Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Kaetos Ashford berdiri mematung di sudut lapangan rumput. Matanya masih terpaku pada sosok Parrie yang kini berjalan menjauh bersama Irys. Namun, begitu bayangan gadis itu menghilang di balik belokan koridor utama, kesadaran Kaetos seolah dihantam martil besar.
Pria tegap itu mengepalkan jemarinya kaku, lalu bergumam sangat lirih—sebuah bisikan penuh frustrasi yang hanya sanggup didengar oleh dirinya sendiri.
"Apa... apa yang baru saja aku lakukan?"
Kaetos mengutuk habis-habisan tingkah bodoh dan salah tingkahnya sejak pagi tadi. Wajahnya memerah padam oleh rasa malu dan amarah pada diri sendiri.
Harusnya ia tetap berakting kasar! Harusnya ia melontarkan caci maki tajam, memperlihatkan kepribadiannya yang paling buruk dan berengsek agar Parrie merasa jijik lalu membencinya setengah mati! Bukankah itu rencana awalnya? Mendorong Parrie jauh-jauh dari kehidupannya yang kelam dan rusak?
Namun, apa yang terjadi tadi? Ia malah meremas kaleng soda sampai hancur hanya karena cemburu buta melihat Parrie diprovokasi Glenmore! Bahkan ia kelepasan berteriak bahwa Parrie adalah miliknya di hadapan kedua sahabatnya!
Brengsek! Gila! batin Kaetos meraung.
Gilanya lagi, sikap tak terkontrolnya tadi membuat Kendrick dan Marvel—dua pria yang sangat jeli dan berotak cerdas—langsung menyadari segalanya. Kedua sahabat karibnya itu kini tahu pasti bahwa ada hubungan yang teramat dalam dan tidak main-main antara dirinya dan Parrie Rose.
Mereka berdua tidak bisa dibohongi lagi. Topeng pangeran es tanpa perasaan yang dibangun Kaetos runtuh total dalam sekejap.
"Aku... butuh ke toilet," potong Kaetos mendadak dengan suara serak dan dingin, bahkan tanpa menatap wajah Marvel dan Kendrick yang masih memandangnya dengan raut menggoda.
Tanpa menunggu balasan dari kedua sahabatnya, Kaetos membalikkan badan dan melangkah lebar-lebar menuju toilet pria di gedung barat yang sepi.
Suara gemericik air dari kran yang menyala memenuhi toilet berarsitektur mewah tersebut. Kaetos mencuci tangannya dengan kasar, lalu membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin, mencoba mematikan kobaran api dan kekacauan di dalam kepalanya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di hadapannya. Manik mata kelamnya tampak menyipit, dipenuhi lingkaran hitam dan guratan merah akibat kelelahan mental.
Namun, saat ia menatap pantulan dirinya sendiri, prasangka-prasangka buruk dan pikiran iblis yang paling jahat tiba-tiba merayap masuk, menggerogoti akal sehatnya.
Sebulan... batin Kaetos mulai berbisik gelap. Gadis itu hilang tanpa jejak selama sebulan penuh setelah tragedi penthouse malam itu. Dan tadi siang... Glenmore Ford mendatangi Parrie dengan santai di tengah kampus.
Deg.
Sebuah tebakan yang sangat busuk dan menyayat hati mendadak menerjang dada Kaetos hingga terasa sesak.
Apakah selama sebulan dia menghilang... dia tinggal bersama Glenmore? Apakah... apakah dia tidur di ranjang Glenmore Ford?
Wajah Kaetos seketika pucat pasi. Rahangnya berguncang hebat oleh amarah dan rasa sakit yang membakar seluruh organ tubuhnya. Pikiran buruk itu terus berputar seperti prasangka beracun.
Bukankah Parrie dulu menerima tawaran menjadi simpanan atau menandatangani tawaran gila itu semata-mata demi biaya pengobatan ibunya? Dan kemarin... Parrie bilang ibunya sudah meninggal.
Tidak mungkin... Itu tidak mungkin, bukan? Kaetos, hentikan pikiran gila ini! Kaetos mencengkeram tepi wastafel hingga buku-buku jarinya memutih.
Lupakan pikiran buruk itu, Kae! Lupakan! Parrie tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu! Parrie mencintaimu... Dia hanya mencintaimu!
Kaetos memejamkan matanya rapat-rapat, menundukkan kepala seraya mengatur napasnya yang memburu liar. Ia harus mengendalikan monster di dalam dirinya sebelum ia benar-benar gila dan merusak segala hal di sekitarnya.
...****************...
Di saat yang sama, di koridor belakang gedung perpustakaan utama...
Parrie Rose sedang berjalan seorang diri menuju area loker mahasiswa. Irys baru saja berpamitan sebentar untuk pergi ke toilet fakultas, meninggalkan Parrie yang berniat mengambil buku materi untuk kuliah sesi siang nanti.
