Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Api Cemburu Sang Pemangsa
Malam di lantai dua kantor pusat Nusantara Industri Utama terasa sangat sunyi setelah sebagian besar karyawan pulang. Di dalam ruang kerjanya yang remang-remang, Rendy berdiri menatap kegelapan di balik dinding kaca. Di tangannya, gelas keramik berisi kopi hitam dingin tercengkeram begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar tegang.
Bayangan Alya yang melingkarkan tangannya di lengan Kai Aditya tadi sore terus berputar di dalam ingatannya, bagaikan sembilu yang mengiris-iris dadanya tanpa henti.
Tidak mungkin! Ini tidak bisa dibiarkan! geram Rendy dalam hati, napasnya memburu keras.
Rasa tidak terima yang amat sangat merayap membakar seluruh akal sehatnya. Selama bertahun-tahun, dalam narasi picik yang dibangun oleh egonya sendiri, Rendy merasa dialah sang pahlawan. Dialah pria 'hebat' yang berlapang dada menerima Alya yang gemuk, minder, dan tidak menarik saat orang lain enggan mendekatinya. Dialah yang bersedia memasang wajah ramah di samping perempuan itu!
Bagaimana bisa sekarang ada pria sesempurna Kai Aditya—seorang konglomerat muda, tampan, berwibawa—yang justru menatap Alya dengan binar cinta yang begitu terbuka dan nyata? Bagaimana bisa pria seperti Kai merebut perempuan yang selama ini dianggap Rendy sebagai 'hak milik' pribadinya?
"Tidak ada laki-laki yang sungguh-sungguh mau sama perempuan gemuk seperti dia!" bisik Rendy pada ruangan yang hampa, suaranya parau oleh kecemburuan yang membabi buta. "Kai pasti cuma mengincar saham Nusantara Industri Utama! Dia cuma memanfaatkan Alya! Cuma aku... cuma aku yang betul-betul menerima dia apa adanya selama ini!"
Pintu ruangan terdorong terbuka secara kasar. Siska melangkah masuk tanpa mengetuk, wajahnya cemberut dan penuh rasa kesal yang sudah menumpuk di ubun-ubun.
"Rend! Kamu masih di sini?" teringat Siska ketus seraya melempar tas tangannya ke atas sofa. "Aku sudah menunggumu setengah jam di lantai bawah! Katanya mau antar aku periksa kandungan malam ini!"
Rendy tidak membalikkan badannya. Ia hanya menyunggingkan senyum sinis yang amat dingin seraya menyesap kopinya yang pahit. "Periksa saja sendiri, Siska. Kamu kan punya kaki dan punya uang."
Siska membelalakkan matanya tak percaya, hatinya serasa dihantam batu besar. Ia melangkah cepat mendekati Rendy dan menarik lengan kemeja pria itu. "Kamu bicara apa sih, Rend?! Ini anakmu! Anak kita! Kenapa sikapmu jadi dingin begini sejak Alya pingsan?! Kamu beneran sudah tergila-gila sama cewek gemuk itu, ya?!"
Rendy memutar tubuhnya secara mendadak. Tatapan matanya yang merah dan liar mengunci wajah Siska dengan kebencian yang mendalam.
"Jangan pernah sebut Alya dengan nada seperti itu lagi, Siska!" bentak Rendy, suaranya menggelegar menembus keheningan ruangan.
Siska tersentak mundur, napasnya tertahan karena kaget. "R-Rend... kamu bentak aku lagi cuma gara-gara Alya?"
"Alya itu punya harga diri!" desis Rendy seraya memajukan tubuhnya, menunjuk muka Siska dengan telunjuk yang gemetaran oleh amarah. "Alya tidak pernah menuntut macam-macam dariku! Dia tidak pernah merengek meminta barang mewah atau menguras tabunganku seperti yang kamu lakukan selama ini! Dan kamu tahu apa yang paling membuatku muak?!"
"A-apa...?" bisik Siska dengan bibir bergetar, air mata cemburu mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Alya tidak pernah berkhianat padaku!" tegas Rendy penuh dominasi palsu yang konyol. "Sedangkan kamu? Kamu cuma benalu yang masuk ke dalam hidupku, merusak hubunganku dengan Alya, dan sekarang membuat posisi finansialku terancam!"
