NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Jam 09.15 pagi. Porsche hitam Aditya Pradana melesat membelah jalanan Senopati dengan kecepatan tinggi.

Di dalam mobil, AC super dingin, tapi keringat Aditya mengucur deras. Tangannya yang tadi meretakkan cangkir keramik mahal masih gemetar menahan amarah.

Di jok sebelah, HP-nya menyala. Nama di layar: *Rendra - Asisten Pribadi.*

Aditya angkat dengan suara dingin dan berat khas CEO yang mau memecat 1 divisi.

"Gimana Rendra?"

"Pak Adit, sudah saya cek Pak. Rizky Coffee Space Senopati, pemiliknya Rizky Pratama, 28 tahun, S1 Business di Melbourne. Omset cafe 300-400 juta per bulan. Izin lengkap Pak. Tempatnya rame anak Jaksel. Dia anak pengusaha properti, Pak Hadi Pratama, pemilik Pratama Land. Keluarga kaya lama Pak. Bukan kaleng-kaleng."

Aditya membanting setir!

"Anak orang kaya? Pantas berani kirim bunga 50 tangkai ke rumah saya! Dia pikir dengan mawar merah 50 tangkai dia bisa beli istri saya?!"

"Pak, maaf Pak, tapi... saya izin bicara Pak. Saya kemarin di Grand Lucky Pak, saya lihat sendiri Bu Alena Pak. Bu Alena sudah sangat tegas nolak Pak Rizky Pak. Bu Alena bilang 'Maaf Rizky, saya sudah menikah, saya istri Aditya Pradana, saya harus jaga perasaan suami saya.' Bu Alena langsung tarik tangan dan pergi Pak. Bu Alena setia Pak, Bu Alena tidak salah Pak."

Aditya terdiam di lampu merah. Napasnya memburu.

Kata-kata Rendra itu menusuk jantungnya.

Dia ingat tatapan Alena yang pucat pasi, gemetar, menangis pagi tadi saat dibentak. Dia ingat Sean yang berani membelanya, "Bunda sudah tolak cowok itu! Bunda bilang harus jaga perasaan suami!"

Aditya memejamkan mata 10 detik di lampu merah. Klakson mobil belakang berisik.

Dia... cemburu buta. Dia malu.

Dia buka mata. Suaranya masih dingin, tapi sudah turun 50% amarahnya.

"Rendra, batalkan rencana tutup cafe. Jangan usik izinnya. Tapi kamu ikut saya ke cafe itu sekarang. Saya mau ketemu laki-laki itu. Laki-laki ke laki-laki. Saya mau dia tahu, Alena itu bukan bidadari kampus yang bisa dia kejar 4 tahun lalu. Alena itu Nyonya Pradana. Istri saya. Ibu dari anak saya."

"Siap Pak, saya sudah di depan Rizky Coffee Space Pak, saya tunggu Pak."

Aditya kembali melajukan lagi Porsche-nya.

---

Sementara itu di rumah Pradana.

Jam 09.30 pagi.

Buket mawar merah jumbo 50 tangkai yang dibanting Aditya ke tempat sampah sudah dibersihkan Bi Ijah. Tapi kelopak-kelopak merah masih tercecer di lantai marmer putih. Wangi mawarnya masih semerbak, tapi suasananya mencekam.

Alena duduk di sofa ruang tamu dengan mata bengkak habis menangis. Di pangkuannya ada Sean, meluk Bundanya erat.

"Bunda jangan nangis terus dong. Nanti mata Bunda bengkak, jelek," kata Sean sambil usap air mata Alena pakai tisu.

"Sean... Bunda takut Sean... Ayah kamu marah besar Sean... Ayah kamu salah paham... Bunda dari mana tahu Rizky bisa dapat alamat rumah kita Sean... Bunda tidak pernah kasih alamat ke dia Sean..." isak Alena.

Sean yang biasanya cuek, sekarang jadi super dewasa.

"Bunda, dengerin Sean. Ayah marah bukan karena benci Bunda. Ayah marah karena Ayah takut kehilangan Bunda. Sean tahu itu. Semalam Ayah pulang diam-diam jam 11 malam, Ayah masuk ke kamar Sean, Ayah selimutin Sean, Ayah bisik 'Jaga Bunda ya, Sean'. Ayah itu sayang Bunda, tapi Ayah gengsi, cool, datar. Makanya kalau cemburu, jadinya meledak-ledak begitu."

Alena tertegun menatap Sean.

"Sean... Ayah bilang begitu semalam?"

