NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 16

​Hari mulai beranjak sore.

​Satu per satu pelanggan meninggalkan sanggar. Ruangan yang sejak pagi ramai oleh percakapan calon pengantin perlahan kembali tenang. Anindiya sibuk merapikan berkas jadwal untuk beberapa hari ke depan, sementara Rina membereskan meja rias dan menyapu sisa-sisa potong rambut pelanggan terakhir.

​Meski pekerjaannya berjalan seperti biasa, wajah Rina belum sepenuhnya kembali ceria.

​Sejak kejadian mengerikan pagi tadi, pikirannya masih terus dibayangi sosok perempuan yang berdiri di samping gaun pengantin. Beberapa kali ia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua itu hanyalah halusinasi akibat kelelahan.

​Namun, setiap kali mengingat raut pucat pasi itu, sekujur tubuhnya kembali merinding hebat.

​Menjelang pukul lima sore, seluruh pekerjaan akhirnya tuntas. Rina mencuci tangannya hingga bersih, lalu meraih tas yang tergantung di balik pintu.

​"Aku pulang dulu ya, Mbak," pamitnya.

​Anindiya yang sedang mencatat jadwal hanya mendongak sebentar lalu mengangguk. "Iya, Rin. Hati-hati di jalan ya."

​"Iya, Mbak."

​"Kalau nanti kepalamu masih pusing, langsung istirahat. Besok kalau memang kurang enak badan, kabari Mbak saja."

​Rina mengukir senyum tipis. "Iya, Mbak. Makasih."

​Ia keluar dari sanggar seraya memasang helm. Langit di atas Kota A mulai bergeser memamerkan semburat jingga. Matahari perlahan tenggelam di balik deretan gedung tinggi, membawa udara sore yang berembus makin sejuk.

​Rina menyalakan mesin motornya, lalu perlahan melaju meninggalkan halaman sanggar.

​Awalnya perjalanan terasa normal. Jalanan utama masih dipadati kendaraan warga yang baru pulang kerja. Di pinggir jalan, beberapa pedagang kaki lima mulai menata lapak dagangannya, diselingi sorot lampu kendaraan yang mulai menyala satu per satu.

​Rina berusaha menikmati perjalanan untuk mengusir pikiran buruk yang terus menggerogotinya. Ia bahkan menyalakan lagu berirama lembut dari ponselnya yang tersambung ke headset di balik helm.

​Namun, rasa ganjil yang menusuk itu tak jua menghilang .

​Entah mengapa... sejak melangkah keluar dari sanggar, ia merasa seolah ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya dari dekat.

​Beberapa kali Rina melihat ke kaca spion. Nihil. Tidak ada yang aneh. Hanya deretan mobil dan motor yang lalu-lalang seperti biasa.

​"Aku cuma terlalu banyak pikiran..." gumamnya pelan, mencoba menepis panik.

​Mungkin ucapan Anindiya ada benarnya. Otaknya hanya sedang terguncang oleh ingatan trauma musibah kemarin.

​Setelah lima belas menit berkendara, Rina membelokkan stang motornya memotong jalan raya, masuk ke lorong jalan yang lebih kecil menuju arah rumahnya.

​Rumah Rina berada di area pemukiman yang cukup jauh dari pusat kota. Untuk mencapai ke sana, ia harus melintasi jalan sempit yang diapit rindangnya kebun dan terhampar sawah di kanan-kirinya.

​Saat malam mulai merambat turun, jalanan itu memang terkenal sangat sepi. Penerangan jalan hanya mengandalkan beberapa lampu remang di titik tertentu. Sisanya, praktis hanya mengandalkan sorot lampu utama motor.

​Rina sudah sangat hapal luar kepala dengan alur jalanan ini karena setiap hari melewatinya. Namun sore ini, suasana terasa sangat berbeda.

​Makin jauh ia masuk melintasi lorong kampung, suasana sekitar berubah makin sunyi mencekam. Tak ada lagi lalu-lalang kendaraan lain. Tak ada lagi warga yang berjalan kaki. Hanya deru mesin motornya dan desir angin sore yang menyapu dedaunan.

​Tanpa sadar, jemari Rina mencengkeram stang motor jauh lebih erat. Bulu-bulu di tengkuknya mendadak berdiri tegak. Perasaan diawasi itu kembali menyeruak—kali ini jauh lebih kuat dan membelenggu.

​Ia melirik spion. Kosong. Tak ada siapa-siapa di belakangnya.

​Rina menarik napas dalam-dalam. "Tenang, Rin... cuma perasaanmu saja."

​Motor terus melaju. Beberapa meter di depan, lorong jalan mulai dinaungi pepohonan tua berukuran besar yang rimbun rantingnya saling bertautan di udara, menutupi langit sore hingga jalanan menjadi kian gelap.

​Angin berembus pelan, menggesekkan ribuan daun satu sama lain.

​Srak...

Srak...

Srak...

​Suara gesekan itu membuat Rina makin tertekan.

​Tiba-tiba... di antara deru mesin motor, earphone Rina menangkap suara lain. Bukan ketukan angin. Bukan suara mesin. Melainkan...

​Suara langkah kaki.

​Tap...

Tap...

Tap...

​Suaranya pelan namun konstan, seolah ada seseorang yang sedang berlari kecil tepat di belakang motornya!

​Rina spontan melirik kaca spion. Masih kosong melompong.

