NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pemburu Berjubah Hitam

Pagi di Kota Tapal Perbatasan dimulai dengan kabut tipis yang menggantung di atas atap-atap kayu, dan Ji Ming menghabiskannya duduk bersila di sudut kamar penginapan, mata terpejam, mencoba merasakan sesuatu yang Manual Sang Pengukir Pertama sebut sebagai "napas jiwa".

"Jangan dipaksa," suara Yun Xia terdengar dari ambang pintu, membawa dua mangkuk bubur hangat. "Kekuatan jiwa bukan qi. Qi bisa dipaksa mengalir lewat tekad keras. Jiwa harus diajak, bukan diperintah."

"Bagaimana kau tahu itu?" Ji Ming membuka mata, menerima mangkuk yang disodorkan.

"Aku tidak tahu. Aku menebak, berdasarkan cara kau menceritakan bagaimana Xiao Mu bangkit di jurang itu—bukan karena kau memerintahnya, tapi karena kau memintanya." Yun Xia duduk di seberangnya, memperhatikan Xiao Mu yang kini bertengger di jendela, seolah berjaga. "Aku sudah kirim pesan ke seseorang yang kukenal, tinggal beberapa hari perjalanan dari sini. Namanya Old Bo—pengrajin boneka biasa, bukan pengukir jiwa, tapi ia pernah cerita padaku tentang seorang gurunya dulu yang katanya 'terlalu aneh untuk jadi pengrajin normal'. Mungkin itu hanya kebetulan. Mungkin bukan."

Ji Ming mengangguk, mencoba fokus kembali pada latihannya, meski pikirannya terus melayang pada kata-kata terakhir dari murid sekte di jurang itu—ini belum selesai.

Di sisi lain kota, di kedai teh dekat gerbang timur, pria berjubah hitam yang menerima pesan burung semalam kini sudah berjalan menyusuri jalan-jalan sempit dengan langkah yang tak tergesa namun pasti. Namanya Han Lie, pemburu bayaran yang dikenal di kalangan tertentu karena satu reputasi: ia tak pernah gagal menemukan targetnya, cepat atau lambat.

Sketsa wajah di tangannya sudah usang karena berkali-kali dilipat, tapi cukup jelas untuk tujuannya—bukan mencari wajah itu secara langsung, melainkan mencari jejak yang biasanya ditinggalkan siapa pun yang baru tiba di kota asing: tabib yang baru mengobati luka aneh, penginapan yang menerima tamu tak biasa, atau—dan ini yang paling menarik perhatiannya—kabar tentang boneka kayu yang "hidup".

Ia berhenti di depan klinik Tabib Hong, matanya menyipit membaca papan nama sederhana di depan pintu.

Di dalam, Tabib Hong sedang meracik obat ketika lonceng pintu berdenting. Ia menoleh, dan seketika sesuatu di balik matanya yang biasanya tenang berubah jadi waspada—reaksi yang sama seperti saat melihat Xiao Mu dua hari lalu, hanya kali ini jauh lebih tajam.

"Selamat pagi," Han Lie berkata sopan, terlalu sopan untuk terasa tulus. "Aku sedang mencari seseorang. Pemuda, sekitar delapan belas tahun, kaki terkilir, mungkin bepergian dengan seorang wanita kultivator pedang. Ada yang cocok datang ke sini belakangan ini?"

Tabib Hong meletakkan mortar racikannya perlahan, wajahnya kembali datar seperti topeng. "Aku mengobati banyak orang setiap minggu, Tuan. Aku tidak mencatat nama atau bertanya urusan pribadi pasienku. Itu prinsip dasar profesiku."

"Tentu." Han Lie tersenyum tipis, matanya menjelajahi rak-rak herbal di belakang Tabib Hong seolah mencari sesuatu yang tak kasat mata. "Tapi barangkali kau ingat sesuatu yang... tidak biasa. Boneka kayu, misalnya. Yang bergerak sendiri."

Hening sejenak yang terasa jauh lebih panjang dari detik sesungguhnya.

"Aku sudah lama tidak melihat hal semacam itu," Tabib Hong akhirnya berkata, suaranya tetap rata, tapi ada sesuatu di bawahnya—kepedihan lama yang disembunyikan rapat-rapat. "Sejak tiga puluh tahun lalu, tepatnya. Aku pikir semua itu sudah musnah bersama mereka yang membuatnya."

