Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Tempat di Dalam Laci
Maya bangun jauh sebelum matahari terbit menyapa kota.
Begitu kelopak matanya terbuka, hal pertama yang terlintas dalam benak kecilnya bukanlah rasa lapar atau udara dingin yang menusuk tulang, melainkan bayangan rak-rak tinggi yang penuh sesak. Toko buku. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia diizinkan ikut ibunya bekerja.
Bocah perempuan itu langsung bangkit dari atas tikar tipisnya dengan semangat yang meletup-letup. Ia melipat selimut kusamnya dengan sangat rapi, menyingkirkannya ke sudut ruangan, lalu mulai bergerak lincah menyapu lantai kayu yang berdebu. Setelah itu, ia mencuci piring sisa semalam dengan air dingin, kemudian merapikan meja kecil di ruang depan.
Semua pekerjaan rumah itu dilakukannya dengan cepat dan tanpa suara, takut membangunkan ibunya.
Sesekali, Maya melirik ke arah pintu kamar Clara yang masih tertutup rapat. Ibunya belum keluar. Maya tersenyum kecil sambil mengusap peluh di dahinya. Hari ini ia bertekad harus membantu ibunya dengan sangat baik. Ia tidak ingin membuat satu pun masalah yang bisa membuat ibunya marah dan menyuruhnya pulang.
Setelah selesai membersihkan seluruh sudut rumah petak itu, Maya berlari kecil ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan menyisir rambut pendeknya agar terlihat lebih rapi. Kemudian, ia kembali melangkah ke depan pintu kamar ibunya, berdiri di sana dengan patuh.
“Ibu,” panggil Maya dengan suara pelan dan lembut.
Tidak ada jawaban dari dalam. Hening.
Maya mengetuk daun pintu yang rapuh itu dengan buku jarinya, sangat pelan. “Ibu... aku sudah selesai membersihkan rumah.”
Dari balik pintu, terdengar suara tarikan napas berat, disusul oleh jawaban serak. “Sebentar.”
“Iya, Bu.” Maya kembali berdiri tegap, menunggu dengan sabar di depan pintu.
Di dalam kamar yang temaram, Clara sebenarnya sudah terbangun sejak tadi. Ia bahkan belum memejamkan mata sepenuhnya sejak semalam. Ia hanya duduk bersandar di tepi tempat tidur, belum berniat bangkit.
Matanya sejak tadi tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di atas meja kecil di sudut kamarnya.
Lukisan.
Lukisan sederhana bersampul kertas kusam yang diberikan Maya kepadanya pada Hari Ibu kemarin. Gambar seorang ibu. Gambar seorang anak. Gambar sebuah rumah kecil, dan matahari yang tersenyum lebar.
Clara mengulurkan tangannya yang gemetar, mengambil lukisan itu dari atas meja. Ia memandanginya lama. Sangat lama. Tidak seperti ketika pertama kali ia menerimanya dan merampasnya dengan amarah yang meledak-ledak. Saat itu, ia hanya melihat sebuah coretan anak-anak yang mengganggu nuraninya.
Namun sekarang... di bawah cahaya fajar yang remang, ia mulai memperhatikan detail-detail kecil yang ditorehkan oleh tangan mungil itu.
Garis tangan Maya yang ditekan begitu kuat hingga membuat kertasnya sedikit melengkung. Bentuk rumah yang tidak simetris namun terlihat utuh. Matahari yang digambar terlalu besar seolah ingin menghangatkan seluruh dunia. Dan yang paling mengiris hatinya: dua sosok yang digambar berdiri sangat berdekatan, saling berpegangan tangan erat.
Maya menggambar mereka bersama. Seolah-olah tidak ada satu pun masalah di antara mereka. Seolah-olah Clara tidak pernah membentaknya, tidak pernah membiarkannya kelaparan, dan tidak pernah memandangnya dengan tatapan benci. Seolah-olah, di mata anak polos itu, Clara adalah sosok ibu paling sempurna dan paling sejati di dunia ini.
Clara menelan ludah, merasakan kerongkongannya perih bagai disayat sembilu. Tangannya perlahan menyentuh salah satu bagian gambar tersebut, tepat di atas sosok anak kecil itu.
“Bodoh...”
Suara itu keluar sangat pelan, bergetar dan parau. Clara sendiri tidak tahu kepada siapa kata makian itu ditujukan. Apakah untuk Maya yang terlalu bodoh karena masih mencintai monster seperti dirinya? Ataukah untuk dirinya sendiri yang terlalu bodoh karena perlahan-lahan membiarkan hatinya ditembus oleh ketulusan anak dari wanita yang paling ia benci?
