NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 09 - Rapat Keluarga

Keesokan paginya, rumah Ratna sudah seperti posko.

Dimas datang membawa istrinya, Yuni, dan anak laki-laki mereka yang masih kelas empat SD. Anak itu diminta bermain di kamar belakang, jauh dari percakapan orang dewasa. Raka datang lebih pagi, rambutnya masih basah setelah mandi di kamar mandi luar. Melati datang dengan Rizal, wajah sembap karena kurang tidur. Ia membawa anaknya, tetapi anak itu dititipkan pada tetangga dekat selama beberapa jam.

Bambang duduk di kursi paling ujung ruang tengah, wajahnya gelap.

Ratna membuat teh untuk semua orang.

Kebiasaan lama sulit mati. Bahkan ketika hatinya sedang hancur, tangannya tetap bergerak mengambil gelas, menuang air panas, menata piring kecil berisi pisang goreng.

Raka melihat itu dan langsung berdiri.

"Bu, sudah. Biar aku."

"Tidak apa-apa."

"Ibu duduk."

Nada Raka tidak memberi ruang bantahan. Ia mengambil teko dari tangan Ratna. Yuni cepat membantu menata gelas.

Bambang menyindir, "Sekarang kalian memperlakukan ibumu seperti ratu."

Raka menjawab tanpa melihatnya, "Harusnya dari dulu."

Suasana langsung menegang.

Dimas menepuk lututnya sendiri. "Kita mulai saja. Semakin lama semakin tidak enak."

Melati mengangguk cepat. "Iya. Kita cari jalan baik."

Ratna duduk di kursi tengah. Ia tidak meminta posisi itu, tetapi semua orang seperti otomatis memberi ruang. Untuk pertama kalinya, keluarga ini berkumpul bukan untuk mendengar suara Bambang, melainkan menunggu keputusan Ratna.

Dimas membuka buku catatan.

"Aku sudah pikirkan beberapa hal. Pertama, soal rumah yang dibeli untuk Bu Sari. Kita harus tahu statusnya. Kalau masih uang muka, dibatalkan. Kalau sudah berjalan, minta uang kembali atau rumah dijual. Kedua, soal kavling makam. Itu juga dibatalkan. Ketiga, Bapak harus berhenti berhubungan dengan Bu Sari."

Bambang tertawa hambar. "Kamu pikir hidup orang bisa kamu atur pakai poin-poin seperti rapat RT?"

Dimas menatap ayahnya. "Kalau Bapak bisa berpikir sebelum bertindak, kami tidak perlu rapat."

Melati buru-buru masuk. "Mas, jangan memancing."

"Aku tidak memancing. Aku bicara fakta."

Melati menatap Ratna. "Bu, aku setuju rumah dan makam itu dibatalkan. Tapi kalau Bapak minta maaf dan janji tidak mengulang, mungkin..."

Raka memotong, "Mungkin apa?"

"Mungkin Ibu bisa mempertimbangkan."

"Mempertimbangkan untuk tidur lagi dengan laki-laki yang sepuluh tahun selingkuh?"

"Mas Raka!"

"Apa? Aku salah?"

Melati memegang perutnya. "Kamu selalu kasar. Tidak semua bisa diselesaikan dengan marah."

Raka menatap adiknya. "Tidak semua juga bisa diselesaikan dengan pura-pura keluarga baik-baik saja."

Rizal menarik lengan Melati pelan, memberi tanda agar ia tenang.

Ratna mendengarkan pertengkaran anak-anaknya. Ada rasa aneh dalam dadanya. Mereka semua punya suara. Mereka semua punya pendapat tentang apa yang harus ia lakukan. Tetapi yang menanggung malam-malam sunyi dan penghinaan itu adalah dirinya.

"Dimas," panggil Ratna.

"Iya, Bu?"

"Kalau Bapak membatalkan rumah, membatalkan makam, lalu meminta maaf, menurutmu aku harus menerima?"

Dimas terdiam.

Yuni menatap suaminya, seolah ingin tahu jawaban yang sama.

Dimas akhirnya berkata, "Aku tidak berhak menyuruh Ibu menerima. Tapi dari sisi... kehidupan, kalau masih bisa pisah kamar dulu, pikirkan dulu. Cerai itu panjang."

Ratna mengangguk.

"Melati?"

Melati langsung menangis. "Aku ingin Ibu bahagia. Tapi aku takut Ibu sendirian."

"Raka?"

Raka menjawab tanpa ragu. "Cerai. Aku yang urus. Ibu tidak perlu takut."

Bambang membanting gelas ke meja. Teh tumpah sedikit.

"Kamu senang sekali menghancurkan rumah tangga orang tuamu."

Raka menatapnya dingin. "Bapak yang menghancurkan. Aku cuma menyapu pecahannya biar Ibu tidak injak beling."

Bambang berdiri. "Kurang ajar kamu!"

