senada dilengkapi tas selempang kecil berbentuk kucing.
Cherry masih melangkah dengan tenang, sesekali ia memotret mural itu dengan ponselnya, gang itu masih sama, sangat estetik, mural mural yang tergambar disisi kanan kirinya membangkitkan mood Cherry, ratusan warna warni dari karya seni itu seakan membuyarkan fikiran fikiran tidak penting yang saat itu sedang berkecamuk di kepalanya.
Ia berjalan santai sambil mengemut lolipop rasa melon. Tak jarang gadis itu menyanyi dan bergoyang tipis tipis menirukan gerakan idol saat menari.
Dari kejauhan sepasang mata memandangi tingkah imutnya.
Di dalam mobil sport berwarna hitam seorang lelaki sebaya Cherry dengan leluasa memperhatikan sampai ke detail kecil perempuan manis itu, tas kucingnya membuat pria itu terkekeh geli, tingkahnya yang riang dan parasnya yang cantik membuat pria itu tak bisa memalingkan pandangannya.
Saat Cherry mulai menjauh dari pandangannya, lelaki jangkung itu memutuskan untuk turun dari mobilnya, lalu diam diam mengikuti kemana gadis itu berjalan.
Tepat di sebuah mini market gadis itu berbelok dan masuk kedalamnya.
Dengan penuh kesadaran iapun turut masuk kedalam mini market berpura pura membeli beberapa barang yang sebenarnya tak dia perlukan. Sambil diam diam meneliti gadis itu sekali lagi.
Tak berselang lama keranjang belanja gadis itu sudah di penuhi dengan aneka jajanan dan beberapa barang pribadi wanita.
Melihat gadis itu berjalan mendekati area makanan kucing, ia pun turut mendekati area itu, dilihatnya gadis imut itu tampak memperhatikan ke arah sebuah tuna kaleng yang saat itu hanya tersisa 1 buah saja.
Tuna Kaleng itu berada diatas rak yang cukup tinggi, jauh dari jangkauannya.
Saat tangan mungilnya berusaha mengambil makanan kaleng itu, dengan sigap sebuah tangan mengambilnya terlebih dahulu.
Sontak Cherry menoleh ke arah pemilik tangan itu.
"Maaf tapi ini udah punya gue" Kata seorang Lelaki yang asing bagi Cherry, suaranya terdengar datar.
"Tapi gue udah sampe disini duluan." Tukas Cherry Kesal.
"Tapi tangan gue udah duluan nyampe rak ini." Ujar pria jangkung itu lagi tanpa dosa.
Cherry terdiam, kalau saja badannya lebih tinggi pasti dia tidak akan kesulitan mengambil kaleng makanan kucing itu batinnya.
Cherry cemberut hatinya sedikit kesal, barang langka yang dicarinya malah keburu di ambil oranglain.
"Yah...." Ujarnya kecewa. Padahal tuna kaleng ini kesukaan Michan kucing gembul favoritnya
Cherry menatap sedikit kesal ke arah wajah lelaki perebut tuna kalengnya, lelaki itu balik menatapnya sambil berkata "Lo Butuh Banget?"
Spontan Cherry mengangguk dan mengatupkan kedua tangannya sambil memberikan ekspresi memohon, lelaki itu tersenyum seperti menahan tawa, ia memalingkan wajahnya dari Cherry untuk beberapa saat, mengatur ekspresinya.
"Nih" Sodor lelaki itu memberikan harta Karun berharga yang diinginkan Cherry ke tangannya.
Cherry melonjak senang "Makasih mas Ganteng" ujarnya spontan "Ups maksudnya makasih mas yang baik" katanya mengkoreksi dengan tingkah kikuk.
"Ganteng banget ya sampe keceplosan" Goda lelaki itu, ia tersenyum sehingga dikedua pipinya terlihat cekungan lesung pipi yang dalam, iapun berlalu meninggalkan Cherry yang termangu dengan pipi memerah karena malu.
"Huh Sok Ganteng" Kata Cherry pelan salah tingkah "Tapi emang ganteng" Katanya lagi sangat pelan.
