"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit 08.
Pukul delapan malam. Suara rintik gerimis di luar jendela kamar Nawang terdengar seperti bisikan yang monoton.
Di dalam kamar, hanya ada kesunyian yang berat dan aroma minyak telon yang menguar tipis.
Nawang berbaring menyamping, meringkuk di bawah selimut tebalnya. Kulitnya terasa terbakar, tetapi di saat yang sama, ia merasa kedinginan sampai ke tulang.
Efek kemarin kehujanan dan kurang tidur sejak subuh untuk membuat bekal yang berakhir di loker gelap.
Ponselnya yang tergeletak di atas bantal bergetar pelan. Dengan sisa tenaga yang ada, Nawang menggeser layarnya yang gelap, terlihat Timy mengirimkan pesan whatsapp,
Neng, Aa baru selesai latihan basket tambahan. Ini langsung otw beli bubur ayam Mang Udin yang biasa kamu suka. Abis isya Aa sampai rumah kamu ya. Tungguin, jangan tidur dulu. Tadi titip salam ke Mama, katanya Mama lagi pergi arisan ya?
Sebaris pesan itu memicu senyum kecil—namun getir—di bibir Nawang. Ada rasa lega yang egois di dadanya.
Setidaknya, Timy masih ingat.
Setidaknya, dalam keadaan sakit seperti ini, status nya sebagai pacar masih mendapatkan porsinya.
Iya, Aa. Hati-hati di jalan,
Balas Nawang singkat. Mengetik lima kata itu saja membuat jarinya terasa kaku.
Nawang memejamkan mata, memeluk gulingnya erat-erat. Ia mencoba bertahan melawan denyut di kepalanya, menghitung menit demi menit dalam hati. Menunggu suara motor matik Timy yang khas berhenti di depan pagar rumahnya.
**
Sementara itu, tiga kilometer dari rumah Nawang, Timy baru saja menepi di depan gerobak bubur ayam. Mesin motornya masih menyala stasioner. Ia sedang merogoh dompet ketika ponsel di saku jaketnya mendadak berdering heboh.
Nama di layarnya adalah Kanaya.
Timy mengernyit, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Nay? Kenapa? Gue lagi di luar nih—"
"Timy... lo di mana?" Suara di seberang telepon terdengar bergetar, disusul isakan kecil yang tertahan. "Tim, rumah gue... rumah gue mati lampu. Bokap nyokap masih belum pulang dari luar kota. Gue sendirian di kamar, gelap banget. Tadi ada suara dentuman keras di atas atap, gue takut banget, Tim..."
Timy langsung menegakkan posisi duduknya. "Mati lampu doang? Kan ada senter hp, Nay. Coba cek sekring depan."
"Gue nggak berani keluar kamar, Tim! Plis... gue mohon. Gue benci gelap, lo tahu kan? Gue bisa sesak napas kalau panik," tangis Kanaya pecah. Suaranya terdengar cicitan anak kecil yang benar-benar kehilangan arah. "Plis, ke sini bentar aja... temenin gue..."
Timy terdiam. Matanya menatap gerobak bubur ayam di depannya, lalu bayangan Nawang yang sedang lemas di kasur melintas di kepalanya. Namun, isakan Kanaya di telepon terdengar makin histeris.
Otak remaja belasan tahun milik Timy langsung bekerja dalam mode panik.
Dalam logikanya yang dangkal saat itu, Nawang hanya demam dan berada di dalam rumahnya yang aman.
Sementara Kanaya sedang ketakutan setengah mati dalam kegelapan sendirian.
"Yaudah, yaudah, Nay. Lo tenang. Kunci semua pintu kamar. Gue ke sana sekarang. Jangan dimatiin teleponnya."
Timy membatalkan pesanan buburnya. Ia langsung memutar balik motornya, memacu kendaraan itu membelah jalanan yang mulai basah menuju kompleks perumahan Kanaya. Ia abai pada satu fakta, ia sedang mengorbankan janji yang sudah ia ikat dengan seseorang yang selalu mengalah untuknya.
Jarum jam dinding di kamar Nawang sudah menunjuk angka sembilan lewat lima belas menit.
Isya sudah lewat lama. Keheningan malam justru terasa semakin mencekam. Nawang membuka matanya yang terasa seberat timah.
Kamarnya masih sepi. Tidak ada ketukan pintu. Tidak ada suara langkah kaki di tangga.
