NovelToon NovelToon
Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.

Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.

Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: JEJAK KECIL YANG TERTINGGAL

Suasana kafe berinterior kayu hangat di kawasan Dharmawangsa sore itu terasa tenang. Denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen dan aroma biji kopi arabika yang diseduh memenuhi udara. Ranti duduk di sudut meja dekat jendela kaca, menikmati momen kesendirian usai menyelesaikan rangkaian penataan berkas legal perusahaan bersama Pak Hendra.

Di depannya, sebuah cangkir cappuccino masih mengesulkan uap tipis. Namun, pikiran Ranti justru melayang kembali ke ruang sidang Pengadilan Agama dua hari lalu.

Kalimat yang diucapkan oleh Hakim Ketua Farhan Arisya saat menutup persidangan terus bergema lunak di kepalanya:

“Maka, rawatlah dirimu dengan baik. Jika hidup pernah membuatmu berantakan, tak apa. Pelan-pelan, rapikan kembali dirimu. Sebab cantik bukan tentang tak pernah terluka, melainkan tentang bagaimana kamu tetap memilih untuk tumbuh, pulih, dan mekar dengan indah.”

Ranti mengulas senyum tipis. Ada rasa hangat yang aneh tiap kali ia mengingat raut wajah hakim muda berpenampilan tenang dan teduh itu. Tatapan mata Farhan saat menatapnya tidak terasa asing—ada sebentuk keakraban misterius yang seolah memanggil memori lamanya, namun Ranti tak sanggup mengingat di mana ia pernah melihat pendar mata seperti itu.

Ponsel Ranti bergetar pendek, menyetrum lamunannya. Sebuah pesan masuk dari Tasya.

"Ti, jangan lupa besok pagi ada jadwal pemeriksaan fisik tahunan untuk Bima di RS Brawijaya ya. Mau aku antar tidak?"

Ranti tersenyum, dengan cepat membalas pesan sahabatnya:

"Terima kasih banyak, Sya. Tapi besok aku bisa antar Bima sendiri. Kamu istirahat saja."

Ranti meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Matanya tak sengaja menangkap lipatan dokumen lama milik mendiang ibunya yang ia bawa di dalam tas—sebuah album foto kecil berbingkai beludru merah peninggalan Mendiang Ibu Kirana dari era tahun 90-an.

Ranti meraih album mungil itu, membuka lembar demi lembar kenangan masa kecilnya sebelum badai kehancuran akibat perselingkuhan ayahnya meremukkan rumah mereka.

Di salah satu lembaran kuning lusuh, tampak foto seorang anak perempuan berusia enam tahun dengan rambut panjang dikuncir dua—dirinya sendiri—sedang duduk di atas rumput taman kompleks rumah lama mereka di Menteng. Di sampingnya, berdiri seorang anak laki-laki kurus berkaos garis-garis merah-putih dengan kacamata bulat tebal yang melorot di hidungnya, memegang sebuah mainan kapal kayu kecil.

Di balik foto itu, ada tulisan tangan rapi mendiang ibunya: “Ranti & Farhan kecil, Taman Menteng 1998.”

Jemari Ranti terhenti tepat di atas nama itu.

Farhan.

Jantung Ranti berdesir hebat. Kenangan lama yang terkubur lebih dari dua puluh tahun mendadak menyeruak naik ke permukaan bagaikan kilatan cahaya.

Dua Puluh Delapan Tahun Lalu – Kompleks Rumah Menteng

Anak laki-laki kurus berkacamata tebal itu adalah Farhan—putra dari almarhum Pak Arisya, seorang pengacara keluarga yang menjadi sahabat dekat sekaligus konsultan hukum kepercayaan Mendiang Ibu Kirana.

Dulu, setiap kali Kirana sibuk bertengkar hebat dengan suaminya di dalam rumah besar itu, Kirana akan menyuruh Ranti kecil bermain di luar bersama Farhan agar Ranti tidak mendengar makian ayahnya. Farhan anak yang sangat pendiam, pemalu, dan sering diusili oleh anak-anak kompleks lain karena kacamata bulatnya yang tebal.

