NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Salamander itu tiba-tiba menghentikan pergerakannya saat mendengar suara Natasya.

Kepalanya yang besar sedikit dimiringkan ke kiri untuk mengamati gadis kecil di atas punggung serigala itu.

"Ini sangat mengejutkan, seorang anak manusia ternyata menguasai bahasa roh hutan yang kuno."

"Namaku Natasya dan pria yang memegang obor ini adalah ayahku."

Natasya mencoba menggunakan trik negosiasi yang sama seperti saat menghadapi ular sanca sebelumnya.

"Tolong izinkan ayahku mengambil bunga itu agar ibuku bisa diselamatkan dari kematian."

"Aku tidak peduli dengan ibumu atau keluargamu yang sedang sekarat di luar sana, anak manusia."

Salamander raksasa itu mendengus kasar menyemburkan sedikit uap panas ke udara.

"Bunga itu tidak boleh dipetik oleh siapapun sampai kapanpun."

"Kenapa tidak boleh dipetik?"

Natasya mengerutkan keningnya karena tidak menyangka permintaannya akan ditolak mentah-mentah begitu saja.

"Bukankah itu hanya sekuntum bunga biasa yang tumbuh di atas batu?"

"Bunga itu bukan sekadar tanaman hias biasa yang bisa kau petik sesuka hatimu."

Salamander itu perlahan berenang mendekati bibir danau dengan tatapan yang semakin mengancam.

"Bunga Teratai Merah itu adalah inti penyerap racun dari seluruh kawasan Hutan Larangan ini."

Natasya dan Gaga saling berpandangan dengan raut wajah terkejut mendengar fakta mengerikan tersebut.

"Bunga itu menyerap semua racun mematikan dari dalam tanah dan mengumpulkannya di danau ini."

Salamander itu melanjutkan penjelasannya dengan nada suara yang penuh peringatan keras.

"Jika bunga itu dicabut dari akarnya, maka racun di danau ini akan meluap tak terkendali."

"Racun itu akan menyebar melalui aliran air tanah dan membunuh setiap makhluk hidup di hutan ini."

"Termasuk menyebar ke desa tempat kaummu tinggal dan membunuh semua manusia di sana dalam hitungan hari."

Penjelasan dari penjaga danau itu sukses membuat darah Natasya berdesir dingin.

"Jadi kalau kita mengambil obat untuk Ibu, kita akan membunuh semua orang di desa dan di hutan ini?"

Natasya bergumam pelan dengan suara bergetar menahan tangis keputusasaan.

Ini adalah pilihan moral terberat yang harus dihadapi oleh seorang anak berusia tujuh tahun.

"Apa yang dikatakan oleh monster jelek itu padamu, Natasya?"

Arga yang tidak mengerti pembicaraan mereka sedari tadi akhirnya bertanya dengan nada tidak sabar.

"Kenapa kamu malah diam saja dan terlihat mau menangis begitu?"

"Ayah, monster ini bilang kita tidak boleh mengambil bunga itu."

Natasya menatap ayahnya dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.

"Bunga itu adalah penyerap racun hutan, kalau kita cabut maka racunnya akan menyebar dan membunuh semua orang di desa kita."

Arga seketika terdiam mematung mendengar terjemahan dari putrinya tersebut.

Otak pria dewasa itu bekerja keras mencoba mencerna konsekuensi mengerikan dari tindakannya malam ini.

Namun bayangan wajah pucat Mira yang sedang muntah darah di ladang kembali melintas kuat di benaknya.

"Persetan dengan hutan ini dan persetan dengan semua orang di desa itu."

Arga tiba-tiba mengamuk dan berteriak histeris dengan mata yang memerah karena marah dan putus asa.

"Aku tidak peduli kalau seluruh dunia ini hancur, yang penting istriku bisa hidup kembali."

Arga mengangkat goloknya dan berlari dengan nekat menuju bibir danau beracun tersebut.

"Ayah, jangan bertindak bodoh."

Natasya berteriak sangat kencang mencoba menghentikan ayahnya yang sudah dikuasai oleh keputusasaan.

"Dasar manusia egois yang tidak tahu diri."

Salamander raksasa itu menggeram marah melihat Arga yang bersikeras mencoba mendekati pulaunya.

"Akan kuleburkan tubuh rapuhmu itu menjadi tulang belulang malam ini juga."

