Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Apa kau sudah kehilangan akal...?
Suzan mencari Bagas di dalam rumah, sedangkan nyonya Hartanto mencarinya di antara para tamu. Namun nyonya Hartanto tidak menemukan Bagas meskipun dia sudah bertanya ke beberapa tamu yang sedang menikmati hidangan.
"Nyonya... Apa pak Bagas belum ketemu juga...?" Darma yang sejak tadi sudah siap dengan kamera yang digantungkan ke lehernya.
"Belum, saya tidak tahu dia ke mana....nanti saya akan cari di luar..." jawab nyonya Hartanto.
"Biar saya temani nyonya..." sahut Darma menawarkan bantuan.
"Baiklah..." jawab nyonya Hartanto sambil tersenyum pada Darma. Dan Darma pun membalas senyuman nyonya Hartanto. Mereka berdua lalu keluar dari rumah.
"Nggak ada siapa- siapa di sini..." ucap nyonya Hartanto sambil melihat ke sekeliling teras rumah dan juga ke halaman.
"Biar saya cari ke depan, nyonya..." ucap Darma.
"Mana mungkin Bagas ke sana , ngapain coba..." sahut nyonya Hartanto yang tidak yakin kalau Bagas akan pergi ke depan rumah.
"Siapa tahu pak Bagas sedang bicara sama pak Satpam...." jawab Darma.
"Baiklah, terserah kamu saja..." sahut nyonya Hartanto.
Darma lalu berjalan menuju pos satpam. Sedangkan nyonya Hartanto tetap berdiri di teras rumah menunggu Darma apakah menemukan Bagas atau tidak. Namun tiba- tiba nyonya Hartanto seperti melihat bayangan orang, dari arah halaman samping rumah.
Nyonya Hartanto tidak bisa melihat dengan jelas karena di sana sedikit gelap dan hanya ada lampu taman yang tidak terlalu terang. Karena penasaran, nyonya Hartanto pun melangkahkan kakinya ke halaman samping rumah untuk memastikan bayangan siapa yang ada di sana.
Dengan langkah perlahan nyonya Hartanto terus melangkah mendekati pohon bougenville yang daun serta bunganya cukup lebat. Karena nyonya Hartanto yakin bayangan yang dia lihat tadi berasal dari bawah pohon tersebut.
Dan benar saja di bawah pohon bougenville, nyonya Hartanto melihat dengan jelas dua orang yang sedang berc*uman. Dan betapa terkejutnya nyonya Hartanto setelah dia melihat dengan jelas bahwa kedua orang itu adalah Bagas dan Casandra.
Nyonya Hartanto menutup mulutnya, dan segera kembali ke dalam rumah dengan langkah terburu- buru. Iya, sebenarnya bisa saja nyonya Hartanto langsung menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh putranya tersebut. Namun nyonya Hartanto tidak ingin terjadi keributan.
"Nyonya... tunggu..." panggil Darma yang sudah kembali dari pos satpam karena dia tidak menemukan Bagas di sana.
Namun nyonya Hartanto tidak mengindahkan panggilan Darma. Dia terus berjalan dengan terburu- buru masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak menentu.
Iya, tentu saja nyonya Hartanto tidak pernah menyangka hal ini bakalan terjadi. Nyonya Hartanto seakan tidak percaya namun apa yang dia lihat sungguh nyata. Bahwa putra kesayangannya yang sudah beristri dan punya adak sedang berci*man dengan wanita lain.
Tentu saja nyonya Hartanto tidak bisa membayangkan jika Suzan, dan tuan Hartanto mengetahui hal itu. Pasti akan timbul masalah besar.
"Mah... Gimana...apa sudah menemukan mas Bagas....?'' tanya Suzan yang sudah muter- muter ke seluruh ruangan namun sang suami tidak terlihat batang hidungnya.
"Ehm...i..itu...ma...maksud mama...mama ti...tidak melihat Bagas di luar..." jawab nyonya Hartanto yang panik dan juga gugup.
"Mama kenapa...?'' tanya Suzan heran melihat sikap aneh sang mama mertua.
"Oh ya ampun....mama.... Mama mungkin lelah... Jadi mama sedikit kurang fokus..." jawab nyonya Hartanto.
"Mah... Mana Bagas...? Ditungguin dari tadi untuk foto bersama kok lama banget, di mana sih dia....?" tanya tuan Hartanto yang terlihat kesal.
"Lihat tuh, Alvaro sudah mulai ngantuk..." sambung tuan Hartanto sambil menunjuk ke arah Alvaro yang sedang duduk bersama ibunda Suzan.
"Iya pah, kami semua dari tadi juga sudah mencari mas Bagas ke seluruh ruangan, tapi nggak ketemu..." jawab Suzan.
"Kok bisa...?" tanya tuan Hartanto.
"Suzan juga nggak tahu pah, tadi mas Bagas cuma pamit ke toilet tapi sampai sekarang belum balik juga. Dan di toilet pun nggak ada..." jawab Suzan.
