Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kabar dari Wilayah Tengah
Keesokan paginya, Chu Feng terbangun dengan tubuh yang masih terasa pegal dari simulasi formasi ganda kemarin, namun semangatnya tetap membara seperti bara api yang belum padam. Ia meregangkan tubuhnya perlahan, Hei yang tidur di sampingnya ikut menggeliat bangun, menguap lebar sebelum menjilat tangan tuannya sebagai salam pagi yang sudah menjadi kebiasaan mereka.
Rutinitas latihan tim berlanjut seperti biasa selama beberapa hari berikutnya—simulasi demi simulasi, masing-masing dirancang sedikit lebih sulit dari sebelumnya, memaksa kelima anggota tim terus mengasah koordinasi mereka. Chu Feng mulai merasakan perubahan nyata dalam dirinya sendiri: insting untuk maju sendirian yang dulu begitu kuat kini perlahan tergantikan dengan kesadaran akan posisi rekan-rekannya, seolah ia bisa merasakan keberadaan mereka bahkan tanpa harus menoleh.
Pada hari kesepuluh sejak latihan tim dimulai, ketika mereka sedang beristirahat sejenak di tepi lapangan setelah sesi latihan pagi yang melelahkan, sebuah keributan kecil terdengar dari arah gerbang sekte.
"Rombongan pedagang," gumam Zhao Lin, menyipitkan mata ke arah gerbang yang samar terlihat dari kejauhan. "Mereka biasanya datang sebulan sekali, membawa bahan-bahan yang tidak bisa kita dapatkan dari sekitar sini."
Chu Feng mengangguk, tidak terlalu memperhatikan—hingga salah satu murid junior berlari tergopoh-gopoh menuju lapangan latihan mereka, wajahnya tampak bersemangat sekaligus sedikit gugup.
"Chu Feng!" serunya begitu cukup dekat. "Ada surat untukmu, dibawa oleh salah satu pedagang. Katanya dari Klan Su."
Jantung Chu Feng berdegup lebih cepat. Sudah lebih dari sebulan sejak pesan terakhir Su Yue melalui giok komunikasi—pesan singkat yang penuh keletihan tersembunyi, tentang "urusan keluarga yang tidak sepenuhnya bisa dipilih sendiri." Sejak saat itu, giok komunikasi itu tetap sunyi, dan meski Chu Feng sudah mencoba mengirim beberapa pesan balasan, tidak ada jawaban yang kembali.
Ia menerima gulungan surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar, mengucapkan terima kasih pada murid junior itu sebelum membuka segelnya dengan hati-hati.
Tulisan tangan Su Yue yang biasanya rapi dan elegan kini terlihat sedikit terburu-buru, beberapa coretan kecil menunjukkan ia menulis dalam keadaan yang tidak sepenuhnya tenang.
Chu Feng,
Maaf sudah lama tidak mengabari lewat giok komunikasi. Ada alasan untuk itu—Klan Su sedang menghadapi beberapa tekanan dari aliansi dagang besar di wilayah tengah, dan para tetua mulai memperketat pengawasan terhadap komunikasi pribadi anggota keluarga, terutama yang berhubungan dengan pihak luar klan.
Aku tahu ini terdengar berlebihan, tapi kau tidak sepenuhnya memahami bagaimana cara kerja klan besar seperti ini. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan—hubungan dagang, aliansi pernikahan, reputasi keluarga. Aku bukan sepenuhnya bebas menentukan dengan siapa aku berhubungan, meski aku ingin sekali bisa seperti itu.
Aku dengar dari beberapa sumber, sekte kecilmu akan berpartisipasi dalam Kompetisi Sekte Wilayah Selatan. Aku akan berusaha hadir menyaksikannya, meski aku belum bisa memastikan apakah para tetua akan mengizinkanku pergi sejauh itu.
Jaga dirimu baik-baik, Chu Feng. Dan jangan terlalu khawatir tentangku—aku bisa mengurus diriku sendiri, seperti biasa.
—Su Yue
Chu Feng membaca surat itu berkali-kali, setiap kalimatnya terasa seperti potongan teka-teki yang belum sepenuhnya bisa ia pahami—kekhawatiran yang tersembunyi di balik kata-kata yang berusaha terdengar tenang, sebuah nada yang jauh berbeda dari gadis ceria yang pernah menemaninya berjalan-jalan di kota kecil Kerajaan Chu beberapa bulan lalu.
"Kau menemukan sesuatu yang mengganggumu," komentar suara di dalam dirinya, menangkap perubahan suasana hati Chu Feng yang tiba-tiba.