Ratna berkata, "Duduk, Bang."

Bambang menoleh.

Sejenak, ia tampak tidak percaya Ratna memerintahnya di depan anak-anak.

"Aku bilang duduk," ulang Ratna.

Bambang duduk lagi dengan rahang mengeras.

Ratna menatap semua orang.

"Aku belum memutuskan cerai hari ini. Tapi aku juga tidak menjanjikan akan mempertahankan pernikahan."

Melati menahan napas.

"Yang jelas, mulai sekarang semua bukti kusimpan. Uang yang dipakai untuk rumah Sari harus kembali. Kavling makam dibatalkan. Dan Bambang tidak boleh membawa perempuan itu masuk ke urusan keluarga ini lagi."

Bambang tertawa kecil. "Perempuan itu punya nama."

Ratna menatapnya.

"Aku tahu. Namanya Sari. Dan sekarang aku ingin kamu memilih, di depan anak-anakmu. Kamu masih ingin hidup denganku sebagai suami yang bertanggung jawab, atau kamu ingin hidup dengan Sari?"

Ruangan menjadi sunyi.

Dimas menegakkan punggung. Melati menatap ayahnya dengan air mata menggantung. Raka menyilangkan tangan.

Bambang melihat satu per satu wajah anak-anaknya.

"Aku tidak suka diancam."

"Ini bukan ancaman. Ini pertanyaan."

"Aku tidak bisa memutuskan begitu saja. Sari juga manusia."

Raka mendengus. "Ibu memang batu?"

Bambang membentak, "Diam!"

Ratna merasa bagian dalam dadanya semakin dingin.

Ia memperhatikan Bambang. Laki-laki itu tidak tampak seperti orang yang takut kehilangan istri. Ia tampak seperti orang yang kesal karena dipaksa memilih.

Itu berbeda.

Dulu Ratna mungkin akan membantunya keluar dari situasi sulit. Ia akan berkata, "Sudahlah, jangan dibahas sekarang." Ia akan membuatkan kopi, menyuruh anak-anak pulang, lalu memendam luka sendiri.

Hari ini ia tidak melakukan itu.

"Kalau kamu tidak bisa memilih, aku akan memilih untuk diriku sendiri."

Bambang menatapnya tajam. "Jangan sok kuat. Kamu pikir setelah cerai kamu mau ke mana? Klinik itu kecil. Anak-anakmu punya keluarga. Kamu mau menumpang seumur hidup?"

Melati menunduk.

Dimas tampak tidak nyaman.

Raka langsung berdiri. "Ibu ikut aku."

Bambang menertawakan. "Kamu saja hidup pindah-pindah."

"Lebih baik pindah-pindah daripada tinggal dengan pengkhianat."

Ratna mengangkat tangan.

"Aku tidak akan menumpang pada siapa pun."

Semua menoleh padanya.

Ratna berkata pelan, "Aku masih punya pekerjaan. Aku masih punya tabungan. Aku masih punya tubuh yang sehat. Kalau harus hidup di kamar kecil dekat klinik pun, aku bisa."

Melati menangis lagi. "Bu, jangan bicara begitu."

"Kenapa? Karena kamu malu ibumu tinggal di klinik?"

"Bukan..."

"Atau karena kalau aku tidak punya rumah, kamu tidak punya tempat pulang saat bertengkar dengan Rizal?"

Melati pucat.

Rizal menunduk makin dalam.

Ratna menyesal sedikit setelah mengatakannya, tetapi kata-kata itu sudah lama menunggu keluar. Ia tidak ingin melukai Melati, namun ia juga tidak ingin terus menjadi tempat pulang yang tidak boleh punya luka sendiri.

Dimas berkata hati-hati, "Bu, kita tidak bermaksud begitu."

"Aku tahu kalian punya ketakutan masing-masing. Tapi jangan minta aku membayar ketakutan kalian dengan hidupku."

Tidak ada yang bicara.

Di tengah kesunyian itu, terdengar suara motor berhenti di depan rumah.

Lalu suara perempuan memanggil dari luar.

"Assalamualaikum..."

Tubuh Bambang menegang.

Ratna mengenali suara itu.

Sari.

Raka langsung bergerak ke pintu, tetapi Ratna menahannya.

"Biar aku."

Bambang berdiri panik. "Ratna, jangan bikin ribut."

Ratna menoleh padanya.

"Dia datang ke rumahku. Yang bikin ribut bukan aku."

Ia berjalan ke pintu dan membukanya.

Sari berdiri di teras, memakai kerudung biru muda, wajahnya pucat tetapi matanya basah. Di belakangnya, dua ibu tetangga tampak pura-pura lewat sambil melirik.

Sari menggenggam ujung tasnya.

"Bu Ratna," katanya dengan suara bergetar, "saya datang untuk minta maaf."

Ratna menatapnya.

Di belakang Ratna, seluruh keluarga berdiri.

