NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Setelah semua kertas terkumpul rapi, Bu Rina mengambil spidol dan berbalik menghadap papan tulis putih.

"Mari kita bahas soal esai nomor lima, karena sepertinya banyak dari kalian yang kesulitan menyelesaikannya," ucap Bu Rina.

Guru itu mulai menuliskan persamaan fisika yang cukup panjang dan rumit di papan tulis.

"Nadin, coba maju ke depan dan selesaikan persamaan ini," panggil Bu Rina menguji murid kesayangannya.

Nadin berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan kelas dengan langkah yang sedikit ragu.

Ia mengambil spidol dari tangan Bu Rina dan mulai menuliskan angka-angka secara berurutan di papan tulis.

Kelas menjadi sangat hening saat seluruh murid memperhatikan Nadin mengerjakan soal tersebut.

Tommy menatap papan tulis dengan seksama dari bangku belakangnya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

"Langkah pertamanya sudah benar," batin Tommy mengevaluasi pekerjaan Nadin di dalam kepalanya.

Nadin terus menulis rumus demi rumus hingga sampai pada baris perhitungan terakhir.

Gadis itu menuliskan angka minus dua belas sebagai hasil akhir dari gaya gesek statis yang ditanyakan.

"Selesai, Bu," ucap Nadin sambil menutup spidolnya dan mundur selangkah.

Bu Rina menatap hasil pekerjaan Nadin sejenak lalu mengangguk pelan.

"Ada yang punya jawaban berbeda dari pekerjaan Nadin?" tanya Bu Rina kepada seluruh murid di kelas.

Semua murid terdiam membisu, entah karena tidak ada yang berani menyela atau mereka memang sama sekali tidak tahu jawabannya.

"Bagus, cara Nadin memang sudah benar," kata Bu Rina sambil mengambil alih spidol dari tangan gadis itu.

Tommy mengerutkan dahinya melihat jawaban akhir yang tertulis di papan tulis itu.

"Itu salah," gumam Tommy tanpa sadar keluar dari mulutnya.

Suaranya memang sangat pelan, tapi suasana kelas yang begitu hening membuat gumamannya tidak sengaja terdengar oleh Nadin yang sedang berjalan kembali ke bangkunya.

Langkah Nadin terhenti mendadak tepat di samping meja Tommy.

"Lo bilang apa tadi, Tom?" tanya Nadin dengan suara pelan namun terdengar tajam.

Tommy tersentak kaget dari lamunannya dan buru-buru menundukkan wajahnya menatap meja.

"Bukan apa-apa," jawab Tommy gugup berusaha menyembunyikan kepanikannya.

"Gue dengar dengan jelas lo bilang salah," desak Nadin sambil menatap Tommy dengan tatapan curiga.

"Gue cuma lagi baca soal gue sendiri, bukan bilang jawaban lo salah," kilah Tommy mencoba mencari alasan yang masuk akal.

Nadin mendengus pelan dan akhirnya memilih kembali berjalan menuju bangkunya di depan.

"Tentu saja, mana mungkin si bodoh ini ngerti soal fisika sesulit itu," gumam Nadin dengan nada meremehkan yang masih bisa didengar jelas oleh Tommy.

Tommy hanya bisa menghela napas lega di dalam hati sambil menyeka sedikit keringat di dahinya.

"Hampir saja ketahuan secepat ini," batinnya mengutuk kecerobohannya sendiri.

Namun, perhatian Tommy secara refleks kembali tertuju ke arah deretan angka di papan tulis.

"Perpindahan ruas pada baris ketiga itu seharusnya menjadi positif, bukan tetap negatif," batin Tommy gemas melihat kesalahan fatal yang sangat sepele itu.

Jika dihitung dengan teliti menggunakan rumus yang benar, hasil akhirnya seharusnya positif delapan belas, bukan minus dua belas.

Di depan kelas, Bu Rina yang masih berdiri mengamati papan tulis tiba-tiba mengerutkan keningnya sendiri saat memeriksa ulang tulisan Nadin.

"Tunggu sebentar, semuanya," ucap Bu Rina tiba-tiba memecah keheningan.

Semua murid yang tadinya sedang menyalin jawaban langsung kembali fokus ke depan kelas.

"Maaf Nadin, sepertinya ibu juga kurang teliti memperhatikan perpindahan angkanya tadi," kata Bu Rina sambil menghapus baris terakhir perhitungan Nadin.

"Saat perpindahan ruas di baris ketiga, tandanya harus ikut berubah menjadi positif."

Nadin langsung membelalakkan matanya terkejut mendengar koreksi dari gurunya tersebut.

"Jadi hasil akhirnya adalah positif delapan belas," lanjut Bu Rina sambil menuliskan jawaban yang benar di papan tulis.

Seluruh kelas mulai berbisik-bisik riuh sambil menghapus dan menyalin ulang jawaban yang benar ke buku mereka.

Nadin menelan ludah dengan susah payah di tempat duduknya.

Gadis itu menoleh perlahan ke arah belakang kelas, menatap lurus ke arah Tommy dengan tatapan penuh selidik dan tanda tanya.

Tommy yang menyadari tatapan tajam itu dari sudut matanya, segera berpura-pura sibuk mencoret-coret bukunya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Apakah dia curiga?" batin Tommy merasa sedikit tegang.

Ia hanya bisa berharap gadis pintar itu menganggap ucapannya tadi sebagai kebetulan belaka dari seorang murid bodoh yang sedang bergumam sembarangan.

Kringgg!

Bel tanda pergantian pelajaran akhirnya berbunyi, menyelamatkan Tommy dari tekanan tatapan menyelidik Nadin.

Ting!

Layar biru transparan yang familier kembali muncul berkedip di depan mata Tommy.

[MISI HARIAN SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil menghindari teguran guru sepanjang pelajaran pertama.]

[Mengirimkan hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +2 poin.]

[IQ Saat Ini: 90 (Kategori: Rata-rata)]

Sensasi dingin yang menyegarkan kembali mengalir lembut dari ubun-ubunnya.

Ia merasa kinerja otaknya menjadi sedikit lebih tajam dan jernih dari beberapa menit yang lalu.

"Sembilan puluh poin," batin Tommy sambil tersenyum tipis merayakan kemenangan kecilnya.

Ia mulai menyukai permainan rahasia menyembunyikan kemampuannya ini.

"Tommy Nugroho!" panggil sebuah suara bariton yang keras dari arah pintu kelas.

Tommy mendongak dan melihat Pak Darmawan berdiri di ambang pintu dengan wajah serius yang menakutkan.

"Ikut bapak ke ruang guru sekarang juga!" perintah guru matematika galak itu tanpa basa-basi.

Tommy merasakan firasat buruk langsung menyelimuti perasaannya seketika itu juga.

Bagas yang duduk tidak jauh darinya langsung menutupi mulutnya menahan tawa.

"Mampus lo, Tom, pasti urusan DO gara-gara nilai lo kemarin," bisik Bagas penuh kemenangan.

Tommy perlahan berdiri dari kursinya dengan perasaan was-was yang luar biasa.

"Ada masalah apa lagi ini?" batin Tommy sambil melangkah gontai mengikuti langkah guru matematika tersebut.

Ia benar-benar berharap rencananya untuk tetap hidup tenang sebagai murid bodoh tidak hancur berantakan di hari pertamanya menjadi jenius.

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!