Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Serikat Dagang dan Uji Coba Pertama
Kota Perbatasan Linjiang adalah kawah candradimuka di luar Pegunungan Shiwan. Tempat ini tidak dikuasai secara mutlak oleh Aliansi Ortodoks maupun Kultus Iblis. Di sini, pedagang kaya, buronan perang, hingga gangster faksi Unortodoks (Xie Pai) berbaur dalam kekacauan pasar gelap.
Di sudut jalan utama yang paling ramai, sebuah bangunan tiga lantai berdinding batu tebal berdiri megah. Di atas pintunya, tergantung papan nama kayu hitam bersulam benang perak jernih: Serikat Dagang Roda Bintang (Star-Gear Trading Guild).
Pagi itu, pembukaan resmi Serikat Dagang langsung menarik perhatian ratusan orang.
Di dalam aula lantai satu, barang-barang yang dipajang sama sekali berbeda dari toko senjata biasa.
Tang Jin-Bao berdiri di balik meja kasir raksasa dengan senyum lebar yang tak pernah luntur. Jarinya lincah menari di atas sempoa kayu.
"Mari, Mari! Pil Pemurni Saraf rasa mint alami! Dijamin bikin Dantian adem dan sirkulasi Ki lancar tanpa pusing-pusing!" teriak Jin-Bao heboh, melayani puluhan pedagang yang saling berebut memborong barang.
Di lantai dua yang menghadap ke jalanan, Cheon Ryeon duduk tenang menikmati cangkir teh hangat. Di sisinya, Gong Son-mi mengawasi suasana pasar dengan palu besinya yang tersandar di dinding, sementara Baek Hyun bergerak lihai di antara kerumunan sebagai pengawas bayangan.
"Bos," panggil Baek Hyun yang mendadak muncul di balik tirai kayu. "Ada pergerakan dari faksi Unortodoks lokal. Geng Serigala Hitam yang memegang pajak keamanan pasar Linjiang sedang menuju ke sini."
Ryeon menyeruput tehnya pelan, tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.
"Berapa orang?" tanya Ryeon datar.
"Tiga puluh orang," jawab Baek Hyun. "Pimpinannya bernama Fei Bao, master Ranah Pembentukan (Solidification) Puncak yang terkenal kejam dan suka memeras toko-toko baru."
Belum sempat Baek Hyun menyelesaikan laporannya, suara pintu kayu lantai bawah yang ditendang kasar bergema keras memecah keramaian!
BAM!
"Siapa pemilik toko sampah ini?! Keluar kalian!" teriakan kasar bergemuruh dari pintu utama.
Pengunjung toko yang ketakutan langsung berhamburan menepi ke dinding. Tiga puluh pria bertubuh tegap dengan jubah kulit serigala dan parang bergerigi melangkah masuk dengan angkuh.
Di paling depan, berdiri Fei Bao—pria bertubuh gempal berkepala botak dengan tato serigala merah melilit lehernya. Ia memikul sebatang gada besi bergerigi yang memancarkan aura Ki liar berwarna abu-abu.
"Gendut!" bentak Fei Bao menunjuk Jin-Bao di balik kasir. "Siapa yang mengizinkan kalian membuka usaha di Linjiang tanpa membayar sewa wilayah ke Geng Serigala Hitam?!"
Jin-Bao tidak panik. Dia menghentikan sempoanya, lalu menyunggingkan senyum ramah yang dibuat-buat.
"Ah, Tuan Fei Bao dari Geng Serigala Hitam," sahut Jin-Bao santai. "Serikat Dagang Roda Bintang kami beroperasi di bawah lisensi resmi netral. Kami tidak punya kewajiban membayar pajak ilegal."
"Pajak ilegal?!" Fei Bao murka, mukanya memerah menahan marah. "Di kota ini, kataku adalah hukum! Serahkan lima ribu koin emas dan setengah dari persediaan barang kalian sekarang, atau toko ini bakal kubakar jadi abu!"
"Membakar toko ini?"
Sebuah suara tenang dan dingin bergema dari arah tangga lantai dua.
Seluruh pandangan seketika tertuju ke atas. Cheon Ryeon melangkah turun dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah hitamnya. Di belakangnya, Gong Son-mi melangkah anggun membawa palu komposit raksasanya.
Fei Bao menatap Ryeon dari atas ke bawah, lalu tertawa mengejek bersama anak buahnya.
"Hahaha! Pemilik toko ini cuma seorang bocah ingusan?!" tawa Fei Bao pecah. "Linjiang beneran sudah kehabisan orang kuat sampai bocah bau kencur berani buka serikat dagang!"
