NovelToon NovelToon
BUTTERFLY

BUTTERFLY

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.

Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.

Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

Gema umpatan dan desisan tajam dari bibir Hazel perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang sarat akan ketegangan elektrik di tengah ruang tengah penthouse yang luas.

Cahaya temaram dari pendar lampu dinding menciptakan atmosfer yang mendadak berubah menjadi intens, intim, dan memabukkan.

Jameson melangkah maju secara perlahan tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikit pun dari Hazel.

Sepasang mata hazel-nya membakar dengan gairah yang begitu pekat.

Setiap kali gadis di hadapannya ini menunjukkan taringnya, menyemburkan amarah, dan bersikap mematikan... keinginan Jameson untuk menundukkan dan memilikinya justru makin tak terkendali.

"Sudah selesai mengutukku, Miss Brooks?" bisik Jameson dengan nada suara yang teramat sangat berat dan sensual.

Sebelum Hazel sempat melontarkan balasan pedas berikutnya, jemari panjang Jameson bergerak cepat menyambar pinggang ramping Hazel, menarik tubuh ramping itu rapat tanpa jarak ke dalam dekapannya.

"Kau..." Hazel menahan napas saat dada bidang Jameson menghimpitnya kencang.

Tanpa memberikan ruang untuk protes, Jameson menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Hazel.

Sebuah ciuman yang dalam, panas, dan sarat akan dominasi murni seketika membungkam seluruh keluhan Hazel.

Tangan Jameson merayap turun ke bawah pinggul Hazel, lalu dengan satu gerakan mudah dan bertenaga, ia mengangkat tubuh Hazel ala koala.

Hazel refleks melingkarkan kedua kaki mulusnya di pinggang tegap Jameson, jemarinya mencengkeram erat bahu kemeja pria itu saat ciuman mereka makin menuntut dan liar.

Pria Ashford itu melangkah lebar membawa Hazel masuk ke dalam master bedroom, mematikan lampu utama dan menyisakan pendar redup dari lampu tidur di samping ranjang king size berseprai putih bersih.

Jameson membawa Hazel ke tepi ranjang, merebahkan tubuh ramping itu secara perlahan di atas kasur empuk, sementara fisiknya sendiri menyusul menindih Hazel dengan kehangatan yang membakar.

Bibir Jameson merayap turun dari bibir menuju rahang tegas Hazel, memupuk g*ir*h panas yang siap meledak untuk malam kedua mereka.

Namun, di tengah hembusan napas yang memburu dan gejolak gairah yang kian memuncak...

Srett!

Hazel mendadak mencengkeram kuat dada kemeja Jameson, mendorong fisik pria itu dengan sisa tenaga yang ia miliki.

"Sebentar... Jameson, tunggu sebentar!" dorong Hazel dengan nada suara yang bergetar hebat.

"Ah... sakit sekali!"

Jameson membeku seketika.

Sensasi gairah panas yang menyelimuti kepalanya mendadak buyar saat mendengar ringisan kesakitan yang begitu nyata dari mulut Hazel.

Pria itu menghentikan pergerakannya, mengangkat tubuhnya sedikit untuk menatap wajah gadis di bawahnya.

"Apa? Apa yang sakit?" tanya Jameson panik, sepasang matanya meneliti dengan cermat setiap inci wajah Hazel, menatap bibirnya yang sedikit bengkak, lalu meraba lembut kulit leher halus Hazel yang kemarin sempat ia gigit.

"Aku menyakitimu? Di bagian mana, Hazel?"

"Tidak... bukan di sana..." racau Hazel, memejamkan matanya rapat-rapat saat seluruh tubuhnya gemetar.

Kedua tangannya meremas kuat area perut bawahnya yang terasa diremas dan ditusuk oleh ribuan jarum tak berwujud.

"Perutku... Perutku sakit sekali... Aah, tidak... ini sakit sekali!"

Melihat raut wajah Hazel yang mendadak berubah pucat pasi seperti kertas, kepanikan luar biasa yang belum pernah dirasakan Jameson seumur hidupnya seketika menyergap dadanya.

Pria dingin yang selalu tenang menghadapi masalah bisnis miliaran dolar itu kini benar-benar kehilangan kendali dirinya.

"Hazel... kau sakit? Ada apa dengan perutmu?!" panggil Jameson dengan nada suara yang kacau, mengusap pelipis Hazel yang mulai dibasahi keringat dingin.

"Tahan sebentar, dengarkan aku. Ayo kita ke rumah sakit sekarang! Aku akan memanggil dokter pribadi keluarga atau membawa mobil ke IGD—"

"Tidak... Tidak perlu..." potong Hazel dengan napas tersengal-sengal, berusaha keras menahan rasa malunya yang membumbung tinggi.

"Aku... Oh, shit... Sepertinya ini siklus bulanan ku!"

Deg.

"What?" tanya Jameson melongo, otaknya mendadak membeku mencerna ucapan Hazel di tengah kepanikan yang masih tersisa.

Mata Jameson secara refleks bergulir turun menatap area sprei putih bersih di bawah pinggul Hazel.

