Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 16
Tiga hari berlalu sejak pembantaian dua puluh ekor prajurit terbaik Ying Long di halaman Cypress Flats. Anehnya, suasana kota Los Santos mendadak hening. Teror dari Lee Dong, pesan-pesan gelap, maupun kejutan serangan mendadak hilang tanpa bekas, seolah sindikat Tionghoa itu telah ditelan bumi. Luka kekalahan beruntun, kematian Tuu Lee, hilangnya Shen, dan hancurnya puluhan prajurit terbaik benar-benar memukul telak benteng kekuatan Lee Dong hingga ia terpaksa mundur ke dalam bayang-bayang.
Melihat situasi yang relatif aman ini, Franklin, Lamar, dan Andika memanfaatkan momen untuk membersihkan aset terakhir mereka. Pintu besi gudang Cypress Flats dibuka lebar-lebar.
"Kita tidak bisa membiarkan ribuan peluru dan peti-peti amunisi ini membusuk di sini," ujar Franklin sambil menggeser peti kayu berisi AK-47. "Lee Dong sedang tiarap, tapi LSPD bisa kapan saja mengendus tempat ini kalau kita terlalu lama bertahan."
"Setuju," sahut Lamar yang sedang memoles dasbor mobilnya. "Saya sudah hubungi koneksi dari Families, Vagos, sampai geng-geng kecil di South Los Santos. Mereka haus amunisi dan siap bayar tunai."
Selama dua hari penuh, mereka bertiga sibuk mengurus transaksi bawah tanah. Satu per satu truk pikap milik gangster-gangster Los Santos datang dan pergi dari Cypress Flats, menukar tumpukan uang tunai dengan peti-peti amunisi rampasan mereka.
Dalam waktu singkat, seluruh stok amunisi di dalam gudang besar itu habis terjual tanpa tersisa satu peluru pun. Gudang Cypress Flats kini kembali kosong melompong, menyisakan tumpukan uang tunai segar yang siap mereka bagi rata sebelum akhirnya mengunci rapat gerbang besi tempat bersejarah tersebut.
Sore harinya, mereka bertiga berkumpul di samping kendaraan masing-masing di halaman luar gudang. Andika menyandarkan badannya di Chopper Scorpio hitam mengkilat miliknya, Franklin bersandar di pintu sedan hitamnya, dan Lamar duduk santai di atas kap mobilnya.
"Stok amunisi habis, uang di kantong tebal," kata Franklin memecah keheningan sore, menatap dua kawannya. "Tapi ini artinya bisnis amunisi kita resmi selesai."
Lamar mendesah pelan, hembusan asap rokoknya membumbung ke udara. "Ya... tanpa Little Jacob, kita tidak punya akses lagi ke pemasok utama di Liberty City. L.J. satu-satunya orang yang punya koneksi laut dan udara ke pangkalan penyelundup di timur. Kita bertiga tidak kenal siapa-siapa di sana."
Rasa kehilangan atas sosok Little Jacob kembali berdesir pelan, namun tidak ada raut penyesalan di wajah mereka. Jalur amunisi itu telah memberi mereka kehormatan, uang puluhan juta rupiah, dan pertarungan yang akan dikenang jalanan Los Santos.
"Tidak masalah," potong Andika tenang, merapikan sarung tangan kulitnya. "Yang penting dendam L.J. sudah terbayar tuntas dan Lee Dong sudah tidak berkutik. Soal bisnis baru, jalanan kota ini terlalu luas untuk dibikin bingung."
Franklin tersenyum tipis, mengangguk setuju. "Pikiran yang bagus, Andika. Kita istirahat dulu beberapa hari, nikmati uang hasil penjualan ini, dan kembali ke rumah masing-masing. Nanti kita kumpul lagi untuk memikirkan bisnis apa yang bakal kita putar selanjutnya."
"Siap, homies! Saya mau kembali ke Davis, mau menikmati kasur empuk dan bersantai dulu," seru Lamar tertawa renyah, melambaikan tangan dari dalam mobilnya.
Lamar melesat lebih dulu menuju arah South Los Santos. Franklin menyalami Andika dengan jepitan tangan khas jalanan, lalu meluncur tancap gas menuju kediamannya di La Puerta.
Andika mengenakan helmnya, melompat naik ke atas jok kulit Chopper Scorpio hitam mengkilatnya, lalu memutar kunci kontak.
BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!