Siska tertawa histeris—sebuah tawa keputusasaan yang sumbang. "Aku benalu?! Ya Tuhan, Rendy! Yang mengajakku berselingkuh itu kamu! Yang merencanakan menyingkirkan Alya dari perusahaan itu kamu! Sekarang saat kamu melihat Kai Aditya memperlakukan Alya seperti ratu, kamu malah menyalahkan aku?! Kamu cemburu, kan?! Kamu tidak terima melihat Alya bahagia bersama laki-laki yang jauh lebih kaya dan tampan darimu!"
PLAK!
Sebuah tamparan keras tidak bisa ditahan lagi oleh Rendy. Siska terhuyung ke samping, memegangi pipinya yang terasa panas dan memerah.
"Diiam kamu, Siska!" geram Rendy dengan rahang mengeras rapat. "Kai Aditya tidak pernah tulus sama Alya! Pria seperti Kai hanya memanfaatkan kelemahan Alya! Cuma aku yang tahu cara memperlakukan Alya! Cuma aku yang sanggup menerima Alya dengan segala kekurangannya!"
Siska menatap Rendy dengan rasa jijik dan penyesalan yang mendalam. Pipinya yang sakit tidak sebanding dengan rasa hancur di dadanya. Pria yang selama ini ia bela dan ia harapkan menjadi pelindung hidupnya ternyata adalah seorang manipulator sakit jiwa yang kini terobsesi pada wanita yang pernah mereka tindas bersama.
"Kamu sudah gila, Rendy..." bisik Siska seraya menyeka air matanya kasar. "Kamu benar-benar sudah gila. Alya bahkan tidak sudi melihat mukamu lagi! Dia sudah milik Kai Aditya!"
"Alya itu milikku!" potong Rendy dengan teriakannya yang membabi buta. "Dan aku tidak akan biarkan laki-laki mana pun merebutnya dariku!"
Tanpa memedulikan tangisan Siska, Rendy menyambar jas dan kunci mobilnya di meja, lalu melangkah keluar ruangan dengan derap langkah yang sangat cepat dan dipenuhi niat gelap.
Sementara itu, di sebuah restoran elegan bertema atap terbuka (rooftop) dengan pemandangan lanskap malam Jakarta yang memukau.
Suasana di meja makan VIP terasa sangat romantis dan tenang. Alunan musik jazz lembut dari pemain piano di sudut ruangan mengalir mengiringi malam. Cahaya lilin kecil membiaskan pendar emas di atas gelas kristal dan wajah cantik Alya.
Alya mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang dibeli khusus untuk acara malam ini. Gaun itu membingkai siluet tubuhnya yang kian proposional dan bugar dengan sangat sempurna. Di hadapannya, Kai duduk dengan kemeja hitam yang dikancing rapi, memandangi Alya tanpa berkedip.
"Kenapa memandangiku seperti itu, Kai?" tanya Alya seraya tersenyum malu-malu, jemarinya memainkan tangkai gelas minumannya.
Kai menyunggingkan senyum paling hangat, lalu mengulurkan tangannya di atas meja untuk merengkuh jemari Alya.
"Saya cuma sedang mengagumi betapa beruntungnya saya malam ini," jawab Kai, suaranya begitu rendah dan merdu. "Wanita di hadapan saya ini bukan cuma Direktur Operasional yang sangat cerdas, tapi juga wanita paling memesona di seluruh ruangan ini."
Alya tertawa pelan, rasa hangat yang tulus meluap di dalam dadanya. "Kamu pintar sekali memuji. Padahal dulu... aku selalu merasa diriku ini serba kekurangan. Tubuhku yang besar sering jadi bahan tertawaan orang-orang."
Kai mempererat genggaman tangannya, menatap mata Alya dengan kejujuran yang begitu murni tanpa ada sedikit pun kepalsuan.
"Alya, dengarkan saya," tutur Kai dengan ketegasan yang lembut. "Bagi saya, kamu tidak pernah kekurangan satu hal pun. Kecantikanmu itu datang dari keberanian jiwamu, dari kebaikan hatimu, dan dari keteguhan caramu berdiri tegak melawan masa lalu. Bentuk tubuh atau penilaian orang lain tidak pernah mengurangi sedikit pun nilai kesempurnaanmu di mata saya."