Sari melihat Bambang, lalu air matanya langsung jatuh.

"Saya tidak ingin menghancurkan keluarga siapa pun."

Raka tertawa pelan dari dalam rumah.

Ratna tidak tertawa.

Ia hanya membuka pintu lebih lebar.

"Masuk. Sekalian semua dengar."

Di seberang jalan, Bu Rini cepat-cepat masuk ke warung, tetapi pintunya dibiarkan terbuka sedikit. Pak Mahmud yang baru pulang dari musala berhenti di depan pagar, pura-pura membetulkan sandal.

Ratna melihat semuanya.

Dulu ia mungkin akan malu setengah mati. Sekarang ia hanya merasa capek.

Kalau aib ini harus keluar, biarlah keluar dari mulut orang yang membuatnya, bukan lagi dari kesunyian yang ia telan sendiri.

Melati menyeka air mata dan memandang ibunya. Dalam sekejap, ia seperti ingin mencegah Sari masuk, ingin menutup pintu, ingin menyelamatkan sisa rupa keluarga mereka.

Tetapi Ratna sudah berdiri tegak di ambang pintu.

Melati tiba-tiba mengerti satu hal yang pahit: mungkin yang ia sebut menyelamatkan keluarga selama ini hanyalah menyelamatkan wajahnya sendiri di depan orang lain.

1
Hariyanti
cerita yg bagus Thor 🥰🙏 penuh pesan moral utk belajar lebih baik ttg hidup 🙏🙏🙏
Hilma Abubakar
Yook bingung barengan.
hi hi hi.
Hariyanti
😭😭😭😭😭😭😭
Hariyanti
aku suka part ini🤗 kereen banget buat yg mau belajar ttg hidup itu punya batas👍👍👍
Hariyanti
warisan yang terbaik adalah ilmu
Hariyanti
keren......👍👍👍 hubungan darah yg dibalut batas yg tegas.tapi itu terjadi karena orang tua yg kaya.gimana kalau kondisi orang tua yg tak mampu 🤔🤔🤔......... mungkin harus bikin batas versi lain yg tidak menggunakan istilah berbakti sebagai senjata pamungkas.karena byk orang tua yg menggunakan senjata itu untuk menekan anaknya.
Hariyanti
aku salut dgn prinsip dan mental Bu Ratna 👍👍👍👍mampu menjaga harga diri sendiri dari kepungan parasit berkedok anak dan keluarga.karena byk orang yang takut hilang validasi yg beralibi keluarga.
Hariyanti
sudah resmi bercerai kah.....🤔
Hariyanti
ada yaa anak iri dgn kehidupan ibunya sendiri 🤔🤔🤔 padahal anak perempuan yg sdh menikah tanggung jawab suaminya 😏😏
Hariyanti
lah .....sudah satu rumah😏😏😏
Hariyanti
kok bisa ya 🤭🤭🤭 status masih dlm proses tp sdh mengembangkan diri.tp utk budaya barat itu bukan masalah 🤔🤔yg jadi masalah ini backgroundnya budaya timur🤭🤭
Hariyanti
kalo usia senja mencari cinta🤔 apa yang dicari sihhhhh🤔🤔🤔
Hariyanti
asli....! kyknya author pelupa yaaa🤭kan katanya melati suka nitipin anak ke Bu Ratna, tapi mendadak LG planning anak buat masa depan

🤔🤔🤔
Hariyanti
kok aneh sih🤔🤔 ktnya sdh pindah ke perumahan tp tetangga lama masih tetap bisa kepoin urusan Bu Ratna 🤔🤔 mungkin author lupa dgn konsep lingkungan yg sdh dibuat🤭🤭
Lina Ina
bagus bu rini banyak membantu bu ratna...kelurga mcm apa bila tahu adik ada calon suami kaya semua seperti semut
Lina Ina
melati kamu sepatutnya sedar diri..kalau mahu apa2 minta sama suami bukan minta sama ibu kamu,kamu sudah berkawin sudah ada suami..apa guna suami ada tp tak boleh pakai,ibu kamu sudah tua ibu kamu pergi ketenangan hidup sebb masa muda sudah lelah membesarkan kamu dan anak2 yg lain,dan kalau kehidupan kamu enggak mampu harus kamu ukur diri kamu terlebih dahulu,dan jgn beban kan kepada ibu kamu yg menjelang senja
Hilma Abubakar
klinik yg lama dgn rumah baru,tetangganya kok sama.
Tarwiyah Nasa
proses cerai nya aja belom di proses dah hub.dg orang baru..
terus apa bedanya dg lakinya..

mending selesaikan dulu baru setelah itu terserah..biar GK terlihat murahan...dan gosip warga
Hilma Abubakar
episud yg lalu, bu ratna naik motor melihat rumah yg dikontrak, tetangganya punya nama sama ya?
Lina Ina
yang paling best tertangga2 yg busy body dan sporting dan lucu 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!