Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA
## Bab 2: Dua Dunia yang Berjalan Sendiri-Sendiri
Bayu menyusuri jalan tol dengan motor matic-nya, angin pagi menampar wajah yang masih menyisakan kantuk. Ia baru saja meninggalkan rumah, meninggalkan Ayu yang—seperti biasa—melambai dari teras dengan senyum yang, entah kenapa, selalu berhasil membuat dadanya sesak oleh sesuatu yang sulit ia jelaskan sendiri.
Bersalah. Kata itu selalu muncul sebentar, lalu ia dorong jauh-jauh ke sudut kepalanya, seperti kebiasaan yang sudah ia latih bertahun-tahun.
Kantornya berada di kawasan pergudangan, cukup jauh dari pusat kota tempat Ayu bekerja. Sebagai staf pemasaran di perusahaan distributor bahan bangunan, hari-harinya lebih banyak dihabiskan di lapangan—bertemu klien, mengunjungi proyek, menyusun penawaran harga. Pekerjaan yang sebenarnya cukup fleksibel soal jam kerja, jauh berbeda dari rutinitas kaku istrinya yang harus duduk di kantor dari pagi sampai sore.
Fleksibilitas itulah yang, dua tahun terakhir, ia manfaatkan untuk hal lain.
"Pagi, Mas Bayu," sapa Doni, rekan kerjanya, begitu ia sampai di kantor. "Hari ini jadwal ke proyek Cikande, kan?"
"Iya, siang nanti. Pagi ini masih ada beberapa laporan yang harus aku selesaikan dulu," jawab Bayu sambil menyalakan komputer di mejanya.
Ia bekerja seperti biasa—menyusun laporan penjualan, membalas email klien, ikut rapat singkat dengan atasan. Semua berjalan normal, sampai jam makan siang tiba dan ponselnya bergetar dengan sebuah pesan yang membuat rahangnya sedikit mengeras.
*Bang, anak minta susu. Uangnya udah abis. Kapan transfer?*
Bayu menghela napas panjang, melirik sekeliling memastikan tidak ada yang memperhatikan layar ponselnya, sebelum membalas singkat.
*Sabar, nanti sore aku transfer. Lagi di kantor.*
Ia memasukkan ponsel ke saku, mencoba menormalkan detak jantungnya yang sempat naik. Bukan kali pertama pesan semacam itu datang, dan ia tahu betul, tidak akan jadi yang terakhir.
---
Dua tahun lalu, semuanya bermula dari sebuah proyek di luar kota. Bayu bertemu Wulan, seorang admin di perusahaan mitra yang saat itu membantu mengurus dokumen tender. Awalnya hanya obrolan pekerjaan, lalu berkembang menjadi obrolan pribadi, lalu—entah bagaimana caranya—berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dari yang seharusnya.
Bayu tidak pernah benar-benar bisa menjelaskan pada dirinya sendiri kenapa ia melakukannya. Ayu tidak pernah kurang perhatian, tidak pernah galak, bahkan selalu mendukungnya secara materi lebih dari yang seharusnya dilakukan seorang istri. Tapi entah kenapa, di sisi lain, ada bagian dari dirinya yang merasa... kecil. Setiap kali melihat slip gaji Ayu yang jauh lebih besar dari miliknya, setiap kali mendengar pujian orang tentang betapa suksesnya istrinya, ada semacam rasa tidak nyaman yang tidak pernah benar-benar bisa ia utarakan.
Wulan, di sisi lain, membuatnya merasa berbeda. Di depan Wulan, Bayu bukan "suami dari Ayu yang gajinya besar". Ia hanya Bayu—laki-laki yang, di mata Wulan, terlihat mapan, dewasa, dan bisa diandalkan.
Ironisnya, kemampuan Bayu untuk "diandalkan" itu sebagian besar juga ditopang oleh uang yang sama—uang yang setiap bulan mengalir dari rekening bersama yang, atas nama efisiensi, memang lebih banyak diisi oleh gaji Ayu.
Pernikahan siri dengan Wulan berlangsung diam-diam setahun lalu, disaksikan oleh segelintir orang kepercayaan Bayu, termasuk seorang penghulu yang dibayarnya secara khusus. Wulan kini tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota, sekitar satu jam dari rumah Bayu dan Ayu, bersama seorang anak balita yang lahir delapan bulan setelah pernikahan siri itu.
Setiap bulan, biaya kontrakan, susu anak, dan kebutuhan sehari-hari Wulan ditanggung penuh oleh Bayu—atau lebih tepatnya, oleh uang yang sebagian besar berasal dari penghasilan Ayu, yang tanpa sadar mengalir lewat rekening bersama mereka.
