NovelToon NovelToon
Jodoh Pak Dokter

Jodoh Pak Dokter

Status: tamat
Genre:Dokter / Ibu susu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:238.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.

Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.

Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.

Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Shanum yang pertama kali tersadar dari hipnotis tatapan itu segera menarik kepalanya ke belakang. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah jalanan, berpura-pura merapikan kerudungnya yang sebenarnya tidak berantakan demi menyembunyikan rona merah yang kini membakar seluruh pipinya.

Di hadapannya, Daniel seketika menarik kembali tangannya dengan canggung. Ia meremas jemarinya sendiri, lalu berdehem beberapa kali dengan volume agak keras untuk mengusir atmosfer intim yang mendadak mengunci mereka di warung tenda itu.

"Pak... ini sudah malam," cicit Shanum, suaranya terdengar bergetar. "Apa sebaiknya kita segera pulang ke rumah? Saya... saya takut Ziva terbangun lalu menangis."

"Ah, iya. Iya, Num. Ayo...!" jawab Daniel sedikit gelagapan.

Pria itu segera bangkit, membayar nasi goreng mereka, dan menuntun Shanum kembali ke mobil. Sepanjang sisa perjalanan, kabin mobil mewah itu hening total, namun ada ketegangan tak kasatmata yang membuat debar jantung keduanya belum juga mereda.

Benar saja dugaan Shanum, begitu melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu, suara tangisan histeris Baby Ziva langsung menyambut mereka dari lantai atas. Shanum dan Daniel bergegas naik. Di dalam kamar, tampak Bik Sumi sedang menggendong Ziva yang wajahnya sudah memerah. Bayi mungil itu terus memalingkan kepalanya ke sana kemari, seolah-olah hidung kecilnya sedang mencari-cari aroma tubuh Shanum.

"Aduh Mbak Shanum, untung sudah pulang! Ini Non Ziva tidak mau minum ASI di botol, nangis terus dari tadi!" adu Bik Sumi panik.

"Bik, tolong tahan sebentar ya," ucap Shanum cekatan. Ia tidak mau egois langsung menyambar sang bayi. "Saya mandi dan bersihkan diri dulu di kamar mandi luar, biar steril dan sisa angin malamnya hilang."

Shanum menyerahkan tasnya lalu berlari kecil menuju kamar mandi. Daniel yang berdiri di ambang pintu hanya bisa terdiam, matanya menatap lekat punggung Shanum yang menjauh hingga menghilang di balik pintu kamar mandi. Ada rasa kagum yang makin bertumbuh di hati Daniel melihat bagaimana Shanum selalu mendahulukan keselamatan dan kebersihan demi putrinya.

*

*

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saat matahari bahkan belum sepenuhnya naik, Dokter Daniel sudah tiba di Rumah Sakit Citra Medika. Agendanya pagi ini bukan memeriksa pasien, melainkan mengusut tuntas asal-usul botol antibiotik berisi zat kloramfenikol yang hampir menghancurkan hidup Shanum.

Daniel melangkah tegap menuju instalasi farmasi pusat. Kebetulan, Kepala Bagian Farmasi di rumah sakit itu adalah Ibu Farida, seorang apoteker senior yang cukup akrab dan segan dengannya. Hari ini terasa lebih leluasa bagi Daniel karena Dokter Maura memang tidak memiliki jadwal praktik atau visit.

"Bu Farida, maaf mengganggu waktunya sepagi ini," sapa Daniel formal saat masuk ke ruangan kerja Bu Farida. "Bisa tolong bantu saya selidiki, siapa yang telah membeli obat dalam botol ini di apotek kita?" Daniel menyodorkan botol obat di dalam plastik bening yang dibawanya.

Bu Farida memakai kacamatanya, lalu menerima botol tersebut dan meneliti nomor kode produksinya. "Sebentar ya, Dok. Saya coba cek data sistem komputer dan arsip nota penjualan dulu," ujarnya ramah.

