NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Perceraian

Cinta Dibalik Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.

Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.

Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.

Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.

Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.

Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2. Sia-sia

Flashback off…

Beberapa menit telah berlalu, tetapi Kinanti masih betah berdiri mematung sambil memandangi taman yang menjadi tempat ternyamannya ketika sedang sepi dan bersedih.

“Delapan tahun, sekalipun aku nggak pernah mendengar Mas Yudha mengatakan sayang dan cinta. Aku sadar kalau wanita yang dicintai Mas Yudha adalah Mbak Kinasih,” cicitnya sambil meremas ujung hijab.

Asisten rumah tangganya yang tanpa sengaja melihat air mata Kinanti ikut terenyuh dan bersedih. Dia adalah salah satu orang yang bekerja di rumah tersebut dan mengetahui persis bagaimana perlakuan serta sikap Yudha kepada Kinanti ketika kedua anak kembar mereka tidak berada di antara mereka.

Yudha akan bersikap biasa saja jika kedua anak kembarnya berada di antara mereka. Namun, bagi Kinanti, sikap biasa itu sudah lebih dari cukup, meskipun dia tahu semuanya hanyalah kepalsuan.

“Kasihan, ya, Nyonya Kinanti. Pasti sangat menderita hidup dengan Tuan Yudha,” ucap Pak Deden.

“Kalau saya, nih, Mang Dede, sudah lama minta cerai dari Tuan Yudha. Makan hati terus hidup dengan Tuan Yudha,” sahut Bibi Mina sambil sedikit memukul gagang sapu yang sedari tadi dipegangnya. Dia merasa geram melihat apa yang terjadi kepada Kinanti.

“Kalau minta cerai, yang paling menderita pasti si kembar. Keluarga Nyonya Kinanti juga akan ikut menderita,” pungkas Mang Dede.

“Kita hanya bisa mendoakan agar ada keajaiban dan Tuan Yudha bisa segera menyadari kesalahannya selama ini,” harap Bibi Mina.

“Amin, ya Rabbal ‘alamin,” balas Mang Dede sebelum meninggalkan area belakang rumah berlantai dua itu.

Kinanti kembali mengingat beberapa tahun lalu, ketika dia dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk menggantikan kakaknya, Kinasih, yang minggat dari rumah bersama kekasihnya.

“Ibu, Ayah, saya belum siap menikah. Saya masih mau sekolah,” tolak Kinanti waktu itu.

Pak Danu yang mendengar penolakan putri keduanya langsung berang dan marah. Tangannya refleks memukul meja hingga terdengar suara cukup keras.

Bugh!

Kinanti, Bu Jamila, serta kedua adiknya, Kanaya dan Khalid, terjingkat saking kagetnya melihat Pak Danu yang selama ini tidak pernah marah-marah atau membentak keempat anaknya.

“Kalau kamu nggak mau menikah menggantikan mbakmu, siapa yang harus menggantikannya, Nak? Apa kamu sanggup membayar utang-utang Ayah yang sudah dilunasi oleh Nak Yudha!?” tanya Pak Danu yang berusaha mengontrol emosinya.

Bu Jamila yang melihat situasi sudah mulai tak terkendali berusaha menenangkan suaminya.

“Ayah, tolong kontrol emosinya. Jangan sampai karena Ayah marah-marah, penyakit jantung Ayah kambuh lagi,” ucap Bu Jamila dengan lembut.

Pak Danu berulang kali beristighfar agar emosinya tidak semakin meluap.

Kanaya dan Khalid hanya menatap ketiganya tanpa ada yang berani menimpali pembicaraan.

Keduanya juga ikut sedih dan bingung dengan cobaan yang sedang dihadapi keluarga mereka.

“Ibu, bagaimana lagi caranya kita melunasi utang-utang yang tidak sedikit itu kalau Kinasih pergi dan pernikahan ini batal!?” tanya Pak Danu yang sudah kembali duduk di sofa usang di ruang tamu.

Bu Jamila menatap sendu putri keduanya. Dia jelas tahu bahwa Kinanti memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, terlebih Kinanti telah mendapatkan beasiswa.

Bu Jamila berjalan menghampiri putrinya yang tertunduk sambil menangis tersedu-sedu. Beliau menggenggam tangan Kinanti dengan penuh kasih sayang.

“Nak, Ibu sangat tahu kamu masih ingin sekolah. Tapi Ayah sama Ibu nggak punya cara lain. Kami juga nggak ingin melihat kamu putus sekolah. Namun, kalau kamu nggak menggantikan mbakmu, Ayah sama Ibu bisa dipenjara,” ucap Bu Jamila, berharap Kinanti bisa memaklumi dan memahami kondisi mereka.