Kemudian, terdengar suara ketukan dari luar.
Tok. Tok.
Clara tersentak kaget. Tarikan napasnya memburu. Ia baru sadar bahwa dirinya sudah terlalu lama memandangi gambar itu hingga tenggelam dalam pusaran emosinya sendiri.
“Mungkin Ibu masih tidur?” Suara cemas Maya terdengar bergumam dari luar.
Clara segera meletakkan lukisan itu kembali ke atas meja, berusaha menormalkan detak jantungnya. Namun, entah mengapa, pandangannya terus saja jatuh kembali ke atas kertas lusuh itu. Ada sesuatu yang menahannya.
Clara ragu selama beberapa saat. Pertempuran hebat kembali berkecamuk di dalam batinnya. Akhirnya, dengan gerakan lambat, ia berjongkok dan membuka laci paling bawah dari meja tersebut.
Di dalamnya, tersembunyi sebuah kotak kayu kecil.
Clara menariknya keluar dan meletakkannya di pangkuannya. Kotak itu bukanlah barang mewah berukir emas. Pinggirannya sudah usang dan warnanya mulai pudar. Tetapi bagi Clara, isinya jauh lebih berharga daripada bongkahan berlian atau benda mahal apa pun di muka bumi.
Dengan napas tertahan, ia membuka pengait kotak itu.
Di dalamnya tersimpan benda-benda kecil yang sangat ia jaga. Seuntai pita rambut merah muda. Sebuah gelang bayi. Beberapa mainan kecil. Potongan kertas berisi coretan pertama. Dan beberapa hadiah sederhana lainnya.
Semuanya adalah barang-barang peninggalan Elena. Barang-barang yang pernah diberikan Elena kepada Maya saat mereka masih bermain bersama di kota lama, yang diam-diam dirampas dan disimpan oleh Clara.
Clara mengambil pita merah muda itu. Jemarinya menyentuh kain beludru itu dengan sangat perlahan, seolah takut merusaknya.
Elena... panggil batin Clara lirih.
Setiap benda di dalam kotak ini memiliki kenangannya sendiri. Setiap benda membuatnya mengingat anak kandungnya yang kini hidup dalam pelukan musuhnya. Selama ini, Clara selalu menganggap kotak kayu ini sebagai tempat paling aman, paling suci, untuk menyimpan segala sesuatu yang berhubungan dengan putri kandungnya. Harta karunnya yang paling tak ternilai.
Ia tidak pernah sekalipun membiarkan Maya menyentuh kotak ini, apalagi mengambil kembali barang-barang itu. Karena bagi Clara... benda-benda tersebut adalah potongan-potongan terakhir dari keberadaan Elena yang masih bisa ia miliki.
Clara meletakkan kembali pita itu dengan hati-hati. Kemudian, matanya melirik lukisan kertas kusam yang tergeletak di meja.
Ia diam. Kepalanya kosong selama beberapa detik.
Perlahan, tangannya bergerak mengambil lukisan itu. Ia membawa kertas itu mendekati kotak kayu di pangkuannya. Untuk sesaat, logikanya berteriak keras. Ia ingin menarik tangannya kembali, ingin meletakkan lukisan itu di tempat lain, di laci atas, atau di tempat sampah—di mana pun asalkan tidak mencemari tempat suci milik Elena.
Tetapi pada akhirnya... tangan itu bergerak melawan logikanya.
Clara melipat lukisan itu dengan sangat rapi, lalu memasukkannya ke dalam kotak kayu tersebut. Ia meletakkannya tepat di antara barang-barang Elena.
Clara membeku. Matanya menatap tajam ke dalam kotak yang kini terbuka itu.
Sebuah benda dari Maya, sebuah coretan tangan dari anak darah daging Vera, kini berada berdampingan di tempat yang selama ini eksklusif hanya diperuntukkan bagi Elena.
Clara sendiri tidak mengerti mengapa ia melakukan hal itu. Otaknya menolak memberikan penjelasan. Ia hanya merasa... lukisan itu terlalu berharga untuk dibiarkan hancur di luar sana. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Clara segera menutup kotak itu rapat-rapat. Ia kemudian memasukkannya kembali ke dalam laci bawah, dan menutup lacinya perlahan hingga berbunyi klik.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan Maya terdengar lagi dari luar, memecah lamunannya.
Clara tersadar sepenuhnya. Ia mengusap wajahnya yang terasa dingin, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu berdehem keras.
“Masuk,” ucap Clara.
