Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.
Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Cahaya yang Menyebar ke Penjuru Dunia
Pagi yang cerah menyapa Secret Land. Angin laut berhembus lembut, membawa kabar baik yang kini sudah tersebar ke mana-mana. Di pelabuhan utama pulau, tujuh kapal kecil siap berangkat masing-masing membawa satu anak Margaretha, beserta tim kecil yang setia, menuju tempat yang berbeda di penjuru dunia.
Grace berdiri di dermaga, mengantar mereka satu per satu. Tangannya meremas sedikit ujung gaunnya ada rindu yang mulai tumbuh sebelum mereka pergi, namun hatinya penuh keyakinan.
Edward mendekat, menepuk bahu adiknya. "Jangan khawatir, Grace. Kita pergi untuk menyebarkan apa yang kita bangun di sini. Bukan untuk meninggalkanmu."
Grace tersenyum, menahan rindu yang mengambang. "Aku tahu. Tapi tetap saja… rumah akan terasa sepi tanpa kalian."
"Rumah tidak akan sepi selama kita saling mengingat," ucap Edward lembut. Ia menatap ke arah kapal yang akan membawanya ke wilayah utara pegunungan yang dingin dan desa-desa yang terisolasi. "Aku akan membawa sistem pemanas tenaga surya dan alat pertanian canggih ke sana. Agar mereka tidak lagi kedinginan dan tidak lagi kekurangan pangan."
Grace mengangguk, bangga. "Hati-hati, Kak. Kirim kabar sesering mungkin."
Edward tersenyum, lalu naik ke kapalnya.
Berikutnya adalah Will. Ia memeluk Grace erat-erat. "Aku menuju kota-kota besar yang padat dan bising," ucapnya dengan semangat yang tak pernah pudar. "Akan kubangun pusat-pusat pelatihan teknologi bagi anak-anak yang tak punya akses. Agar mereka juga bisa bermimpi dan menciptakan hal-hal indah."
"Kau akan menyentuh banyak hati," kata Grace tulus.
Will melambaikan tangan, lalu kapalnya pun berlayar.
Henry mendekat, wajahnya tenang dan serius seperti biasa. "Aku ke daerah-daerah yang kekurangan air dan menderita akibat perubahan iklim," ucapnya pelan. "Akan kubagikan teknologi pemurnian air dan cara menanam di tanah yang sulit. Setiap orang berhak hidup sehat dan layak."
"Kau selalu melihat apa yang paling dibutuhkan orang," ucap Grace tersenyum. "Hati-hati, Kak Henry."
Henry mengangguk lembut, lalu berangkat.
George tampak bersemangat sekali, matanya berkilauan. "Aku ke pulau-pulau kecil yang jauh dan terpinggirkan!" serunya. "Akan kubawa sistem energi bersih dan alat komunikasi agar mereka tidak lagi terputus dari dunia. Tidak ada tempat yang harus ditinggalkan sendirian."
Grace tersenyum lebar. "Itulah yang paling kau inginkan, bukan? Membuat semua orang merasa dihargai."
"Tepat sekali!" George memeluknya, lalu berlari naik ke kapalnya.
Charlotte mendekat, matanya berbinar lembut. "Aku ke tempat-tempat yang penuh keindahan namun terancam hancur," ucapnya pelan. "Taman nasional, hutan tua, pantai yang bersih. Aku akan membantu mereka melindunginya bukan hanya dengan aturan, tapi dengan membuat orang-orang mencintainya kembali."
"Keindahan memang harus dijaga," ucap Grace menyentuh lengan adiknya. "Dan kau orang yang paling tepat untuk itu."
Charlotte tersenyum manis, lalu melangkah menuju kapalnya.
Sophie mendekat, memeluknya erat. "Aku ke daerah-daerah yang dilanda kesulitan tempat di mana orang-orang butuh bantuan dan harapan," suaranya terdengar lembut namun teguh. "Akan kubangun jaringan persaudaraan, agar bantuan bisa sampai cepat dan adil. Tidak ada yang boleh merasa sendirian saat susah."
Grace mengangguk berkaca-kaca. "Dunia butuh hati sepertimu, Sophie."
Terakhir, giliran Grace sendiri. Ia tidak pergi ia tetap di Secret Land, menjaga jantung tempat ini, memastikan semua yang mereka bangun tetap tumbuh dan berkembang. Namun ia tidak sendirian. Kael dan seluruh tim di pulau ada di sisinya, begitu pula Mommy dan Daddy Margaretha yang kini berdiri di sampingnya.
Kapal-kapal itu perlahan berlayar, menjauh satu per satu, menuju arah yang berbeda. Angin membawa suara mereka yang melambaikan tangan, hingga siluet mereka akhirnya menyatu dengan cakrawala.
Grace menghela napas panjang, lalu tersenyum.
"Mereka sudah pergi," bisiknya pelan.
Mommy merangkul bahunya. "Tapi bagian dari mereka tetap ada di sini, Grace. Dan bagian dari Secret Land kini ikut pergi bersama mereka, ke setiap sudut dunia."
Daddy menatap ke arah laut yang luas. "Keluarga Margaretha tidak lagi hanya satu rumah. Sekarang, di mana pun mereka berada, di situlah rumah itu tumbuh."
Hari-hari berikutnya berjalan dengan irama yang baru. Setiap pagi, Grace menerima kabar dari mereka Edward menulis tentang desa yang kini hangat dan makmur, Will mengirim foto anak-anak yang bersinar matanya saat memegang perangkat teknologi, Henry melaporkan mata air yang kembali jernih, George menceritakan pulau-pulau yang kini menyala terang di malam hari, Charlotte mengirim gambar hutan yang kembali hijau dan terjaga, Sophie bercerita tentang tangan-tangan yang saling menolong di tempat yang dulu sepi.
Grace membaca setiap pesan berulang kali, hatinya penuh bahagia. Ia tahu ini baru permulaan. Cahaya yang mereka nyalakan di Secret Land kini memancar jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan.
Sore itu, ia berdiri di puncak menara, menatap ke arah cakrawala yang kini terasa lebih dekat.
Kita tidak perlu berada di tempat yang sama untuk tetap bersatu, pikirnya. Karena kita membawa satu cahaya yang sama cahaya kasih, keadilan, dan harapan.
Di kejauhan, langit mulai berubah warna menjadi ungu dan keemasan. Di bawahnya, Secret Land bersinar lembut, menanti kabar dari mereka yang pergi, sekaligus menyambut mereka yang akan datang.
...~ Bersambung ~...