Di sana, di atas kain katun premium yang semula putih tanpa noda, sebuah bercak merah pekat berukuran cukup jelas tercetak basah, merembes menembus celana tidur abu-abu yang dikenakan Hazel.

Jameson terdiam kaku selama dua detik, menatap bercak merah itu dengan pendar mata yang campur aduk antara kaget, bingung, dan rasa lega yang amat sangat karena Hazel tidak mengidap penyakit berbahaya.

"D-datang bulan...?" gumam Jameson lirih, menatap Hazel yang kini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena rasa malu yang luar biasa.

"Jangan melihatnya, Bodoh!" seru Hazel serak dari balik tangannya, rasanya ia ingin menghilang ditelan bumi saat ini juga.

"Turun dari tubuhku!"

Bukannya merasa jijik atau terganggu, kepanikan Jameson seketika berganti menjadi kepedulian yang teramat sangat mendalam.

Pria itu langsung bergeser turun dari atas tubuh Hazel.

Tanpa ragu sedikit pun, Jameson menyelipkan kedua tangan kekar di bawah punggung dan lutut Hazel, mengangkat tubuh ramping gadis itu ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati, seolah Hazel adalah barang pecah belah yang paling berharga.

"A-apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" protes Hazel terkejut.

"Diamlah, Hazel. Kau bahkan tidak sanggup berdiri tegap," tegur Jameson lembut namun tegas, melangkah cepat membawa Hazel masuk ke dalam kamar mandi utama yang luas.

Jameson mendudukkan Hazel di atas tepi bathtub marmer yang hangat.

Pria itu berlutut di hadapan Hazel, merapikan helai rambut basah yang menempel di dahi pucat gadis itu dengan jemari tangannya yang hangat.

"Tunggu di sini. Aku akan menyiapkan air hangat dan pakaian ganti," ujar Jameson penuh perhatian, menatap lurus ke mata Hazel.

Sebelum Hazel sempat membalas, Jameson sudah berdiri dan melangkah kembali ke dalam kamar.

Pria Ashford itu melucuti sprei putih yang ternoda darah di atas ranjangnya dengan gerakan cekatan, menggulungnya rapat lalu membawanya langsung menuju laundry room di sudut penthouse tanpa menunjukkan rasa canggung atau jijik sedikit pun.

Beberapa menit kemudian, Jameson kembali ke kamar mandi sembari membawa sebuah kemeja putih bersih miliknya yang berukuran besar serta sebotol air hangat dan obat pereda nyeri dari kotak P3K.

"Pakai kemeja ini," kata Jameson, menyerahkan kemeja putih kain sutra itu kepada Hazel.

"Ukurannya cukup panjang untuk menutupi paha hingga lututmu. Dan minumlah obat ini."

Hazel menatap kemeja putih dan obat di tangan Jameson, lalu beralih menatap wajah tampan sang dosen yang tampak begitu tulus dan cemas merawatnya.

Rasa hangat dari cangkir air yang disodorkan pria itu merambat ke telapak tangannya yang dingin, perlahan mengikis rasa canggung dan malu yang sempat menyergap dadanya.

Setelah Hazel meneguk obatnya, Jameson masih bergeming di ambang pintu kamar mandi.

Pria Ashford itu memperhatikan wajah pucat Hazel dengan dahi berkerut cemas, meneliti setiap perubahan ekspresi pada mahasiswinya.

"Kau masih merasa sangat sakit?" tanya Jameson pelan, suaranya sarat akan nada khawatir yang jujur.

Hazel menghembuskan napas perlahan, menyandarkan punggungnya pada dinding marmer kamar mandi yang dingin.

"Sedikit berkurang... Tapi biasanya nyeri ini baru benar-benar hilang setelah beberapa jam."

Jameson mengangguk paham. Namun, tatapannya tiba-tiba terhenti pada satu hal yang mengusik pikirannya.

Pria itu baru menyadari bahwa di dalam apartemen pemuda lajang seperti dirinya, tidak ada satu pun keperluan kewanitaan yang dibutuhkan Hazel saat ini.

Jameson merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintarnya lalu membuka aplikasi perpesanan.

Pria itu menatap Hazel lurus-lurus tanpa raut canggung sedikit pun di rahang tegasnya.

"Merek pemb*lut apa yang biasa kau pakai?" tanya Jameson polos dan sangat polos, suaranya begitu tenang seolah ia sedang menanyakan merek kopi favorit atau dokumen analisis manajemen bisnis.

Hazel tersentak. Sepasang matanya membelalak kaget menatap Jameson. "A-apa...?"

"Merek pembalut," ulang Jameson dengan artikulasi yang sangat jelas, jemarinya sudah siap mengetik di atas layar ponsel.

"Sebutkan ukurannya, bentuknya, atau jenis spesifik yang biasa kau gunakan. Aku akan menyuruh asistenku atau pengawal bawah untuk membelinya di supermarket dua puluh empat jam sekarang juga."

"Jameson, kau gila?!" bisik Hazel dengan wajah yang seketika memerah padam.