"Iya Bunda. Makanya Sean bela Bunda tadi pagi. Karena Sean tahu Bunda setia. Sean jadi saksi di Grand Lucky. Cowok mawar itu yang gatel."

Alena memeluk Sean erat.

Tiba-tiba HP Alena bergetar. Nomor tidak dikenal.

0812-xxxx-xxxx.

Alena langsung pucat. Itu nomor di kartu bunga tadi! Nomor Rizky!

Sean langsung ambil HP itu. "Bunda jangan angkat! Biar Sean yang angkat!"

Sean angkat dengan suara dibuat berat seperti Aditya.

"Halo! Siapa ini?!"

Di seberang, suara cowok ramah, "Halo, apa ini Alena? Ini Rizky, Len. Apa bunga aku sudah sampai? Kamu suka? Maaf kalau ganggu pagi-pagi. Aku..."

Sean langsung memotong dengan suara ketus ala remaja Jaksel yang menjaga Bundanya.

"WOI! Lu Rizky Coffee Space Senopati ya?! Lu yang kirim bunga 50 tangkai ke rumah gue ya?! Lu denger ya! Nyokap gue eh Bunda gue itu sudah nikah! Suaminya Aditya Pradana! Anaknya gue, Sean Pradana! Lu jangan ganggu Bunda gue lagi! Bunda gue nangis gara-gara bunga lu! Bokap gue ngamuk! Porsche bokap gue sampe dibanting pintunya! Kalau lu masih ganggu Bunda gue, gue sama bokap gue samperin cafe lu! Ngerti lu?!"

Di seberang hening.

Lalu suara Rizky kaget, "Eh? Sean? Kamu Sean? Anak Alena? Maaf Sean, saya tidak tahu Alena sudah menikah dan punya anak sebesar kamu... Maafkan saya Sean... Saya kira Alena masih single... Maaf ya Sean, tolong sampaikan ke Bunda kamu, saya minta maaf..."

Sean langsung matikan telepon! "Minta maaf-minta maaf! Enak aja!"

Sean buang HP Alena ke sofa.

"Beres Bunda! Sean sudah usir cowok mawar itu!"

Alena tidak bisa menahan tawa di tengah tangisnya melihat Sean belagak jadi bodyguard.

---

Jam 10.00 pagi. Rizky Coffee Space Senopati.

Cafe estetik 2 lantai itu rame anak Jaksel nongkrong.

Porsche hitam Aditya berhenti mendadak di depan cafe dengan suara rem berdecit! Semua orang di cafe menoleh!

Aditya keluar dengan jas yang sudah dilepas, kemeja putih digulung sampai siku, dasi longgar, wajah datar cool tapi mata merah membara.

Rendra yang sudah menunggu langsung ikut di belakang.

Semua barista kaget, "Pak mau pesan apa Pak?"

Aditya tidak jawab. Matanya mencari satu orang.

Di lantai 2, di meja dekat jendela, ada seorang pria tinggi, putih, rambut klimis, memakai kemeja flanel mahal, sedang menatap HP dengan wajah bingung habis ditelpon Sean.

Rizky Pratama.

Aditya naik ke lantai 2 dengan langkah pelan tapi berat. Tiap langkahnya membuat lantai kayu berderit.

Rizky mendongak. Melihat pria tinggi, cool, tatapan mematikan itu.

"Kamu Rizky Pratama?" tanya Aditya dingin.

Rizky berdiri, agak kaget. "Iya, saya Rizky Pratama. Anda siapa?"

Aditya mengulurkan tangan, menjabat tangan Rizky dengan keras, sangat keras sampai Rizky meringis.

"Saya Aditya Pradana. Suami Alena Putri Pradana. Ayah dari Sean Pradana. Pemilik rumah yang kamu kirimi bunga 50 tangkai mawar merah jam 08.15 pagi tadi."

Rizky langsung pucat pasi! Tangannya lemas!

"Pak Aditya? Suami Alena? Ya Tuhan... Pak... maaf Pak... saya tidak tahu Pak... saya..."

Aditya tidak membentak di cafe ramai. Aditya menarik kursi dan duduk di depan Rizky dengan tenang, tapi tatapannya membunuh.

"Duduk."

Rizky duduk dengan gemetar.

Rendra berdiri di belakang Aditya seperti pengawal.

Aditya menatap Rizky dalam-dalam.

"Rizky Pratama, 28 tahun, S1 Business Melbourne, anak Pak Hadi Pratama Pratama Land, pemilik cafe ini omset 300 juta. Saya sudah selidiki kamu. Kamu anak orang kaya. Kamu kapten basket. Idola cewek-cewek. Kamu kejar Alena 4 tahun di kampus."