"Ih apaan sih Cherry kebiasaan, gabisa banget liat cowok ganteng, langsung aja bertingkah aneh" Gumam Cherry mengutuki dirinya sendiri sambil memukul tipis kedua pipinya.
Tanpa Cherry sadari Lelaki itu mendengar ocehannya, namun pura pura tak mendengar. Ia hanya senyam senyum dibuatnya.
Selama berbelanja fikiran Cherry terus tertuju pada lelaki tadi meskipun Cherry tak bisa begitu jelas melihat wajahnya karena pria itu mengenakan Topi Baseball, tapi ia lihat sekilas hidungnya amat mancung dengan kedua mata yang memiliki bulu mata yang tebal, walopun hanya dilihat sekilas saja memang pria itu benar benar menarik.
Cherry mengerahkan pandangannya lagi mencari lelaki itu, ia melihatnya sedang memilih milih payung.
Pria itu hanya mengenakan kaus oversize berwarna hitam, celana cargo dan sendal gunung, juga topi baseball cream, terlihat sangat santai dan effortless Kharismanya menembus pakaian sederhana yang saat itu di pakainya.
Tubuhnya tegap dengan cara jalan yang santai sempurna bak model catwalk, tak lama ia terlihat menaruh belanjaan di kasir.
Cherry bergegas menuju bagian lain di mini market itu, menjauh dari Pria yg sudah membuatnya salting, entah mengapa jantungnya berdegup kencang, kemarin melihat Bumi yang juga bak malaikat, tapi kenapa kali ini jantungnya deg degan, melihat Bumi ia hanya histeris sebentar saja tak sampai sebegininya.
Cherry mengatur fikirannya yang tak karuan, apa mungkin saking kangennya dengan Dion fikirannya jadi kacau batinnya, cowok bule pujaan hatinya itu kali ini membuat masalah lagi, masalah yang sudah berulang ulang kalinya dan hampir membuat Cherry muak.
Bak cenayang yang bisa membaca isi hatinya sebuah telpon masuk dari Dion, ring tone Cherry untuk panggilan dari Dion memang berbeda.
Dengan malas gadis itu mengangkatnya "Hallo"
"Hallo, Cher akhirnya kamu angkat juga telpon aku" Sahut suara dari sebrang telpon itu.
Mood Cherry turun drastis mendengar suara kekasihnya itu, ia merasa sangat kesal sekaligus jadi hilang selera "Hmmmmm"
"Kok hmmm sih Cherry, kamu kemana aja hari ini aku gak liat kamu di sekolah"
"Pergi" Jawab Cherry malas
"Pergi kemana, biasanya kamu selalu ngabarin aku kalau enggak masuk sekolah, kamu gak lagi sakit kan?" Nada bicara Dion terdengar berubah khawatir.
"Hmmmm"
"Kok hmmm Lagi sih Cher, aku serius, kamu gak lagi kenapa kenapa kan, gak sakit kan?"
"Enggak Di, gapapa aku sehat wal Afiat." Jawab Cherry seadanya
Dion terdiam sebentar, Cherry pun tak bernafsu untuk berkata kata padanya, ia memang rindu dengan Dion, tapi rasa kesal masih membayanginya.
Beberapa detik kemudian Dion berkata "Aku ada salah ya sama kamu Cher, tapi aku bingung kali ini apa lagi salahku?"
"Gak ada Di, kamu gak salah, kayaknya ekspektasi ku aja yang ketinggian"
"Hah maksudnya?" Dion kebingungan.
"Percuma aku jelasin di telpon, toh kamu juga pasti bakal bilang kalau feeling aku berlebihan, kali ini aku lagi Gamau diganggu Dion, plis kasih aku ruang buat sendirian dulu, bye"
"Cher, Cherry jangan tutup telponnya, plis jelasin dulu sama..."
BIP
Cherry menutup telpon. Lalu mematikan Ponselnya. Ia menarik nafas panjang mengatur perasaannya.
Dalam hati ia merasa sudah jahat pada Dion karena berhari hari mengabaikannya, hanya saja ia juga lelah selalu mengalah, benar kata Riana kalau dalam suatu hubungan yang paling menyukai pasti akan menjadi yang paling terluka.