Daniel mengangguk dan memilih menunggu di deretan kursi tunggu luar instalasi farmasi. Kehadiran sang dokter spesialis jantung yang terkenal dingin dan tampan itu tentu saja langsung memicu kehebohan kecil di antara para staf farmasi yang sedang menata obat.

"Win, lihat deh. Tumben banget Dokter Daniel sepagi ini sudah ada di sini?" bisik Kemala menyenggol lengan temannya. "Kira-kira mau ngapain ya dia di depan konter kita? Apa... jangan-jangan dia lagi mau cuci mata di sini?"

"Heleh... Kau itu ada-ada saja, Mala! Mana mungkin dokter sedingin dan sekelas Dokter Daniel mau cuci mata di bagian farmasi, dasar ngaco!" balas Winda ketus, meski matanya curi-curi pandang ke arah Daniel.

Kemala malah tertawa cekikikan melihat reaksi temannya yang salah tingkah.

Tak lama kemudian, Bu Farida keluar dari ruangannya membawa selembar kertas hasil cetakan sistem komputer, lengkap dengan salinan nota pembelian yang nomor serinya cocok dengan botol obat tersebut.

"Ini, Dok. Silakan Dokter Daniel cek kembali datanya," ucap Bu Farida menyerahkan kertas itu.

"Terima kasih banyak, Bu Farida. Saya sangat menghargai bantuan Anda," jawab Daniel tulus.

Begitu kertas itu berpindah ke tangannya, mata Daniel langsung menyipit tajam menelusuri kolom nama pembeli. Di sana tertera dengan sangat jelas sebuah nama: Dania. Dania adalah suster senior yang bertugas sebagai asisten pribadi Dokter Maura.

'Sudah kuduga. Rupanya memang Dokter Maura yang berada di balik semua sandiwara busuk ini!' batin Daniel, rahangnya mengeras menahan amarah yang membumbung tinggi.

Daniel tidak ingin membuang waktu. Sebelum jadwal praktiknya dimulai tepat jam delapan pagi, ia harus menginterogasi Suster Dania terlebih dahulu sebelum wanita itu sempat berkoordinasi dengan Maura.

Daniel melangkah lebar menuju poliklinik anak, tepatnya ke ruang kerja Dokter Maura. Kebetulan sekali, Suster Dania saat itu sedang berada sendirian di dalam ruangan, tampak sibuk merapikan dokumen dan berkas-berkas penting di atas meja kerja Dokter Maura.

Brak!

Pintu ruangan terbuka agak kasar tanpa diketuk terlebih dahulu. Suster Dania sontak membalikkan badannya dengan terkejut. Begitu melihat sosok jangkung Dokter Daniel Lee berdiri di ambang pintu dengan wajah sedingin es dan tatapan mata yang seolah siap menguliti siapa saja, seluruh tubuh suster itu langsung gemetar hebat. Dokumen di tangannya hampir saja terjatuh.

"D... Dokter D.. Daniel?!" sapa Suster Dania terbata-bata, wajahnya seketika pucat pasi menatap kedatangan sang dokter yang mengerikan pagi itu.

Daniel melangkah masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu rapat-rapat di belakangnya. Suasana seketika terasa mencekam. Pria itu melemparkan selembar kertas salinan nota pembelian dari bagian farmasi tepat ke atas meja kerja Dokter Maura.

"Bisa jelaskan apa maksud dari nota pembelian ini, Suster Dania?" tanya Daniel dengan suara bariton yang rendah namun penuh penekanan, matanya menatap tajam tanpa berkedip.

Suster Dania melirik kertas tersebut dan langsung mengenali namanya tertera di sana sebagai pembeli antibiotik kloramfenikol. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia meremas jemarinya, mencoba mencari alasan, namun lidahnya mendadak kelu.

"A... ah, itu... itu saya..."