Raungan gahar mesin 225cc kustom itu membelah sore hari di kawasan industri Cypress Flats. Andika menancap gas, membawa Chopper-nya meluncur tenang menembus aspal Los Santos, kembali ke kediamannya dengan kantong tebal, kendaraan gahar, dan kepala tegap siap menyambut lembaran baru di kota keras tersebut.
Hari-hari setelah habisnya stok amunisi di Cypress Flats berjalan sangat tenang dan memanjakan. Uang tunai puluhan juta rupiah hasil pembagian penjualan senjata bersiaga rapi di dalam dompet dan tempat penyimpanan Andika.
Untuk menikmati keringat dan darah yang telah terbayar tuntas, Andika kerap menghabiskan malamnya di kelab-kelab malam mewah kawasan pusat kota. Di bawah pendar lampu neon dan dentuman musik bass, ia duduk santai di sofa VIP, dikelilingi beberapa gadis cantik yang siap menemaninya merayakan hidup sambil meneguk minuman mahal. Di lain kesempatan, jika ingin suasana yang lebih akrab, Andika bersama Franklin dan Lamar sering kumpul bertiga di bar langganan, minum bir hingga larut malam sembari mengingat kembali aksi-aksi gila mereka di jalanan.
Namun, di balik riuk keriuhan malam, Andika punya cara tersendiri untuk merawat jiwanya.
Sore hari sering kali menjadi momen favoritnya. Menunggangi Chopper Scorpio hitam mengkilatnya yang gahar, Andika membelah aspal menuju pesisir pantai Vespucci. Di sana, duduk sendirian di atas pasir pantai sambil menatap matahari terbenam yang perlahan tenggelam di garis samudera, ia menikmati sebotol bir dingin dan hembusan asap rokoknya. Gemuruh ombak pantai memberi ketenangan hakiki—sebuah jeda yang sangat berharga setelah melewati neraka baku tembak dan aroma mesiu yang pekat.
Suatu pagi yang cerah, saat matahari baru saja meninggi di langit Los Santos.
Franklin sedang berada di rumah Andika. Keduanya duduk santai di teras depan sambil menikmati kopi hangat dan mengobrol ringan. Tiba-tiba, ponsel pintar milik Andika berdering nyaring di atas meja kayu.
Nama Lamar tertera di layar. Andika menggeser tombol hijau dan menyalakan speaker.
"Yo, Andika! Kau sedang sama Franklin tidak?" suara Lamar terdengar sangat antusias sekaligus tidak sabaran di seberang telepon.
"Iya, Frank lagi di rumahku ini, Mar. Ada apa pagi-pagi sudah menelpon?" jawab Andika datar.
"Bagus kalau begitu! Kalian berdua cepat datang ke taman kota sekarang juga!" seru Lamar bergegas. "Uang hasil amunisi kita sudah mulai menyusut kalau dipakai bersenang-senang terus, man! Saya butuh kalian berdua di sini untuk bantu saya memutar otak, kita harus cari ide bisnis baru secepatnya!"
Franklin yang mendengar suara Lamar langsung terkekeh pelan dari samping. "Dasar Lamar, otaknya tidak pernah berhenti berputar kalau soal uang."
"Siap, Mar. Kami meluncur ke taman sekarang," balas Andika singkat sebelum mematikan sambungan telepon.
Tanpa membuang waktu, Andika dan Franklin berdiri merapikan pakaian mereka. Karena Franklin tidak membawa mobilnya pagi itu, mereka memutuskan untuk berangkat bersama menggunakan kendaraan andalan Andika.
Andika melangkah mendekati Chopper Scorpio hitam mengkilat yang terparkir gagah di halaman. Ia memutar kunci kontak dan menginjak engkol starter.
BHRRUMMM! BLEGAR-BLEGAR-BLEGAR!
Raungan knalpot kustom mesin 225cc itu membahana gagah memecah keheningan pagi. Andika melompat naik ke jok utama, sementara Franklin menyusul naik di jok belakang, menepuk bahu Andika.
"Gass, Bro! Kita lihat ide gila apa lagi yang ada di kepala Lamar pagi ini!" seru Franklin tertawa.
Andika menyeringai tipis dari balik helmnya, menarik tuas gas, dan Chopper Scorpio hitam mengkilat itu tancap gas meluncur mulus menembus jalanan pagi Los Santos menuju taman kota menyusul Lamar.