Bagaimana mungkin tak kecintaan, Dion adalah cowok populer disekolahnya, cerdas, berwawasan luas, super ganteng, super kaya kalau anak gen Z bilang suh dia itu Orang Have dan dia juga Ketua OSIS, sementara Cherry gadis biasa saja, cantik menurutnya tidak, pintar juga tidak terlalu, berprestasi juga tidak, mana bisa di bandingkan dengan Dion yang segalanya, selalu itu yang ada dipikiran gadis kecil itu.
Selesai berbelanja Cherry kembali ke Hotel, Hotel itu berada di kota Nirwana, agak ke selatan, bukan di pusat kota melainkan di bagian dimana pariwisata kota itu bergantung, daerahnya dikelilingi pegunungan, tak jauh dari sana pun ada pantai yang eksotis, membuat turis bisa menikmati 2 perjalanan berbeda bila mengunjunginya. Sangat efisien untuk orang orang yang ingin menikmati liburan dengan pengalaman liburan yang tidak monoton.
Sesampainya di hotel karyawan hotel menyambutnya ramah, Cherry juga membalas sapa an mereka dengan ramah. Belasan karyawan yang Cherry liat hari ini beberapa diantaranya memang sudah akrab dengan Cherry, karena mereka karyawan yg sudah sangat lama bekerja di hotel itu. Hotel milik keluarganya.
"Cherry" Panggil Ayah saat Cherry akan memasuki lift.
"Eh ada apa yah?" Sahut Cherry.
"Ayah harus pergi meeting lagi ke pusat kota, apa kamu gak apa apa sendirian disini?" Tanya ayah yang tampak sedang terburu buru, air wajahnya terlihat agak khawatir.
"Aman yah, Cherry tunggu disini aja, Ayah gak lama lama kan?"
"Mungkin sampai besok, kalau mau kemana mana dan butuh apa apa jangan lupa minta tolong mas Bagas, jangan pergi jauh sendirian!"
"Siap Ayah Cherry gak akan keluyuran kok"
"Baiklah, nanti kalau Ibu sudah datang baru kalian susul Ayah ke pusat kota, sekalian nanti Ayah ajak Cherry sama Ibu nonton."
Cherry mengacungkan jari jempolnya "Ok sip Ayah, ayah hati hati ya."
Ayah tersenyum kemudian mengelus lembut rambut anak perempuannya itu "Bye"
"Bye bye Ayah" balas Cherry seraya menatapi punggung Ayah yang menjauh dari pandangannya.
Ia sampai di kamar nomer 355, merebahkan dirinya di kasur super king deluxe berseprai putih bersih, tak lama kemudian ia tertidur.
Sore harinya ia terbangun dengan posisi tertelungkup, terpaksa bangun karena ketukan ketukan di pintu kamarnya, dengan rambut dan tampilan yang acak acakan ia tergopoh gopoh mencapai pintu kamar.
Tampak mas Bagas di depan pintu kamarnya, sudah berpakaian casual santai namun rapi seperti hendak bepergian.
"Ih mas Bagas ganggu orang tidur aja tau....." Ulti Cherry pada sepupunya itu.
"Hahaha, jelek banget" Ledek mas Bagas melihat tampilan putri tidur itu.
Cherry cemberut "Huh sebel, mas ngapain, tumben nyamperin, biasanya cuma nelpon"
Mas Bagas nyelonong masuk ke dalam kamar Cherry Duduk di Sofa. Di sebelah seekor kucing gemoy yang tertidur pulas.
"Menurut lo, ngapain gue gabut kesini segala, tanpa hujan tanpa angin?" Ujarnya balik bertanya.
Cherry tersenyum kecut menebak maksud mas Bagas "Iya tau tau" katanya dengan nada kesal seakan bisa menebak apa maksud mas Bagas kala itu .
"Lagian mas Bagas nurut amat sama si Kevin, udah sana pergi aja, Cherry bisa sendirian tau, Cherry udah bukan anak kecil." Katanya lagi Merajuk.
