Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Merebut milikku
Sesampai di dapur, Glen dan Amira duduk untuk makan malam. Amira mempersiapkan makanan kedalam piring Glen.
"Ini sayang."
"Wah, makasi sayang. Makasi sudah selalu memasak makanan kesukaan ku, kamu memang yang terbaik." Puji Glen dengan bangga kepada Amira. Disisi lain, Melly terlihat datar, dan tidak senang mendengar percakapan kedua orang disisinya itu.
"Pasti dong sayang, aku akan selalu memberikan apa yang kamu suka." Jawab Amira dengan senang hati. "Oh iya sayang kamu tahu gak?."
"Gak," Ucap Glen, krena memang tidak tahu.
"Ternyata, kamu sama Melly sama-sama menyukai sup buatan ku. dan aku senang sekali." Tuturnya menceritakan dengan ekspresif.
Seketika ekspresi Glen berubah menjadi datar, sementara Melly tersenyum sinis, dia melihat perubahan pada ekspresi Glen. Karena secara tidak sengaja Amira telah membantunya untuk mengingatkan Glen tidak bisa jauh dari Melly.
"Aku juga senang, akhirnya menemukan seseorang yang menyukai sesuatu hal yang mirip dengan ku." Ucap Melly "Biasanya tidak pernah ada yang menyukai hal apa yang aku sukai, karena tidak menarik. Oh iya, katanya kalau orang-orang menyukai hal yang sama bisa jadi gambaran jodoh, padahal Glen sudah punya istri sekarang." Ucapnya dengan bercanda.
Lalu Glen menatapnya tajam, sementara Amira hanya tersenyum saja dengan candaan Melly barusan.
"Kali ini aku yang beruntung, Mell." Ujar Amira.
"Hahaha, semoga kedepannya aku yang beruntung ya." Jawab melly.
"Pasti dong, kamu akan dipenuhi dengan keberuntungan Mell, keberuntungan mana sih yang tidak memihak kepada orang yang sebaik kamu." Amira berbicara dengan sepenuh hati, dia merasa Melly layak menemukan banyak keberuntungan didalam kehidupannya, melihat Melly yang selalu ada disisinya dan banyak membantunya selama ini.
"Kali ini keberuntungan itu aku relakan kepada seseorang, sebelum aku mengambilnya kembali, Mir. Semoga saja setelah aku mengambilnya kembali dia bisa merelakannya tanpa merasa kesal kepadaku."
"Hahaha, kamu memang yang terbaik." Jawab Mira. "Oh iya, aku baru ingat." Ucap Amira tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Kenapa?." Tanya Glen bingung.
"Aku ingin kekamar sebentar, aku lupa memberi tahu sekretaris ku untuk mengecek beberapa laporan. Aku menghubunginya dulu ya. Glen tolong temani Melly sebentar ya, aku akan kembali." Ucapnya dan pergi buru-buru.
Glen yang hendak mencegatnya pun tidak sempat karena melihat Amira yang sangat terburu-buru. Dia sangat tidak ingin duduk dengan Melly, akan tetapi dia terpaksa melakukannya demi Amira tidak curiga dengan tingkahnya yang tidak mau mengobrol bersama Melly.
"Halo, Glen. Suami ku." Sapa Melly tersenyum sinis.
"Diam!." Glen mengepal tangannya dan menatap Melly serius.
Lalu Melly menghela napasnya dan mengalihkan pandangannya dari Glen. "Ya ampun Glen, seakan-akan kita tidak pernah satu rumah saja. Bahkan sekarang kamu berlagak sangat sombong padaku. Dimana Glen yang dulu, yang bersikpa baik dan berbicara lembut?, apa kamu sekarang benar-benar dibutakan Amira?." Tanya nya dan menatap Glen kembali.
"Apa rencana mu sebenarnya?." Tanya Glen datar dan tegas.
"Kamu tahu apa tujuan ku." Jawabnya singkat
"Kalau kamu sampai melakukan sesuatu yang menyakiti Amira, maka aku tidak akan segan menghancurkan kehidupan mu!." Ancam Glen dengan tegas.
"Aku harap kamu berpikir terlebih dahulu, Glen. Bukan aku yang akan menyakiti hatinya, tetapi kamu lah yang akan menyakiti hatinya."
Mendengar hal itu membuat nya mengatupkan rahangnya sangat kuat, dia sangat ingin mengusir Melly sekarang juga.