"Jangan coba-coba berbohong di hadapanku, Suster," potong Daniel dingin, melangkah satu jengkel lebih dekat hingga membuat nyali Dania menciut. "Tindakanmu memalsukan atau menyalahgunakan resep obat keras di rumah sakit ini bisa membuat izin praktik mu dicabut secara permanen. Kau juga bisa diseret ke jalur hukum atas pasal percobaan pembunuhan terhadap putriku!"

Mendengar ancaman hukuman dan hukum yang tidak main-main itu, pertahanan Suster Dania langsung runtuh seketika. Air matanya merebak, ia menunduk pasrah dan ketakutan.

"Maafkan saya, Dokter! Tolong maafkan saya!" tangis Suster Dania pecah, ia memohon dengan sangat. "Saya hanya diperintahkan oleh Dokter Maura untuk menebus obat itu menggunakan akun klinis nya. Dan saya pun benar-benar tidak tahu obat itu digunakan untuk apa! Tolong jangan libatkan saya, Dok... saya benar-benar tidak tahu kalau obat itu berbahaya untuk Baby Ziva!"

Daniel menghela napas panjang melihat kepanikan sang suster. Naluri tajamnya sebagai dokter bisa merasakan bahwa Suster Dania tidak sedang bersandiwara, wanita di hadapannya ini murni hanya dijadikan alat oleh kelicikan Maura.

"Baiklah, Suster. Aku tahu kau hanya menjalankan perintah," ucap Daniel, suaranya sedikit melunak namun tetap tegas. "Aku tidak akan memperpanjang masalah ini kepadamu, dengan satu syarat. Tolong rahasiakan pembicaraan kita ini dan jangan pernah menceritakan soal interogasi ini kepada Dokter Maura!"

Suster Dania mendongak, buru-buru mengangguk dengan rasa lega yang teramat sangat. "Baik, Dokter. Saya janji, demi Tuhan saya akan merahasiakan soal ini dari Dokter Maura!"

"Bagus. Kembalilah bekerja," ketus Daniel.

Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Dokter Maura dengan langkah tegap, bersiap menyusun rencana pembalasan yang setimpal untuk dokter angkuh itu.

*

*

Sementara itu, di kediaman mewah Dokter Daniel, suasana pagi terasa begitu damai. Shanum sedang asyik menggelar tikar di atas rerumputan taman belakang. Ia mengajak Baby Ziva bermain, menikmati hangatnya mentari pagi yang menyehatkan tubuh sang bayi. Tawa renyah Ziva bersahutan dengan kicauan burung di sekitar taman.

Namun, kedamaian itu terusik saat langkah kaki terdengar mendekat. Shanum mendongak dan dikejutkan oleh kemunculan sepasang pria dan wanita paruh baya yang melangkah anggun ke arah taman. Sontak Shanum terpaku, wajah kedua orang tersebut memiliki gurat kemiripan yang sangat kuat dengan Dokter Daniel, terutama sepasang mata elang mereka.

"Halo Ziva! Cucunya Grandma yang paling cantik!" sapa wanita paruh baya itu dengan suara riang yang anggun, wajahnya tetap terlihat sangat cantik dan awet muda meski guratan usia tak bisa berbohong.

Pria paruh baya di sampingnya, yang mengenakan setelan jas formal berkelas, ikut tersenyum lebar dan melambaikan tangan. "Halo, Sayang... Papah Daniel mana?"

Shanum yang masih mendekap Ziva reflek langsung berdiri dari duduknya dengan perasaan canggung dan bingung. Tak lama kemudian, Bik Sumi datang berlari kecil dari arah dalam rumah dengan wajah sumringah sekaligus gugup.

"Tuan Besar... Nyonya Besar! Selamat pagi! Senang sekali bisa bertemu dengan Anda berdua di sini," sapa Bik Sumi sembari membungkuk hormat.