Pintu kayu itu terdorong terbuka. Maya berdiri di sana dengan senyum cerah yang mampu menerangi ruangan yang suram.
“Ibu sudah siap?” tanya Maya antusias.
Clara mengangguk kaku, mengambil tas kainnya. “Sebentar lagi.”
Maya tersenyum semakin lebar, dengan sabar menunggu ibunya melangkah keluar.
Beberapa menit kemudian, mereka meninggalkan rumah petak itu.
Maya berjalan di samping Clara dengan langkah yang sangat ringan, seolah ada pegas di telapak kakinya. Matanya berbinar-binar memandangi jalanan kota yang mulai ramai. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus membayangkan seperti apa wujud toko buku yang akan ia datangi.
“Ibu,” panggil Maya sambil mendongak menatap wajah ibunya dari samping.
“Hm?” sahut Clara tanpa menoleh.
“Tokonya besar, Bu?”
“Tidak.”
“Bukunya banyak?” tanya Maya lagi, nadanya penuh kekaguman yang ditahan.
“Lumayan.”
Maya terdiam sebentar, menggigit bibir bawahnya ragu, lalu bertanya dengan suara yang lebih pelan. “Kalau... kalau pekerjaanku nanti sudah selesai... boleh aku membaca, Bu?”
Clara menghentikan langkahnya sejenak, melirik ke arah anak itu. Mata Maya membulat, menatap ibunya dengan ketakutan seolah bersiap jika pertanyaannya memancing amarah. Maya tidak berani bertanya lagi dan langsung menundukkan kepalanya.
Clara kembali menatap lurus ke arah jalan raya, melanjutkan langkahnya. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi untuk menjawab pertanyaan itu. Namun kali ini... jauh di dalam hatinya, Clara tidak merasa terganggu atau marah oleh pertanyaan tersebut.
Toko buku itu memang kecil. Letaknya berada di pinggir jalan raya yang tidak terlalu sibuk, terjepit di antara toko kelontong dan kedai makan.
Begitu pintu geser tua itu dibuka, aroma kertas usang, debu, dan kayu lapuk langsung menyeruak keluar. Rak-rak kayu tua menjulang tinggi, memenuhi hampir seluruh dinding ruangan, menyisakan lorong-lorong sempit untuk berjalan. Pemilik toko ini adalah pria tua yang sakit-sakitan dan jarang sekali datang meninjau. Karena itulah Clara memegang kendali penuh, menjaga toko ini dari pagi hingga malam hari.
Ketika pintu terbuka lebar, Maya melangkah masuk. Baru dua langkah, ia mendadak berhenti.
Mata gadis kecil itu membesar hingga maksimal. Mulutnya sedikit terbuka.
Buku ada di mana-mana. Rak di sebelah kiri penuh sesak. Rak di sebelah kanan berjejal hingga nyaris tumpah. Ada tumpukan buku di atas meja kasir. Ada buku-buku tebal di dalam kardus-kardus di sudut lantai.
Maya melihat semuanya dengan rasa takjub yang meluap-luap. Ia merasa seperti baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah gua harta karun yang selama ini hanya bisa ia impikan.
“Banyak sekali...” gumam Maya tanpa sadar, suaranya bergetar karena kagum.
Clara berjalan melewatinya, meletakkan tas kerjanya di balik meja kasir. “Jangan hanya dilihat. Ambil sapu di belakang sana.”
Maya tersentak dari kekagumannya. “I-iya, Bu!”
Ia segera berlari kecil ke belakang, mengambil sapu ijuk, dan mulai membersihkan lantai toko dengan sangat teliti. Namun, sekeras apa pun ia mencoba fokus pada debu di lantai, matanya terus saja melirik curi-curi pandang ke arah rak buku di sekelilingnya. Judul-judul buku dengan sampul beraneka warna itu seolah memanggil-manggil namanya.
Clara yang duduk di meja kasir melihat gerak-gerik gelisah putrinya. Namun anehnya, kali ini ia tidak menegur apalagi membentak anak itu untuk menundukkan pandangan. Ia membiarkannya.
Menjelang siang, hawa panas mulai menyelimuti kota. Toko buku itu mulai sepi. Tidak banyak pelanggan yang datang mencari bacaan di jam-jam matahari terik seperti ini.
Clara duduk tenang di belakang meja kasirnya, sibuk mencatat daftar barang dan faktur penjualan ke dalam buku besarnya.
Di sudut lain, Maya sudah menyelesaikan semua tugasnya. Lantai sudah disapu bersih, meja sudah dilap, dan buku-buku yang miring sudah diluruskan. Ia berdiri diam sebentar, mengusap tangannya ke celananya. Matanya kembali tertuju pada deretan rak kayu di lorong kedua.
