Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Datang ke Pernikahan Mantan
.
Keira masih berdiri di hadapan Elvano dengan wajah yang terasa semakin panas. Ia bahkan tidak berani menatap pria itu terlalu lama karena setiap kali mata mereka bertemu, ingatannya selalu kembali pada kejadian di kafe beberapa waktu lalu.
Untungnya, sebelum suasana menjadi semakin canggung, suara Daren terdengar dari belakang. “Nona.”
Keira spontan menoleh dan melihat Daren berjalan mendekat sambil membawa sebuah kotak berbentuk lebar berwarna hitam yang dihias dengan pita cantik, diikuti oleh pengacara Naufal. Dua pria itu berhenti beberapa langkah dari Keira lalu menundukkan sedikit kepalanya.
“Semua sudah siap,” ucap Daren.
“Bagus.” Keira mengangguk tanpa menerima kotak itu, membiarkannya tetap berada di tangan Daren.
Elvano memperhatikan kotak tersebut dengan sedikit rasa ingin tahu. Namun ia tidak bertanya karena tidak mau dianggap ikut campur. Namun, dari yang ia tahu tentang Keira, itu pasti bukan sesuatu yang baik.
Keira kemudian mengalihkan pandangan kepada Elvano. “Kalau begitu, mari kita masuk.”
Elvano kembali tersenyum. “Dengan senang hati.”
Kali ini Keira tidak lagi memprotes ketika pria itu kembali menawarkan lengannya. Ia menggandeng lengan Elvano dengan gerakan yang sedikit kaku, kemudian mereka berjalan memasuki lobi hotel.
Daren yang berjalan beberapa langkah di belakang hanya bisa menatap pemandangan itu dengan tatapan sulit diartikan. Daren mengenal bosnya selama bertahun-tahun. Dan ini adalah pertama kalinya ia melihat Keira berjalan berdampingan dengan seorang pria sambil menahan wajah merah. Namun Daren cukup tahu diri untuk tidak berkomentar.
*
*
*
Di dalam ballroom, Arsen sudah duduk di hadapan penghulu dan Tuan Lukman Halim, ayah Clarissa. Suasana gedung yang sebelumnya penuh dengan bincang sesama tamu, perlahan berubah hening karena semua orang bersiap menyaksikan satu momen yang disebut-sebut sebagai pernikahan abad ini.
Puluhan kamera dari pihak wedding organizer sudah diarahkan ke pelaminan. Dan bukan hanya mereka yang mengabadikan momen tersebut, hampir setiap tamu mengangkat ponsel masing-masing, ingin merekam saat Arsen Wijaya mengucapkan ijab kabul dengan putri keluarga Halim. Mereka yang duduk dengan posisi jauh dari panggung bisa melihat momen itu melalui layar lebar yang terpampang di berbagai sisi.
Arsen duduk tegak dengan wajah penuh keyakinan. Di depannya, ayah Clarissa sudah menjabat tangannya erat.
Penghulu menarik napas lalu mengangguk pada Tuan Lukman, dan Tuan Lukman pun membalas dengan mengangguk lalu mengucapkan kalimat ijab.
Namun sebelum Arsen sempat menjawab—
“Berhenti.”
Satu suara merdu seorang wanita terdengar dari arah pintu utama. Tidak keras, tetapi cukup jelas untuk membuat seluruh ruangan membeku.
Kepala semua orang serentak menoleh. Bahkan kamera yang semula menyorot pada panggung tempat diadakannya acara ijab kabul seketika mengarah pada Keira yang perlahan melangkah masuk diikuti oleh Daren, pengacara Naufal, dan Elvano.
Beberapa saat lamanya tidak ada seorang pun yang bergerak. Arsen bahkan seperti lupa bernapas. Wanita yang beberapa hari terakhir menghilang tanpa kabar itu kini tengah melangkah mendekat dengan penampilan yang nyaris tidak dikenali olehnya.
Keira mengenakan gaun panjang berwarna lembut dengan model elegan. Bentuknya sederhana, tetapi jelas bukan barang murahan. Berbeda jauh dari pakaian yang biasa dikenakan wanita itu selama empat tahun hidup bersama nya. Beberapa perhiasan menghiasi tubuhnya, semuanya tampak mahal. Jauh berbeda dengan penampilan Keira yang ia lihat selama ini.
Namun bukan pakaian itu yang membuat Arsen terpaku. Melainkan pembawaan wanita itu. Keira yang dulu selalu menundukkan kepala ketika berbicara dengannya kini berdiri tegak dengan dagu sedikit terangkat. Begitu tenang, tampak bagai sosok pemimpin wanita yang berwibawa.
