Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Mereka Anakmu!
Raina mengangguk. “Aku tahu kau mencariku.”
Sion mengepalkan tangannya. “Lalu kenapa kau menghilang?”
Raina terdiam cukup lama. Kemudian ia berkata pelan, “Karena saat itu, aku tidak punya pilihan. Kita sudah bercerai dan malam itu kalian sudah mengusirku begitu saja.”
Tatapan Sion berubah. “Dan sekarang? Kenapa kau kembali? Bahkan membawa dua anak ini.”
“Aku juga tidak datang karena punya pilihan.” Raina menarik napas panjang. “Aku datang karena mereka berhak tahu siapa ayah mereka.”
Kali ini seluruh ruangan benar-benar sunyi. Sion menatap kedua anak itu. Anak laki-laki tersebut masih menggenggam tangan Raina. Anak perempuan itu menatapnya tanpa rasa takut.
Dan untuk pertama kalinya Sion menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada hilangnya Raina selama delapan tahun. Selama delapan tahun itu... mungkin ada kehidupan lain yang berlangsung tanpa dirinya. Kehidupan yang bahkan tidak pernah ia ketahui.
“Raina...” suara Sion nyaris berbisik. “Mereka benar-benar...”
“Ya.” Jawaban Raina memotong kalimatnya.
“Mereka anakmu.”
Seketika terdengar isak tertahan dari salah satu sudut ruangan. Laura menutup mulutnya. Buket bunga di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Sion berdiri kaku di depan altar. Di satu sisi, perempuan yang selama delapan tahun ia kira telah menjadi bagian dari masa lalu. Di sisi lain, perempuan yang akan dinikahinya beberapa menit lagi. Dan di tengah-tengah mereka... sepasang anak kembar yang baru saja memanggilnya Papah.
Pendeta yang berdiri di altar menatap kedua keluarga dengan kebingungan. Tidak ada yang berani melanjutkan upacara. Sampai akhirnya Laura mengangkat wajahnya.
Air mata mengalir di pipinya. “Sion, kau tidak boleh membatalkan perrnikahan ini. Ki–kita sudah mempersiapkan pernikahan ini sangat lama. Sion, aku mohon!”
Sion menoleh. “Laura...”
“Tidak, Sion! Aku tidak mau.”
Suaranya pecah, tetapi cukup keras untuk membuat semua orang mendengarnya. Laura meraih tangan Sion dan menggenggamnya dengan erat seolah ia sangat takut kehilangannya. Ia lalu melayangkan tatapan tajam dan melontarkan makian kepada Raina beserta sepasang anak kembarnya.
“Raina, kau hanya mantan istri yang tidak dianggap oleh Sion.” Tatapannya berpindah kepada kedua anak itu. “Lalu kau datang sekarang… menghancurkan pernikahanku dengan Sion dengan membawa dua anak haram yang tidak jelas asal usulnya itu.”
Laura menatap Sion. “Sion, jangan terperdaya dengan tipuannya ini. Wanita murahan itu pasti hanya ingin menghancurkan pernikahan kita saja.”
“Hahahaa…” Raina tertawa keras menanggapi perkataan Laura yang terasa konyol baginya. “Tipuan atau bukan, dia yang lebih tahu tentang hal ini. Bukankah begitu Tuan muda Cassion?”
Sion memilih diam, meski ia tidak ragu bahwa sepasang anak kembar itu adalah anak kandungnya. Namun, ia masih harus memastikan dengan melakukan tes DNA. Akan tetapi, mustahil ia melakukannya di tengah aula pernikahan seperti ini. Dan yang terpenting, ia haru segera mengakhiri atau lebih tepatnya membatalkan acara pernikahan ini agar tidak semain menjadi tontonan para rekan bisnisnya.
"Raina..."
Suara Laura terdengar bergetar. Perempuan yang berdiri di samping Sion itu menatap Raina seolah baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah muncul dalam hidupnya.
"Kenapa kau harus datang dan mengacaukan hari pernikahanku?"
Raina tidak menjawab. Ia hanya berjalan beberapa langkah ke depan. Sepertinya rencana pertama tidak cukup, sehingga Raina berniat untuk melanjutkan rencana berikutnya.
Namun, Sion lebih dulu turun dari altar dan berkata, "Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."