Kata-kata Kai bagaikan penawar racun yang menyembuhkan seluruh sisa-sisa luka emosional Alya di masa lalu. Air mata haru yang hangat menggenang pelan di sudut mata Alya. Ia merasa benar-benar dihargai, dicintai, dan dihormati sebagai seorang wanita seutuhnya.
"Terima kasih, Kai..." bisik Alya tulus. "Bersamamu... aku baru paham bagaimana rasanya dicintai tanpa harus merasa cemas atau takut."
Kai tersenyum, mengangkat jemari Alya lalu mengecup punggung tangannya dengan sangat takzim. "Itu janji saya, Alya. Selamanya."
Namun, keharmonisan malam yang sempurna itu mendadak terganggu oleh kekacauan di area pintu masuk VIP restoran.
"Maaf, Pak! Anda tidak bisa masuk tanpa reservasi! Ini area privat!" suara petugas keamanan restoran terdengar mencoba menahan seseorang.
"Lepaskan saya! Saya cuma mau bicara sama calon istri saya!" teriak sebuah suara yang sangat familier dengan nada kasar dan emosional.
Alya dan Kai refleks menoleh ke arah pintu masuk.
Rendy berdiri di sana dengan kemeja yang kusut, rambut berantakan, dan mata yang merah liar oleh kemarahan serta pengaruh alkohol tipis yang baru saja ia minum di jalan. Dua petugas keamanan restoran kewalahan menahan dorongan tubuh Rendy yang membabi buta.
Pandangan mata Rendy yang liar seketika mengunci meja Alya dan Kai. Melihat Kai sedang memegang tangan Alya dengan mesra di bawah pendar cahaya lilin romantis... ledakan emosi di dalam dada Rendy pecah sepenuhnya.
"ALYA!" jerit Rendy histeris seraya menghempaskan salah satu petugas keamanan hingga terdorong ke samping.
Pria itu berlari kencang menuju meja mereka.
Kai bergerak refleks dengan kecepatan yang luar biasa. Sebelum Rendy sempat menggapai meja atau menyentuh Alya, Kai sudah berdiri tegap, memotong jalur Rendy dan menahan dada Rendy dengan satu dorongan tangan yang sangat kuat.
BRUK!
Rendy terdorong tiga langkah ke belakang, hampir kehilangan keseimbangannya.
"Jaga langkahmu, Rendy!" bentak Kai dengan suara menggelegar penuh otoritas, aura kepemimpinannya yang dingin dan mematikan seketika menguasai seluruh restoran.
Rendy memegangi dadanya yang sesak, matanya menatap Kai dengan rasa benci dan iri yang meluap-luap.
"Jangan ikut campur, Kai Aditya!" teriak Rendy dengan napas memburu, menunjuk muka Kai dengan telunjuk gemetaran. "Ini urusanku sama Alya! Kamu tidak punya hak berdiri di antara kami!"
Alya berdiri dari kursinya, melangkah perlahan dan berdiri di samping Kai dengan raut wajah yang sangat dingin, tanpa ada sedikit pun rasa takut yang tersisa.
"Aku yang memberi Pak Kai hak itu, Rendy," kata Alya dengan suara yang jernih, tenang, dan tajam bagaikan pisau es. "Dan kamu... kamu tidak punya hak apa pun lagi atas hidupku."
Rendy menatap Alya, matanya berkaca-kaca oleh emosi egois yang menggerogoti jiwanya. Ia melangkah satu tapak mendekat, memasang raut wajah penuh kesedihan yang dibuat-buat.
"Alya... tolong dengarkan aku sebentar saja, Al!" pinta Rendy dengan suara memohon yang kacau. "Laki-laki ini cuma memanfaatkanmu! Dia cuma mau mengambil saham perusahaannmu! Cuma aku, Al... cuma aku laki-laki yang bisa menerima kamu apa adanya! Cuma aku yang mau ada di sampingmu saat tubuhmu gemuk dan semua orang menjauhimu! Kenapa kamu berpaling pada pria asing ini?!"