Koridor belakang ini tergolong sepi saat jam istirahat, hanya dikelilingi oleh pepohonan rindang dan dinding-dinding tinggi gedung lama.
Namun, baru saja Parrie membuka pintu lokernya, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mengelilinginya.
Empat sosok manusia tiba-tiba muncul dari belokan koridor, langsung menutup akses jalan Parrie dari segala arah.
Di depan Parrie, berdiri Allenatore dengan gaun bahagianya yang cantik, namun raut wajahnya tak lagi memancarkan kelembutan.
Di samping Allen, berdiri Jessica Vance si rambut merah muda yang menatap Parrie dengan tatapan meremehkan, ditemani oleh Sepupu laki-lakinya, Julian Vance— yang terkenal memiliki reputasi sangat buruk dan berbahaya di kampus. Satu orang lagi adalah teman wanita komplotan mereka.
Parrie menutup pintu lokernya pelan, memutar tubuhnya dan menatap keempat orang itu dengan raut wajah yang sangat tenang.
"Tidak ada Irys Whitman di sisimu sekarang, Parrie," cibir Jessica Vance dengan senyum penuh kemenangan. "Kita lihat seberapa beraninya kau tanpa perlindungan gadis Whitman itu."
Parrie menghela napas pendek. Ia baru tiga hari berada di universitas ini. Parrie sama sekali tidak berniat mencari musuh atau terlibat dalam keributan fisik yang bisa merusak reputasi universitas, apalagi sampai menyeret nama baik ayahnya, Tuan Ford, yang baru saja mengakuinya. Parrie berniat mengalah dan pergi melintasi mereka.
"Permisi, aku ada kuliah setelah ini," ujar Parrie datar seraya melangkah maju.
PLAK!
Tanpa peringatan, sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Parrie!
Hantaman tangan itu begitu kuat hingga membuat kepala Parrie terlempar ke samping, meninggalkan rona merah membakar di kulit pipinya yang mulus.
Parrie membeku. Pelaku yang menamparnya bukanlah Jessica atau Julian Vance... melainkan Allenatore.
Allenatore berdiri dengan napas sedikit memburu, membuang topeng gadis polosnya rapat-rapat. Matanya menatap Parrie dengan kilatan kebencian dan cemburu yang amat sangat.
Ini adalah kali pertama Allenator turun tangan langsung melakukan penyiksaan fisik, tak mampu lagi menahan kekesalannya melihat bagaimana Kaetos menatap Parrie di kelas dan bagaimana Parrie merusak rencananya.
"Kau pikir kau siapa, Parrie Rose?!" desis Allenatore dengan suara dingin yang sangat tajam. "Berani-beraninya kau tersenyum pada Kaetos? Berani-beraninya kau duduk di sebelahnya dan mengabaikan peringatanku?!"
Parrie perlahan memutar kepalanya kembali ke depan. Ia memegang pipinya yang terasa panas, menatap Allenatore lurus ke dalam matanya.
Melihat Parrie yang masih berani menatapnya tanpa linangan air mata ketakutan, Allen semakin meradang. Gadis pirang itu menoleh pada Julian Vance yang berdiri di sampingnya dengan seringai mesum.
"Julian," panggil Allenatore dengan nada suara yang begitu tega dan tak berhati. "Lucuti pakaiannya sekarang juga. Ambil foto dan videonya dari berbagai sudut. Kau bisa menjual fotonya dengan harga mahal di situs gelap, atau menyebarkannya ke seluruh forum kampus nanti malam!"
Mendengar perintah kejam itu, Julian Vance terkekeh puas. Pria berandalan itu mulai mengikis jarak, menggerakkan jemarinya seraya menatap Parrie seperti mangsa yang siap diterkam. "Dengan senang hati, Allen. Gadis miskin seperti dia memang pantas diberi pelajaran."
Pria Vance ini benar-benar sangat berbahaya, batin Parrie.
Namun, bukannya ketakutan, gemetar, atau memohon ampun... sebuah perubahan drastis tiba-tiba terjadi pada diri Parrie Rose.
Raut wajah Parrie yang tadinya tenang dan pasif mendadak berubah. Perlahan-lahan, sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman dingin, meremehkan, dan teramat berbahaya—terukir di paras cantiknya.
Melihat respon korban mereka yang justru tersenyum misterius di situasi terdesak seperti ini, Allenatore, Jessica, dan Julian seketika terperanjat. Mereka menatap Parrie dengan raut tidak percaya sekaligus bingung setengah mati.
"Kau... kau tertawa?!" tanya Allenatore dengan nada suara yang mulai bergetar heran. "Kau sudah gila, Parrie?!"
Parrie menatap Allenatore, lalu membiarkan kekehannya terdengar meluncur riak dari tenggorokannya. Suara kekehannya terdengar begitu rileks, seolah-olah empat orang di hadapannya hanyalah sekelompok badut konyol.