"Bocah atau bukan, itu tidak penting," kata Ryeon datar saat tiba di dasar tangga. "Tapi mengancam aset Ordo Roda Bintang adalah kalkulasi paling buruk yang pernah kau buat hari ini."
"Sombong sekali!" Fei Bao mendesis murka. Ia mengangkat gada besinya yang seberat seratus kilogram, mengalirkan Ki abu-abu liar ke seluruh bilahnya. "Biar kuajarkan cara menghormati penguasa Linjiang!"
BAM!
Fei Bao menerjang maju bagaikan banteng liar, mengayunkan gada besinya menghantam lurus ke arah kepala Ryeon dengan daya hancur yang sanggup meremukkan pilar batu!
[Jurus Gada Pemecah Tengkorak!]
Namun, Ryeon bahkan tidak berkedip.
"Son-mi, uji coba Zirah Komposit Generasi Kedua," komando Ryeon dingin.
"Siap, Bos!"
STEP!
Gong Son-mi melompat ke depan Ryeon. Ia tidak mengayunkan palunya, melainkan cukup mengangkat perisai komposit di lengan kirinya mendatar untuk menahan hantaman gada besi tersebut!
TRANGGG!
Benturan dahsyat antar-logam menggelegar di dalam aula! Gelombang angin kinetik terhempas mematikan lilin-lilin di dinding.
Fei Bao terbelalak kaget setengah mati! Tangannya yang memegang gada besi bergetar hebat hingga telapak tangannya pecah berdarah akibat efek pembalikan gaya!
Gada besi seratus kilogramnya membalas memantul ke atas, sementara gadis di depannya... sama sekali tidak bergerak mundur satu milimeter pun!
"B-bagaimana bisa?! Perisai tipis itu menahan gada Ranah Pembentukan Puncak-ku?!" pekik Fei Bao tak percaya.
"Karena struktur zirah ini menyerap dan membalikkan energi benturanmu sendiri," sahut Son-mi dingin.
Sebelum Fei Bao sempat menarik kembali gadanya, Son-mi memutar pinggulnya 45 derajat dan mengayunkan siku zirahnya menghantam tepat di rusuk kanan Fei Bao!
BOOM!
"GUAAGH!"
Fei Bao menyemburkan air liur bercampur darah. Tiga tulang rusuknya patah seketika saat tubuh besarnya terlempar ke udara sejauh delapan meter, menghantam pintu toko hingga hancur berkeping-keping dan terseret di jalanan batu pasar!
Tiga puluh anak buah Geng Serigala Hitam yang berdiri di dalam toko membeku seketika. Wajah mereka pucat pasi seputih kertas, menatap Son-mi dan Ryeon dengan ketakutan luar biasa. Pimpinan mereka yang ditakuti seluruh pasar... dilumpuhkan hanya dalam satu kali pukulan refleks!
Ryeon melangkah keluar dari pintu toko yang hancur, menatap Fei Bao yang merintih kesakitan di atas tanah berlumpur jalanan.
Ratusan pedagang dan pengunjung pasar Linjiang berkumpul mengelilingi tempat itu, menatap kejadian tersebut dengan mata melotot tak percaya.
"Dengar seluruh penghuni Kota Linjiang," suara Ryeon bergema tenang namun dipenuhi aura wibawa yang menusuk sampai ke tulang belulang mereka. "Serikat Dagang Roda Bintang datang untuk berdagang secara adil. Tapi siapa pun faksi yang mencoba memeras atau mengusik aset kami... bakal berakhir seperti Geng Serigala Hitam."
Ryeon melirik Jin-Bao. "Jin-Bao, catat kerugian kerusakan pintu toko kita. Ambil seluas lima puluh persen dari aset gudang Geng Serigala Hitam sebagai ganti rugi."
"Siap, Bos!" seru Jin-Bao dengan cengiran lebar, langsung mencatat di lembaran kertasnya.
Fei Bao yang ketakutan setengah mati hanya bisa mengangguk-angguk pasrah sambil memegangi rusuknya yang patah. "A-kami mengerti! Kami bakal serahkan aset kami! Ampuni nyawa kami!"
"Mundur!" teriak anak buahnya panik, memapah Fei Bao dan lari terbirit-birit meninggalkan pasar Linjiang.
Sorak-sorai dan bisik-bisik kagum mendadak meledak dari ratusan pedagang di sekitar jalanan!
Hari itu, nama Serikat Dagang Roda Bintang dan Cheon Ryeon resmi mengukuhkan taji mereka di Kota Perbatasan Linjiang. Pintu ekspansi logistik dan jaringan informasi mereka menuju Central Plains... kini resmi terbuka lebar!