Kinanti yang selama ini tidak pernah menolak ataupun membantah kemauan kedua orang tuanya kini dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit.

“Kenapa Ayah nggak pergi mencari Mbak Kinasih dan memintanya kembali? Kenapa selalu saya yang diminta mengalah dan berkorban!? Kenapa!?” pekik Kinanti.

Untuk pertama kalinya, Kinanti berbicara dengan nada tinggi. Pak Danu, Bu Jamila, Kanaya, dan Khalid sampai dibuat terdiam.

Gadis berusia tujuh belas tahun yang selalu bertutur kata lemah lembut dan sopan itu kini seolah menjadi orang yang berbeda.

Kinanti berjalan cepat menuju kamarnya dan membanting pintu karena begitu marah dan kecewa dengan permintaan kedua orang tuanya.

Suara bedebug terdengar nyaring ketika pintu kamar usang itu ditutup.

“Ya Allah, saya harus bagaimana?” cicitnya sambil sesekali mengusap air mata.

Tubuh Kinanti luruh ke lantai. Air matanya tak henti-hentinya menetes.

Hanya tinggal sebulan lagi Kinanti akan mengikuti Ujian Nasional dan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Akan tetapi, karena masalah yang ditinggalkan oleh kakaknya, dia harus membuang jauh-jauh mimpi indahnya.

Kedua adik kembarnya pun ikut sedih dan berada dalam dilema besar memikirkan nasib kedua orang tua serta kakaknya.

“Kenapa juga Mbak Kinasih harus mengiyakan lamaran Mas Yudha kalau dia mencintai pria lain!?” ketus Khalid sambil menghempaskan pulpen yang dipegangnya.

“Iya, betul sekali apa yang kamu katakan. Kalau Mbak Kinasih nggak berulah, pasti Mbak Kinanti masih bisa sekolah,” timpal Kanaya yang ikut geram dengan kelakuan kakak sulungnya yang memang selalu mementingkan keinginannya sendiri dan cenderung egois.

Bu Jamila melirik ke arah kedua anak kembarnya. Ucapan mereka membuat Pak Danu kembali naik pitam.

“Kalian itu masih kecil! Nggak paham dengan apa yang Ayah dan Ibu kalian alami!” geram Pak Danu yang masih bersikeras memaksa Kinanti menerima pernikahan tersebut.

Kanaya dan Khalid menunduk ketakutan. Keduanya langsung bungkam seribu bahasa, meskipun dalam hati masih kesal dengan sikap kakak sulung mereka.

Kinanti yang mendengar ucapan mereka kembali berjalan ke arah luar dengan tatapan mata yang tak ramah.

“Ibu, ayah sedari dulu kalian selalu memanjakan Mbak Kinasih, lihatlah apa yang kalian lakukan hanya membuat Mbak Kinasih mempermalukan kita! dan lagi-lagi saya yang harus berkorban,” ujarnya Kinanti yang kali ini mengeluarkan semua unek-unek yang ada di kepalanya.

Perdebatan malam itu belum berakhir karena Kinanti masih kukuh dengan keputusannya. Begitu pula kedua orang tuanya yang tidak mau menyerah.

“Pokoknya saya nggak mau nikah sebelum menyelesaikan ujian!” putusnya Kinanti malam itu.

Pak Danu dan Bu Jamila saling pandang, keduanya tak menyangka Kinanti akan sekeras itu menolak permintaan mereka.

“Mas apa sebaiknya kita bicara dengan nak Yudha mengenai permintaan Kinan?” tanyanya Bu Jamila sambil mendudukkan tubuhnya ke atas dipan.

Pak Danu menghela nafasnya dengan berat sebelum berbicara,” Mas akan coba berbicara dengan anak Yudha semoga saja mau memahami dan memaklumi keinginan Kinanti.”

Setelah perdebatan malam itu, kehidupan Kinanti drastis berubah, dia mulai malas makan, hanya fokus belajar menghadapi ujiannya. Kinanti yang biasanya ceria menjadi gadis pemurung, akan tetapi apa yang dilakukan Kinanti tidak merubah keputusan kedua orang tuanya.

Hingga beberapa hari kemudian, tepat satu hari sebelum acara akad nikah, tiba-tiba Pak Danu pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.

Kondisi Pak Danu yang mengkhawatirkan membuat Kinanti terpaksa menerima pernikahan tersebut.

“Baiklah saya akan menikah dengan pria pilihan ayah dan ibu,” putusnya Kinanti.

Flashback…

Suara ribut kedua anak kembarnya yang berlarian tak mengusik ketenangannya. Dia masih saja mengingat kejadian ketika ayahnya akan menjalani operasi, hingga pelukan Naura dan Naufal membuatnya terkaget.

