NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Perayaan

Hari libur akhir pekan akhirnya tiba. Udara pagi terasa sangat sejuk, seakan ikut merayakan kemenangan kecil yang baru saja diraih oleh Danu dan kawan-kawannya. Sesuai kesepakatan usai turun minum dari panggung kemarin, hari ini tim band dadakan itu berencana mengadakan perayaan kecil-kecilan di rumah Zahra.

Di kamarnya yang sedikit berantakan, Danu menggeliat di balik selimut. Sinar matahari mulai menyilaukan matanya. Ia menguap lebar, mengucek mata, lalu meraba-raba nakas untuk mencari ponselnya.

"Huaamm... jam berapa sih ini? Kalau gak salah janjian kumpulnya jam sembilan," gumamnya dengan suara khas orang bangun tidur.

Begitu layar ponselnya menyala, mata Danu seketika terbelalak. Angka digital di layar menunjukkan pukul 08:30.

"Waduh! Mampus, aku hampir telat!" serunya panik, langsung melompat dari kasur. "Masih ada sisa waktu setengah jam. Makan dulu deh buat ganjal perut!"

Danu berlari ke arah dapur dan membuka tudung saji di atas meja makan dengan penuh harap. Namun, harapannya pupus. Di sana hanya tersisa sepiring nasi putih dingin dan lauk sisa semalam—sepotong telur dadar yang sudah mulai layu.

Tanpa banyak basa-basi, Danu melahap telur dadar itu dengan kecepatan kilat layaknya orang kesurupan. Begitu piringnya bersih, ia langsung melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri secepat mungkin.

Lima belas menit kemudian, Danu keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit lehernya. Sambil mengeringkan rambut, ia buru-buru menekan tombol panggilan cepat ke nomor Rio. Nada sambung berbunyi agak lama sebelum akhirnya diangkat.

"Halo... uamm... iya, halo, Dan. Ada apa nih nelpon pagi-pagi buta gini?" sapa Rio di seberang sana, suaranya terdengar sangat serak dan malas. Jelas sekali anak itu baru saja bangun.

Danu menepuk jidatnya. "Pagi buta dari Hongkong! Lu lupa ya, Yo? Hari ini kan kita mau bikin perayaan di rumah Zahra! Buruan mandi! Oh iya, jangan lupa sekalian chat Kak Rizki buat ngingetin."

Terdengar suara grasak-grusuk panik dari seberang telepon. "Eh, buset! Gue lupa nyalain alarm! Siap, siap, Dan! Meluncur sekarang!"

Danu menekan tombol merah, mengakhiri panggilan sambil menggelengkan kepalanya heran. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan menghela napas panjang.

Hening sejenak. Senyum perlahan mengembang di bibir Danu saat pikirannya melayang ke kejadian semalam. Riuhnya tepuk tangan, sorakan penonton, dan pelukan hangat dari teman-temannya.

"Haa... rasanya bener-bener kayak mimpi," gumam Danu menatap langit-langit kamarnya. "Kalau ini beneran mimpi... tolong biarkan aku menikmatinya lebih lama lagi."

Namun, suara detak jam dinding segera menyadarkannya kembali ke dunia nyata. "Ahh, sudahlah! Mending aku buruan ganti baju sebelum diomelin Zahra."

Danu membuka lemarinya, memilih setelan kasual favoritnya, dan membalutnya dengan sebuah jaket andalan. Setelah rapi, ia berdiri di depan cermin panjang.

Danu menatap pantulan dirinya lamat-lamat. Ada yang berbeda. Bahunya tidak lagi membungkuk seperti bulan lalu. Sorot matanya juga tidak lagi memancarkan ketakutan atau rasa minder yang selalu menghantuinya. Hari ini, yang berdiri di balik cermin itu adalah seorang penabuh drum yang baru saja menaklukkan panggung.

Danu tersenyum tipis. "Hahaha, ganteng juga ternyata aku," pujinya pada diri sendiri. Sungguh pencapaian yang luar biasa baginya bisa kembali menemukan rasa percaya diri itu.

Namun, senyumnya sedikit memudar saat ia menepuk perutnya sendiri. Ia teringat betapa ngos-ngosannya ia saat memukul drum semalam.

"Hmm... dan mungkin, sepertinya aku butuh kurusin badan sedikit. Biar staminaku lebih kuat dan pas lari-lari aku gak gampang kelelahan. Kalau stamina payah begini, bisa-bisa nilaiku hancur lebur di pelajaran penjas minggu depan," pikirnya kritis.

Danu mengangguk mantap menyetujui idenya sendiri. "Masuk akal. Tapi olahraga dan dietnya mulai besok aja lah. Yang penting hari ini aku makan enak dan bikin perayaan dulu bareng teman-teman!"