Seketika ballroom bergemuruh. Sion tetap tenang, dengan ekspresi dinginnya ia memberikan perintah kepada anak buahnya untuk segera mengusir para tamu keluar dari aula pernikahan.
Ditengah kepergian para tamu, Laura masih membelalak tidak percaya, "Apa?"
Sion menatapnya. "Aku minta maaf, Laura."
"Tidak." Laura menggeleng cepat. "Tidak, Sion. Kau tidak bisa melakukan ini."
Candra Fernandez, ayah Laura langsung berdiri dari kursinya. "Pria macam apa kau, Sion?"
Sarah Juliana, sang ibu menyusul berdiri dengan wajah merah padam. "Kau sudah membuat seluruh keluarga kami mempersiapkan pernikahan ini selama berbulan-bulan!"
Ravenzo Fernandez, Kakak Laura mengepalkan tangannya. "Dan sekarang kau ingin membatalkannya hanya karena perempuan itu muncul?"
Stella bahkan tertawa sinis. "Hebat sekali." Ia menatap Raina dari atas ke bawah. "Setelah bercerai, kau masih punya muka untuk datang ke pernikahan mantan suamimu?"
Raina tetap diam. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Calista melangkah maju. "Memang dasar perempuan tidak tahu malu."
Suara perempuan itu terdengar nyaring di tengah ballroom yang mendadak sunyi. "Sudah menjadi mantan istri, masih saja mengejar-ngejar Sion."
Leon mencibir. "Seharusnya kau sadar diri, Raina. Sion akan menikahi Laura. Bukan kau."
Lea ikut menambahkan dengan suara penuh kebencian. "Dan sekarang kau membawa dua anak haram itu?" Matanya menyipit. "Untuk apa? Memancing belas kasihan?"
Bisikan para tamu yang beum sempat meninggalkan aula semakin terdengar, membuat Raina menunduk sedikit. Tangannya menggenggam tangan kedua anaknya lebih erat. Ia bersiap membalas semua cacian dan hinaan itu. Namun, niatnya terhenti karena Sion lebih dulu buka suara.
Sion menatap keluarganya dengan wajah mengeras. "Cukup."
Namun Calista tidak berhenti. "Kenapa harus cukup?" Ia menunjuk Raina. "Perempuan ini sudah menjadi masa lalumu yang kelam, Sion. Sekarang dia datang membawa dua anak yang entah siapa ayahnya dan berharap kau menerimanya kembali?"
Mata Sion berubah gelap. "Jaga ucapanmu."
Calista tertawa kecil. "Kenapa? Aku salah?"
Sarah ikut menyela. "Raina, apa kau tidak punya harga diri?"
Candra menggeleng jijik. "Kalau aku jadi kau, aku akan menghilang dari hadapan kami."
Raven menatap Raina tajam. "Jangan berpura-pura menjadi korban."
Stella menyilangkan tangan di dada. "Dasar perempuan murahan."
Ruangan kembali hening. Raina memejamkan mata sejenak. Dulu ia sudah terbiasa dengan hinaan, tetapi hari ini berbeda. Hari ini, kedua anaknya mendengar semuanya. Dan yang pasti ia bukan Raina yang dulu lagi. Raina yang lemah dan mudah diinjak-injak seperti serangga menjijikan.
Siapa sangka sebelum Raina melawan, rupanya Sean tidak suka mendengar ibunya dihina. Anak laki-laki itu perlahan mengangkat kepalanya.
Ia menatap Stella. "Tante."
Stella mengangkat alis. "Apa? Kau sedang bicara padaku, bocah?"
Sean mengangguk membenarkan. “Tante bilang Mamah Sean murahan?"
Stella terdiam sesaat, lalu mendengus. "Iya. Memangnya kenapa? Memang begitu kenyataannya."
Sean mengangguk pelan. "Oh." Ia tampak berpikir. "Lalu kenapa Tante datang ke pesta pernikahan ini dengan pakaian yang sangat terbuka? Bukankah itu pakaian yang hanya dipakai oleh wanita murahan yang bekerja di club malam?"
Beberapa tamu yang tersisa langsung menahan tawa. Wajah Stella memerah. "Kau—"
Shia tiba-tiba ikut bicara. "Nenek jahat juga tadi bilang Mamah Shia tidak punya harga diri."
Stella menatapnya. "Memang begitu!"
Shia mengerutkan kening. "Lalu Tante dan Nenek jahat punya?"
Bersambung….