“Mama!” pekik keduanya yang napasnya sedikit ngos-ngosan karena berlari ke arah belakang rumah berlantai dua itu.

Kinanti buru-buru menyeka air matanya agar kedua buah hatinya tidak melihat bahwa dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Sesedih apapun, dia selalu menutupi dan menyembunyikan keadaannya dari kedua anaknya. Baginya, cukup dia saja yang mengetahui apa yang selama ini dialaminya.

“Eh, Abang sama Adek sudah pulang les ngaji, rupanya,” ucap Kinanti yang berusaha menetralkan suaranya yang masih sedikit serak sembari tersenyum.

“Mama kok berdiri di sini, sih?” tanya Naufal, anak sulungnya.

Naura, anak keduanya, melihat ada cairan bening yang terlihat jelas di sudut ekor mata mamanya.

“Kasihan Mama. Pasti diomelin lagi sama Papa,” batin Naura seraya memeluk erat pinggang mamanya.

“Mama baru saja menyiram bunga,” kilah Kinanti yang buru-buru mengambil alat penyiram bunga.

“Mama, Nau lapar. Apa Mama sudah masak?” tanya Naura yang sebenarnya paling peka dengan apa yang dirasakan mamanya, tetapi memilih diam.

Kinanti tersenyum manis sebelum menjawab ucapan anaknya. Namun, baru saja hendak berjalan ke arah dalam, tiba-tiba ponselnya berdering dari saku celananya.

“Mama angkat telepon dulu, ya. Kalian mandi, gih. Nanti Mama siapkan makanan kesukaan kalian,” ucapnya.

Keduanya langsung berlarian menaiki tangga menuju kamar mereka tanpa menjawab ucapan mamanya. Mereka hanya mengacungkan jempol.

Kinanti mengerutkan kening saat melihat nomor baru yang tertera di layar ponselnya.

“Assalamualaikum. Halo,” ucapnya.

Kinanti mendengarkan dengan saksama ucapan orang di seberang telepon. Namun, beberapa detik kemudian, ucapan orang tersebut membuat ponsel yang digenggamnya terlepas dari tangan.

“Apa!? Itu nggak mungkin!” teriaknya.

1
Eva Karmita
Kinanti aku tau sakitmu sudah terlalu dalam ..tapi tidak seperti itu juga Kinanti lihatlah kedua anakmu yg begitu ingin melihat kedua orang tua nya bersatu kembali.... teruntuk Yudha tetap semangat benar kata anakmu jgn mudah menyerah tunjukkan bahwa kamu bisa berubah jgn buat anak"mu kecewa , perlahan namun pasti rebut kembali hari Kinanti selalu berusaha dan tidak lupa dengan doa" di sepertiga malam mu rayulah tuhanmu untuk membuka kan pintu hati Kinanti
Eva Karmita: betul sih pemikiran orang beda beda ..ada yg ingin bertahan karena anak"nya dan ada juga yg memilih pergi demi ketenangan dan mencari kebahagiaan ...
total 2 replies
araaself
lanjutt kakk
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah besok lagi kak
total 1 replies
Eva Karmita
semoga masih bisa rujuk lagi ...
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: kayaknya hehehe
total 1 replies
Eva Karmita
semangat Yudha semoga Mak otor merestuimu
Eva Karmita
Kinan kasih kesempatan untuk Yudha untuk membuktikan Yudha sudah berubah dan ingin memulai dgn lembaran baru
Eva Karmita
ayo jujur Yudha katakan kalau kamu sudah ingat semuanya dan kamu ingin berubah
Eva Karmita
si pelakor sudah datang....
Eva Karmita
semoga masih bisa di perbaiki.... semangat Yudha perjuangkan rumah tangga mu
Eva Karmita
membaca kisah mereka membuat perasaan mengharu biru sedih dan bahagia nano" 🔥😭💔❤️
Eva Karmita
semoga saja Kinan masih bisa mempercayai mu
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: semoga yah karena kayaknya....😄🤭
total 1 replies
Eva Karmita
❤️❤️❤️
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak 😍
total 1 replies
Eva Karmita
peluk Kinan 🤗😭
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak sudah mampir kakak 😍🙏
total 1 replies
Inha Khaerunnisa
wajarlah
Inha Khaerunnisa
terlambat pak wkwk
Inha Khaerunnisa
apa Yudha hilang ingatan??
Inha Khaerunnisa
knp anaknya jadi ditukar dengan hutang??
Inha Khaerunnisa
tega mulutnya ember
Naila
knp harus minta cerai klo masih cinta
Naila
kayaknya
F3 Tehnik
apa yang terjadi???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!