"Berapa uang yang kamu mau?." Tanya Glen berusaha bersikap datar.
"Ha?,"
"Aku tahu, kamu pasti membutuhkan uang makanya kamu tidak mau menceraikan ku kan?, katakan berapa uang yang kamu mau?, aku akan memberikannya kepada mu." Tuturnya.
Melly tersenyum sepele, dia bahkan rela mengembalikan perusahaan nya kepada Glen. Sekarang Glen malah menawarkan uang lagi. "Apa kamu gila?"
"Aku tidak gila, kamu lah yang tiba-tiba gila, Melly!."
"Glen, kalau aku memang butuh uang, sudah sejak dulu aku memintanya kepada mu."
"Aku tahu, kamu segan memintanya kepadaku. Sekarang aku memahaminya, dan katakan saja berapa yang kamu mau?. Aku akan memberikannya padamu, dan pergilah selamanya dari kehidupan ku."
"Aku tidak membutuhkannya." Jawab Melly datar. Dia merasa harga dirinya direndahkan Glen dengan uang, dia tidak terima itu. "Aku hanya membutuhkan mu saja, bukan harta mu." Tambahnya.
Glen menghela napasnya berat. "Kamu hanya butuh uang Melly, kita berdua sama-sama tahu kalau kita tidak saling menyukai sejak awal. Kamu menikahi ku karena permintaan kedua orang tua kita, dan bahkan kamu yang meminta pertama untuk cerai dari ku karena kita tidak saling memiliki tujuan yang sama, dan sekarang kamu ingin membohongi perasaan mu?, aku tahu kamu melakukan ini pasti karena sudah dibayar oleh Ibuku kan?, berapa yang dia bayar padamu makanya kamu mau berubah pikiran untuk berpisah dari ku?, apa dia memberikan jaminan yang sangat besar?. aku akan mengganti semuanya, memberikan dua kali lebih dari yang Ibuku berikan padamu." Tutur Glen.
PLAKKK
Seketika tangan Melly mendarat dipipi kanan Glen, dia sudah habis kesadaran untuk menamparnya. Glen sangat banyak berbicara kepada Melly, dan Melly tidak menyukainya.
"Asal kamu tahu, Ibu mu tidak menawarkan ku apa pun untuk kembali kepadamu!," Tutur Melly menunjuk Glen dengan tegas. "Iya, dia memang meminta aku untuk kembali kepadamu, akan tetapi keinginan ku lebih besar kembali kepadamu dibanding keinginan Ibumu itu. Aku harap kamu memahaminya, Glen!."
Glen terdiam, dia tidak pernah menyangka kalau Melly seperti ini. Dia merasa ini bukan lah diri Melly, dia sangat banyak perubahan. Kalau bukan Melly yang meminta cerai duluan, mungkin saat ini dia tidak akan menceraikannya, tetapi Melly lah yang mengusulkan perpisahan diantara mereka. Hal itu membuat Glen bahagia, makanya dengan cepat mengabulkannya dan berniat mencari keberadaan Amira.
"Kenapa kamu berubah, Melly?."
"Setiap orang itu pasti akan berubah, Glen. Jadi aku minta maaf, kalau aku masih belum bisa berpisah dari mu. Aku menarik semua perkataan ku waktu itu." Ujarnya.
"Kamu tahu aku sudah menikah dengan Amira sekarang, kenapa kamu tega melakukannya?, bahkan Amira adalah teman terdekat mu, Melly!."
"Aku tidak memperdulikan itu!, aku hanya peduli dengan apa yang seharusnya menjadi milikku!. Dan aku tidak suka kalau sampai orang lain mengambil apa yang sudah menjadi milikku, Glen!." Tegasnya.
Glen menjadi merasa campur aduk sekarang, dia hampir merasa gila. Kenapa Melly bisa berpikir seperti itu. Dia tidak paham akan berkata seperti apa lagi sehingga Melly bisa memahami apa yang sudah diperbuat.
"Melly!. Aku tidak menyukai mu, berhentilah mengejarku. Karena percuma kalau kamu berusaha mendapatkan ku, aku tidak akan bisa berdamai dengan mu. Pahami lah hal itu."
"Hal itu bisa kita ubah, aku bisa membuatmu berlahan menyukai ku, Glen. Tidak perlu memikirkan terlalu jauh dulu." Jawabnya.
"Apa?."
Sontak Melly dan Glen kaget dan melihat kesamping.