Seketika itu juga Arsen bangkit dari duduknya. “Keira...?” panggilnya pelan ketika wanita itu sudah berdiri di hadapannya. Ada raut rindu tersirat di wajah pria itu.
Keira tidak menjawab. Wanita itu hanya memberikan isyarat menggunakan tangannya kepada Daren yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Daren pun mengangguk tegas lalu maju perlahan.
Beberapa tamu mulai berbisik dengan kamera yang terus menyala di tangan mereka.
Arsen menatap kehadiran pria itu dengan kening berkerut. Apalagi saat mengenali pria tersebut.
Daren Antasena. Seorang pengusaha sekaligus salah satu tokoh penting di dunia bisnis yang selama ini hanya bisa Arsen temui dalam berbagai forum bisnis besar. Nama Daren bukanlah nama sembarangan. Dan sejak lama, perusahaan Wijaya selalu bergantung pada dukungan dari perusahaan KA Grup milik Daren Antasena.
Tetapi mengapa dia datang bersama Keira? Dan yang lebih aneh lagi, mengapa seorang pria seperti Daren Antasena terlihat begitu patuh mengikuti isyarat wanita itu?
Daren berhenti tepat di hadapan Arsen dan menyerahkan kotak tersebut. “Hadiah untuk pernikahan Anda, Tuan Arsen.”
Arsen menatap kotak itu dengan kening berkerut. “Apa ini?”
“Silakan Anda buka.” Daren menatapnya dengan tenang.
Arsen akhirnya menerima kotak tersebut. Tangannya perlahan membuka pita, kemudian mengangkat tutupnya. Seketika itu juga wajahnya berubah. Di dalam kotak itu terdapat sebuah map putih. Dan ketika Arsen menariknya keluar, ia langsung mengenali dokumen yang berada di dalamnya.
Surat cerai. Surat yang sama dengan yang beberapa waktu lalu dikirimkan oleh pengacara Naufal Baskara kepadanya.
Arsen mengangkat wajah menatap Keira dengan tangan yang mendadak kaku. “Ini...”
Keira maju beberapa langkah. “Kamu belum menandatangani surat cerai yang dikirimkan pengacaraku beberapa waktu lalu.”
Suara Keira terdengar jelas di seluruh ruangan. “Karena sampai hari ini kamu belum menandatanganinya, berarti status kita masih sama seperti sebelumnya. Aku masih istrimu.”
Bisikan langsung terdengar di antara para tamu membuat wajah Clarissa yang awalnya penuh senyum perlahan memucat.
Keira kemudian menatap Arsen tanpa sedikit pun gentar. “Jadi, kamu tidak bisa menikah karena aku tidak mengijinkan.”
“Dasar perempuan miskin!” teriak Marissa tiba-tiba. Wanita paruh baya itu berniat menyerang Keira tapi langsung ditahan oleh Daren yang bergerak sigap.
“Apa yang kamu lakukan di sini?!” Marissa mencoba meronta namun tak bisa. “Mana pengawal? Pengawal! Singkirkan wanita miskin ini dari sini!”
Daren dengan sebelah tangannya memetik jari dan seketika itu juga beberapa pria berpakaian hitam menghadang pengawal milik keluarga Wijaya.
Arsen dan Darma memperhatikan apa yang terjadi dengan menelan ludahnya. Begitu juga keluarga Clarissa.
Keira menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan mata masih menatap ke arah Arsen. “Kalau kamu ingin melanjutkan pernikahan ini, selesaikan lebih dulu urusan di antara kita. Tanda tangani surat cerai itu, atau pernikahan impian keluarga kalian hancur.”
Arsen menggeleng perlahan. “Keira, kenapa kamu melakukan ini?”
“Aku tidak melakukan apa pun,” jawab Keira tenang. “Aku hanya datang untuk mempermudah jalanmu.”
Arsen menatap wanita itu dengan perasaan yang semakin sulit ia pahami. Kenapa Keira berubah sejauh ini? Dulu wanita itu selalu mengalah. Ketika ibunya menyuruhnya melakukan sesuatu, Keira akan tersenyum dan menurut. Ketika dirinya pulang terlambat, Keira menunggu. Bahkan ketika dirinya mulai berubah setelah bisnisnya berkembang, wanita itu tetap bertahan di sisinya tanpa banyak menuntut.
Tetapi wanita yang kini berdiri di hadapannya, sama sekali bukan Keira yang menemaninya selama empat tahun.
kan skrg kamu ngemis" ...kemarin jam sombong kali kau
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
🤭🤭😁😁😁
ga nyangka kn kl wnita yg jd babu d rmh klian,bhkn d usir krna wnita lain trnyta holang kaya????
mkanya,jgn songong jd orng.....😛😛😛