Ia meraih ponselnya. Layarnya bersih. Tidak ada notifikasi panggilan baru, tidak ada pesan lanjutan dari Timy.
Rasa cemas mulai bercampur dengan hawa panas tubuhnya. Apakah Timy kecelakaan di jalan? Atau antrean buburnya sangat panjang? Dengan tangan bergetar karena menggigil, Nawang mengetik pesan.
Aa, udah di mana?
Tidak terkirim. Hanya centang satu.
Nawang mencoba menelepon.
Suara operator yang datar memberi tahu bahwa nomor Timy sedang berada di luar jangkauan atau sedang sibuk.
Nawang mencoba sekali lagi, hasilnya sama.
Di sinilah emosi Nawang mulai terkikis habis.
Fisik yang lemah membuat pertahanan mentalnya runtuh. Rasa sakit di kepalanya seolah membesar, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang berpacu cepat karena cemas dan kecewa.
Ia ingat bagaimana Timy tersenyum saat memakan sandwich buatan Kanaya tadi pagi. Ia ingat bagaimana bekal birunya berakhir di loker. Dan sekarang, di saat ia membutuhkan cowok itu hadir hanya untuk menemaninya menelan obat, ia kembali ditinggalkan dalam ketidakpastian.
"Kamu di mana, Aa...?" bisik Nawang pada kamar yang kosong. Air mata yang sejak pagi ditahannya, akhirnya menetes juga, membasahi bantal. Panas dan perih.
Nawang kelelahan.
Menunggu dalam kondisi sakit adalah siksaan fisik dan batin yang luar biasa.
Perlahan, karena efek demam yang tinggi dan energi yang terkuras habis oleh rasa kecewa, kesadaran Nawang mulai menipis. Pandangannya menggelap. Ia ketiduran—atau lebih tepatnya, pingsan secara halus karena tubuhnya tidak sanggup lagi menahan beban.
Di belahan kota yang lain, ruang tamu rumah Kanaya tampak remang-remang, hanya diterangi oleh cahaya dari dua buah lilin yang diletakkan di atas meja kaca.
Timy duduk di sofa, sementara Kanaya duduk agak merapat di sampingnya, masih memeluk lutut dengan bahu yang sesekali naik turun karena sisa tangisnya.
Ketakutan cewek itu berangsur mereda sejak Timy datang sepuluh menit yang lalu dan memeriksa bahwa pemadaman itu memang terjadi serentak di blok mereka.
Ponsel Timy tergeletak di atas meja. Layarnya sempat menyala menampilkan nama Nawang, namun detik berikutnya mati total. Lowbat. Timy bahkan tidak sempat membaca pesan terakhir dari pacarnya karena ponselnya mati di tengah jalan tadi akibat lupa di-charge sepulang latihan futsal.
"Makasih ya, Tim," lirih Kanaya, memecah keheningan di antara mereka. "Gue nggak tahu harus telepon siapa lagi selain lo. Gue panik banget tadi."
Timy menghela napas, tangannya mengusap wajahnya yang lelah. "Iya, santai aja. Lain kali kalau mati lampu, langsung nyalain emergency lamp yang di lorong. Jangan dibiasain panik duluan."
Kanaya menatap Timy dari samping. Cahaya lilin yang bergoyang membuat siluet wajah cowok itu terlihat tegas namun menyimpan rasa bersalah yang besar.
Kanaya tahu Timy punya janji lain malam ini. Dia tahu Timy adalah pacar Nawang. Tapi ego remaja nya memilih untuk abai.
"Lo... harusnya pergi ya malam ini?" tanya Kanaya pelan, pura-pura tidak tahu penuh.
Timy melirik ponselnya yang mati. Dadanya mendadak terasa sesak oleh firasat buruk. Ia tahu Nawang pasti sedang menunggunya. Ia tahu ia sudah kacau malam ini.
"Enggak," dusta Timy, suaranya terdengar berat di tenggorokan. "Bukan hal penting kok. Udah, lo tenangin diri dulu. Kalau lampu udah nyala, gue langsung balik."
Timy tidak sadar, kalimat “bukan hal penting” yang ia ucapkan demi menenangkan Kanaya, adalah sebuah pengkhianatan terbesar bagi ketulusan Nawang yang sedang berjuang melawan demam sendirian di kamarnya yang dingin.
......................
...****************...
Tbc,