Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Kipas-kipas sutra mulai bergoyang lebih cepat, bisik-bisik yang tadinya tertahan kini perlahan berubah jadi komentar yang lebih berani, seolah sindiran Permaisuri Xuan baru saja membuka gerbang yang selama ini tertutup rapat.
"Kudengar," seorang selir muda berbisik, sengaja cukup keras agar terdengar luas, "Nona Lin dulu dibesarkan di keluarga pedagang kecil. Pantas saja kalau tata kramanya masih... berbeda dari yang kita biasa lihat di sini."
"Ah, soal itu," selir lain menyambung cepat, seperti sudah menunggu giliran, "aku dengar malah lebih parah. Katanya keluarga itu sering terlibat utang-piutang. Bahkan ada kerabatnya yang sampai mabuk-mabukan di jalan, menyusup ke kereta Nona Lin sendiri."
"Benarkah?" Selir tua yang dari tadi memimpin sindiran ikut terkejut-kejut buatan. "Pantas saja. Darah memang tidak bisa dibohongi. Biar bagaimanapun, lingkungan tempat seseorang dibesarkan pasti membekas, bukan begitu?"
Gu Yueran, yang sejak tadi diam dengan raut sedih, kini mengangkat wajahnya sedikit, seolah baru teringat sesuatu. "Aku tidak bermaksud menambah-nambah," ucapnya lirih, cukup untuk didengar orang-orang terdekat, "tapi aku memang pernah dengar cerita semacam itu juga. Mungkin itu sebabnya Nona Lin agak... sulit mengendalikan emosi."
Kalimat itu, meski diucapkan pelan dan penuh kepura-puraan enggan, jatuh seperti bara ke tengah kerumunan yang sudah menyala. Beberapa selir saling berpandangan, mengangguk-angguk seolah menemukan pembenaran atas semua sindiran yang sudah mereka lontarkan.
"Asal-usul memang penting," Permaisuri Xuan menimpali, suaranya tenang namun setiap kata terasa seperti pisau kecil, "karena dari situlah karakter seseorang terbentuk. Seorang Putri Mahkota bukan sekadar gelar, Nona Lin. Itu cerminan dari kehormatan keluarga Zhao, kehormatan seluruh istana ini."
"Benar sekali," Yurong, yang sejak tadi diam menonton dengan senyum tipis di sudut bibirnya, akhirnya ikut bersuara, nadanya ringan namun menusuk. "Kalau sampai salah pilih orang, bukan cuma nama keluarga Lin yang tercoreng, tapi seluruh kekaisaran ini."
Kaisar Zhao Heng, yang sejak tadi diam memperhatikan, mulai mengerutkan kening, tampak hendak menengahi, tapi Permaisuri Xuan sudah lebih dulu melanjutkan, seolah sengaja tidak memberi celah.
"Jadi, Nona Lin," ucap Permaisuri Xuan, menatap lurus ke arah Yuxin, senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya, "dengan semua yang baru saja kita dengar, bagaimana kau bisa meyakinkan kami semua di ruangan ini, bahwa asal-usulmu yang sederhana itu tidak akan menjadi aib bagi keluarga kekaisaran kelak?"
Yuxin berdiri perlahan dari kursinya, gerakannya tenang, tidak terburu-buru, seolah waktu di ruangan itu sengaja dia perlambat sendiri. Seluruh mata di Aula Teratai Agung tertuju padanya, menunggu.
"Permaisuri benar," ucapnya, suaranya jernih, cukup keras untuk didengar seluruh ruangan tanpa perlu berteriak. "Asal-usul memang penting. Karena itu, izinkan aku bertanya balik pada semua yang hadir di sini malam ini."
Dia menoleh perlahan, menyapu pandangan ke seluruh selir yang tadi ikut bersahutan.
"Berapa dari kalian yang pernah hidup tanpa cukup makan selama berhari-hari, karena keluarga yang seharusnya melindungi justru memilih kelaparan daripada berbagi dengan anak yang bukan darah dagingnya sendiri?"
Tidak ada yang menjawab. Beberapa selir mulai saling melirik, tidak nyaman.
"Berapa dari kalian," Yuxin melanjutkan, "yang pernah dicambuk karena dituduh mencuri, padahal yang sebenarnya mencuri adalah orang yang justru dibela semua orang di rumah itu?"
Ruangan semakin hening. Gu Yueran mulai menunduk lebih dalam, tapi kali ini bukan karena akting.
"Aku tidak akan menyangkal asal-usulku," Yuxin melanjutkan, menatap Permaisuri Xuan langsung. "Aku memang dibesarkan jauh dari kemewahan istana ini. Aku pernah lapar, pernah disakiti, pernah tidak punya siapapun untuk membela diri. Tapi justru dari sanalah aku belajar satu hal yang mungkin tidak semua orang di ruangan ini sempat pelajari."
"Apa itu?" tanya Permaisuri Xuan, nadanya masih dingin, tapi ada sedikit keraguan yang mulai menyelinap di sana.
"Membedakan mana kebenaran, dan mana sandiwara," jawab Yuxin tegas, lalu menoleh pada Gu Yueran. "Beberapa hari lalu, Nona Gu berkunjung ke paviliunku. Dia menyenggol poci berisi racikan teh yang belum selesai aku siapkan untuk malam ini, lalu menangis dan berlari keluar sebelum aku sempat bicara sepatah kata pun. Kebetulan sekali, saat itu ada dua dayang yang sedang lewat di lorong, tepat waktu untuk menyaksikan dia menangis."
Gu Yueran tersentak, wajahnya memucat. "Aku... aku tidak sengaja..."
"Aku tidak bilang kau sengaja," potong Yuxin, suaranya tetap tenang namun tajam seperti bilah pisau yang baru diasah. "Aku hanya heran, kenapa ceritanya sudah menyebar ke seluruh istana keesokan harinya, lengkap dengan bumbu bahwa aku yang membentakmu, padahal saat itu aku bahkan belum sempat membuka mulut."
Keheningan di ruangan itu berubah jadi sesuatu yang berbeda, bukan lagi menekan Yuxin, melainkan mulai membebani orang lain.
"Soal darah dan lingkungan yang membentuk karakter," Yuxin melanjutkan, kembali menatap Permaisuri Xuan, "aku setuju sepenuhnya. Karena itulah aku bertanya-tanya, lingkungan macam apa yang mengajarkan seseorang untuk menyakiti diri sendiri demi menjatuhkan orang lain, lalu tersenyum puas di baliknya."
"Kau berani sekali bicara seperti itu," Permaisuri Xuan akhirnya menyahut, suaranya mulai kehilangan ketenangannya.
"Aku hanya menjawab pertanyaan Permaisuri dengan jujur," Yuxin membungkuk sopan, meski tidak sedikit pun kehilangan ketegasannya. "Bukankah seorang Putri Mahkota juga harus berani berkata benar, bahkan ketika kebenaran itu tidak nyaman didengar?"
Kaisar Zhao Heng, yang sejak tadi diam memperhatikan, akhirnya tersenyum tipis, tangannya mengetuk pelan di sandaran kursi, tanda kekaguman yang tidak dia sembunyikan.
"Jawaban yang bijak, Nona Lin," ucapnya, memecah ketegangan yang menggantung di udara. "Dan aku rasa, itu sudah cukup menjawab semua yang dipertanyakan malam ini."