"Astaga... Apa mungkin dia hilang...? Seperti anak kecil saja..." sahut tuan Hartanto dengan raut wajah kesal
Sedangkan nyonya Hartanto hanya diam tidak mau berkomentar karena masih syok dengan apa yang baru saja di lihat di taman samping rumah.
"Ada apa ini...?'' tiba- tiba Bagas datang tanpa rasa bersalah.
"Ya ampun sayang... Kamu ke mana saja sih...? Kami semua mencari kamu, kita mau foto keluarga. Kamu dari mana...?'' tanya Suzan sedikit kesal pada sang suami.
"Oh... Iya maaf... Tadi aku dari depan. Abis terima telpon..." jawab Bagas berbohong.
"Ya sudah ayo kita foto keluarga..." ucap tuan Hartanto sambil melirik tajam ke arah Bagas.
"Ya ampun sayang baju kamu kok berantakan begini..." Suzan merapihkan dasi Bagas yang miring dan juga kancing kemejanya yang lepas satu.
"Di luar gerah sayang, jadi aku longgarkan dasinya dan kancing kemejanya aku lepas.." jawab Bagas yang sudah pandai berbohong.
"Ini rambut kamu juga.... Ya ampun sayang... " Suzan juga merapihkan rambut sang suami yang berantakan.
"Rapihin dong..." ucap Bagas.
"Iya..." jawab Suzan sambil merapihkan rambut Bagas dengan menggunakan jarinya.
Sedangkan nyonya Hartanto yang perasaannya masih belum bisa tenang, hanya melirik ke arah sang putra.
"Ayo sayang... Mah..." ucap Suzan mengajak suami dan mama mertuanya untuk naik ke area foto.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Pukul sebelas malam, acara pun selesai. Para tamu undangan mulai pulang satu- persatu. Ruang tamu yang awalnya terlihat ramai mulai sepi. Hanya ada beberapa petugas kebersihan dan asisten rumah tangga yang sedang membereskan ruangan.
Melihat Bagas yang sedang menggendong Alvaro yang tertidur dan akan dibawa ke kamarnya, nyonya Hartanto segera menghampirinya.
"Bagas..." panggil nyonya Hartanto.
Bagas menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap sang mama yang ada di belakangnya.
"Iya mah..." jawab Bagas.
"Suzan mana...?'' tanya nyonya Hartanto.
"Susan sudah masuk kamar mah. Nanti Bagas menyusul kalau sudah mengantar Alvaro ke kamar...." jawab Bagas.
"Ya sudah, abis ini kamu temui mama di sana..." ucap nyonya Hartanto sambil menunjuk sebuah ruangan tak jauh dari kamar Alvaro.
"Iya mah..." jawab Bagas.
Setelah Bagas menidurkan Alvaro, Bagas menemui sang mama.
"Ada apa sih mah...?'' tanya Bagas.
"Sini..." nyonya Hartanto menarik tangan Bagas.
"Apa yang sudah kamu lakukan Bagas...!'' ucap nyonya Hartanto setengah berbisik sambil memukul lengan Bagas, dan wajahnya menunjukan ekspresi kesal.
"Maksud mama apa sih..." sahut Bagas sambil mengusap lengannya yang terasa sakit akibat dipukul oleh sang mama.
"Maksud mama apa...maksud mama apa... Kamu pikir mama nggak tahu apa yang tadi kamu lakukan dengan Casandra di taman samping rumah...!'' ucap nyonya Hartanto lagi- lagi memukul lengan Bagas.
"Ja..jadi mama...
"Iya...! Mama melihatnya dengan mata dan kepala mama sendiri...! Apa kamu sudah gila Bagas....! Bagaimana bisa kamu melakukan perbuatan seperti itu sama Casandra...!'' ucap nyonya Hartanto tentu saja dengan penuh hati- hati agar suaranya tidak terdengar ke luar ruangan.
Bagas hanya diam tidak berani menjawab pertanyaan sang mama.
"Jawab Bagas...! Kenapa kamu diam saja...! Di acara spesial kamu sama Suzan, tapi kamu malah mesra- mesraan dengan perempuan lain... Apa kamu sudah kehilangan akal...! '' ucap nyonya Hartanto semakin emosi.
"Iya...iya mah ...iya... aku memang sudah kehilangan akal..." sahut Bagas dengan setengah berbisik pula tapi suaranya tegas.
Karena sudah tidak bisa mengelak lagi, Bagas akhirnya memberitahu sang mama kalau dia dan Casandra memang memiliki hubungan special selama dua bulan terakhir ini.
"A...apa...? Kamu ini benar- benar gila Bagas...! Bagaimana kalau istri dan papamu tahu...! Oh ya ampun..." nyonya Hartanto memijit keningnya.
"Iya mah... Bagas memang sudah gila... Dan papa lah yang sudah membuat Bagas gila... " sahut Bagas.
"Ya ampun sayang... Kamu ini bicara apa sih...'' ucap nyonya Hartanto.
"Mah... Bagas capek mah... Bagas capek dengan sikap papa yang pilih kasih... Dia lebih mempercayai sama Suzan dalam urusan perusahaan, dari pada sama saya, anaknya sendiri..." sahut Bagas mulai membela diri.