​"Duh..." Ia berusaha mengabaikannya. Meringis mengira itu hanya gema dari suara roda motornya sendiri.

​Namun selang beberapa detik kemudian... suara itu terdengar lagi. Kali ini jauh lebih dekat dan tajam!

​Tap...! Tap...! Tap...!

​Langkah kaki itu terkesan makin berpacu kencang mengejarnya!

​Jantung Rina berdesir hebat, berdetak liar menghantam dadanya. Ia kembali melirik spion dengan napas tertahan.

​Secara kasat mata memang tak ada siapa-siapa. Namun...

​Di sudut kaca spion...

​Sesaat...

​Ia menangkap sekilas kibasan ujung gaun putih melintas! Hanya terjadi dalam hitungan sepersekian detik sebelum lenyap begitu saja!

​Rina refleks menengokkan kepalanya ke belakang!

​Jalanan benar-benar sepi. Tak ada sesosok manusia pun.

​Telapak tangannya mulai dibasahi keringat dingin. Hembusan napasnya memburu panik. "Nggak... aku nggak boleh panik..."

​Ia berusaha memompa logika sehatnya. Namun tubuhnya menolak kooperatif—otot-ototnya terkunci kaku.

​Tiba-tiba, wangi bunga melati yang amat tajam menyengat masuk ke dalam helmnya. Aromanya bermula dari wangi tipis, lalu mendadak menjadi begitu tebal dan memekakkan hidung, meremas paru-parunya.

​Rina seketika mengenali aroma itu. Aroma melati busuk yang persis sama dengan yang membanjiri ruang koleksi pagi tadi!

​Jemarinya gemetaran parah. "Ya Allah..."

​Rina menarik tuas gas lebih dalam. Mesin motornya meraung keras membelah keheningan jalanan kebun. Ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi di lorong yang sempit itu. Di benaknya cuma ada satu tujuan: cepat sampai ke rumah!

​Beberapa puluh meter melaju... terdengar suara lain yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir.

​Bukan lagi derap langkah kaki. Melainkan...

​Suara kain panjang berukuran tebal yang diseret di atas aspal kotor!

​Sret...

Sret...

Sret...

​Bunyi seretan kain itu terdengar sangat dekat, tepat berada di belakang roda belakang motornya!

​Dengan sisa keberanian yang ada, Rina memberanikan diri mengerling kaca spion sekali lagi.

​Tubuhnya seketika mematung kaku dalam kepanikan murni.

​Di kejauhan, melayang di atas jalanan... sesosok perempuan bergaun putih menjuntai kusam tampak mengejarnya! Rambut hitamnya yang panjang dan kotor terurai menutupi seluruh wajahnya. Ia tidak menapak atau melangkah—tubuhnya meluncur kaku mengikuti kecepatan motor Rina!

​Jarak sosok itu kian mengikis cepat!

​Rina menjerit histeris. "Tidaaakkk...!"

​Ia memutar tuas gas hingga mentok! Motor melesat bagai kesetanan. Angin malam menampar wajahnya keras-keras, jantungnya serasa mau meloncat keluar dari kerongkongan. Ia tak lagi berani menatap kaca spion.

​Rasa dikejar dan diburu oleh entitas maut terasa begitu nyata dan menghimpit. Aroma melati menusuk hidungnya hingga membuat kepalanya pening luar biasa.

​Di tengah jeritan batinnya...

​Sebuah suara bisikan perempuan berhembus parau, terdengar amat jelas tepat di balik ceruk telinganya.

​"...ke...mba...li...kan..."

​Rina menjerit tertahan, memejamkan mata rapat-rapat sambil menahan keseimbangan motor.

​Beberapa menit yang terasa seperti neraka itu akhirnya terlewati. Dari kejauhan, cahaya lampu rumah-rumah pemukiman warga mulai terlihat. Suara riuh anak-anak kecil dan deru kendaraan warga terasa bagai penyelamat.

​Begitu melintasi kawasan yang ramai, aroma melati itu perlahan-lahan menguap hilang. Perasaan dikejar pun berangsur-angsur surut.

​Dengan napas tersengal-sengal dan dada yang kempas-kempis, Rina memberanikan diri mengerling spion untuk terakhir kalinya.

​Jalanan di belakangnya kosong. Tak ada perempuan bergaun putih. Tak ada seretan kain. Seolah-olah teror tadi hanyalah bayangan buruk yang diciptakan otaknya.

​Begitu motornya berhenti di pekarangan rumah, Rina terkulai di atas stang dengan napas memburu.

​Namun saat tangannya hendak melepaskan jaket... matanya menatap ganjil ke bahunya.

​Di bagian belakang jaket yang ia kenakan...

​Menempel beberapa helai rambut hitam yang amat panjang dan agak basah. Padahal, rambut Rina sendiri dipotong pendek hanya sebatas bahu.

​Dengan jari-jari yang gemetar hebat, ia mencabut helai-helai rambut asing itu.

​Belum sempat otaknya memproses dari mana rambut itu berasal...

​Sebuah bisikan halus berhembus tepat di tengkuknya dari arah belakang.

​"...kem...ba...li...kan..."

​Tubuh Rina membeku total. Helai rambut hitam itu terlepas dari genggamannya dan melayang jatuh ke tanah.

​Dan malam yang baru saja datang... terasa jauh lebih gelap dan mencekam dari malam-malam sebelumnya.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!