KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

CHAPTER 1

Jejak Langkah dan Mimpi yang Bertumbuh

​Sore mulai merambat turun ketika sebuah mobil sedan putih memelankan laju dan berhenti tepat di depan bangunan dua lantai bertuliskan Anindiya Bridal & Makeup. Di luar, jalanan utama Kota A masih padat oleh kendaraan warga yang baru saja menyelesaikan jam kerja. Suara klakson sesekali bersahutan di tengah hiruk-pikuk langkah orang-orang yang tergesa mengejar waktu.

​Anindiya mematikan mesin mobil, lalu menyandarkan tubuhnya sejenak ke sandaran kursi. Kedua bahunya terasa amat pegal setelah seharian penuh bekerja tanpa menyisakan jeda untuk beristirahat. Sejak pukul tiga dini hari tadi, ia sudah bersiap di rumah calon pengantin, memastikan setiap goresan kuas dan detail riasan menempel sempurna hingga prosesi akad nikah selesai.

​Sambil menghela napas panjang, ia mengusap pelan tengkuknya yang terasa kaku.

​"Alhamdulillah..." bisiknya pelan.

​Satu kata sederhana itu selalu berhasil mengukir senyum di wajahnya, seberapa pun lelahnya hari yang baru saja berlalu.

​Ia meraih koper hitam tebal berisi perlengkapan rias dari kursi belakang. Bobotnya yang lumayan berat membuat otot lengannya menegang, tetapi Anindiya sudah terbiasa. Selama delapan tahun terakhir, koper itu telah menjadi saksi bisu dan teman setia yang menemaninya berpindah dari satu pesta pernikahan ke pesta lainnya.

​Saat pintu kaca sanggar didorong terbuka, udara sejuk pendingin ruangan langsung menyapa kulitnya. Aroma bunga melati yang lembut berpadu samar dengan wangi bedak dan parfum kosmetik—aroma khas yang selalu menyambutnya pulang.

​Anindiya menghentikan langkah di ambang pintu, membiarkan pandangannya menyapu seluruh penjuru ruangan.

​Di balik lemari kaca yang dipasangi lampu sorot lembut, deretan gaun pengantin berdiri anggun. Sofa empuk di ruang konsultasi tertata rapi, bersanding dengan beberapa album foto portofolio di atas meja kayu.

​Bangunan ini bukan sekadar tempat ia mencari nafkah. Di sinilah tempat mimpi-mimpinya yang dulu terasa mustahil perlahan mewujud nyata.

​Anindiya masih ingat betul masa-masa sulitnya. Dulu, ia hanya menerima jasa rias panggilan dari rumah sederhana milik ibunya, berbekal peralatan seadanya dan modal nekat. Sedikit demi sedikit ia menyisihkan penghasilan, membeli kursi rias yang lebih layak, menyewa sepetak ruko kecil, hingga akhirnya mampu berdiri di sanggar miliknya sendiri.

​Jalannya tentu tidak pernah mulus. Pernah ada masa ketika dalam sebulan ia hanya mendapatkan dua pelanggan. Ada pula momen-momen pahit saat ia hampir menyerah karena seluruh tabungannya habis hanya untuk membayar sewa tempat. Namun, tiap kali melihat mata seorang pengantin berbinar bahagia saat menatap cermin, keyakinan Anindiya selalu kembali tegak.

​Inilah dunia yang ia cintai.

​Kling!

​Suara bel di atas pintu memecahkan lamunannya. Rina melangkah masuk dari arah pintu samping sambil membawa dua gelas plastik kopi dingin.

​"Belum sempat minum kan, Mbak?" tanya Rina seraya menyodorkan salah satu gelas.

​Anindiya menyambut gelas itu dengan senyum lega. "Kamu seperti tahu saja apa yang lagi aku butuhin."

​"Kelihatan dari muka lelahnya Mbak Anin," seloroh Rina diiringi tawa kecil.

​Tiga tahun bekerja berdampingan membuat Rina hafal betul kebiasaan atasannya. Kalau sudah terhanyut dalam urusan pekerjaan, Anindiya kerap lupa makan, lupa minum, bahkan abai pada rasa lelahnya sendiri.

​Anindiya menyesap kopi dinginnya perlahan, membiarkan rasa manis dan dingin mengalir menenangkan kerongkongannya. "Gimana sanggar hari ini, Rin? Ramai?"

​Rina menyandarkan pinggulnya ke tepi meja konsultasi. "Lumayan, Mbak. Tadi ada beberapa calon pengantin yang telepon. Katanya tahu sanggar kita dari unggahan makeup terbaru di media sosial."

​"Syukurlah kalau begitu."

​"Tapi..." Rina menggantung kalimatnya, ragu-ragu.

​Anindiya menghentikan seruputan kopinya dan menoleh. "Kenapa?"

​"Beberapa dari mereka juga nanya, apa kita ada koleksi gaun model baru untuk musim ini?"

​Pertanyaan itu membuat Anindiya terdiam. Perlahan, pandangannya beralih menatap deretan gaun di balik lemari kaca.

​Gaun-gaun itu masih terlihat sangat indah. Putih, bersih, dan dirawat dengan ketelitian tinggi. Namun, Anindiya tidak bisa memungkiri bahwa tren fashion pengantin bergerak jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan.

​Ia melangkah mendekati etalase, lalu membuka pintunya sedikit untuk merapikan ujung salah satu gaun sutra yang agak bergeser dari gantungannya. Gaun itu dulu adalah primadona—hampir setiap minggu ada saja pengantin yang memesannya. Namun kini, gaun itu sudah berbulan-bulan hanya berdiri diam di tempatnya.

​"Aku rasa..." kata Anindiya pelan, lebih menyerupai gumaman untuk dirinya sendiri, "koleksi kita memang sudah mulai ketinggalan zaman."

​Rina mendekat dan ikut memandangi gaun-gaun tersebut. "Selera orang sekarang memang makin cepat berubah, Mbak. Kalau lihat di media sosial, model gaun baru dari desainer luar selalu bermunculan tiap minggu."

​Anindiya mengangguk paham. Industri pernikahan adalah industri yang terus berputar. Apa yang dianggap mewah dan elegan tahun lalu, belum tentu masih diminati hari ini.

​"Aku pengin cari gaun yang beda, Rin," ujar Anindiya tegas, matanya memancarkan keseriusan seorang profesional. "Sesuatu yang punya karakter. Yang nggak cuma ngikutin tren, tapi punya daya tarik sendiri."

​Rina tersenyum tipis, mengerti betul ambisi atasannya. "Ya sudah, besok kita keliling cari vendor atau butik baru."

​Anindiya menoleh, sedikit terkejut. "Kamu mau ikut?"

​"Ya mau lah. Kalau Mbak keliling sendiri, nanti malah lupa waktu lagi," goda Rina.

​Anindiya terkekeh pelan. "Justru aku senang banget kalau ada temannya. Biar ada yang kasih pertimbangan."

​"Sip. Berarti besok agenda kita resmi: berburu gaun!" Rina menaikkan gelas kopinya seolah mengajak bersulang.

​Anindiya ikut tersenyum dan menyentuhkan gelasnya pelan. "Semoga besok kita pulang bawa kabar baik."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!