NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Hujan gerimis di luar puri telah reda, meninggalkan hening yang pekat dan udara malam yang menusuk tulang. Jarum jam dinding berlapis perak di sudut kamar utama berdetak pelan, menunjukkan pukul dua dini hari.

Suara engsel pintu yang bergeser hampir tak terdengar memecah sunyi.

Gabriel melangkah masuk. Malam ini, ia tidak lagi membawa aroma amis darah atau bau mesiu yang menyengat. Pria itu telah membersihkan seluruh tubuhnya di ruang pribadi sayap timur; rambut hitamnya masih sedikit basah, dan kemeja sutra longgar berwarna abu-abu gelap membungkus tubuh tegapnya yang dipenuhi ukiran otot serta beberapa bekas luka baru.

Namun, ada hal lain yang membakar di balik matanya yang kelam. Sebuah dahaga yang telah ia tahan selama berminggu-minggu hasrat liar yang selama ini ia tekan dan kurung karena ketakutannya yang mendalam akan meremukkan tubuhku sekali lagi.

Langkah kakinya yang tanpa alas suara berhenti di tepi peraduan.

Aku tidak tidur. Aku terbaring miring, memandangi bayangan pepohonan yang bergoyang di balik kaca jendela. Ketika kasur empuk di belakangku perlahan melekuk di bawah beban tubuhnya, aku tidak bergerak, tidak pula menegangkan sendi-sendiku seperti biasa. Kesunyian yang terbangun di antara kami selama seminggu terakhir telah mengubah tempat ini menjadi ruang tanpa dinding pertahanan.

Gabriel tidak langsung menindih atau mencengkeramku. Tangannya yang besar dan hangat terulur sangat pelan, menyusuri helai demi helai rambutku yang tersebar di atas bantal sutra. Sentuhannya kali ini begitu asing tidak ada tekanan kasar, tidak ada dominasi paksa. Hanya ada kepenuhan kelembutan yang sangat ragu-ragu, seolah ia sedang menyentuh kelopak bunga paling rapuh di dunia.

"Aurora..." bisiknya, suaranya berbariton rendah, serak, dan penuh dengan kepasrahan yang pekat.

Jemarinya perlahan turun menyapu garis rahangku, membalikkan wajahku secara halus agar menatap ke dalam manik matanya. Dalam remang lampu dinding yang temaram, aku melihat mata hitam sang Don Moretti tidak lagi memancarkan kebuasan seorang pemangsa. Ada kerapuhan yang telanjang di sana, sebuah permohonan bisu dari pria yang telah lelah bertempur dengan darah dan kesunyiannya sendiri.

Ia menunduk, mendaratkan bibirnya di keningku dalam sebuah kecupan yang sangat lama dan hangat.

Ciuman itu perlahan merayap turun ke tulang pipiku, mengusap bekas air mata lama yang telah mengering, sebelum akhirnya menyapu lembut bibirku yang terkatup. Tidak ada paksaan. Gabriel hanya menyesap bibir atas dan bawahku dengan ritme yang lambat, menuntut respons tanpa sedikit pun rasa tergesa-gesa. Perbuatannya terasa seperti bisikan ma'af yang tak sanggup diucapkan oleh lidahnya.

Sensasi hangat itu merambat cepat ke seluruh aliran darahku, menjalar hingga ke ulu hati. Ada dorongan aneh dalam diriku yang mendadak goyah. Rasa dingin dan dinding es yang kubangun berhari-hari seolah meleleh di bawah sentuhan lembut yang tak pernah kuprediksikan dari sosok iblis ini.

Sentuhan Gabriel berpindah ke bahuku. Jemarinya yang hangat dan sedikit kasar menggeser tali gaun tidur tipis yang kukenakan, membiarkan kain sutra itu meluncur turun perlahan. Ia mengecup celah leherku dengan kelembutan yang menyiksa, menyesap kulitku tanpa meninggalkan rasa sakit, membuat napas yang sejak tadi kutahan akhirnya terlepas dalam sebuah hembusan halus yang gemetar.

"Katakan padaku jika ini menyakitimu, Cara mia..." gumam Gabriel di dekat telingaku, hembusan napas hangatnya membuat seluruh bulu kudukku berdiri. "Satu kata darimu, dan aku akan berhenti."

Kata-kata itu menghantam kesadaranku. Pria yang biasanya mengambil apa pun yang diinginkannya tanpa izin, kini menyerahkan seluruh kendali di tanganku.

Aku menatap matanya yang membara oleh gairah yang tertahan rapat. Bukannya mendorong dadanya atau memalingkan wajah, jemari tanganku yang tadinya kaku perlahan terangkat, merambat naik menyusuri dada bidangnya dan menyusup ke dalam celah kemeja sutranya yang terbuka.