---
Siang itu, setelah menyelesaikan laporan, Bayu berkendara ke arah kontrakan Wulan sebelum melanjutkan perjalanan ke proyek Cikande. Alasan yang selalu ia siapkan untuk Ayu—"ada urusan klien mendadak"—sudah menjadi semacam mantra yang keluar begitu saja tanpa perlu dipikirkan lagi.
Wulan membukakan pintu dengan anak kecil di gendongannya. "Bang, akhirnya dateng juga," katanya, setengah menyindir, setengah lega.
"Iya, tadi kejebak meeting," jawab Bayu sambil masuk, mencium kening anaknya sebentar. "Ini uangnya," lanjutnya, menyerahkan amplop berisi uang tunai yang sudah ia siapkan sejak pagi.
Wulan menerima amplop itu, menghitungnya sekilas, lalu mendongak. "Kok cuma segini? Bulan lalu lebih banyak."
"Lagi agak seret, Lan. Proyek belum semua cair," jawab Bayu, setengah berbohong, setengah benar—karena sebenarnya, sebagian gajinya bulan ini memang sudah ia gunakan untuk keperluan rumah tangga bersama Ayu, sesuatu yang tidak mungkin ia jelaskan pada Wulan tanpa membuka rahasia yang lebih besar.
"Ya udah deh," Wulan mendengus, tapi tidak berlarut-larut memperpanjang. "Anak kita butuh imunisasi bulan depan. Jangan lupa."
"Iya, aku catat," jawab Bayu, meski dalam hati ia tahu, daftar kebutuhan itu akan terus bertambah, sementara sumber uangnya hanya satu—gajinya sendiri, yang jauh lebih kecil dari yang dibutuhkan untuk menopang dua rumah tangga sekaligus.
Ia duduk sebentar, bermain dengan anaknya, sebelum akhirnya pamit untuk melanjutkan perjalanan ke proyek. Di perjalanan, pikirannya melayang ke Ayu—ke wajahnya yang selalu tersenyum tulus setiap pagi, ke tangannya yang selalu sigap menyiapkan sarapan, ke kepercayaan penuh yang diberikan tanpa pernah dipertanyakan.
Bersalah itu muncul lagi, sebentar, sebelum akhirnya ia dorong kembali ke sudut kepalanya—tempat yang sama, kebiasaan yang sama, selama dua tahun terakhir.
---
Sore harinya, Ayu pulang lebih dulu dari kantor. Ia sempat mampir ke minimarket dekat rumah, membeli bahan-bahan untuk masak malam ini—sup ayam kesukaan Bayu, yang biasanya ia masak setiap akhir pekan sebagai bentuk kecil perhatian di tengah kesibukan mereka berdua.
Di dapur, sambil memotong sayuran, Ayu sesekali melirik ponselnya, berharap ada kabar dari Bayu. Pesan singkat masuk sekitar pukul lima sore.
*Yu, masih di proyek Cikande. Kayaknya pulang malam lagi. Maaf ya.*
Ayu membalas singkat. *Oke, Mas. Hati-hati. Aku masakin sup, nanti kupanasin kalau kamu udah pulang.*
Tidak ada rasa curiga sedikit pun dalam hatinya. Baginya, pesan seperti itu sudah menjadi bagian dari rutinitas—Bayu yang sibuk, Bayu yang bertanggung jawab, Bayu yang selalu berusaha keras meski penghasilannya tidak sebesar dirinya.
Justru, di sela memasak, Ayu sempat berpikir untuk mentransfer sedikit uang tambahan ke rekening Bayu—bukan karena diminta, tapi murni inisiatifnya sendiri, sebagai bentuk dukungan atas kerja kerasnya belakangan ini.
*Buat tambahan bensin sama makan siang, Mas. Jangan terlalu irit-irit ke diri sendiri ya,* tulisnya dalam pesan, disertai transfer sejumlah uang yang, baginya, hanya sekadar bentuk kasih sayang kecil seorang istri.
Bayu membalas pesan itu beberapa jam kemudian, di sela istirahatnya setelah pulang dari kontrakan Wulan. *Makasih ya, Yu. Kamu emang yang terbaik.*
Kalimat itu ia ketik dengan cepat, hampir otomatis, tanpa benar-benar meresapi maknanya. Sementara di sisi lain kota, tanpa Ayu sadari, uang kecil yang ia kirim dengan tulus itu—seperti banyak uang lainnya selama dua tahun terakhir—perlahan-lahan ikut menopang kehidupan yang sama sekali tidak ia ketahui keberadaannya.
Dua dunia berjalan berdampingan malam itu: satu penuh ketulusan tanpa curiga, satu lagi penuh perhitungan yang disembunyikan rapat-rapat. Dan keduanya, tanpa disadari salah satu pihaknya, ditopang oleh sumber yang persis sama.
---
*Bersambung ke Bab 3*