Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Gaun yang Terlipat
Jarak yang terlampau dekat itu membuat Olin bisa melihat ketegangan yang mengeras di sudut mata Zayyan. Bau maskulin yang menguar dari kemeja hitam pria itu seolah mengunci sirkulasi udara di sekitar mereka. Olin tidak mundur; dia justru menegakkan pundak, membiarkan jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan mantel rajut mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.
"Menara kaca?" Olin mengulang kalimat itu dengan nada suara yang berangsur dingin, menyembunyikan getaran kecemasan yang sempat menyengat dadanya. "Kau ingin membawa anak berusia tujuh tahun ke hadapan dewan komisaris yang siap menguliti setiap jengkal kesalahannya? Kau gila, Zayyan."
Zayyan tidak berkedip. Dia menarik tubuhnya kembali tegak, membiarkan postur tinggi besarnya mendominasi ruangan di bawah siraman cahaya fajar yang kian benderang. "Mereka tidak akan mengulitinya, Aureline. Mereka terlalu takut pada fakta bahwa seorang bocah mampu meruntuhkan sistem pertahanan senilai miliaran rupiah dalam waktu sepuluh menit. Mereka datang untuk melihat ancaman, dan aku datang untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali atas ancaman itu."
"Dia bukan ancaman! Dia anakku!" Olin melangkah maju satu tapak, menantang dada tegap Zayyan dengan sorot mata yang menyala.
"Dia anak kita," potong Zayyan, suaranya bariton rendah, tenang, namun memiliki ketegasan besi yang seketika membungkam bantahan Olin. Pria itu berjalan menuju jendela besar, menatap lurus ke arah gerbang luar mansion di mana beberapa mobil pengawal mulai berbaris rapi. "Dan di dunia El-Ghazali, pengakuan terkadang harus ditunjukkan dengan taring. Jika kita tidak membawanya sore ini, faksi Kakek Albert akan menganggap Xavi sebagai kelemahan struktural yang bisa mereka manfaatkan untuk menjatuhkan posisiku. Kau ingin anakmu diburu oleh orang-orang selain Valerius Syndicate?"
Olin tertegun. Lidahnya mendadak kelu. Kenyataan pahit tentang dunia korporasi yang kejam kembali menghantam kesadarannya. Dia tahu Zayyan tidak sedang menggertak; bagi keluarga El-Ghazali, kekuasaan adalah segalanya, dan kejeniusan Xavi adalah komoditas panas yang terlalu berbahaya jika dibiarkan tanpa kepemilikan yang jelas.
"Dua jam," ucap Olin akhirnya, suaranya merosot menjadi bisikan yang lelah. Dia memalingkan wajah, menatap pulpen platina yang tergeletak pasrah di atas meja mahoni. "Berikan aku waktu dua jam untuk mempersiapkan mental Xavi. Dia pintar, tapi dia tetaplah seorang anak yang belum pernah melihat bagaimana orang-orang dewasa saling menjatuhkan dengan senyuman."
Zayyan menoleh sedikit, memperhatikan profil samping wajah Olin yang tampak pias di bawah semburat jingga matahari pagi. Ada kilatan penyesalan yang sangat tipis dan lamat-lamat melintas di manik mata elangnya sebelum kembali berganti dengan kedataran absolut. "Malikh sudah menyiapkan beberapa pilihan gaun di paviliun barat. Pilih satu yang tidak membuatmu terlihat seperti kurator yang sedang melarikan diri."
Olin tidak menjawab. Dia berbalik dengan sentakan cepat, membiarkan ujung mantel rajutnya mengibaskan udara ruangan saat dia melangkah lebar menuju pintu ganda berlapis kulit arang. Begitu sepasang pintu itu menutup di belakangnya, Olin bersandar pada dinding koridor, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokan.
Langkah kakinya terasa lebih berat saat menyusuri jembatan kaca tertutup menuju paviliun barat. Di bawah sana, ikan-ikan koi masih berenang dalam lingkaran yang monoton, tidak peduli pada badai yang baru saja bergeser ke atas kepala mereka.
Saat Olin mendorong pintu jati paviliun, suasana di dalam ruang tengah sudah berubah. Dua kotak beludru besar berwarna hitam dengan logo perancang busana ternama Paris sudah bertumpu di atas sofa abu-abu. Di dekat perapian, Xavi sudah berdiri rapi dengan jins kodoknya yang semalam, memegang sebuah cangkir kecil berisi susu hangat yang disediakan oleh pelayan.
Xavi mendongak, matanya yang bulat di balik lensa kacamata menatap gaun yang menyembul dari balik kotak beludru yang setengah terbuka, lalu beralih pada wajah ibunya yang masih tampak tegang.
"Tinta dokumennya sudah kering, Mommy?" tanya Xavi datar, lalu menyesap susunya lambat-lambat.
Olin mendekati putranya, berlutut di atas karpet tebal lalu menggenggam kedua tangan mungil itu dengan tatapan yang teramat serius. "Xavi... sore ini kita harus pergi ke sebuah tempat. Sebuah tempat yang penuh dengan orang-orang berbaju rapi seperti Tuan CEO."
Xavi menaikkan sebelah alisnya, ekspresi yang terlampau mirip dengan pria di sayap timur tadi. Dia meletakkan cangkir susunya di meja kecil, lalu menyentuh layar gawai portabelnya yang berada di saku celana. "Menara kaca El-Ghazali Corp? Aku sudah mengunduh arsitektur digital gedung itu dari peladen sekunder mereka subuh tadi, Mommy. Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan jalur evakuasi digital kita jika pertemuan sore ini menjadi membosankan."