"Tampaknya..." ujar Parrie dengan suara sangat lirih, berbisik dingin namun menusuk hingga ke dalam tulang mereka. "...memikirkan bagaimana kacaunya kalian semua saat harus menghadapiku... benar-benar membuatku tertawa."
Sebelum Julian Vance sempat memproses arti kalimat itu atau mengulurkan tangannya untuk menyentuh baju Parrie—
BAM!
Dada Parrie membuncah oleh emosi dan amarah yang sudah lama ia pendam! Selama ini Parrie menahan diri karena dianggap gadis miskin yang lemah. Tapi mereka lupa... Parrie adalah gadis yang tumbuh keras di jalanan dan bertahan hidup dari kejamnya dunia luar!
Dengan gerakan yang sangat cepat dan eksplosif, Parrie menarik tali tas punggungnya yang berat, lalu mengayunkannya menghantam telak rahang kanan Julian Vance!
BUK!
"ARRGH!" Julian meringis kesakitan, tubuh kekarnya limbung ke samping akibat hantaman mendadak itu.
Belum sempat Julian membalas, Parrie melangkah maju dengan mata membara. Ia mencengkeram kerah kemeja Julian, memutar tubuh pria itu, lalu mendaratkan tendangan lutut yang sangat keras tepat di ulu hati Julian!
BUG!
Julian Vance terbatuk-batuk hebat, berlutut di atas semen keras seraya memegangi perutnya yang terasa mual dan remuk. Tanpa rasa ampun sedikit pun, Parrie mengayunkan kaki kanannya, menendang wajah Julian dengan tendangan memutar yang sangat telak!
PLAK-BUK!
Hidung Julian menyemburkan darah segar, pria itu ambruk terlentang di tanah, pingsan dan tak berdaya dalam hitungan detik!
Jessica Vance dan teman wanitanya menjerit histeris melihat saudara laki-lakinya yang kekar dihancurkan begitu mudah oleh seorang gadis yang mereka kira lemah!
"J-JULIAN!" teriak Jessica panik. Ia memalingkan wajahnya ke arah Parrie dengan emosi membabi buta. "DASAR JALANG! AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Jessica melompat maju untuk mencakar wajah Parrie.
Namun Parrie tidak bergerak sedikit pun. Dengan gerakan refleks yang dingin, Parrie menangkap pergelangan tangan Jessica di udara, memutarnya ke belakang hingga suara persendian berderak keras, lalu—
PLAKKKKK!
Sebuah tamparan yang jauh lebih keras, jauh lebih menyengat, dan berulang-ulang mendarat secara berturut-turut di pipi Jessica Vance!
PLAK! PLAK!
"Ini untuk mulut sampahmu!" desis Parrie dingin seraya mendorong tubuh Jessica hingga terjungkal keras menabrak dinding loker besi. Jessica memegangi sudut bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah, menatap Parrie dengan mata membelalak ketakutan luar biasa. Ia gemetar hebat, tak berani lagi melangkah maju.
Satu teman wanita mereka langsung lari terbirit-birit ketakutan meninggalkan koridor.
Kini, di tengah koridor yang sepi itu, hanya tersisa Parrie Rose yang berdiri tegap dengan napas teratur... dan Allenatore yang berdiri mematung di tempatnya.
Raut wajah Allenatore pucat pasi bagai mayat. Seluruh tubuh anggunnya gemetar hebat. Ia menatap Julian yang tergeletak berdarah di tanah, lalu menatap Jessica yang menangis ketakutan di sudut dinding, sebelum akhirnya pandangannya tertuju pada Parrie.
Parrie melangkah pelan mendekati Allenatore. Setiap langkah kaki Parrie terasa bagai ketukan lonceng kematian bagi Allen.
Allen mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak pintu loker. "P-Parrie... k-kau... apa yang kau lakukan?!"
Parrie berhenti tepat di depan Allenatore. Wajah Parrie begitu dekat, matanya menatap Allen dengan kilatan dingin yang membuat Allen merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan iblis yang sesungguhnya.
Parrie mengulurkan tangannya pelan, merapikan kerah gaun Allenatore yang sedikit berantakan dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah kelembutan yang teramat mengerikan.
"Lain kali..." bisik Parrie tepat di samping telinga Allenatore, suaranya manis namun mampu membekukan darah di tubuh Allen. "...jika kau ingin bermain-main denganku, bawa pria yang lebih kuat dari sampah Vance ini, Allenatore. Karena jika tidak... aku yang akan memastikan wajah cantikmu ini hancur tak berbekas."
Parrie menepuk bahu Allenatore dua kali dengan santai, mengukir senyum manisnya kembali, lalu membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri koridor seolah tidak terjadi apa pun—meninggalkan Allenatore yang ambruk berlutut di tanah dengan napas memburu panik dan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.