Mengusir segala pikiran beratnya, Danu menyambar kunci rumah dan melangkah keluar dari kamarnya dengan perasaan ringan. Ia berlari kecil menembus udara pagi, bersiap menuju persimpangan jalan tempat mereka berjanji untuk bertemu.

Danu melangkah santai menyusuri trotoar menuju persimpangan jalan yang letaknya tak jauh dari area belakang sekolah. Lucunya, tepat saat ia tiba di titik pertemuan, tiga sosok lain juga muncul di waktu yang bersamaan dari arah yang berbeda. Rio muncul dari ujung jalan sebelah kiri, Zahra menampakkan diri dari arah kanan, dan Kak Rizki tampak berjalan santai dari arah berlawanan tepat di depan Danu.

"Wah, kok bisa pas banget gini ya kita nyampainya? Udah kayak adegan di komik-komik aja," kekeh Kak Rizki takjub melihat kebetulan yang nyaris sempurna itu.

"Iya, hahah! Pertanda chemistry band kita emang udah nyatu ini mah!" tawa Rio bangga.

"Oke, karena formasi udah lengkap, ayo langsung meluncur ke rumahku!" komando Zahra penuh semangat.

Mereka berempat pun mulai berjalan beriringan menyusuri jalanan perumahan. Suasana hati mereka sedang berada di puncak. Obrolan dan tawa terus mengalir, merayakan euforia keberhasilan pertunjukan mereka yang sukses memukau satu sekolah kemarin sore.

Setibanya di tujuan, sebuah rumah dengan pekarangan asri menyambut mereka. Rumah Zahra tidaklah mewah, namun terasa sangat hangat dan nyaman untuk ditinggali. Di halaman depan, terdapat sebuah ayunan kayu tua yang diikat kuat pada dahan pohon rindang—menjadi saksi bisu kenangan masa kecil yang perlahan ditinggalkan seiring bertambahnya usia penghuninya.

Rio mengedarkan pandangannya ke sekeliling pekarangan. "Wah, tak kirain lu anak orang kaya tajir melintir, Ra. Ternyata rumah lu merakyat gini ya," celetuk Rio terang-terangan dengan nada sedikit jahil.

Zahra langsung berkacak pinggang, menatap Rio dengan mata memicing. "Eleh, emangnya napa kalau gak kaya? Mau protes lu, hmm?!" balasnya jengkel.

Rio buru-buru nyengir kuda, mengangkat kedua tangannya membentuk gestur damai. "Hehe, gak papa sih. Gitu aja ngegas, jangan marah dong, Tuan Putri."

"Udah, udah, ayo adik-adik masuk aja. Udah sampai di depan pintu jangan malah lanjut berantem," lerai Kak Rizki menengahi kelakuan Tom dan Jerry itu.

"Nah iya, bener kata Kak Rizki," setuju Danu sambil tersenyum geli.

Mereka kompak melepas sandal jepit Swallow dan sepatu masing-masing, menatanya rapi di teras, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Ruang tamu itu berukuran sedang. Terdapat dua sofa empuk yang saling berhadapan dan sebuah televisi di ruang tengah. Di salah satu dinding, terpajang sebuah lukisan pemandangan dan bingkai foto besar yang memperlihatkan kedua orang tua Zahra sedang tersenyum bahagia saat liburan keluarga.

Begitu melihat sofa empuk, Rio tanpa ragu langsung merebahkan tubuhnya. "Nah, ini dia... surganya rebahan," gumamnya puas.

"Kalian duduk-duduk santai aja dulu, anggap rumah sendiri. Aku mau ke dapur ambil camilan," pamit Zahra.

"Aduh... gausah repot-repot, Ra. Hehe," ringis Rio dengan wajah sok sungkan yang sangat dibuat-buat.

Zahra memutar bola matanya malas. "Halah, gaya lu. Tapi sebenarnya di dalam hati lu mau banget, kan?"

"Nah, itu lu tau!" sahut Rio tanpa dosa.

"Udah, pokoknya tunggu di situ!" ancam Zahra sebelum beranjak pergi.

Di dapur, Zahra mulai membuka pintu kabinet lemari dinding satu per satu. Ia mencari-cari sisa persediaan makanan ringan. Di kabinet pertama dan kedua kosong. Saat membuka kabinet ketiga yang posisinya paling tinggi, matanya berbinar. Ada tiga bungkus snack rasa BBQ ukuran besar yang baru saja ia beli di minimarket kemarin.

"Nah, untung masih ada! Gue ambil aja deh," gumam Zahra.

