Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecemburuan Olivia
dimas kembali lagi ke cafe setelah mengantar dinda pulang.
dimas mengirim pesan kepada Olivia
dimas : sayang aku tunggu di kantor
setelah menyelesaikan perkerjaannya, Olivia langsung pulang. tidak mengindahkan pesan dimas
"jang... Olivia mana?"
dimas menunggu lama tapi Olivia tak kunjung datang, dan menghampiri ke stage, disana grup band sudah prepare untuk pulang
"Olivia sudah pulang mas. baru aja kelur"
dimas berlari ke tempat parkir mengejar Olivia tapi tidak ada
"wi... kamu bereskan ya"
****
Olivia memarkirkan kendaraannya dengan sempurna di halaman rumah
"kamu juga baru pulang sis?" Olivia mendapati Siska duduk di teras bersama luis
"sudah dari tadi vi.. masih mau di sini aja. gerah"
Olivia bergabung bersama Siska dan luis.
"sis... mas dimas apa punya pacar?"
"pacar? setauku ndak ada vi. kamu kan pacarnya"
"tadi mas dimas ke cafe sama cewek.. cantik bgt sis.. putih"
"siapa ya vi. aku kok ndak tau"
"ya sudahlah sis... aku masuk dulu" ucap Olivia meninggalkan mereka berdua
Mobil dimas masuk kedalam halaman rumah kontrakan Olivia
"sis.. Olivia mana?" tanya dimas
"baru aja masuk. kalian ini kenapa sih? masih bertengkar?"
"panjang ceritanya sis" dimas masuk kedalam rumah itu
"vi... vi... " dimas mengetuk pintu kamar Olivia, tak tidak di bukakan "vi... tolong buka vi.. aku bisa jelaskan" dimas masih mengetuk pintu kamar Olivia
"kenapa mas? aku disini" Olivia muncul dari ruang tengah
"kamu jangan marah" dimas menghampiri Olivia
"aku ndak marah. siapa yang marah" ucap Olivia sambil menegak segelas air putih
"ikut aku vi... ayo" dimas menarik tangan Olivia
"lepas mas.. mau kemana malam-malam begini?"
"pokoknya kamu harus ikut aku"
Olivia belum juga mengganti bajunya, kini di paksa ikut harus menuruti permintaan dimas
"mau kemana?" Olivia mencoba melepaskan genggaman tangan dimas
"sudah ayo ikut aku. sekarang"
dengan terpaksa Olivia mengikuti dimas
"kita mau kemana mas?"
Dimas diam tak menjawab
"mas tolong... kita mau kemana? aku capek. aku ngantuk"
"nanti juga kamu tau kita akan kemana"
"tolong antar aku pulang"
"kamu kenapa sih? kamu marah sama aku?"
"ya aku marah sama kamu, sangat marah"
"tolong dengarkan penjelasanku dulu sayang. jangan marah"
"oke... jelaskan sekarang"
"nanti saja" dimas terus melajukan mobilnya dan sampai di hotel dimana dulu dia pernah kesana bersama Olivia
"ngapain kita kesini mas?" ucap Olivia ketika mobil itu masuk area hotel
"jangan bicara sekarang sayang. plis"
Setelah masuk kedalam kamar hotel
Olivia duduk di sofa kamar itu.
"kenapa harus kesini sih mas?" protes Olivia
"aku minta maaf sayang.. bukan maksud ku untuk menghianatimu"
"kamu balas dendam?"
"bukan... aku tidak ada niat sama sekali. ini semua karena terpaksa"
"terpaksa?"
"ya... terpaksa. aku di jodohkan dengan dinda. kalau aku ndak mau, pak bayu akan menarik semua saham dari perusahaan papa, cafeku juga akan kena imbasnya"
"apa tidak ada cara lain selain menjodohkan anaknya? kenapa pembisnis selalu mempertaruhkan kebahagiaan anaknya demi usahanya"
"aku minta maaf sayang. bukan maksud ku menduakanmu. aku sayang sekali sama kamu sayang" dimas memegang jari Olivia dan mencium jemari lentik itu
"kenapa harus kamu sih mas?"
"aku anak tunggal sayang, hanya aku yang bisa menyelamatkan perusahaan papa"
Olivia masih tertegun dengan ucapan dimas
"maaf ya sayang.. aku ndak mau kita berpisah"
"lantas? kamu menikah dengan dia dan kamu juga menjadi pacarku?"
"jangan tinggalkan aku sayang. aku mohon"
"apa yang harus aku lakukan mas? kita sudah berhubungan terlalu jauh"
"aku mohon jangan pergi dari ku ya. plis"
"aku belum bisa menjawabnya mas. aku bingung"
dimas memeluk Olivia
"maaf sayang... aku mengecewakanmu. hanya kamu orang yang aku suka bukan dinda"
"oh namanya dinda?"
