Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
luka dan perhatian
Nara melarangnya, agar sebagian dirinya saja yang membawa, tetapi Deon tetap kekeh. Nara akhirnya mengalah dan tersenyum lega.
Ia mengikuti Deon keluar pasar usai dirinya merasa semuanya cukup. Sampai di mobil, Nara melihat semua belanjaan sudah Deon masukan ke dalam mobil.
Deon menoleh.
"sudah cukup kan?" tanyanya.
Nara mengangguk, "sudah, ayok pulang... Hari ini aku masuk pagi soalnya."
Nara segera menuju pintu mobil dan masuk di samping bangku sopir, Deon pun sama, ia masuk di bangku sopir, dan segera menyalakan mesin mobil, hingga akhirnya perlahan mobil meninggalkan area parkir pasar.
...
Di perjalanan pulang, Deon menoleh sejenak pada Nara.
"kamu memangnya sudah enakan?" tanya Deon.
Nara mengangguk, "sudah kok."
"kalau belum enak, lebih baik jangan paksakan... Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa lagi."
Nara menoleh pada Deon, "enggak Deon, aku udah enakan kok, nyatanya aku sudah bisa ke pasar."
Deon menghela nafas, ia terdiam sejenak... Ia tahu, memaksa Nara, sepertinya Nara tidak akan mau.
"ya sudah, kalau itu pilihan kamu, yang terpenting kamu harus jaga diri, oke..." ucapnya akhirnya
Nara mengangguk.
...
Perjalanan menuju rumah memakan waktu lima belas menit, dan mereka akhirnya sampai di halaman rumah.
Deon dan Nara segera turun dari mobil, barang belanjaan mereka semua di keluarkan dari bagasi... Nara membawa sebagian, yang lebih banyak adalah Deon.
Melihat Deon yang begitu perduli, dewasa dan sangat perhatian sedikit demi sedikit membuat hati Nara semakin yakin bahwa Deon patut di cintainya, meski rasa sakit hati dan belum yakin terhadap Arka yang bahkan sempat memberinya pesan semalam, belum juga hilang dari hatinya.
Nara hampir meneteskan air mata saat berjalan di belakang Deon yang lebih dulu masuk ke dalam rumah. Ia tak pernah menyangka jika akhirnya ia menikah dengan orang yang sama sekali belum pernah dan bahkan tak pernah ia kenal. Namun perhatiannya bak orang yang sudah mengenalnya lama...
sampai di ruang makan, Nara dan Deon menaruh barang belanjaan yang di beli mereka tadi. Deon tiba-tiba menoleh ke arah Nara.
"Ra, Kamu siap-siap saja untuk bekerja, waktunya udah mepet... Biar aku yang masak buat kita sarapan."
Nara menatap balik ke arah Deon, senyum mengulas di wajahnya, ia merasa tak enak hati, "Sudah Deon, enggak apa-apa. Aku masak dulu saja, nanti aku buru-buru mandi kalau sudah selesai."
"Nara..." Deon mengingatkan.
"iya-iya aku mandi. maaf Deon jadi merepotkan."
Deon menghela nafas, "merepotkan bagaimana? Kamu istriku... Aku berangkat bekerja lebih santai dari pada kamu, jadi tidak ada yang merepotkan. Kalau kamu mau... Aku ingin kamu di rumah saja."
Nara terdiam.
Senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia menatap Deon, mencoba memahami maksud perkataan laki-laki itu.
“Di rumah saja?” ulangnya.
Deon mengangguk sambil mulai mengeluarkan sayuran dari kantong belanja.
“Iya. Kamu bisa istirahat kalau capek. Enggak perlu buru-buru berangkat kerja, apalagi kalau badanmu belum benar-benar pulih.”
Nara menunduk sesaat, lalu tersenyum tipis.
“Deon, aku senang kamu perhatian sama aku. Tapi aku sudah bekerja di sana cukup lama. Aku enggak bisa tiba-tiba berhenti hanya karena sekarang sudah menikah.”
“Aku enggak menyuruhmu berhenti.”
“Tapi kamu bilang ingin aku di rumah.”
Deon menghentikan gerakannya. Ia kemudian menoleh dan menatap Nara dengan lebih serius.