Mendengar ucapan Rendy yang begitu percaya diri dan penuh narasi manipulatif, Alya justru terkekeh pelan—sebuah tawa tipis yang diisi oleh rasa kasihan yang mendalam atas kepicikan pria di hadapannya.
"Menerimaku apa adanya?" ulang Alya, tiap kata yang diucapkannya sarat akan penekanan yang dingin. "Rendy... kamu tidak pernah menerimaku apa adanya. Kamu cuma memanfaatkan ketidakpercayaandiriku dulu untuk memeras fasilitas keluargaku, menjadikanku sapi perahmu, dan membodohiku bersama Siska di belakangku!"
Wajah Rendy seketika pucat pasih. "A-Alya... aku—"
"Dengar baik-baik, Rendy," potong Alya tajam, matanya mengunci pandangan Rendy secara mutlak. "Kai Aditya tidak pernah melihatku sebagai 'perempuan gemuk' yang butuh dikasihani. Dia melihatku sebagai wanita yang bernilai, berharga, dan dicintai secara terhormat. Sesuatu yang tidak akan pernah sanggup dilakukan oleh pria kerdil dan serakah seperti kamu!"
Kai melangkah satu tapak lebih maju, merangkul pinggang Alya secara protektif dan menariknya rapat-rapt ke sisinya.
"Anda sudah mendengar sendiri jawaban dari Bu Alya, Pak Rendy," ujar Kai dengan nada suara yang sangat dingin dan berbobot tajam. "Jika Anda tidak segera mengangkat kaki dari restoran ini dalam waktu tiga puluh detik... saya pastikan laporan penahanan atas tindakan pelecehan, perusakan ketertiban umum, dan kasus penggelapan dana proyek Anda akan dieksekusi malam ini juga oleh kepolisian."
Empat orang pengawal pribadi Kai berjas hitam yang berdiri di area bawah restoran mendadak naik dan mengepung Rendy dari segala sisi dengan wajah tanpa ekspresi.
Rendy menelan ludah secara kasar. Rasa takut akan ancaman hukum dan kepungan pengawal berbadan tegap itu seketika meruntuhkan sisa-sisa keberanian alkoholnya. Namun, rasa cemburu dan kekalahan telaknya malam ini meninggalkan luka bernanah yang sangat dalam di dadanya.
Ia menatap Alya yang berdiri anggun di dalam dekapan protektif Kai—sosok wanita yang dulu bisa ia tindas dan permainkan sesuka hati, kini telah menjelma menjadi sang ratu yang benar-benar tak tergapai oleh jemarinya yang kotor.
"Kamu bakal menyesal, Alya..." bisik Rendy dengan suara gemetaran oleh kemarahan yang tertahan seraya mundur perlahan. "Kamu bakal menyesal memilih dia daripada aku!"
"Satu-satunya hal yang saya sesali..." balas Alya dengan senyuman paling dingin, "...adalah pernah mengenal pria sepertimu dalam hidupku."
Dengan napas terengah-engah dan wajah yang merah padam oleh rasa malu yang tak tertahankan, Rendy berbalik dan setengah berlari meninggalkan area restoran di bawah pengawalan ketat petugas keamanan.
Restoran kembali tenang. Udara malam yang sejuk menyapu lembut area atap terbuka tersebut.
Kai membalikkan tubuh Alya, menatap wajah wanita itu dengan kepedulian yang mendalam. "Kamu tidak apa-apa, Alya?"
Alya mendongak, menatap mata Kai yang penuh kehangatan, lalu menghembuskan napas panjang yang terasa begitu lega. Beban bayangan kecemasan masa lalu yang sempat mengikatnya kini telah musnah sepenuhnya.
"Aku tidak apa-apa, Kai," jawab Alya mantap seraya menyunggingkan senyum tulusnya yang paling indah. "Aku sangat tidak apa-apa."
Kai tersenyum lega, menarik Alya ke dalam pelukannya yang hangat di bawah pendar lampu kota Jakarta. Alya menyandarkan kepalanya di dada bidang Kai, menyadari bahwa kemenangan penuh atas pembalasan dendamnya sudah berada tepat di depan mata—dan kali ini, ia menyambutnya bersama cinta sejati yang membentenginya dengan sempurna.