NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU

Lantai ruang kuliah utama itu terasa dingin, seperti halnya udara AC yang berembus konstan tanpa henti. Di depan papan tulis besar, berdiri seorang pria berjas terstruktur rapi. Garis rahangnya tegas, matanya di balik kacamata berbingkai tipis menatap deretan mahasiswa yang duduk berjejal di hadapannya dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.

Profesor Kaellan Zain Alfatih.. Pria yang dihormati sekaligus ditakuti di seluruh penjuru Fakultas Farmasi dan Kedokteran.

"Simpan semua buku, catatan, dan gadget kalian di dalam tas." Suara Zain terdengar tidak keras, tetapi artikulasinya yang teramat tenang dan tegas bergema secara sempurna ke setiap sudut ruangan.

Gelombang bisik-bisik ketakutan langsung menjalar di antara puluhan mahasiswa. Suasana yang tadinya relatif tenang mendadak pecah oleh bunyi derit kursi dan resleting tas yang ditarik terburu-buru.

"Profesor," cicit Dinda yang duduk tepat di sebelah Amara, wajahnya sudah sepucat kertas. "Apakah hari ini ada kuis? Di silabus tidak ada jadwal kuis..."

Zain tidak memutus pandangannya. Jemarinya yang panjang dan bersih merapikan beberapa lembar kertas di atas podium kayu. "Mulai hari ini, silabus kalian adalah apa yang saya katakan. Kuis dadakan mata kuliah Toksikologi."

"Tapi, Prof!" Dinda meremas jemarinya sendiri, memohon dengan matanya. "Kami belum sempat membaca materi bab minggu lalu."

"Itu masalahmu, Dinda," potong Zain dingin. Matanya melirik datar pada name tag yang tersemat di dada mahasiswi itu. "Bukan masalah saya. Waktu kalian dua puluh detik dari sekarang. Jika masih ada kertas atau telepon genggam di atas meja, lembar jawaban kalian otomatis bernilai nol."

Di baris ketiga dari depan, Amara mengepalkan kedua tangannya erat-erat di bawah meja. Jemarinya yang dingin gemetar halus. Semalam, badannya menggigil hebat karena demam tinggi. Kepala Amara masih terasa sangat berat, berputar pelan setiap kali ia mencoba memfokuskan pandangannya pada sosok pria di depan sana. Pria yang secara hukum adalah suaminya, tetapi di dalam ruangan ini tak lebih dari sosok algojo yang siap mengeksekusi nilai-nilai mereka.

Amara tidak sempat menyentuh buku teksnya semalam. Ia hanya bisa berbaring memeluk tubuhnya sendiri di kamar atas, sendirian dalam dingin yang menusuk tulang.

"Gila..." bisik Erin dari sisi kanan Amara, meremas pulpennya hingga buku-buku jarinya memutih. "Toksikologi itu sulitnya minta ampuh. Kalau sampai nilai kita buruk bagaimana?"

Seolah mampu mendengar bisikan Erin, Zain mengangkat kepalanya. Kacamata berbingkai tipis itu memantulkan cahaya lampu neon di langit-langit, menyembunyikan binar matanya yang tanpa emosi.

"Saya tegaskan satu hal," ujar Zain dengan nada datar yang menusuk. "Tidak ada ujian susulan. Tidak ada remedial. Barang siapa yang mendapatkan nilai di bawah C, diwajibkan menyusun makalah analisis medis sebanyak lima puluh halaman dengan tiga puluh jurnal internasional bereputasi sebagai referensi. Diketik manual, dikumpulkan minggu depan."

Seketika, desah napas frustrasi bertumpukan di dalam ruangan. Persyaratan itu sama saja dengan hukuman mati secara perlahan di tengah padatnya jadwal perkuliahan mereka.

"Ini tidak adil, Prof!"

Sebuah suara lantang memotong keheningan yang mencekam. Faldo, mahasiswa semester atas yang mengulang mata kuliah itu, berdiri dari kursinya. Matanya menatap Zain dengan kilat amarah yang tak lagi mampu ditahan.

"Kuis dadakan tanpa pemberitahuan saja sudah melanggar kesepakatan awal kuliah," tegas Faldo, dadanya naik turun mengontrol emosi. "Ditambah tidak ada remedial dan hukuman makalah yang tidak masuk akal. Anda memperlakukan kami seperti robot, bukan mahasiswa yang sedang belajar."

Keheningan yang tercipta langsung melingkupi ruangan. Tak ada yang berani bernapas. Dinda merapatkan tubuhnya ke kursi, sementara Erin memejamkan mata, mengantisipasi sesuatu yang buruk akan meledak.

Zain tidak terkejut. Ia bahkan tidak berkedip. Pria itu perlahan melepaskan kacamatanya, menyapu lensa bening itu dengan kain mikrofiber dengan gerakan yang sangat teratur dan tenang.

"Sudah selesai bicaramu, Faldo Dermawan?" tanya Zain datar.

"Saya hanya menyampaikan fakta, Profesor Zain," balas Faldo dengan suara yang mulai bergetar, menyadari aura intimidasi yang mendadak menekan dadanya.