Persetujuan bisu itu menyulut api yang terpendam di antara kami.

Permainan malam itu bertransformasi menjadi sebuah pusaran hasrat yang teramat lembut. Gabriel membimbing tubuhku dengan kesabaran yang luar biasa. Setiap usapan tangannya di punggung dan pinggulku terasa bagai sentuhan beludru yang membuai, menyapu bersih trauma dan ingatan kelam malam pembantaian itu. Ia menjelajahi setiap jengkal kulitku tanpa tergesa-gesa, memastikan setiap saraf di tubuhku siap menerima kehadirannya.

Ketika ia akhirnya menyatu denganku, gerakan Gabriel begitu teratur dan penuh kehati-hatian. Ia menahan sebagian besar berat tubuhnya dengan kedua lengannya, menatap lurus ke dalam mataku untuk memastikan tidak ada rasa sakit yang melintasi raut wajahku. Ritme yang ia bawakan begitu terbuai, sebuah tarian lambat yang memabukkan, menyatukan rasa hangat dan desahan parau yang saling bersahutan di tengah kesunyian kamar.

Aku memejamkan mata, meremas bahu kokohnya saat gelombang kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya mendadak melingkupi seluruh kesadaranku. Kebencian, rasa sakit, dan dinginnya dinding pembatas seolah lebur dalam kehangatan peraduan yang mengalun tanpa batas.

---

Semburat cahaya fajar pertama perlahan menerobos masuk melalui celah gorden tebal, mewarnai langit-langit kamar dengan nuansa keemasan yang hangat. Burung-burung gereja mulai mencicit sayup-sayup di luar sana, menandakan bahwa malam telah usai.

Namun, di atas ranjang king-size yang berantakan itu, tarian tubuh kami belum juga menemukan titik akhir.

Suhu di dalam ruangan terasa semakin panas dan sarat akan gairah yang belum teruaskan. Perubahan aneh terjadi di dalam dinamika peraduan kami. Rasa terbuai yang menjalar sepanjang malam telah membakar sisa-sisa kepasrahanku, menggantikannya dengan sebuah keberanian liar yang belum pernah muncul sebelumnya.

Dengan dorongan napas yang tersengal, aku mencengkeram kedua bahu Gabriel yang bersimbah keringat, lalu membalikkan keadaan.

Gabriel tersentak pelan, matanya terbelalak kaget saat aku mendorong chest bidangnya hingga ia berbaring telentang di atas sprai sutra yang kusut. Kemeja abu-abunya telah sepenuhnya terlepas, memperlihatkan dada dan perutnya yang berotot tebal, bergerak naik turun dalam tarikan napas yang memburu.

Kini, akulah yang berada di atasnya.

Rambut hitamku yang panjang terurai bebas, jatuh menutupi sebagian dada telanjangnya. Aku menatap lurus ke dalam manik mata hitam sang *Don* dari ketinggian. Tidak ada lagi raut ketakutan, tidak ada lagi jejak selir yang tak berdaya. Mataku memancarkan dominasi mutlak yang membuat pria paling ditakuti di dunia bawah tanah itu terpaku membisu.

Bibir Gabriel mengukir sebuah senyuman tipis sebuah senyuman gelap yang penuh akan kekaguman dan kepasrahan total. Pria itu menyandarkan kepalanya di atas bantal, membiarkan kedua tangannya terkulai santai di samping tubuhnya, merelakan seluruh kendali dan takhtanya diambil alih olehku.

"Lakukan sesukamu, Cara mia..." bisik Gabriel serak, suaranya bergetar oleh kenikmatan saat ia menyerahkan dirinya sepenuhnya di bawah kekuasaanku. "Malam ini... aku milikmu."

Aku menggerakkan tubuhku, mengambil alih ritme dan kedalaman permainan di antara kami. Setiap gerakanku di bawah sorotan sinar fajar keemasan membuat hembusan napas Gabriel makin berat dan liar. Tangan besarnya yang biasa mencabut nyawa orang kini terangkat ragu, hanya berani mencengkeram pinggulku pelan, mengimbangi tempo yang kuatur sendiri.

Di atas peraduan yang hangat itu, di bawah paparan sinar matahari pagi yang kian terang, batas antara penjahat dan korban melenyap sepenuhnya. Sang raja mafia yang tak pernah tunduk pada siapapun kini bertekuk lutut dalam kepasrahan murni, membiarkan dirinya dilumat dan dikendalikan sepenuhnya oleh selir yang pernah ia remukkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!