NovelToon NovelToon
NATIONAL PROTECTION

NATIONAL PROTECTION

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FONDASI KOTA BAYANGAN

​Hujan asam turun rintik-rintik membasahi jalanan Sektor 7 yang berlubang, menciptakan genangan air keruh yang memantulkan cahaya lampu neon redup dari kedai-kedai kumuh di sekitarnya. Bau karat, limbah pabrik, dan keputusasaan menguar tebal di udara, sebuah kontras yang sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan udara murni dan wangi bunga di Sektor 1. Di tempat ini, hukum Asosiasi hanyalah sekadar saran, dan nyawa manusia sering kali dihargai lebih murah daripada sepotong inti mana monster kasta bawah.

​Bastian Valerius berdiri di tengah pelataran sebuah pabrik pengolahan baja raksasa yang telah ditinggalkan selama belasan tahun. Ia mengenakan mantel panjang berwarna gelap yang menutupi zirah emasnya, memegang sebuah tablet hologram yang memancarkan cahaya biru ke wajahnya. Sang Tuan Muda Valerius menekan tombol konfirmasi terakhir dengan ibu jarinya, lalu tersenyum puas.

​"Selesai," lapor Bastian, suaranya menggema di pelataran kosong yang dikelilingi oleh dinding pabrik yang ditumbuhi lumut mutan. "Seluruh Blok 4 di Sektor 7, termasuk enam belas pabrik terbengkalai, jaringan gorong-gorong bawah tanah, dan gudang logistik raksasa ini, resmi menjadi milik Perusahaan Cangkang Ouroboros. Tidak ada satu pun dokumen yang mengaitkan pembelian ini dengan namaku, Keluarga Valerius, atau nama Rishing Guild. Bagi para petinggi di Asosiasi, blok ini hanyalah investasi properti gagal dari seorang pengusaha misterius yang membuang-buang uangnya."

​Andre berjalan melewati Bastian, langkah sepatunya berderak di atas serpihan kaca dan besi berkarat. Jubah hitamnya menyatu sempurna dengan kegelapan Sektor 7. Ia menatap bangunan gudang utama di depannya yang memiliki atap melengkung raksasa—struktur yang cukup besar untuk menampung tiga kapal udara sekaligus.

​"Tempat yang sempurna untuk sebuah kedok," ucap Andre datar. Pemuda itu terus berjalan hingga tiba di bagian tengah gudang yang kosong melompong. Angin malam berhembus masuk melalui atap yang berlubang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

​Marvin menyusul di belakang, mengamati sekeliling dengan mata ungunya. "Gudang ini besar, Kak. Tapi jika kita merekrut ribuan orang, tempat ini tidak akan cukup untuk dijadikan barak pelatihan, apalagi jika kita ingin merahasiakannya dari satelit pengintai Asosiasi. Radiasi mana dari ribuan petarung yang berkumpul di satu titik akan memicu alarm di Sektor Pusat dalam hitungan menit."

​"Itu benar, jika kita menempatkan mereka di dimensi fisik ini," jawab Andre. Ia berhenti tepat di pusat ruangan. Dari dalam inventaris Sistemnya, ia menarik keluar kristal prisma segienam yang ia dapatkan dari Voraz. Spatial Anchor of the Void.

​Benda Mythic itu mengambang di atas telapak tangan Andre, memancarkan ilusi kekosongan ruang yang menyedot partikel debu di sekitarnya.

​"Mundur," perintah Andre pelan.

​Bastian dan Marvin segera melangkah mundur sejauh belasan meter. Andre memejamkan mata, memusatkan seluruh kapasitas mananya yang kini berada di Level 96. Ia tidak menahan diri. Stigmata mahkota hitam di dadanya menyala terang hingga menembus kain kemejanya. Percikan petir hitam berdesis liar, melompat dari lengan Andre dan menyambar permukaan kristal prisma tersebut.

​Andre menekan kristal itu ke lantai beton pabrik.

​"Void Expansion: Shadow Domain."

​Seketika, realitas di dalam gudang itu pecah. Suara seperti kaca raksasa yang dihancurkan bergema memekakkan telinga. Ruang tiga dimensi di sekitar mereka melengkung, tertarik ke dalam titik pusat kristal tersebut, sebelum akhirnya meledak keluar membentuk gelombang kejut spasial yang tidak menghancurkan benda fisik, melainkan menimpa realitas itu sendiri.