Su Yue, Chu Feng membalas dalam hati, melipat surat itu dengan hati-hati. Sesuatu terjadi padanya, dan aku tidak sepenuhnya tahu apa itu.
"Aliansi dagang, aliansi pernikahan, reputasi keluarga," suara itu mengulang bagian dari surat yang baru saja dibaca Chu Feng, nadanya penuh pertimbangan. "Kata-kata itu bukan sekadar keluhan biasa, Pangeran Ketujuh. Klan-klan besar sering kali menggunakan hubungan pernikahan sebagai alat politik. Kalau Klan Su sedang menghadapi tekanan dari aliansi dagang, ada kemungkinan mereka mempertimbangkan pernikahan strategis untuk memperkuat posisi mereka."
Chu Feng terdiam, sebuah rasa tidak nyaman yang berat menjalar di dadanya. Ia belum pernah benar-benar mendefinisikan apa yang ia rasakan terhadap Su Yue—persahabatan yang tulus, atau sesuatu yang lebih dalam yang belum sempat ia telusuri di tengah semua kekacauan yang terjadi sejak meninggalkan Kerajaan Chu. Namun mendengar kemungkinan bahwa keputusan tentang masa depannya mungkin tidak sepenuhnya berada di tangannya sendiri, membuat kekhawatiran itu terasa jauh lebih nyata dan mendesak.
"Kau terlihat murung," komentar Liu Bo, mendekat setelah menyelesaikan sesi peregangan bersama dua penopang tengah lainnya. "Kabar buruk?"
"Tidak sepenuhnya buruk," Chu Feng menggeleng pelan, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya di balik ketenangan yang biasa. "Hanya... rumit."
"Soal gadis dari Klan Su itu?" tebak Liu Bo, seringai kecil terbentuk di wajahnya meski nada suaranya tetap penuh perhatian. "Zhao Lin pernah bercerita sedikit—katanya kau punya seseorang yang cukup spesial di wilayah tengah."
Chu Feng tidak membantah, hanya menghela napas panjang. "Aku tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padanya sekarang. Tapi aku merasa... ada sesuatu yang lebih besar dari yang dia ceritakan."
Liu Bo menepuk bahunya, sebuah gestur persahabatan yang tulus meski sederhana. "Kalau begitu, mari kita fokus dulu pada apa yang bisa kita kendalikan sekarang—latihan ini, kompetisi yang akan datang. Kudengar dia bilang akan berusaha hadir menyaksikan kita bertanding, bukan? Itu artinya kau masih punya kesempatan untuk bertemu dan bertanya langsung, alih-alih terus menerka-nerka dari kejauhan."
Kata-kata sederhana itu, meski tidak menyelesaikan kekhawatiran Chu Feng sepenuhnya, cukup untuk mengembalikan sedikit fokusnya pada apa yang ada di hadapannya. Ia mengangguk, menyimpan surat itu dengan hati-hati di dalam jubahnya, bersama kalung peninggalan ibunya yang tidak pernah lepas dari lehernya.
Kau benar, pikirnya, menatap ke arah lapangan latihan tempat sesi berikutnya akan segera dimulai. Aku tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di Klan Su dari sini. Tapi aku bisa memastikan diriku cukup kuat, cukup siap, untuk apa pun yang mungkin terjadi selanjutnya—baik itu di kompetisi, maupun dalam hal-hal lain yang mungkin membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan tombak.
Sore itu, ketika sesi latihan tim kembali dimulai, Chu Feng melangkah ke posisinya dengan tekad yang sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya—bukan lagi sekadar keinginan untuk membuktikan diri atau melindungi sekte barunya, melainkan juga dorongan baru untuk menjadi cukup kuat bagi orang-orang yang ia pedulikan, di mana pun mereka berada dan apa pun tantangan yang sedang mereka hadapi sendirian.
"Tekadmu berubah," komentar suara di dalam dirinya, menangkap perubahan energi yang mengalir lebih stabil dari biasanya melalui tulang belakang Chu Feng.
Mungkin, Chu Feng membalas dalam hati, mengokohkan pegangan pada Tombak Awan Kelabu. Tapi bukankah itu yang selalu terjadi ketika seseorang menyadari ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar dirinya sendiri?
Tidak ada jawaban langsung dari suara itu, hanya sebuah kehangatan samar yang menjalar melalui tulang belakangnya—sebuah bentuk persetujuan yang tidak memerlukan kata-kata, sementara latihan sore itu dimulai dengan intensitas yang baru, membawa Chu Feng dan timnya semakin dekat menuju hari yang akan menentukan banyak hal, baik di dalam maupun di luar arena kompetisi.