Sebuah buku dengan sampul tebal berwarna biru gelap dan gambar angka-angka besar menarik perhatiannya.
Maya menoleh ke arah meja kasir. Ibunya masih menunduk, tampak sangat sibuk dengan pulpen dan catatannya. Dengan langkah mengendap-endap tanpa suara, Maya berjalan perlahan mendekati rak tersebut. Ia berjinjit sedikit, lalu menarik buku tebal itu dengan hati-hati.
Setelah mendapatkan harta karunnya, Maya segera duduk bersila di lantai, menyembunyikan dirinya di sudut toko yang tertutup bayangan rak agar tidak terlihat oleh Clara.
Maya membuka halaman pertama yang berbau khas kertas tua. Ia menatap deretan huruf kapital besar di sana. Ia mulai membaca. Pelan. Sangat pelan, meraba-raba ingatannya tentang huruf-huruf yang pernah ia pelajari diam-diam. Ada banyak sekali kata yang tidak ia mengerti, namun ia menolak untuk menyerah. Ia terus mencoba menyatukan bunyinya.
“Ma... te... ma... ti... ka...” eja Maya dengan bibir yang bergerak tanpa suara.
Ia berhenti. Mengernyitkan keningnya, mencoba menyatukan suku kata itu di dalam kepalanya. Lalu ia mencobanya lagi dengan lebih cepat.
“Matematika.”
Begitu kata itu terucap utuh, Maya tersenyum kecil. Ia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri. Ia membalik halaman berikutnya. Matanya kini dihadapkan pada deretan angka-angka, simbol tambah, kurang, dan gambar-gambar bangun ruang.
Maya mulai menghitung gambar bola di buku itu menggunakan jari-jari kecilnya.
Satu... Dua... Tiga...
Ia begitu serius, tenggelam sepenuhnya ke dalam dunia angka di atas kertas itu, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa suara goresan pulpen di meja kasir telah berhenti sejak tadi. Ia juga tidak menyadari bahwa sepasang kaki kini telah berdiri tegak tepat di belakangnya.
“Maya.”
Sebuah suara dingin memanggil. Tubuh Maya langsung kaku bagaikan disambar petir. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia menoleh dengan patah-patah.
Clara sudah berdiri menjulang di sana, menatapnya dengan raut wajah yang sulit dibaca.
Maya panik luar biasa. Secara refleks, ia langsung menyembunyikan buku tebal itu di belakang punggungnya. “I-Ibu...”
“Apa yang sedang kamu lakukan di situ?” tanya Clara datar.
Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya mulai bergetar bersiap menerima pukulan atau bentakan. “Tidak... aku tidak bermain, Bu...”
Clara menatap anak yang meringkuk ketakutan di bawahnya itu. “Kenapa bukunya disembunyikan?”
Maya menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis. “Maaf, Bu... ampun...”
Clara tidak meninggikan suaranya. Ia mengulurkan sebelah tangannya yang kosong. “Apa yang ada di tanganmu? Sini, berikan padaku.”
Dengan tangan bergetar hebat, Maya perlahan-lahan mengeluarkan buku tebal bersampul biru itu dan menyerahkannya. Ia sudah menutup matanya rapat-rapat, mengira Clara akan memukulkan buku tebal itu ke kepalanya karena telah melanggar aturan tak tertulis mereka.
Clara menerima buku itu. Ia membalik sampulnya, membaca judul yang tertera di sana. Matematika Terpadu untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Clara menghela napas pelan, menatap Maya yang masih gemetar. Namun, bertentangan dengan semua ketakutan anak itu, Clara tidak marah. Wanita itu sama sekali tidak berteriak. Ia hanya berkata dengan nada yang sangat biasa,
“Ini terlalu sulit untuk anak seusiamu.”
Maya mendongak, masih menunduk sedikit dengan mata berkaca-kaca. “Aku... aku cuma ingin membaca, Bu...”
Alih-alih merobeknya, Clara membawa buku SMP itu kembali ke rak, menyelipkannya tepat di tempat asalnya. Kemudian, pandangan Clara menyapu deretan buku di rak sebelahnya—rak khusus pendidikan dasar. Tangannya menarik keluar sebuah buku pelajaran tipis bersampul cerah.
Buku Pintar Membaca Kelas Satu SD.
Clara berbalik, berjalan menghampiri Maya, lalu menyerahkan buku tipis itu kepadanya.
“Mulai dari yang ini,” ucap Clara.