​Lantai beton pabrik, dinding berkarat, dan atap yang bocor memudar seperti fatamorgana.

​Bastian dan Marvin membelalakkan mata mereka, napas mereka tercekat oleh pemandangan yang tersaji di depan mata. Mereka tidak lagi berdiri di dalam gudang terbengkalai Sektor 7. Mereka kini berdiri di atas lantai yang terbuat dari balok-balok obsidian murni yang dipoles mengkilap. Di sekeliling mereka, terbentang sebuah aula raksasa dengan pilar-pilar batu hitam setinggi puluhan meter yang menyokong langit-langit tanpa batas.

​Alih-alih atap pabrik, di atas mereka kini terbentang langit malam artifisial yang dihiasi oleh gugusan kristal mana berwarna ungu yang bercahaya menyerupai galaksi bintang. Udara di dalam dimensi saku ini terasa sangat murni, padat dengan partikel mana yang siap diserap, setara dengan kualitas udara di dalam Nightmare Dungeon.

​Di ujung aula raksasa tersebut, berdiri sebuah singgasana hitam yang diukir dari batu meteor, memancarkan otoritas seorang kaisar absolut. Di sisi kiri dan kanan aula, lorong-lorong raksasa mengarah ke barak pelatihan, arena pertarungan, dan fasilitas alkimia yang semuanya tercipta secara instan mengikuti proyeksi pikiran Andre saat ia mengaktifkan kristal tersebut.

​"Gila..." gumam Bastian, berjalan sempoyongan mendekati sebuah pilar obsidian dan menyentuhnya. Permukaannya dingin dan sekeras berlian. "Kau menciptakan sebuah kerajaan di dalam ruang hampa. Kapasitas area ini... ini lebih besar dari keseluruhan Sektor 1!"

​"Dimensi saku ini terikat secara absolut dengan jiwaku dan berlabuh pada koordinat pabrik tadi," jelas Andre, suaranya menggema penuh wibawa di dalam aula raksasa itu. "Dari luar, pabrik itu akan terlihat seperti bangunan rongsokan biasa. Tidak ada sihir pemindai yang bisa menembus masuk ke mari, tidak peduli seberapa tinggi level sang penyihir. Di dalam ruang ini, kita bebas berteriak, berlatih, membunuh, atau merapalkan sihir kelas kehancuran kota tanpa ada satu pun sinyal yang bocor ke dunia luar."

​Marvin berlari kecil menuju lorong sebelah kanan yang dipenuhi oleh pot-pot obsidian raksasa dan saluran irigasi magis. Mata remaja itu berbinar. "Kak! Ada kebun botani magis di sini! Aku bisa menanam seluruh tumbuhan racunku tanpa takut meracuni warga sipil!"

​Andre mengangguk. "Gunakan fasilitas itu sesukamu, Marvin. Buatlah penawar, buatlah wabah. Bastian, di sisi kiri adalah arena pelatihan dengan dinding penahan benturan yang mampu menyerap serangan Third Job. Latihlah daya tahanmu di sana."

​Sang Kaisar Kilat berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju singgasana meteoritnya. Ia duduk dengan tenang, menyilangkan kaki, dan menatap aula kosong yang luas tersebut.

​"Sangkar bayangan telah dibangun," ucap Andre pelan, matanya memancarkan ambisi gelap yang siap menelan dunia. "Sekarang, panggil burung-burung gagaknya."

​Tiga hari kemudian, di luar gudang terbengkalai Sektor 7.

​Desas-desus telah menyebar layaknya api liar di padang rumput kering. Pesan-pesan rahasia yang disisipkan melalui pasar gelap, kedai minuman murahan, dan jaringan bawah tanah telah mencapai telinga mereka yang terbuang. Pesan itu sangat sederhana: 'Rishing Guild memanggil mereka yang dilupakan. Bawa keputusasaanmu, dan tukar dengan kekuatan untuk menghancurkan mereka yang menindasmu.'

​Bagi para elit Asosiasi, undangan itu akan dianggap sebagai lelucon. Namun bagi ratusan orang yang kini berkumpul di depan pintu gudang baja berkarat itu, undangan tersebut adalah satu-satunya tali harapan di tengah lautan keputusasaan.