"Kau... seorang Jameson Baxter Ashford, ingin menyuruh pengawalmu membeli benda seperti itu?!"

"Lalu kenapa?" sahut Jameson santai, menyandarkan bahunya di bingkai pintu, menatap Hazel dengan pendar mata hazel-nya yang teduh.

"Kau sedang membutuhkannya, Hazel. Tidak ada yang salah dengan membeli kebutuhan medismu. Jadi sebutkan saja mereknya sebelum aku menyuruh pengawal memborong satu rak supermarket."

Mendengar ancaman konyol namun nyata dari pria di hadapannya, Hazel tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Namun, di balik rasa malu yang membakar pipinya, ada sebuah perasaan aneh yang perlahan menyusup hangat ke dalam relung dadanya.

Seumur hidupnya, Hazel terbiasa berdiri sendiri, menghadapi rasa sakit, ancaman, dan kerasnya dunia tanpa pernah mengandalkan siapa pun.

Tidak ada pria yang pernah menanyakan detail sekecil dan secanggung itu padanya—apalagi seorang pria dari kalangan elit seperti Jameson Baxter Ashford yang biasanya hanya peduli pada gengsi dan kekuasaan.

Membayangkan seorang dosen terpandang dan pengawal berbadan tegap repot-repot mencari pembalut wanita di tengah malam hanya demi kenyamanannya... membuat benteng es di hati Hazel luluh sedikit demi sedikit.

Ada rasa terharu yang amat sangat halus, merayap lembut menembus kesadaran Hazel.

Hazel menundukkan kepalanya sedikit, menyembunyikan senyum tipis tak terduga yang terukir di sudut bibirnya.

"Merek apa saja... Pilih yang berukuran panjang untuk malam hari."

Jameson mengangguk cepat tanpa banyak bertanya lagi.

Jemarinya bergerak lincah mengetikkan perintah di ponselnya, lalu mengaitkan kembali ponsel itu ke sakunya.

"Sudah terkirim. Pengawal akan membawanya naik dalam sepuluh menit," ujar Jameson, lalu melangkah mendekat. Pria itu berlutut kembali di hadapan Hazel, meraih telapak tangan Hazel yang dingin dan mengusapnya lembut dengan kedua telapak tangannya yang hangat.

"Gantilah pakaianmu dulu dengan kemeja ini. Aku akan menunggu di luar," bisik Jameson lembut, menyapukan jemarinya di pipi Hazel dengan penuh kehangatan yang amat tulus.

Hazel menatap manik mata Jameson yang kini terpancar begitu dekat.

Untuk pertama kalinya sejak mereka terjebak dalam kesepakatan rahasia ini, Hazel tidak melihat Jameson sebagai dosen yang mengintimidasi atau pria mesum yang memanfaatkan keadaan.

Di hadapannya malam ini, Jameson hanyalah seorang pria yang dengan tulus ingin melindunginya dan merawat rasa sakitnya.

Dan entah mengapa, rasa terharu itu mendadak terasa begitu memabukkan di dalam dada Hazel.

...----------------...

Happy reading 🦋

1
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗🤗
Yusry Ajay
lagi up nya Thor 🤗🤗💪
safaana
pengen tampar tu muka Cristine,,udah selingkuh tak tau malu lagi,slalu ada ular berbisa
Rosdianah 🌷: kwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
hazel keren 😁😁😁
Rosdianah 🌷: iya dong 🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
hu... cantik dan ganteng 😁😁🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjuut
Lilla Ummaya: Yaaa skrng thore
total 2 replies
safaana
nikahi saja jame,dan suruh mommy bilang pada hazel yang baik2
Lilla Ummaya
Lanjuut
safaana
deddy lean dulu kan nikah dulu
Rosdianah 🌷: author lupa 🙏🏻🤣
total 1 replies
safaana
berasa aku yang berada di sana tegang bnget
Rosdianah 🌷: hhah🤣
total 1 replies
Debu Nakal
langsung nikahkan aja mom glow 🤣
Rosdianah 🌷: iya benar2 bahaya dia orang ini🤣
total 1 replies
safaana
hahaha ceroboh sekali si jame,jdi tontonan gratis
Rosdianah 🌷: agak lain 😭🤣
total 1 replies
Nita Nita
malah tebar pesona🤣😄🤭
Rosdianah 🌷: Sipaling sempurna 😭
total 1 replies
safaana
maka kejarlah sejauh mungkin jame
safaana
jangan menjebaknya hazel ntar kau sendiri yang masuk jebakan sendiri
Rosdianah 🌷: nah benar 🤭
total 1 replies
Nita Nita
aduh aduh aduh 😄😄🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Lilla Ummaya
Seru seru lg terus thor,,malming baca karyamu..kerenn
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Debu Nakal
siap dikejar tayang ma reader ngak thor
up up up 🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Lilla Ummaya
Lanjuut thoor yg bnyak donk
Lilla Ummaya: Ini dlu thoor
total 2 replies
Yusry Ajay
ternyata hazel pembunuh Thor 😶😶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!