Salamander itu membuka mulutnya lebar-lebar dan bersiap menyemburkan uap racun panas ke arah Arga.

Gaga yang menyadari bahaya mematikan itu langsung melompat dari tempatnya berada.

Serigala raksasa itu menerjang punggung Arga dari belakang hingga pria itu terjatuh ke tanah lumpur.

Syuuuut.

Semburan uap berwarna hijau pekat melesat cepat melewati tempat Arga berdiri sedetik yang lalu.

Uap beracun itu menghantam sebuah batang pohon mati di belakang mereka.

Dalam sekejap mata, batang pohon besar itu melepuh dan hancur lebur terkena korosi racun yang sangat kuat.

"Lepaskan aku, dasar serigala liar."

Arga meronta-ronta di bawah tindihan kaki depan Gaga yang menahannya dengan kuat di tanah.

"Aku harus berenang ke sana dan mengambil bunga itu sekarang juga untuk Mira."

"Ayahmu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, Natasya."

Gaga menekan tubuh Arga semakin kuat agar pria itu tidak melakukan tindakan bunuh diri yang konyol.

"Uap racun tadi membuktikan bahwa monster itu sama sekali tidak main-main dengan ancamannya."

Natasya melompat turun dari punggung Gaga dan berlari menempatkan dirinya di antara ayahnya dan salamander itu.

Gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk melindungi ayahnya dari serangan lanjutan.

"Tolong jangan bunuh ayahku, Tuan Salamander."

"Ayahmu baru saja mencoba menghancurkan keseimbangan hutan ini demi keegoisannya sendiri."

Salamander itu kembali menutup mulutnya namun matanya masih menatap tajam ke arah keluarga kecil tersebut.

"Hukum alam di hutan ini sangat sederhana, siapa yang mencoba merusak harus mati sebagai bayarannya."

"Ayahku hanya sedang sedih dan putus asa karena sangat mencintai ibuku."

Natasya tidak bergeser satu inci pun dari tempatnya berdiri meskipun lututnya gemetar ketakutan.

"Pasti ada cara lain untuk menyembuhkan ibuku tanpa harus mencabut bunga teratai merah itu kan?"

Salamander raksasa itu terdiam cukup lama mendengar pertanyaan penuh harap dari anak manusia di depannya.

"Kamu memang anak yang sangat berani dan tidak mementingkan diri sendiri."

"Tapi sayangnya, tidak ada obat lain di dunia ini yang bisa menyembuhkan penyakit kutukan demam darah."

Mendengar jawaban mutlak itu, tangis Natasya akhirnya pecah tak tertahankan.

Gadis kecil itu jatuh terduduk di atas tanah basah sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya.

Arga yang perlahan mulai mendapatkan kesadarannya kembali hanya bisa menatap putrinya dengan tatapan kosong.

"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Natasya bergumam disela-sela isak tangisnya yang menyayat hati di tengah kesunyian danau beracun.

"Apa aku benar-benar harus membiarkan ibuku mati pelan-pelan di rumah sana?"

Suasana di sekitar danau berubah menjadi sangat hening dan muram hanya diisi oleh suara tangis Natasya.

Salamander tua itu perlahan menenggelamkan setengah tubuhnya kembali ke dalam air ungu yang beriak pelan.

"Takdir kematian adalah siklus alami yang tidak bisa dilawan oleh makhluk manapun, anak manusia."

"Aku tidak mau menerima takdir seperti itu."

Natasya tiba-tiba mendongakkan kepalanya dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tajam.

Air matanya masih mengalir namun ada tekad baru yang menyala terang di balik mata bulatnya.

"Aku akan mencari cara untuk mengambil kekuatan penyembuh dari bunga itu tanpa harus mencabut akarnya."

Natasya bangkit berdiri dan menatap lurus menantang mata kuning salamander raksasa tersebut.

"Aku berjanji tidak akan merusak hutan ini, jadi tolong berikan aku satu kesempatan untuk membuktikannya padamu."

Salamander itu tertegun sejenak melihat aura keteguhan yang memancar kuat dari tubuh kecil Natasya.

"Kata-katamu terdengar sangat sombong untuk ukuran anak manusia yang bahkan tidak bisa berenang."

Monster purba itu mendengus pelan dan kembali mengangkat tubuhnya ke atas permukaan air.

"Tapi baiklah, aku akan memberimu waktu sampai matahari terbit untuk membuktikan omong kosongmu itu."

1
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!