​Mereka bukanlah ksatria berbaju zirah mengkilap. Mereka adalah para First Job yang kelasnya dianggap cacat produksi oleh Sistem. Mereka adalah mantan petarung garis depan yang dibuang oleh faksi raksasa karena mengalami cacat permanen, ditinggalkan tanpa kompensasi sementara ketua guild mereka bergelimang harta. Mereka adalah para pengguna ilmu hitam, ahli nujum, dan penyihir darah yang keberadaannya diburu oleh para Inkuisitor Eden atas nama pemurnian suci.

​Di tengah kerumunan yang gelisah itu, berdiri seorang pria paruh baya bernama Garrick. Ia bertumpu pada tongkat kayunya dengan susah payah. Kaki kirinya lumpuh, menghitam akibat racun Manticore yang gagal disembuhkan oleh Healer arogan dari Guild Titan tiga tahun lalu. Di sebelahnya, seorang gadis muda bernama Lyra berdiri dengan gugup. Ia adalah seorang Blood Mage, kelas langka yang harus mengorbankan vitalitasnya sendiri untuk merapalkan sihir, membuatnya dikucilkan sebagai penyihir sesat.

​"Apa kita benar-benar yakin tentang ini, Garrick?" bisik Lyra, merapatkan jubah usangnya. "Bagaimana jika ini hanyalah jebakan Asosiasi untuk menangkap kita semua secara bersamaan?"

​Garrick meludah ke tanah yang basah. "Jika Asosiasi ingin membunuh kita, mereka sudah mengirim pasukan eksekusi. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dirampas. Jika guild rahasia ini bisa memberiku kesempatan untuk membalas dendam pada anjing-anjing Titan yang membuangku, aku bersedia menjual jiwaku pada iblis sekalipun."

​Tepat ketika kerumunan mulai berteriak tidak sabar, pintu baja raksasa pabrik itu bergeser terbuka dengan suara derit yang memekakkan telinga.

​Tidak ada yang keluar menyambut mereka. Hanya ada kegelapan mutlak di balik pintu tersebut. Namun, dari dalam kegelapan itu, mengalir tekanan udara yang sangat dingin dan berat, membuat seluruh kerumunan yang berjumlah sekitar lima ratus orang itu terdiam seketika. Insting bertahan hidup mereka menjerit, memberi tahu bahwa melangkah ke dalam sana berarti menyerahkan nyawa mereka sepenuhnya.

​Garrick mengertakkan gigi, mengeratkan pegangannya pada tongkat, dan melangkah masuk lebih dulu, diikuti oleh Lyra dan ratusan orang buangan lainnya.

​Begitu mereka melewati ambang pintu dan menembus tabir dimensi, napas mereka serempak tertahan. Mereka bersiap melihat gudang tua yang kotor, namun yang menyambut mereka adalah kemegahan arsitektur obsidian dari dimensi saku sang Kaisar Kilat. Bintang-bintang ungu artifisial di langit-langit menyinari wajah-wajah kotor mereka yang dipenuhi rasa takjub dan teror.

​Di ujung aula, di atas singgasana meteorit yang menjulang tinggi, duduk sesosok pemuda berjubah hitam. Di sisi kanan dan kirinya, berdiri seorang Guardian yang memancarkan aura emas legendaris, serta seorang remaja bermata ungu yang hawa keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat tanaman layu.

​Gumam dan bisik-bisik mulai terdengar. Ratusan petarung buangan itu saling berpandangan dengan ragu.

​"Hanya anak-anak?" celetuk seorang Berserker bertubuh besar dengan bekas luka sayatan melintang di wajahnya. Ia melangkah maju dengan arogan. "Hei! Mana bos kalian? Kalian yang menyebar undangan bodoh itu? Aku tidak datang ke mari untuk bermain rumah-rumahan dengan bocah kaya yang kelebihan uang!"

​Andre tidak menjawab. Pemuda berbaju hitam itu hanya menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap sang Berserker dengan tatapan yang sangat kosong, seolah pria besar itu hanyalah seonggok daging mati.

​Jari telunjuk Andre perlahan mengetuk sandaran takhtanya.

​Tap.

​Pada detik itu juga, gravitasi di dalam aula obsidian itu berubah.

​Absolute Pressure.

​Namun ini bukan sekadar tekanan biasa. Ini adalah manifestasi dari dominasi jiwa Level 96 yang telah membunuh seorang Pilar Iblis dan memenggal Pahlawan Nasional. Aura pembunuh yang sangat pekat, hitam, dan mencekik meledak menyapu seluruh ruangan layaknya tsunami yang menenggelamkan pulau kecil.