Lalu Bagas menceritakan kepada sang mama bagaimana perasaannya setiap kali papanya merendahkannya bahkan di depan Suzan istrinya sendiri.
"Hati Bagas sakit mah... Nggak ada orang yang mengerti perasaan Bagas . Nggak ada yang perduli sama Bagas kecuali Casandra. Di saat keluargaku mengabaikan perasaanku, termasuk mama dan Suzan. Tapi Casandra tidak mah, dia lah yang selama dua bulan terakhir ini selalu ada untuk Bagas. Dia yang perduli dan selalu mengerti bagaimana perasaan Bagas..." ucap Bagas sambil menunjuk dadanya sendiri.
"Dialah tempat ternyaman buat Bagas mah..." sambung Bagas.
Nyonya Hartanto menggeleng- gelengkan kepalanya mendengar pengakuan Bagas.
"Astaga Bagas..." nyonya Hartanto kembali memijit keningnya.
Iya, tentu saja pengakuan Bagas membuat nyonya Hartanto bertambah pusing dibuatnya.
"Lalu bagaimana kalau istri dan papamu tahu...?'' tanya nyonya Hartanto.
"Ya mama nggak usah bilang sama mereka lah..." jawab Bagas.
"Lagi pula selama ini aman- aman saja..." sambung Bagas sambil menatap ke luar jendela.
"Iya tapi yang kamu lakukan tidak benar Bagas. Itu hal gila.. Dan kalau sampai papamu tahu, bisa- bisa kamu dibunuh sama dia ..." sahut nyonya Hartanto kesal pada Bagas karena dia tetap ngeyel.
Bagas lalu menoleh ke arah sang mama.
"Jadi menurut mama apa yang Bagas lakukan itu tidak benar ...?'' tanya Bagas.
"Tentu saja tidak benar..." jawab nyonya Hartanto.
"Lalu bagaimana apa yang sudah dilakukan oleh mama...?'' sambung Bagas sambil menatap wajah sang mama
"Maksud kamu apa Bagas ...?'' nyonya Hartanto balik bertanya karena dia tidak paham apa maksud Bagas.
Bagas tersenyum sinis pada sang mama.
"Apa mama pikir perbuatan mama tidak akan membuat papa murka...? Mama pikir Bagas nggak tahu apa yang sudah mama lakukan di belakang papa bersama dengan asisten mama tidak berguna itu ...?'' sahut Bagas sambil menatap lekat wajah sang mama.
"Ba....Bagas... " nyonya Hartanto tergagap.
"Bukankah apa yang dilakukan oleh mama dan asisten mama juga hal gila...?" sambung Bagas
"Bagas tahu mama juga melakukan hal gila bersama asisten mama..." ucap Bagas.
"Mama pasti akan beralasan kalau mama kecewa sama papa. Mama tidak diperlakukan adil oleh papa... Makanya mama bermain gila dengan pria itu..." sambung Bagas.
"Begitu juga dengan Bagas mah, Bagas melakukan hal gila karena papa. Dan sekarang kita lihat saja, siapa yang akan ketahuan lebih dulu oleh papa, dan siapa yang akan dibunuh oleh papa...." lanjut Bagas sambil tersenyum sinis.
"Ba..Bagas... Mama mama mohon kamu....
"Apa mah... Mama tidak mau Bagas memberitahu soal perselingkuhan mama dengan asisten mama...?'' sahut Bagas lagi- lagi tersenyum sinis.
"Tergantung mah, kita sama- sama punya rahasia. Jadi mama tahu kan apa yang seharusnya tidak mama lakukan agar rahasia mama juga tetap aman..." lanjut Bagas.
Nyonya Haryanto menghela nafas lalu menggeleng- gelengkan kepalanya. Iya, nyonya Hartanto tidak pernah menyangka jika apa yang sudah dia lakukan bersama asisten pribadinya yaitu Darma telah diketahui oleh anak semata wayangnya.
"Ya, mama akui perbuatan mama memang tidak bisa dibenarkan. Tapi apa yang dilakukan mama tidak akan berdampak pada siapapun...." jawab nyonya Hartanto.
"Beda dengan kamu Bagas... kamu punya Alvaro. Apa yang kamu lakukan, akan berdampak pada anak kamu nantinya. Apa kamu nggak kasihan sama Alvaro kalau dia tahu kelakuan papanya...?'' sambung nyonya Hartanto.
Bagas kembali tersenyum sinis pada sang mama.
"Lalu apa mama pikir apa yang mama lakukan dengan brondong mama itu, tidak berdampak pada Bagas...?'' sahut Bagas.
"Bagas..." ucap nyonya Hartanto.
"Sudahlah mah, tidak usah ikut campur urusan Bagas. Dan sebaiknya mama urusi saja urusan mama sendiri. Dan mama harus pintar - pintar supaya perbuatan mama tidak diketahui oleh papa, karena kalau tidak, tidak menutup kemungkinan papa akan membunuh mama..." ucap Bagas.
Bersambung .....