Mendengar sapaan Bik Sumi, barulah Shanum menyadari bahwa dua orang di hadapannya ini adalah orang tua kandung dari Dokter Daniel. Jantung Shanum mendadak berdegup kencang karena merasa sangat sungkan.

Nyonya Tania mengangguk ramah pada Bik Sumi, namun pandangan matanya yang jeli langsung beralih menatap lekat ke arah Shanum yang berdiri kaku.

"Sumi, siapa wanita cantik berhijab ini?" tanya Nyonya Tania dengan nada penasaran yang kental.

"Oh, kenalkan Nyonya, namanya Mbak Shanum," jawab Bik Sumi cekatan. "Dia ini yang sekarang bekerja di sini, menjadi pengasuh sekaligus ibu susunya Non Ziva."

Mendengar penjelasan Bik Sumi, Nyonya Tania dan Tuan Lee langsung menatap lurus ke arah Shanum secara bersamaan. Ditatap intens oleh pasangan konglomerat pemilik rumah sakit tersebut, Shanum buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, memberi penghormatan dengan tubuh yang sedikit gemetar karena gugup.

Bersambung...

1
Aman Riki
kok Nathan mau nikah neneknya dari papa dilupakan.. nenek Siti
Sayekti 0519
bagus banget ceritanya thooor
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih banyak kak 🙏😘
total 1 replies
Teh Yen
xixii bikin bareng hamil barneg lahiran pun bareng wkwkwkwk engg kebayang deh hebohnya kaya apa yah ... smoga selamat d lancar yah lahirannya semuanya sehat semua aamiin
Teh Yen
wah kompaknya kalian sampe hamil aj barengan yah 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Yen
Alhamdulillah sah selamat buat ana d nathan yah smoga samawa dan bahagia selalu
Teh Yen
akhirnya otw nikah nih Nathan d ana
Teh Yen
cie yg udh jadian kagak jadi tom Jery lagi nih udh main peluk aj hihii
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah 😂😂😂
total 1 replies
Ayunda
udh tau lakinya cemburuan nih bini mlh cari perkara hadeh
Ayunda
klw di novel org mo lahiran semua panik klw di dunia nyata g heboh tenang bnyk berdoa
Teh Yen
wah wah Nathan gercep langsung curi ciuman pertamanya hihii
Teh Euis Tea
alhamdulilah mereka bahagia semuanya, makasih othorku, sehat selalu untuk othor dan maafkan daku suka becanda klu komen
otw baca pak tentara sm Bu dokter LG nih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Kiss//Kiss//Kiss/
total 3 replies
Teh Euis Tea
bikinnya barengan sampe mau lahirpun barengan untungnya Shanum anaknya ga kembar coba klu kembar jd rame😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah itu dia kak, kasihan Shanum dan juga Ziva sih
total 3 replies
Teh Euis Tea
penganten lama, pengantin baru lg enyak enyak, aku bingung mau ngintip yg mana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali akak 🤣🤣🤣
total 3 replies
Teh Euis Tea
otw kondangan nih untung udah beli baju brukat warna merah menyala biar terang 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: aku takut di srudug kambing thor🤣
total 2 replies
Lisa
Wah happy ending nih..terimakasih Kak Eli utk kisahnya..sukses utk karya² selanjutnya y Kak 😊👍
Lisa: Sama² Kak..aku tunggu karyanya yg lain y Kak..
total 2 replies
Lisa
Kompak nih Shanum & Ana sama2 hamil
Lisa
Happy wedding Nathan & Ana..bahagia selalu ya 🙏
Nar Sih
satu vote untuk kebahahiaan shanum 🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih banyak kak 🙏😘
total 1 replies
Nar Sih
alhamdulilah ending yg bagus kak ,ahir nya semua bahagia👍🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya kak, harus happy ending kak 😘
total 1 replies
Nar Sih
hamil dan lahiran sama ,,barengan ana da shaum ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!