Zain memakai kembali kacamatanya, lalu menatap Faldo lurus-lurus. "Mata kuliah ini adalah Toksikologi. Ilmu tentang hal- hal yang berbahaya di lingkungan sekitar khususnya dunia medis dan kedokteran. Di dunia nyata, apa saja yang berbahaya tidak akan memberi tahu korbannya kapan ia akan menyerang. Pasien yang overdosis di ruang gawat darurat tidak akan menunggu kamu selesai membaca buku teks untuk bertahan hidup."

Zain menunjuk pintu keluar dengan pena di tangannya. Gerakannya sangat minim, namun penuh perintah mutlak.

"Ambil tasmu dan keluar dari kelas saya," lanjut Zain tanpa beban. "Kamu tidak perlu mengikuti kuis ini, dan kamu tidak perlu hadir di kelas saya lagi semester ini."

"Prof!" suara Faldo meninggi, panik mulai menguasai dirinya. "Anda tidak bisa menggugurkan saya begitu saja!"

"Saya bisa," sahut Zain pendek. "Dan saya baru saja melakukannya. Keluar sebelum saya memproses pembatalan seluruh mata kuliahmu semester ini ke pihak dekanat."

Faldo mengepalkan tinjunya. Wajahnya merah padam oleh rasa malu dan marah. Namun, menatap mata Zain yang dingin dan hampa seperti sumur tua tanpa dasar, keberanian mahasiswa itu runtuh. Dengan kasar, Faldo menyambar tasnya dan melangkah lebar keluar kelas, membanting pintu kayu tebal itu hingga menimbulkan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan.

Zain bahkan tidak bergeming sedikit pun akibat dentuman itu. Ia kembali melirik jam tangannya.

"Waktu kalian tersisa sepuluh detik," kata Zain seolah tidak ada peristiwa apa pun yang baru saja terjadi. "Lembar soal akan dibagikan sekarang."

Amara menarik napas panjang yang terasa menyiksa dadanya. Kepala yang makin berdenyut hebat menyulitkan pandangannya untuk fokus pada lembar kertas putih yang mulai dibagikan dari baris depan. Namun, rasa sakit di kepalanya tak sebanding dengan rasa nyeri yang merambat di sudut hatinya setiap kali ia melihat betapa tak tersentuhnya pria itu.

Pria yang semalam tidur di balik dinding kamar yang sama darinya, kini berdiri di sana, menjadi ketakutan terbesar bagi puluhan mahasiswa di ruangan ini.

...*********...

Malam telah larut ketika Amara akhirnya menginjakkan kaki di pelataran rumah. Lampu teras menyala temaram, membiaskan bayangan dedaunan yang bergoyang ditiup angin malam yang dingin. Tubuh Amara terasa sangat lemah. Langkah kakinya berat, menyeret keletihan yang terakumulasi dari demam yang belum sepenuhnya reda dan latihan paduan suara yang menyita seluruh sisa tenaganya hingga larut.

Dengan perlahan, Amara memutar kunci dan mendorong pintu depan. Suasana rumah begitu hening, layaknya bangunan kosong yang tak berpenghuni.

Namun, saat langkahnya melewati ruang tengah, langkah Amara terhenti.

Zain duduk di sana. Di atas sofa kulit berwarna hitam, pria itu duduk tegak dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu sudut ruangan yang redup. Ia masih mengenakan kemeja kerjanya, meski dasinya sudah dilepas dan dua kancing teratasnya terbuka. Sebuah buku tebal terbuka di pangkuannya, tetapi Zain tidak sedang membaca. Matanya yang dingin menatap lurus ke arah pintu masuk, menyambut kedatangan Amara.

"Baru pulang?"

Keheningan di antara mereka begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar bak ketukan palu yang menghakimi.

Amara menelan ludah, berusaha menguasai kegugupan yang selalu menyergapnya tiap kali harus berhadapan dengan Zain dalam jarak dekat.

"Aku pulang terlambat karena ada latihan paduan suara untuk acara penerimaan mahasiswa baru," bisik Amara halus, memecah kesunyian. Suaranya terdengar parau dan serak akibat tenggorokannya yang mengering.

Zain tidak membalas. Tidak ada anggukan, tidak pula pertanyaan. Pria itu hanya menatap Amara selama beberapa detik dengan pandangan yang sulit diartikan, seolah Amara adalah sosok asing yang tak sengaja masuk ke dalam rumahnya.

Perlahan, Zain menutup bukunya dengan bunyi pelan, berdiri dari sofa, lalu melangkah melintasinya tanpa sepatah kata pun menuju arah dapur.

Amara memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk meredakan rasa sesak yang menghantam dadanya. Sikap dingin itu bukanlah hal baru. Sudah hampir empat tahun mereka hidup bersama di bawah atap yang sama, tetapi interaksi mereka selalu terbatas pada kesunyian yang membekukan.

Menyadari tenggorokannya yang kian perih, Amara menyusul langkah Zain menuju dapur. Pria itu berdiri di depan konter, membelakanginya, nampak baru saja menuangkan air dari botol air.

Amara melangkah pelan mendekati wastafel, berniat mengambil gelas kaca dari rak gantung tepat di samping posisi Zain berdiri.

"Maaf," gumam Amara pelan saat ia merogohkan tangannya ke atas rak.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
SENJA
laaah kok timbul tenggelam gitu suara bathinnya🤣
SENJA
perbuatan laki lu 🤣
SENJA
ishh isssh ketagihan🤣
SENJA
kejem amat ihhh ama bini 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!