Namun di balik sifat pendiamnya, Farhan kecil selalu membagikan biskuitnya untuk Ranti, mengusap air mata Ranti saat gadis kecil itu menangis di bawah pohon kamboja taman, dan berjanji dengan nada polosnya:

“Ranti jangan menangis terus... Nanti kalau Farhan sudah besar, Farhan mau jadi penegak hukum yang hebat seperti Ayah. Farhan bakal lindungi Ranti dan Tante Kirana dari orang-orang jahat!”

Namun, takdir memisahkan mereka secara mendadak. Ketika perselisihan orang tua Ranti memuncak dan berakhir pada perceraian, Kirana membawa Ranti pindah ke luar negeri selama beberapa tahun untuk memulai bisnis tekstilnya dari nol. Komunikasi mereka terputus total. Farhan kecil menghilang dari kehidupan Ranti, tertutup oleh gulungan masa lalu yang penuh luka.

Kembali ke Masa Kini – Kafe Dharmawangsa

Ranti mengusap permukaan foto kusam itu dengan napas bergetar.

"Farhan... Farhan Arisya..." bisik Ranti, suaranya hampir tak terdengar.

Potongan teka-teki itu mendadak menyatu secara sempurna di dalam benaknya. Nama lengkap hakim muda itu di papan nama mimbar sidang: Farhan Arisya, S.H., M.H.

Bentuk alis yang tegas, tahi lalat kecil di sudut alis kirinya, serta pendar mata teduh yang selalu memancarkan perlindungan—semuanya adalah milik anak laki-laki kurus berkacamata tebal yang dulu berjanji akan menjaganya!

Ranti menyandarkan punggungnya di kursi kafe, matanya berbinar basah oleh keharuan yang luar biasa. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa hakim yang mengetukkan palu kebebasannya, yang merangkai kata-kata puitis untuk menguatkan jiwanya yang terluka di depan sidang... adalah teman masa kecilnya sendiri yang kini telah menepati janji masa kecilnya.

Dia mengenalku... batin Ranti dengan dada yang membuncah hangat. Farhan mengenalku sejak awal aku melangkah masuk ke ruang sidang itu. Tapi dia tetap profesional, menahan dirinya sebagai hakim yang adil tanpa merusak jalannya persidangan...

Ranti teringat bagaimana tatapan Farhan tidak pernah lepas memandangnya dengan rasa hormat dan empati yang dalam selama persidangan berlangsung. Kalimat manis tentang "merawat diri dan mekar dengan indah" itu bukan sekadar nasehat hukum biasa dari seorang majelis hakim, melainkan sebuah pesan pribadi yang ditujukan Farhan untuk Ranti kecil yang dulu sering menangis di bawah pohon kamboja.

"Kamu benar-benar menepati janjimu, Farhan..." gumam Ranti lembut, sebuah senyuman paling tulus dalam lima tahun terakhir mekar di wajah anggunnya.

Di Tempat Lain – Ruang Kerja Hakim Pengadilan Agama

Sementara itu, di lantai dua gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan, suasana ruang kerja Hakim Farhan mulai sepi. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore.

Farhan duduk di balik meja kayunya yang dipenuhi tumpukan berkas perkara baru. Namun, perhatiannya teralih pada sebuah kotak kayu kecil di dalam laci mejanya.

Farhan membuka kotak itu. Di dalamnya terbaring sebuah kapal mainan kayu kecil yang cat merahnya telah mengelupas disepuh waktu—mainan yang sama dengan yang ada di foto masa kecil Ranti.

Farhan meraba mainan kayu tersebut, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kerja. Wajah Ranti saat berdiri tegak di ruang sidang dua hari lalu, dengan potongan rambut bob barunya dan tatapan mata yang tak lagi mencerminkan rasa takut, berputar jelas di benaknya.

