Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelah semua kertas terkumpul rapi, Bu Rina mengambil spidol dan berbalik menghadap papan tulis putih.
"Mari kita bahas soal esai nomor lima, karena sepertinya banyak dari kalian yang kesulitan menyelesaikannya," ucap Bu Rina.
Guru itu mulai menuliskan persamaan fisika yang cukup panjang dan rumit di papan tulis.
"Nadin, coba maju ke depan dan selesaikan persamaan ini," panggil Bu Rina menguji murid kesayangannya.
Nadin berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan kelas dengan langkah yang sedikit ragu.
Ia mengambil spidol dari tangan Bu Rina dan mulai menuliskan angka-angka secara berurutan di papan tulis.
Kelas menjadi sangat hening saat seluruh murid memperhatikan Nadin mengerjakan soal tersebut.
Tommy menatap papan tulis dengan seksama dari bangku belakangnya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
"Langkah pertamanya sudah benar," batin Tommy mengevaluasi pekerjaan Nadin di dalam kepalanya.
Nadin terus menulis rumus demi rumus hingga sampai pada baris perhitungan terakhir.
Gadis itu menuliskan angka minus dua belas sebagai hasil akhir dari gaya gesek statis yang ditanyakan.
"Selesai, Bu," ucap Nadin sambil menutup spidolnya dan mundur selangkah.
Bu Rina menatap hasil pekerjaan Nadin sejenak lalu mengangguk pelan.
"Ada yang punya jawaban berbeda dari pekerjaan Nadin?" tanya Bu Rina kepada seluruh murid di kelas.
Semua murid terdiam membisu, entah karena tidak ada yang berani menyela atau mereka memang sama sekali tidak tahu jawabannya.
"Bagus, cara Nadin memang sudah benar," kata Bu Rina sambil mengambil alih spidol dari tangan gadis itu.
Tommy mengerutkan dahinya melihat jawaban akhir yang tertulis di papan tulis itu.
"Itu salah," gumam Tommy tanpa sadar keluar dari mulutnya.
Suaranya memang sangat pelan, tapi suasana kelas yang begitu hening membuat gumamannya tidak sengaja terdengar oleh Nadin yang sedang berjalan kembali ke bangkunya.
Langkah Nadin terhenti mendadak tepat di samping meja Tommy.
"Lo bilang apa tadi, Tom?" tanya Nadin dengan suara pelan namun terdengar tajam.
Tommy tersentak kaget dari lamunannya dan buru-buru menundukkan wajahnya menatap meja.
"Bukan apa-apa," jawab Tommy gugup berusaha menyembunyikan kepanikannya.
"Gue dengar dengan jelas lo bilang salah," desak Nadin sambil menatap Tommy dengan tatapan curiga.
"Gue cuma lagi baca soal gue sendiri, bukan bilang jawaban lo salah," kilah Tommy mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Nadin mendengus pelan dan akhirnya memilih kembali berjalan menuju bangkunya di depan.
"Tentu saja, mana mungkin si bodoh ini ngerti soal fisika sesulit itu," gumam Nadin dengan nada meremehkan yang masih bisa didengar jelas oleh Tommy.
Tommy hanya bisa menghela napas lega di dalam hati sambil menyeka sedikit keringat di dahinya.
"Hampir saja ketahuan secepat ini," batinnya mengutuk kecerobohannya sendiri.
Namun, perhatian Tommy secara refleks kembali tertuju ke arah deretan angka di papan tulis.
"Perpindahan ruas pada baris ketiga itu seharusnya menjadi positif, bukan tetap negatif," batin Tommy gemas melihat kesalahan fatal yang sangat sepele itu.
Jika dihitung dengan teliti menggunakan rumus yang benar, hasil akhirnya seharusnya positif delapan belas, bukan minus dua belas.
Di depan kelas, Bu Rina yang masih berdiri mengamati papan tulis tiba-tiba mengerutkan keningnya sendiri saat memeriksa ulang tulisan Nadin.
"Tunggu sebentar, semuanya," ucap Bu Rina tiba-tiba memecah keheningan.
Semua murid yang tadinya sedang menyalin jawaban langsung kembali fokus ke depan kelas.
"Maaf Nadin, sepertinya ibu juga kurang teliti memperhatikan perpindahan angkanya tadi," kata Bu Rina sambil menghapus baris terakhir perhitungan Nadin.
"Saat perpindahan ruas di baris ketiga, tandanya harus ikut berubah menjadi positif."
Nadin langsung membelalakkan matanya terkejut mendengar koreksi dari gurunya tersebut.
"Jadi hasil akhirnya adalah positif delapan belas," lanjut Bu Rina sambil menuliskan jawaban yang benar di papan tulis.
Seluruh kelas mulai berbisik-bisik riuh sambil menghapus dan menyalin ulang jawaban yang benar ke buku mereka.
Nadin menelan ludah dengan susah payah di tempat duduknya.
Gadis itu menoleh perlahan ke arah belakang kelas, menatap lurus ke arah Tommy dengan tatapan penuh selidik dan tanda tanya.
Tommy yang menyadari tatapan tajam itu dari sudut matanya, segera berpura-pura sibuk mencoret-coret bukunya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apakah dia curiga?" batin Tommy merasa sedikit tegang.
Ia hanya bisa berharap gadis pintar itu menganggap ucapannya tadi sebagai kebetulan belaka dari seorang murid bodoh yang sedang bergumam sembarangan.
Kringgg!
Bel tanda pergantian pelajaran akhirnya berbunyi, menyelamatkan Tommy dari tekanan tatapan menyelidik Nadin.
Ting!
Layar biru transparan yang familier kembali muncul berkedip di depan mata Tommy.
[MISI HARIAN SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil menghindari teguran guru sepanjang pelajaran pertama.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +2 poin.]
[IQ Saat Ini: 90 (Kategori: Rata-rata)]
Sensasi dingin yang menyegarkan kembali mengalir lembut dari ubun-ubunnya.
Ia merasa kinerja otaknya menjadi sedikit lebih tajam dan jernih dari beberapa menit yang lalu.
"Sembilan puluh poin," batin Tommy sambil tersenyum tipis merayakan kemenangan kecilnya.
Ia mulai menyukai permainan rahasia menyembunyikan kemampuannya ini.
"Tommy Nugroho!" panggil sebuah suara bariton yang keras dari arah pintu kelas.
Tommy mendongak dan melihat Pak Darmawan berdiri di ambang pintu dengan wajah serius yang menakutkan.
"Ikut bapak ke ruang guru sekarang juga!" perintah guru matematika galak itu tanpa basa-basi.
Tommy merasakan firasat buruk langsung menyelimuti perasaannya seketika itu juga.
Bagas yang duduk tidak jauh darinya langsung menutupi mulutnya menahan tawa.
"Mampus lo, Tom, pasti urusan DO gara-gara nilai lo kemarin," bisik Bagas penuh kemenangan.
Tommy perlahan berdiri dari kursinya dengan perasaan was-was yang luar biasa.
"Ada masalah apa lagi ini?" batin Tommy sambil melangkah gontai mengikuti langkah guru matematika tersebut.
Ia benar-benar berharap rencananya untuk tetap hidup tenang sebagai murid bodoh tidak hancur berantakan di hari pertamanya menjadi jenius.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