Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Bel sekolah penutup hari itu berdering nyaring, memecah kesunyian koridor SMA Tunas Bangsa dan memberi sinyal kebebasan bagi para siswa. Namun, bagi Aurelia, bel pulang bukanlah pertanda kelegaan, melainkan lonceng yang mengingatkannya pada kewajiban mutlak yang harus ia tepati. Sesuai dengan instruksi tegas Grayson pagi tadi, supir pribadi yang disiapkan pemuda itu sudah menunggu di titik penjemputan rahasia beberapa meter di luar gerbang sekolah.
Namun, sebelum Aurelia sempat melangkah buru-buru menuju mobil jemputannya, dua lengan tiba-tiba merangkul pundaknya dari samping.
"Hei, Li! Mau langsung pulang?" tanya Aluna dengan senyuman ceria, ditemani oleh Aruna yang membawa tas ransel di bahunya.
Aurelia sedikit terperanjat, berusaha menyembunyikan wajah gugupnya. "Ehm... iya, Lun, Aruna. Aku mau langsung pulang."
Aruna mengerutkan keningnya, menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh selidik. "Pulang ke rumah atau mau langsung mampir ke rumah sakit dulu? Udah tiga hari lho bapakmu dirawat di Rumah Sakit Medika Utama, tapi kita berdua belum sempat nengok langsung ke sana. Kasihan juga sama Tante Lila kalau sendirian terus nungguin."
Mendengar ajakan spontan itu, sekujur darah Aurelia mendadak terasa dingin. Jantungnya berdegup kencang bukan main. Pikiran pertamanya langsung tertuju pada Grayson—bagaimana jika sahabat-sahabatnya melihat kondisi ayahnya di rumah sakit elit tempat perawatan khusus itu, atau lebih buruk lagi, bagaimana jika mereka tidak sengaja berpapasan dengan Grayson atau anak buahnya?
Tidak, aku tidak boleh panik, batin Aurelia berusaha menenangkan diri di balik senyuman piasnya. Jika ia menolak mentah-mentah ajakan Aluna dan Aruna, kedua sahabatnya itu pasti akan merasa curiga dan menganggapnya menyembunyikan sesuatu yang besar.
"Ah... b-benar juga," cicit Aurelia terbata-bata, mencoba mengatur intonasi suaranya agar terdengar wajar. "Aku... aku justru mau ke rumah sakit sekarang mau gantiin Mama. Kalau kalian mau ikut nengok Papa, ayo bareng aja."
"Yaudah yuk! Kita naik angkot ke sana bareng," seru Aluna antusias.
Aurelia langsung merogoh ponselnya secara diam-diam di dalam saku mantelnya, mengirimkan pesan singkat bergetar kepada supir jemputan Grayson untuk membatalkan penjemputan sore ini karena ia harus pergi ke rumah sakit bersama teman-temannya. Ia tahu tindakannya ini melanggar aturan sang suami iblis, namun ia tidak punya pilihan lain untuk menjaga kedoknya di hadapan Aluna dan Aruna.
Sesampainya di lantai khusus ruang ICU Rumah Sakit Medika Utama, suasana terasa begitu hening dan menenangkan. Bau disinfektan yang khas langsung menyergap indra penciuman begitu mereka keluar dari lift.
Aluna dan Aruna berjalan di belakang Aurelia dengan langkah pelan, memandangi kemegahan fasilitas rumah sakit swasta bertaraf internasional tersebut dengan mata terbelalak kagum bercampur ngeri.
"Wah, Li... rumah sakit ini mahil banget, kan? Fasilitasnya kayak hotel bintang lima," bisik Aruna takjub sambil mengamati dinding koridor yang bersih mengkilap.
Aurelia hanya tersenyum tipis, tidak mampu menjelaskan bahwa seluruh biaya fantastis kamar VVIP dan peralatan medis canggih di balik dinding kaca itu dibayar lurus menggunakan uang dari sang suami psikopat.
Dari kejauhan, di kursi tunggu luar ruang ICU, sosok Lila terlihat duduk seorang diri. Wanita paruh baya itu tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali Aurelia melihatnya. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan pakaiannya tampak kusut. Begitu melihat putrinya berjalan mendekat bersama dua orang temannya, Lila segera bangkit dari tempat duduknya.
