Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 16 — Pil yang Rasanya Tidak Enak!
Huo Li tidak berniat langsung meninggalkan Hutan Seratus Binatang Buas begitu saja.
Meski napasnya masih sedikit memburu dan cadangan Energi Surgawinya berada di titik kritis, ia telah membuat keputusan. Ia berjalan kembali ke arah mayat-mayat Babi Hutan Berkulit Besi yang telah ia bantai sebelumnya.
Dengan menggunakan sisa-sisa pecahan pedangnya, Huo Li mulai memanen gading putih yang melengkung tajam dan menguliti bagian-bagian kulit tebal mereka. Ini adalah material bukti yang harus ia bawa ke Balai Misi Sekte untuk menyelesaikan tugasnya.
Setelah menjejalkan material-material itu ke dalam kantong spasialnya, Huo Li berdiri dan menatap medan pertempuran yang hancur berantakan tersebut.
'Jika aku pergi begitu saja, sekte pasti akan menyelidiki kematian Zhao Feng. Dan jika mereka menemukan bekas tinju dari teknik Tiran Penghancur Lautan pada mayat Zhao Feng atau Raja Babi ini... riwayatku akan tamat kalau diselidiki,' batin Huo Li dingin.
Ia segera bergerak. Huo Li mengambil salah satu pedang milik pengikut Zhao Feng, lalu menorehkan luka tebasan yang acak namun dalam pada mayat Raja Babi Hutan. Kemudian, ia mematahkan salah satu gading Raja Babi yang tersisa, dan menggunakannya untuk menusuk serta merobek pakaian dan daging mayat kedua pengikut Zhao Feng.
Huo Li menata pemandangan itu dengan sangat teliti. Ia menciptakan sebuah narasi palsu yang sempurna: Zhao Feng dan kelompoknya secara tak sengaja berhadapan dengan Raja Babi Hutan yang sedang mengamuk. Terjadi pertarungan hidup dan mati yang berujung pada kehancuran kedua belah pihak. Lalu, ada 'kelompok ketiga' yang kebetulan lewat, memanfaatkan situasi, dan mengambil inti serta gading utama milik sang Raja Babi.
"Sempurna," gumamnya pelan. "Dengan begini, tidak akan ada yang mencurigai kalau aku lah yang membantai mereka."
Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah jalan setapak yang mengarah kembali ke Sekte Pedang Tiran. Menggelengkan kepalanya.
'Aku tidak bisa kembali sekarang. Jika aku kembali membawa material babi hutan di saat berita hilangnya Zhao Feng sedang hangat, itu sama saja dengan menyerahkan leherku untuk dicurigai. Selain itu... kondisiku saat ini sangat buruk.'
Huo Li menyadari bahwa sirkulasi energinya nyaris kosong. Otot-ototnya mulai menjerit kelelahan. Jika ia berpapasan dengan murid Sekte Pedang Tiran lain dalam perjalanan pulang, ia bahkan tidak akan memiliki tenaga untuk menggunakan Langkah Pemutus Nadi.
Tap. Tap.
Tanpa membuang waktu, Huo Li tidak berlari ke arah luar hutan, melainkan memutar arah ke sisi samping, menyusuri rute yang lebih dalam dan jarang dilewati. Ia tahu risiko menghadapi binatang buas yang lebih kuat di area ini, tetapi bersembunyi adalah satu-satunya pilihan rasional saat ini.
Setelah beberapa saat berlari menyusuri medan yang curam, napas Huo Li mulai tersengal. Keringat dingin membasahi punggungnya. Tepat ketika pandangannya mulai sedikit berkunang-kunang, matanya menangkap sebuah celah gelap di balik dinding tebing batu.
Rerumputan rimbun dan akar gantung menutupi mulut celah itu dengan sangat rapi, membuatnya nyaris tak terlihat oleh mata biasa.
'Beruntung! Aku dapat beristirahat di sana!' batin Huo Li lega.
Ia menyibakkan tirai dedaunan itu dan masuk ke dalam. Celah itu ternyata adalah sebuah gua kecil yang kering dan tampaknya belum pernah tersentuh oleh manusia maupun binatang buas. Huo Li merosot jatuh dan bersandar di dinding gua yang dingin.
"Hah... hah... batas tubuhku benar-benar sudah mencapai batasannya," gumamnya sambil memejamkan mata sejenak.
Ia lalu merogoh kantong spasialnya dan mengeluarkan sebuah botol giok kecil. Dari dalamnya, ia menuangkan sebutir Pil Esensi Penyembuh yang sengaja tidak ia masukkan ke dalam Kantong Keberuntungan. Pil itu berwarna hijau pudar dan memancarkan fluktuasi energi spiritual biasa.
Tanpa banyak berpikir, Huo Li menelan pil tersebut untuk memulihkan luka dalam dan kelelahannya.
Namun, beberapa detik setelah pil itu melewati kerongkongannya...
"Ughh! UHUK! UHUK!"
Huo Li tersedak hebat. Wajahnya berkerut menahan rasa mual yang luar biasa. Ia memukuli dadanya sendiri, nyaris memuntahkan kembali pil tersebut.