​Sang Berserker raksasa yang tadi berteriak langsung jatuh tersungkur dengan wajah menghantam lantai obsidian hingga hidungnya patah. Ia tidak bisa bernapas, tulang punggungnya berderit mengerikan, matanya membelalak dipenuhi ketakutan absolut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Di belakangnya, lima ratus orang buangan lainnya jatuh berlutut secara serentak. Tidak ada satu pun dari mereka yang mampu berdiri tegak. Udara seolah disedot dari paru-paru mereka.

​Andre berdiri perlahan. Ia berjalan menuruni anak tangga pualam, sementara setiap langkah kakinya memancarkan percikan petir hitam yang meliuk-liuk di udara. Kengerian yang memancar dari pemuda itu membuat seluruh orang di ruangan menyadari satu hal yang tak terbantahkan: mereka tidak sedang berhadapan dengan seorang anak laki-laki, mereka sedang bersujud di hadapan dewa kematian.

​"Kalian bertanya di mana bosnya," suara Andre mengalun pelan, namun gema suaranya memotong langsung ke dalam jiwa setiap orang yang berlutut di sana. "Aku adalah penguasa tempat ini. Dan melihat postur kalian saat ini, kurasa perkenalannya sudah cukup jelas."

​Andre berhenti tepat di depan Garrick yang gemetar hebat, berusaha keras menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya mencium lantai.

​"Kalian adalah sampah," Andre melanjutkan, kata-katanya setajam belati. "Dibuang oleh Asosiasi, dikucilkan oleh faksi besar, dan diburu oleh anjing-anjing suci dari Eden. Kalian merangkak di dalam lumpur sambil menyalahkan Sistem atas kelemahan kalian."

​Tidak ada yang berani membantah. Sebagian dari mereka menangis, menahan rasa sesak di dada akibat tekanan aura yang belum juga diangkat oleh Andre.

​"Tetapi di bawah bayanganku, sampah tidak akan dibuang," ucap Andre, auranya perlahan mereda, mengizinkan mereka menarik napas dengan rakus. "Di tempat ini, kemarahan kalian akan menjadi bahan bakar. Rasa sakit kalian akan menjadi baja. Aku akan menutupi setiap kelemahan kelas kalian, memberikan kalian senjata yang menembus pertahanan dewa, dan melatih kalian hingga kalian lupa bagaimana rasanya menjadi pihak yang berlutut."

​Andre mengangkat tangannya dan menunjuk lurus ke arah dada Garrick. Seketika, seuntai petir hitam melesat dari jari Andre dan menyambar kaki kiri Garrick yang lumpuh.

​Garrick menjerit, mengira ia akan dibunuh. Namun, alih-alih menghanguskan dagingnya, petir hitam itu melahap habis sisa racun monster yang selama tiga tahun menyumbat sirkulasi meridiannya. Rasa sakit yang menahun itu lenyap seketika. Garrick melepaskan tongkat kayunya dengan tangan bergetar, dan perlahan-lahan... ia berdiri menggunakan kedua kakinya dengan sempurna. Kakinya telah sembuh total.

​"Mustahil..." isak Garrick, meraba kakinya dengan air mata deras. Pria paruh baya itu kembali menjatuhkan dirinya ke lantai, kali ini bukan karena tekanan aura, melainkan bersujud dengan penghormatan yang mutlak. "Nyawaku milikmu, Tuan. Perintahkan, dan aku akan memenggal kepalaku sendiri untukmu."

​Menyaksikan keajaiban magis yang mengabaikan hukum pemulihan konvensional tersebut, keraguan di mata lima ratus orang buangan itu hancur tanpa sisa. Fanatisme baru lahir di dalam ruangan obsidian tersebut. Lyra sang penyihir darah, sang Berserker arogan, dan ratusan orang lainnya menundukkan dahi mereka ke lantai dengan kepatuhan tak bersyarat.

​Andre menatap legiun pertamanya. Mata sang Kaisar Kilat menyala menyambut perang.

​"Bangkitlah, Rishing Guild," titah Andre, suaranya menggetarkan langit-langit artifisial di atas mereka. "Hari ini kalian mati sebagai orang buangan. Besok, kalian akan menjadi bayangan yang merobek leher para pahlawan suci."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!