"Aurelia..." panggil Lila lirih, merentangkan kedua tangannya menyambut sang putri.
"Mama..." balas Aurelia cepat, langsung menerjang masuk ke dalam pelukan ibunya, memeluk erat tubuh wanita yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia rela menyerahkan seluruh masa depannya pada Grayson.
Aluna dan Aruna berdiri dengan sopan di dekat mereka, lalu membungkuk hormat secara bergantian untuk menyalami tangan Lila.
"Tante, turut sedih ya atas musibah yang menimpa Om Bayu. Kita bertiga niatnya mau nengok sekaligus ngasih dukungan buat Tante Lila di sini," ucap Aluna tulus dengan mata berkaca-kaca.
Lila tersenyum lemah, mengusap lembut kepala Aluna dan Aruna bergantian. "Terima kasih banyak ya, Nak, sudah peduli sama keluarga kami. Masuklah ke dalam sebentar, lihat Om Bayu lewat kaca... tapi jangan berisik ya, kondisinya masih belum sadar."
Aluna dan Aruna mengangguk patuh, lalu melangkah perlahan mengintip ke dalam ruangan ICU melalui dinding kaca transparan, menyaksikan tubuh Bayu yang terbaring kian tak berdaya dengan selang respirator menghiasi wajahnya.
Sementara kedua sahabatnya sibuk melihat ke dalam, Lila menarik tangan Aurelia agak menjauh dari area kaca, menuju sudut koridor yang lebih sepi di dekat jendela besar yang menghadap ke arah kota.
Lila menangkup kedua pipi putrinya dengan telapak tangannya yang terasa dingin. Wanita paruh baya itu menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aurelia, mencari setiap detail perubahan kecil pada diri anak gadisnya setelah tinggal di vila terpencil bersama suami iblisnya.
"Kamu baik-baik saja kan, Sayang? Dia... dia tidak memaksa atau berbuat kasar padamu, kan?" tanya Lila dengan suara bergetar tertahan, sarat akan kekhawatiran seorang ibu yang jiwanya tersiksa siang dan malam memikirkan nasib putrinya.
Mendengar pertanyaan itu, Aurelia merasakan tenggorokannya tercekat hebat. Air mata yang sejak tadi ia tahan di balik kelopak matanya hampir saja tumpah. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya—bahwa ia ketakutan setiap detik, bahwa ia hidup dalam sangkar emas penuh teror psikologis, bahwa pria itu nyaris merudapaksanya malam itu jika saja tangisannya tidak menghentikan sang predator.
Namun, ketika Aurelia melihat manik mata ibunya yang penuh luka dan kelelahan, serta teringat kondisi ayahnya yang masih koma di dalam sana, ia tahu ia harus menelan mentah-mentah seluruh penderitaannya sendiri.
Aurelia memaksakan seulas senyum paling meyakinkan di bibirnya, menggelengkan kepalanya perlahan di antara debaran dada yang sesak.
"Aku baik-baik saja, Ma..." ucap Aurelia lembut, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Grayson... dia tidak berbuat kasar. Sesuai janjinya, dia membiarkan aku sekolah seperti biasa, dan dia memenuhi semua kebutuhan perawatan medis Papa di sini. Mama nggak usah khawatirkan aku, fokus saja pada pemulihan Papa, ya?"
Lila menatap manik mata putrinya lama sekali, mencoba mencari kebohongan di balik senyuman itu. Sebagai seorang ibu, instingnya mengatakan bahwa ada banyak hal yang disembunyikan oleh Aurelia. Namun, apa daya mereka? Di atas kertas dan kenyataan pahit dunia nyata, pemuda bernama Grayson Balindra adalah penyelamat nyawa suaminya sekaligus pemilik mutlak atas masa depan anak gadisnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Lila menarik Aurelia kembali ke dalam pelukannya, mendekap erat tubuh putrinya seolah ingin menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang dimilikinya.
"Maafkan Ibu, Aurelia... Maafkan Ibu karena tidak bisa melindungimu..." bisik Lila pilu di telinga putrinya.
Aurelia hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air matanya menetes dalam diam di balik bahu sang ibu, merelakan jiwanya terikat semakin dalam di dalam labirin kegelapan yang telah dirancang khusus untuknya.