Mas Bagas menarik nafas panjang "Kalau kamu tega gaji mas Bagas di potong yaudah mas pergi." Mas Bagas balik merajuk.
Cherry terduduk lemas, kebebasan itu tak pernah ada di kamus hidupnya, dimanapun dia berada ia pasti di bayangi oleh Kevin dan Orang Tuanya.
"Jadi kali ini cerita dan skenarionya apa?" Tanya Cherry tanpa basa basi. Tampaknya hal hal seperti itu sudah sering dia dan sepupunya alami.
Mas Bagas terlihat mulai bersemangat.
"Langsung aja ya intinya hari ini kamu ikut Mas Bagas Ngedate sama pacar Mas, bentaran aja, Mas udah janji dari semingguan yang Lalu, kalau Mas batalin karena harus jaga Bayi pasti dia bakal ngamuk, yah yah plis mas mohon" Pintanya sedikit memelas.
Jadi ini maksud kedatangan Pria Dewasa yang tak laku laku ini, Cherry menggaruk kepalanya yang tak gatal, kenapa liburannya jadi harus Se absurd ini, tapi dia pun tidak tega pada Mas Bagas.
Jangan sampai hanya karena mendapat mandat harus menjaga Cherry 24 jam dia harus stay di Hotel dan harus membatalkan janji yg memang sudah dibuat dari jauh jauh hari.
"Oke deh Cherry ikut, tapi mau mandi sama dandan dulu, udah sana Mas Keluar, nanti Cherry turun ke Lobby."
"Ya Ampun emang sepupu mas ini paling cantik sedunia, Oke mas tunggu di Lobby ya, jangan lama lama"
Cherry membulatkan jari jempol dan telunjuknya "Okey"
***
Waktu menunjukan jam 4 Sore, kali itu Cherry berada di sebuah Pantai, pantai dengan view batu karang berjajar layaknya tangga.
Pantai ini sedang sangat Viral terlebih karena sering di review oleh banyak influencer.
Suasananya ramai banyak anak kecil, orang dewasa, dan muda mudi yang terlihat di sekeliling pantai. Mereka terlihat sangat bahagia.
Sementara Cherry duduk di sebuah Ayunan, sendirian tanpa teman, ia memandangi debur ombak dengan fikiran kosong.
Tak pernah ia niatkan untuk pergi ke pantai itu, sebenarnya Cherry juga kurang menyukai pantai, tapi demi mas Bagas akhirnya dia harus merelakan waktu bermalas malasannya untuk berpura pura bermain bersama sepupunya itu.
Disisi lain Mas Bagas asik berbincang dengan perempuan muda berwajah cindo, Mereka terlihat sangat mesra dan tampak bahagia duduk di meja yang berhadapan dengan sajian ala pantai di depannya, kelapa muda dan beberapa cemilan.
"Huh sebel banget, kesini cuma jadi nyamuk." Gerutu Cherry.
Ia membuka ponselnya yang hampir low battery. Memotret beberapa view pantai untuk di upload ke media sosialnya. Juga memotret Mas Bagas dan pacarnya secara candid.
Untuk mencari View yang bagus ia turun dari ayunan itu berjalanan menyusuri pantai, sesekali ber-selfie sendirian untuk menghilangkan rasa bosan.
Setelah lelah ber-selfie Cherry duduk di tepi pantai, duduk berselonjor di pasir menatap lurus kedepan jauh sampai ke birunya laut.
"Sendirian aja?" Kata Sebuah Suara dari sebelahnya, membuyarkan lamunan gadis itu.
Cherry memalingkan wajahnya ke samping. Saat seorang Pria mencoba duduk di sebelahnya, berjarak sekitar 2 jengkal.
"Eh kok...." Sontak Cherry merasa kaget dengan hal itu.
Pria itu tersenyum hingga terlihat kedua lubang di pipinya, lesung pipi yang dalam "Kebetulan ya ketemu lagi" kata pria itu, ia meluruskan kakinya mengikuti cara Cherry duduk.