Han Lie menatapnya lebih lama, mencoba membaca kejujuran di balik kata-kata itu, tapi Tabib Hong sudah lama menguasai seni menyembunyikan apa yang tak ingin ia bagikan—keahlian yang datang dari pengalaman pahit yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun di kota ini.

"Kalau begitu, maaf mengganggu." Han Lie membungkuk sedikit, berbalik menuju pintu, tapi sebelum keluar ia berhenti sejenak. "Kalau kau kebetulan mengingat sesuatu, ada bayaran cukup besar menunggu. Aku menginap di penginapan dekat pasar utama, jika kau berubah pikiran."

Setelah pintu tertutup dan langkahnya menjauh, Tabib Hong berdiri diam beberapa saat, tangannya bergetar sedikit saat kembali meraih mortar racikan. Ia menatap ke arah rak paling atas, tempat sebuah kotak kayu tua tersimpan di balik toples-toples herbal—kotak yang sudah puluhan tahun tak ia buka, berisi satu-satunya kenangan dari masa mudanya sebelum menjadi tabib biasa di kota perbatasan.

Malam itu, tanpa memberitahu siapa pun, ia menyelinap keluar dari kliniknya menuju penginapan di gerbang barat.

"Kau harus pergi malam ini juga," Tabib Hong berkata pelan begitu Yun Xia membuka pintu kamar, suaranya tegang meski berusaha tetap tenang. "Ada pemburu bayaran mencari kalian. Ia sudah datang ke klinikku pagi tadi."

Ji Ming, yang sedang duduk bersila di sudut ruangan, membuka mata, jantungnya berdegup kencang.

"Kau tidak memberitahunya?" Yun Xia bertanya, meski nadanya lebih pada memastikan daripada curiga.

"Tidak." Tabib Hong menatap ke arah Xiao Mu yang kini berdiri waspada, dan untuk pertama kalinya, wajahnya yang biasa dingin menunjukkan sesuatu yang lebih dalam—kesedihan lama yang bercampur dengan sesuatu yang mirip harapan rapuh. "Karena tiga puluh tahun lalu, boneka seperti itu pernah menyelamatkan nyawaku, dari orang-orang yang jauh lebih jahat daripada cerita yang diajarkan di sekte-sekte sekarang."

Ji Ming berdiri, meski kakinya masih agak nyeri. "Kau tahu tentang seni pengukiran jiwa. Sungguhan tahu, bukan sekadar cerita."

Tabib Hong menghela napas panjang, seolah menurunkan beban yang ia pikul sendirian selama puluhan tahun. "Aku akan cerita semuanya, tapi tidak sekarang—tidak dengan pemburu itu mengendus jejak kalian di kota ini. Pergilah ke utara malam ini, ke Desa Sungai Tenang, dua hari perjalanan. Tanyakan rumah seorang wanita tua bernama Mei. Katakan Hong yang mengirimmu, dan katakan—" suaranya nyaris pecah, "—katakan bahwa Boneka Musim Semi akhirnya kembali."

Nama itu tak berarti apa-apa bagi Ji Ming, tapi jelas berarti sangat banyak bagi Tabib Hong, dan bagi Yun Xia yang kini menatapnya dengan mata melebar—seolah baru saja mendengar sekeping puzzle yang selama ini ia cari tanpa sadar mulai menemukan tempatnya.

Malam itu, sebelum kabut fajar sempat turun, ketiganya—Ji Ming, Yun Xia, dan Xiao Mu yang mendekap erat manual kuno di tangan kecilnya—menyelinap keluar dari gerbang utara Kota Tapal Perbatasan, meninggalkan Tabib Hong yang berdiri sendirian di kegelapan, menatap kepergian mereka dengan mata basah yang sudah lama tak ia izinkan menangis.

Sementara itu, di penginapan dekat pasar utama, Han Lie duduk di kamarnya, mengasah pisau kecilnya dengan sabar—ia sudah menunggu bertahun-tahun untuk target semenarik ini, dan ia tak berencana menyerah semudah itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!