“Maksudku, kalau suatu hari kamu merasa terlalu lelah, kamu boleh istirahat. Kamu enggak harus memaksakan diri untuk selalu kuat.”
Nara terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa menyentuh bagian hatinya yang paling rapuh.
Selama ini, ia terbiasa mengurus dirinya sendiri. Ia bekerja, mengatur waktu, dan berusaha menyelesaikan semua tanggung jawabnya tanpa merepotkan orang lain. Bahkan ketika hatinya terluka karena Arka, ia tetap berusaha berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun sekarang, ada seseorang yang justru mengingatkannya bahwa ia boleh merasa lelah.
Bahwa ia tidak harus selalu terlihat kuat.
“Deon...” panggilnya lirih.
“Hm?”
“Kenapa kamu selalu baik sama aku?”
Pertanyaan itu membuat Deon terdiam sejenak.
Ia ingin menjawab bahwa dirinya sudah menyayangi Nara jauh sebelum perempuan itu menjadi istrinya. Ia ingin mengatakan bahwa perhatian yang diberikannya bukan sesuatu yang harus dipaksakan, sebab sejak dulu ia memang ingin melakukan semua itu untuk Nara.
Namun Deon menahan kata-katanya.
Ia belum siap membuka rahasia tersebut.
Akhirnya, ia hanya tersenyum kecil.
“Memangnya aku harus jahat sama istriku sendiri?”
Nara tertawa pelan.
“Bukan begitu maksudku.”
“Lalu?”
Nara menggeleng.
“Sudahlah. Aku mandi dulu.”
Ia segera berbalik menuju kamar sebelum Deon sempat melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Deon memperhatikan kepergian Nara dengan senyum samar.
Dalam hati, ia berharap suatu hari nanti Nara akan memahami bahwa perempuan itu tidak pernah menjadi beban baginya.
Justru kehadiran Nara membuat rumah yang selama ini terasa sepi menjadi tempat yang ingin selalu ia datangi.
...
Di dalam kamar, Nara mengambil pakaian kerja dari lemari. Tangannya sempat berhenti ketika melihat pantulan wajahnya di cermin.
Ia teringat perhatian Deon sejak semalam.
Laki-laki itu menjaganya ketika ia sakit, menyiapkan makanan, mengantarnya berbelanja, bahkan rela membawa semua kantong belanjaan meskipun dirinya sendiri hampir muntah karena bau amis ayam.
Senyum kecil muncul di bibir Nara.
“Kenapa sih kamu selalu bikin aku bingung?” gumamnya.
Bingung dengan perhatian Deon.
Bingung dengan perasaannya sendiri.
Dan bingung karena di tengah usaha untuk melupakan luka yang ditinggalkan Arka, Deon justru hadir dengan cara yang perlahan membuat hatinya merasa aman.
Namun begitu teringat pesan Arka semalam, senyum Nara kembali menghilang.
Apa aku benar-benar sudah siap membuka hati untuk Deon?
Nara menggigit bibir bawahnya.
Ia tidak ingin menjadikan Deon sebagai pelarian dari rasa sakitnya. Laki-laki itu terlalu baik untuk menerima cinta yang setengah hati.
Jika suatu hari ia mencintai Deon, ia ingin perasaan itu tumbuh dengan tulus.
Bukan karena ia kecewa kepada Arka.
Melainkan karena Deon memang pantas mendapatkan tempat di hatinya.
Nara menarik napas panjang, kemudian bergegas mandi agar tidak terlambat bekerja.
...
Sementara itu, Deon mulai menyiapkan sarapan di dapur.
Ia mengeluarkan telur, sayuran, dan beberapa bahan lain yang baru mereka beli. Setelah memeriksa isi kulkas yang masih kosong, ia menyusun bahan makanan dengan rapi sebelum mulai memasak.
Sesekali ia melirik jam dinding.
“Nara pasti buru-buru lagi,” gumamnya.
Deon tersenyum sendiri, lalu kembali mengaduk masakan.
Tidak lama, Nara keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi. Rambutnya tertata, wajahnya tampak segar, meskipun masih ada sedikit bekas lelah.