Cherry merasa canggung hingga tak bisa berkata kata, ada juga perasaan takut dihatinya, kalau kalau lelaki itu berniat jahat. Iapun hanya bisa menatapi pria itu keheranan.
"Tenang gue bukan orang jahat kok" Kata pria itu ramah. "Gak tau kenapa pengen banget ke pantai sore ini, eh malah ketemu Lo lagi." Katanya menepis ketakutan Cherry.
Cherry tertawa kecil "Hehe keliatan banget ya gue kayak orang takut." Ujarnya seadanya.
"Haha, gapapa kok, ganggu gak nih?" Tanya nya sopan.
"Emmm enggak sih, cuma agak aneh aja baru aja siang ketemu, eh sorenya ketemu lagi di tampat yang berbeda."
"Emmm sebenernya dari tadi gue emang merhatiin Lo." Kata lelaki itu.
Cherry tercekat "Hah yang bener aja?" Tanya Cherry tak percaya. "Kok bisa, jangan jangan Lo stalker?"
Lelaki itu tertawa "Hahaha gak sejauh itu kali, soalnya loe keliatan bebas, keliatan ceria banget, gue suka liatnya."
Mendengar itu Cherry ikut tertawa lepas "Hahaha, mana ada bebas, itu cuma perasaan lo aja tau, aslinya gue tuh kayak burung dalam sangkar"
"Wah berarti gue salah duga dong ya?" Sesalnya, takut takut kalau gadis itu tersinggung.
Cherry memainkan pasir dengan tangannya tanpa menatap pria itu dia berkata "Kadang mencoba ceria itu, emang hal yang harus gue lakuin untuk keliatan normal kayak orang lain."
Pria itu terdiam mencoba mencerna kata kata Cherry.
"Hehe udah lupain aja, by the way lo asli orang sini, atau turis juga?"
"Hmmm bisa di bilang turis sih, bisa dibilang juga enggak"
Cherry mengangguk, "Berarti lo orang pusat kota ya?" Berusaha menebak asal asalan.
"Pinter" ucap lelaki itu, ia kemudian merogoh sesuatu dari kantong plastik yang di bawanya.
"Nih" sodornya menawarkan sebuah ice cream cone "Keburu meleleh"
"Ih gausah, lo nya masa gak makan" Cherry menolak halus.
Lelaki itu mengeluarkan sebuah ice cream cone lagi dari kantong plastik itu "Kebetulan ada 2, gue coklat, lo yang cookies and cream ya."
Cherry terpaku, kok bisa bisanya rasa yg dipilihkan lelaki itu memang rasa yg Cherry sangat sukai.
"Nih, mau gak?" Sodornya lagi "Gak mungkin gue racunin kok, banyak orang disini, kalau kabur juga keburu ke tangkap" Katanya sambil sedikit tertawa kecil.
Cherry akhirnya menerima es krim dari lelaki itu, Meraka asik makan es krim, sambil mengobrol hal hal sepele, obrolan yang mengalir begitu saja, seperti teman lama yang akhirnya bertemu.
"Eh tunggu, tadi kan Lo mau beli makanan kucing, jangan jangan lo suka kucing juga ya?" Tanya Cherry di tengah tengah obrolan mereka.
"Bisa dibilang gue gapunya temen selain kucing gue."
"Uhuk uhuk" Cherry tersedak mendengar ocehan lelaki itu.
"Ya ampun, sampe keselek gitu." Dengan sigap lelaki itu mengeluarkan sapu tangan biru muda dari saku di bajunya, memberikan pada Cherry untuk lap mulut dan bibirnya yang belepotan.
"Ya abis Lo asbun banget, mau ketawa tapi takut hal itu hal yg bikin sedih buat Lo" Kata Cherry sehabis mengelap mulutnya.
"Hahaha bercanda bercanda" katanya, di dalam hati ia membatin betapa imutnya cewek disampingnya itu. "Ya gue punya beberapa kucing sih dirumah."
"Oh pantesan kalau gitu, hmmm makasih ya sekali lagi buat tadi siang, hihi"
"Iya Sama sama, lagian dirumah gue masih ada kok makanan kucing modelan gitu" sekali lagi ia tersenyum manis, membuat Cherry ikut tersenyum.