Maya tertegun. Ia menatap buku yang disodorkan ibunya, lalu menatap wajah Clara secara bergantian, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Ini... untuk aku, Bu?” tanya Maya dengan suara bergetar.
“Iya,” jawab Clara singkat, memalingkan wajahnya sedikit.
Maya menerima buku itu dengan kedua belah tangannya yang mungil, mendekapkannya ke dada seolah itu adalah benda paling berharga di seluruh dunia. “Terima kasih, Ibu! Terima kasih banyak!”
Clara tidak menjawab dan segera kembali berjalan menuju meja kasirnya.
Begitu ibunya pergi, Maya langsung duduk kembali dan membuka halaman pertama buku itu dengan penuh semangat. Ia melihat deretan suku kata dasar yang dicetak besar-besar. Ia mulai mengeja dengan suara berbisik yang terdengar jelas di tengah toko yang sepi.
“Ba... bi... bu... be... bo...”
Dari kejauhan, di balik meja kasirnya, Clara tidak menulis. Ia bertopang dagu, memperhatikan Maya dari sudut matanya.
Maya mencoba membaca kalimat di bawahnya. Ia salah mengeja. Ia berhenti, mengulanginya lagi. Masih salah. Ia mengernyitkan dahi, dan mengulanginya untuk ketiga kalinya.
Tidak ada sekelumit pun keluhan yang keluar dari mulut anak itu. Tidak ada rasa bosan. Hanya ada kegigihan murni yang lahir dari rasa haus akan ilmu.
Melihat Maya terus-menerus mengulang kesalahan pada kata yang sama, pertahanan Clara yang dingin akhirnya luntur. Ia memecah keheningan toko dengan suaranya.
“Jangan hanya menghafal bentuk hurufnya saja, Maya. Perhatikan bunyinya.”
Maya mengangkat kepalanya dengan cepat, menatap ibunya bingung. “Bunyinya?”
“Iya.” Clara menunjuk ke arah udara, seolah sedang menunjuk buku Maya. “Huruf konsonan kalau digabung dengan huruf vokal, bunyinya akan berubah. Kalau kamu mengerti polanya, kamu tidak perlu menghafal setiap kata. Perhatikan saja bagaimana huruf itu dibunyikan jika disatukan.”
Clara menjelaskan prinsip dasar membaca itu dengan bahasa yang sangat sederhana, bahasa yang mudah dicerna oleh otak seorang anak berusia tujuh tahun.
Maya terdiam sejenak, mencerna instruksi tersebut. Ia kembali menatap bukunya, mempraktikkan apa yang baru saja diajarkan ibunya. Beberapa saat kemudian, senyum lebar merekah di bibir Maya. Ia berhasil membaca kalimat itu dengan utuh tanpa tersendat.
“Aku bisa, Bu!” seru Maya pelan.
Clara hanya mengangguk tipis. “Benar. Lanjutkan.”
Maya kembali menekuri bukunya dengan senyum yang tak pernah luntur. Clara kembali menunduk ke buku catatannya.
Namun untuk beberapa saat yang lama, mata Clara tetap mencuri pandang, tertuju pada anak perempuan yang sedang duduk di lantai toko itu.
Perubahan itu memang sangat kecil. Teramat kecil. Clara masihlah wanita yang dingin. Di dalam hatinya, ia masih menyimpan gumpalan dendam masa lalu kepada Vera. Ia masih memiliki seribu alasan logis di kepalanya untuk tidak memberikan Maya masa depan yang baik dan membiarkannya membusuk dalam kebodohan.
Tetapi hari ini... di tengah keheningan toko buku tua itu, Clara tidak merampas buku dari tangan Maya. Ia justru memberikan buku yang lebih sesuai dengan usia anak itu. Ia bahkan mengajarinya cara membaca.
Dan pagi tadi, tanpa sadar, ia bahkan memasukkan lukisan kusam buatan Maya ke dalam kotak suci yang selama ini hanya berisi kenangan-kenangan Elena.
Clara sendiri belum sepenuhnya menyadari besarnya makna di balik tindakan-tindakannya hari ini. Pikirannya masih menolak untuk mengakuinya.
Tetapi ada sesuatu yang telah bergeser secara permanen. Di dalam laci kecil yang terkunci di kamar belakang sana... dan di dalam relung hati Clara yang paling gelap, Maya sudah mendapatkan sedikit tempat.
Tempat itu bukan untuk menggantikan posisi Elena. Belum. Dan mungkin tidak akan pernah bisa menggantikannya. Namun untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka, Maya tidak lagi berdiri sendirian menangis kedinginan di luar batas hati Clara.