Saat pertama kali membaca berkas gugatan bertuliskan nama Ranti Anindita binti Tirta Utama sebulan lalu, jantung Farhan seolah berhenti berdetak. Teman kecilnya, cinta pertama masa kecilnya yang hilang tanpa kabar selama puluhan tahun, rupanya sedang hancur lelah dihantam pengkhianatan suami yang bejat.

Farhan bisa saja mengundurkan diri dari kepemimpinan majelis hakim karena merasa memiliki keterikatan emosional masa lalu. Namun, melihat betapa hancurnya posisi Ranti saat itu, Farhan memilih bertahan di atas mimbar keadilan. Ia memastikan proses persidangan berjalan seadil-adilnya, menjaga agar hukum berdiri tegap melindungi hak-hak Ranti dan Bima tanpa ada celah manipulasi dari pihak Tergugat.

"Kamu sudah mekar dengan sangat indah, Ranti..." bisik Farhan pelan pada keheningan ruang kerjanya.

Farhan tersenyum tipis. Ia tahu bahwa Ranti tidak menyadarinya saat di ruang sidang—dan Farhan memang sengaja menjaga batas-batas profesionalismenya sebagai seorang hakim. Bagi Farhan, melihat Ranti berdiri merdeka, tersenyum kembali, dan merebut kembali kebahagiaannya sudah lebih dari cukup.

Ia menutup kotak kayu itu rapat-rapat, menyimpannya kembali ke dalam laci terkunci.

"Tugas pertamaku sebagai penegak hukum untukmu sudah selesai," gumam Farhan seraya merapikan jasnya dan berdiri dari kursi. "Tapi kalau takdir mempertemukan kita lagi di luar tembok pengadilan ini... aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian lagi."

Farhan melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan hati yang lapang, menyongsong senja Jakarta yang membentang indah di luar sana. Benih kenangan masa kecil yang sempat terkubur puluhan tahun kini telah bertunas kembali, menantikan saat yang tepat untuk mekar bersama masa depan yang baru.

1
Lee Mba Young
pengacara Sony keren banget, walau Sony napi ttp bisa memenangkan sidang🤣.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.

pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
NinLugas: ka baca karya baru aku kak, perlu pembaca kritis kyk KK
total 1 replies
Lee Mba Young
pling enak pelakor Raya gk dpt karma.
Lee Mba Young
Cerita pling aneh. pdhl Sony napi dpt hak asuh.
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
Lee Mba Young
pengacara Sony best banget pdhl Sony selingkuh, zina korupsi tp dpt bebas Dan dpt hak asuh🤣 .
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
NinLugas: kalau g gila authornya ya ceritanya yg gila kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Ini hukum pling aneh, pdhl korupsi kok bisa bebas bersyarat.
pengacara ranti yg kurang keren
sunaryati jarum
Fitnah jika diselidiki dan ada bukti akurat,maka fitnah akan kalah
sunaryati jarum
Sony Seharus kamu akui dan terima kenyataan,ini semua karena kesalahan kamu.
Lee Mba Young
di sini pengadilan yg gk banget bpk nya napi tp dpt hak asuh itu dah aneh.
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.

ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
NinLugas: nnti d jelaskan d episode berikutnya nya y kk 🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Kenapa Sony bisa dpt hak asuh anak kn dia narapidana. kok aneh.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.
sunaryati jarum
Kacang lupa akan kulitnya ,itu kamu Soni dan keluargamu
sunaryati jarum
Kamu malah.tambah cari masalah
NinLugas: terimakasih y kk atas dukungannya, 😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Ada temen semasa kecil yang memberi dukungan
sunaryati jarum
Semoga kedepannya tidak ada lagi pengkhianat Ranti
sunaryati jarum
Orang tua Raya , bagus.Tidak membela tapi menyalahkan
sunaryati jarum
Tujuan kamu memang ingin merebut posisi Ranti, sudah pas kamu langsung dapat karma instan
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!