Rizky menunduk.

"Tapi Rizky, kamu salah kejar. Alena yang kamu kejar 4 tahun lalu itu sudah tidak ada. Yang ada sekarang Alena Pradana. Istri saya. Dia yang tiap jam 5 pagi bangun buatkan saya kopi hitam tanpa gula. Dia yang tiap malam tunggu saya pulang walau saya pulang jam 11 malam. Dia yang rawat anak saya Sean dari Sean umur 10 tahun sampai sekarang 17 tahun . Dia yang bikin nasi goreng spesial tiap pagi."

Suara Aditya pelan, tapi setiap katanya menusuk.

"Dan tadi pagi, kamu kirim bunga 50 tangkai ke rumah saya. Di depan anak saya. Di depan istri saya. Kamu buat istri saya pucat, gemetar, menangis. Kamu buat anak saya harus bela Bundanya. Kamu buat saya... meretakkan cangkir kopi pemberian Alena."

Aditya meletakkan pecahan cangkir keramik yang dia bawa dari rumah di atas meja cafe!

Rizky melihat pecahan cangkir itu dan semakin pucat!

"Pak Aditya... saya... saya benar-benar minta maaf Pak... saya tidak ada niat merusak rumah tangga Bapak... saya hanya kangen Alena... saya lihat Alena makin cantik kemarin di Grand Lucky... saya... saya bodoh Pak... saya akan... saya akan..."

Aditya mengangkat tangan, menghentikan Rizky.

"Saya tidak akan tutup cafe kamu. Saya tidak akan bikin kamu bangkrut. Saya tidak akan usir kamu dari Jakarta. Seperti yang saya ancam di rumah tadi."

Rizky mendongak kaget.

"Tapi saya minta satu hal dari kamu sebagai laki-laki ke laki-laki. Lupakan Alena Putri bidadari kampus 4 tahun lalu. Karena Alena Putri sekarang sudah jadi milik keluarga Pradana. Kalau kamu masih sayang Alena sebagai teman, doakan dia bahagia dengan saya dan Sean. Jangan kirim bunga lagi. Jangan hubungi lagi. Hapus nomornya. Mengerti?"

Rizky mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca, "Mengerti Pak... mengerti Pak Aditya... saya janji Pak... saya akan hapus nomor Alena... saya akan lupakan... maafkan saya Pak... sampaikan maaf saya ke Alena dan Sean Pak..."

Aditya berdiri, merapikan kemeja putihnya.

"Bagus. Saya pegang janji kamu. Oh iya, kopi hitam tanpa gula kamu enak. Tapi tidak seenak buatan istri saya."

Aditya meletakkan uang 500 ribu di atas meja untuk kopi yang tidak dia pesan.

Lalu pergi turun dari lantai 2 dengan langkah cool, datar, tapi lega.

Rendra mengikuti.

Di dalam Porsche, Aditya tidak langsung pulang ke kantor. Dia menatap foto wallpaper HP-nya. Foto semalam: Alena, Sean, dan dia makan Indomie di karpet perpustakaan dengan rambut berantakan.

Aditya tersenyum tipis untuk pertama kalinya pagi itu.

Dia menelpon rumah.

Bi Ijah angkat, "Halo Pak Aditya?"

"Bi, panggilkan Alena."

Alena angkat dengan suara masih isak, "Halo Pak..."

"Len, bunga 50 tangkai sudah saya buang jauh-jauh. Laki-lakinya sudah saya temui di Senopati. Dia sudah minta maaf dan janji tidak akan ganggu kamu lagi. Kamu gak usah ganti nomor HP. Nomor kamu tetap pakai. Saya percaya kamu."

Di seberang, Alena menangis lagi, tapi kali ini tangis lega.

"Terima kasih Pak... terima kasih Pak Aditya..."

"Nanti sore saya pulang jam 6. Tolong buatkan lagi nasi goreng spesial seperti pagi tadi. Yang pakai telur mata sapi, sosis bakar, nugget. Untuk saya dan Sean. Kita makan bertiga lagi di karpet perpustakaan. Ya?"

Alena mengangguk di telepon sambil senyum.

"Iya Pak... nanti buatkan Pak..."

Sean yang merebut telepon, "Ayah! Ayah sudah usir cowok mawar itu Ayah? Sean juga sudah usir lewat telepon Ayah!"

Aditya tertawa kecil di Porsche-nya. Tawa CEO cool yang jarang terdengar.

"Sudah Sean,kita harus kompak jaga Bunda. Ayah bangga sama kamu, Sean Pradana."

BERSAMBUNG...

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!