"maaf"
air mata Olivia seketika jatuh
"aku mau pulang mas"
"sayang.. jangan. aku mohon"
"aku mau pulang mas"
"kamu kecewa dengan aku? hmmm????"
"ya mas. aku kecewa" tatap Olivia
"maafkan aku sayang. aku tidak bisa berbuat apa-apa"
"ya sudah... ambil keputusanmu itu mas" ucap Olivia menyeka air matanya
"jangan menangis seperti ini sayang. aku minta maaf" dimas memeluk Olivia, membiarkan Olivia menangis didalam pelukannya
"maaf... maaf" hanya mata maaf yang bisa dimas ucapkan
Olivia masih terisak, baru sebentar dia merasakan diperhatikan, disayang. kini sudah harus kecewa
"aku harap kamu bahagia dengan pilihan kedua orang tuamu mas"
"ndak vi... ndak... aku ndak mau berpisah dengan kamu"
"jadi kamu mau kita tetap seperti ini?"
"ya... aku mau seperti ini selamanya"
"mas... aku ndak bisa seperti ini terus mas. bagaimana kalau dinda tau kita masih berhubungan? apa dia tidak sakit hati?"
"bodoamat sayang... aku tidak pernah suka dengan dia"
"mas... ingat kedua orang tuamu. dia berharap besar kepadamu"
"oke aku berkorban demi keluargaku. tapi aku harap kamu jangan meninggalkanku sayang. aku mohon"
"aku ndak bisa janji mas"
"janji sayang" dimas memegang wajah Olivia, menatap mata indah itu "janji sayang.. ya"
"ndak tau mas. aku belum bisa janji"
dimas terus merayu Olivia.
"kamu orang satu-satunya yang membuat aku nyaman mas. tapi sekarang seperti ini" tangis Olivia kembali pecah
"maafkan aku sayang.. maaf" dimas memeluk semakin dalam tubuh mungil itu
"aku salah. aku minta maaf"
dimas mencium Olivia, Olivia pasrah dengan serangan dimas
"cuma kamu yang aku mau sayang. bukan yang lain"
malam yang panas itu terjadi lagi, Olivia dan dimas kembali bergulat di kamar itu. saling melepaskan cintanya
"sayang.. bagaimana jika aku tidak bisa melupakanmu" ucap dimas setelah melakukan pelepasan pertamanya
"aku juga berfikir seperti itu mas, kamu laki-laki pertama yang aku percaya dengan melepaskan kesucian ku
"kamu menyesal sayang?"
"ndak mas. aku hanya takut tidak bisa melepasmu dengan iklas"
"aku mohon kita seperti ini terus ya sayang. jangan pergi dari ku"
"aku ndak janji mas"
"katakan sekali lagi sayang... katakan kalau kamu mau pergi dariku" dimas kembali berada di atas tubuh Olivia
kembali menyusuri setiap jengkel tubuh itu, membuat Olivia menggeliat
dimas kembali menghunjam senjatanya
"katakan sayang.. ayo katakan" ucap dimas terus menghujam dengan keras membuat Olivia mendesah
"ndak sayang... aku mau kita seperti ini terus" pasrah Olivia
"terimakasih sayang"
dimas kembali melakukan aktivasinya menghujam dengan keras tubuh Olivia, sampai pada pelepasannya lagi
"terimakasih sayang" dimas mencium kekasihnya itu. kembali tergeletak di atas tubuh Olivia
"puas sayang?" bisik Olivia
"sangat puas" bisik dimas
dimas tidak yakin jika dia juga akan mendapatkan kepuasan selain dari Olivia. dimas tidak yakin jika dinda juga akan memuaskan dia.
dua insan yang tengah di mabuk asrama itu sama-sama tertidur pulas.
"mas bangun" Olivia membangunkan dimas yang nyaman di dalam selimutnya
"masih capek sayang"
"ponselmu dari tadi bunyi"
"biar.. mungkin mama"
"jawab dulu mas"
dengan lemas dimas meraih ponnselnya
"halo.. iya ma?"
"kamu kemana dimas? belum pulang"
"aq ketiduran di cafe ma. nanti aku pulang"
dimas menutup percakapannya itu
"mau kemana sayang?"
"aku mau pulang mas, hari ini mau ke rumah nenek"
"aku antar ya"
"jangan... ibu kamu sudah khawatir mas"
"tapi kamu ndak mau pergi dari ku kan" rajuk dimas seperti anak kecil minta permen
"ndak. aku janji"
Olivia memeluk dimas dengan mesra
"ayo sekali lagi sayang"
"mass... kapan-kapan lagi ya"
tapi ucapan Olivia tidak berhasil membujuk dimas. dimas kembali mengangkat tubuh Olivia keatas tempat tidur dan melakukan ritual lagi.