Gadis itu berjinjit, merentangkan tangannya tinggi-tinggi, berusaha susah payah meraih bungkusan snack tersebut.

"Hap... akhirnya dapet juga! Siapa sih yang naruh makanan setinggi ini?! Haa... pasti ulah kakakku. Emang dasar tuh anak jahilnya gak ketulungan!" omel Zahra pada dirinya sendiri sambil memeluk camilan itu. "Ahh sudahlah, jangan buang waktu. Mending buruan balik buat ngerayain."

Membawa bungkusan snack itu di pelukannya, Zahra kembali ke ruang tamu. "Ini nih, amunisi turun! Gue ambilin snack buat kalian," seru Zahra sambil meletakkan makanannya di atas meja.

"Wah, enak nih!" mata Rio langsung berbinar terang.

"Makasih ya, Zahra. Beneran repot-repot ini mah," ucap Danu sopan.

"Gak usah terima kasih, Danu. Kan ini rumah gue, jadi wajar aku ambilin sesuatu biar tamu-tamuku nyaman," senyum Zahra.

Tiba-tiba, Kak Rizki meletakkan tas ransel yang sedari tadi disandangnya ke atas meja dan membuka resletingnya. "Nah, karena Zahra udah nyumbang snack, Kakak juga bawa sesuatu nih."

Rio melongo melihat Kak Rizki mengeluarkan empat botol kopi susu dingin dari dalam tasnya. "Widih! Pantesan aja dari tadi Kak Rizki doang yang bawa ransel gede. Tak kirain kakak bawa tumpukan buku tugas sekolah buat dikerjain di mari."

"Iya, bener. Aku juga mikirnya gitu, Yo," setuju Danu polos.

Kak Rizki tertawa lepas mendengar asumsi konyol dua adik kelasnya itu. "Hahah, ya kali Kakak bawa tugas sekolah ke acara perayaan, terus ngerepotin adik-adik kelas buat bantuin ngerjain? Gak elit dong! Nih, Kakak beli kopi botol buat kita semua, sikat!" ucap Kak Rizki sambil menyodorkan minuman manis itu satu per satu.

Zahra menerima botol kopi itu dengan mata berbinar. "Wah, makasih banyak, Kak Rizki!" serunya penuh semangat.

"Sama-sama. Ayo diminum, mumpung masih dingin," balas Kak Rizki sambil tersenyum hangat.

Mereka berempat pun mengambil bagian masing-masing. Membuka tutup botol serentak, lalu melakukan tos kecil di udara yang diiringi tawa ringan.

Perayaan siang itu berjalan dengan sangat sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada dekorasi mahal, apalagi kehebohan pesta yang berlebihan. Yang ada di ruang tamu itu hanyalah empat anak SMA yang duduk melingkar, berbagi sebungkus camilan BBQ, dan menyesap kopi sambil menertawakan kekonyolan satu sama lain.

Mereka menghabiskan waktu menceritakan kembali momen-momen lucu saat latihan, kepanikan Danu yang hampir salah memukul cymbal, hingga wajah pucat pasi Rio sebelum menyentuh tuts piano. Bagi Danu, kesederhanaan ini justru terasa jauh lebih berharga daripada piala atau piagam penghargaan mana pun. Mereka hanyalah sekumpulan remaja yang sedang berusaha menyembuhkan luka dan ketakutan masing-masing; berkumpul, bermusik, dan menjalani hidup apa adanya dengan saling menguatkan.

Tak terasa, matahari sudah bergerak semakin tinggi. Jarum jam dinding menunjuk ke arah angka satu siang. Canda tawa itu akhirnya harus disudahi karena perut mereka mulai keroncongan menuntut makan siang sungguhan, dan masing-masing dari mereka masih memiliki urusan akhir pekan di rumah.

Ketiga cowok itu pun bangkit berdiri, tak lupa membantu Zahra merapikan bungkus camilan kosong dan botol kopi yang berserakan di atas meja.

"Balik dulu ya, Ra. Thanks tempat rebahan dan jajannya," pamit Rio seraya melangkah ke teras dan memakai sandal jepitnya.

"Makasih ya, Zahra, Kak Rizki. Kapan-kapan kumpul gini lagi," sahut Danu sambil tersenyum.

"Iya, hati-hati di jalan kalian semua," balas Zahra yang ikut mengantar mereka sampai ke depan pagar rumah.

Hari perayaan kecil yang singkat namun sarat makna itu akhirnya ditutup dengan sisa obrolan-obrolan ringan di depan pagar, lalu diakhiri dengan senyum tulus dan lambaian tangan dari Zahra yang mengiringi langkah ketiga temannya menyusuri jalan pulang.

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!