Cahaya ke orangean mulai muncul bersamaan dengan deburan ombak yang makin terdengar keras, perlahan sinar mentari mulai menggelap, keindahan yang memanjakan mata membuat meraka terpaku menatap jelas pesona matahari terbenam itu.
"Wow" Seru Cherry, ia bergegas mengabadikan momen itu memotret matahari terbenam dengan View pantai di hadapannya.
"Sini biar gue fotoin"
"Gamau ah malu." Tolak Cherry
"Malu segala, mana hape Lo, biar gue fotoin, sayang loh momennya." Tawarnya lagi.
Cherry memberikan ponselnya pada lelaki itu, ia bangun dari duduknya mendekati bibir pantai.
Lelaki itupun bangun dan bersiap menjadi fotografer.
"Ayo pose" Teriaknya mengarahkan Cherry.
Cherry bergaya semampunya.
Lelaki itu memotret dari kejauhan beberapa kali jepretan.
"Udah ah udah " Teriak Cherry, ia berjalan semakin dekat ke pantai.
Tanpa sadar lelaki itu memotretnya lagi, kali itu dengan Hp miliknya, foto candid hanya 1 foto, kemudian ia bergegas mendekati Cherry.
"Awas, airnya mulai pasang, nanti Lo hanyut lagi." Dia terlihat khawatir. "Nih hp Lo, udah gue fotoin ya dek."
Cherry mengangguk "Makasih"
"Sama sama"
"Indah banget disini, ternyata gak sia sia ikut kesini, bisa liat sunset." Oceh Cherry senang.
"Yaudah gue jagain Lo deh, sok aja kalau mau pegang air"
"Gue gak suka air laut" Tolak Cherry "Lengket dan asin"
Lelaki itu terkekeh geli "Yaiyalah asin namanya juga air laut, kalau mau tawar perginya ke danau."
Akhirnya mereka tertawa bersama, hingga pengganggu itu datang.
"CHERRY!!!" Teriak mas Bagas kencang, dengan perasaan yang sangat khawatir.
"Iyaaaaaa" Jawab Cherry tak kalah keras.
"Ayo pulang cepeeeet" Teriak mas Bagas lagi, sambil memberikan kode kode pada Cherry, mas Bagas berada sekitar 150 meter dari Cherry dan lelaki itu.
Cherry tertegun, lalu mulai merasa cemas "Eh gue pulang dulu ya, kayaknya udah gak beres situasinya, btw makasih ya."
Lelaki itu tampak kebingungan "Eh, emang harus sekarang banget, tapi kan kita belom......."
Cherry tak sempat lagi mendengarkan kata kata lelaki itu, hatinya diliputi perasaan cemas. Ia berlari ke arah mas Bagas secepat kilat.
"Ngobrol sama siapa?" Selidik mas Bagas, sesampainya Cherry di dekatnya.
"Stranger People" sahut Cherry asal.
"Lain kali jangan ngobrol sembarangan sama orang asing, kalau di culik gimana."
"Daripada aku jadi nyamuk, gak di ajakin, diabaikan, jadi temen angin, mending aku ngobrol sama sesama manusia" Oceh Cherry nyerocos sebal.
"Iya deh maaf, Mas Bagas salah" Sesalnya. "Kamu jaga rahasia mas ya, nanti mas traktir deh kalau gajian"
"Bener ya, awas kalau bohong, Cherry bocorin cerita hari ini." Ancamnya jahil.
Mas Bagas tersenyum kecut "Iya bawel, tagih aja, takutnya mas kan lupa."
Di perjalanan pulang ia baru menyesal, sekian lama berbincang kenapa tak sedikitpun ingat untuk resmi berkenalan dengan lelaki itu.
...Bahkan menanyakan namanya pun tak sempat, hanya sebuah sapu tangan biru muda yang tak sengaja terbawa olehnya, sapu tangan dengan wangi citrus dan cedar wood yg khas. Dalam hati ia bergumam semoga suatu saat mereka bisa bertemu lagi....