Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Beberapa hari setelah insiden mendebarkan di ruang dosen, Tasya duduk santai di kantin sambil nongkrong bareng Kanza Arumi.
Mereka lagi asyik mengobrol tentang tugas kuliah yang mulai menumpuk dan gosip kampus yang beredar lebih cepat daripada koneksi Wi-Fi perpustakaan.
Tasya tiba-tiba mengedipkan mata ke arah Kanza dengan tatapan penuh selidik.
“Eh, Kanza, gue harus tanya nih, lo sama dosen vampire Arab itu… gimana sih sebenarnya?”
Kanza yang lagi asyik mengunyah gorengan hangat, mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
“Maksud lo gimana? Ya dia dosen, gue mahasiswa. Hubungan fungsional saja, Tas.”
“Ya... lo ingat kan, tempo hari di ruang dosen, dia sempat memanggil lo dengan nada yang... gimana ya, beda saja gitu. Terus lo juga tidak pernah cerita detail soal dosen yang super killer itu. Kok lo santai banget padahal sudah jambak orang di depannya?”
Kanza cengar-cengir, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa hambar.
“Lo overthinking saja, Tas. Namanya juga di kampus, dosen harus galak biar mahasiswa seperti kita tidak malas kuliah dan hobi bikin kerusuhan di kantin.”
Tasya kayak belum puas, ia memajukan kursi, suaranya mengecil.
“Tapi... ada yang aneh, deh. Lo kelihatan seperti... deg-degan tapi tertahan. Terus pas dia bicara, lo seperti takut tapi juga gengsi banget. Auranya itu seperti... ada hubungan yang lebih dalam dari sekadar dosen dan mahasiswi yang mau dihukum.”
Kanza melempar sisa gorengan ke mulutnya dengan gaya cuek yang dipaksakan, meski hatinya sudah ketar-ketir takut rahasia statusnya sebagai istri Hanan Arkan terbongkar.
“Lo pikir gue pacaran sama dosen? Come on lah, itu tidak mungkin di kamus gue.”
Tasya tertawa geli, seolah tahu ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya.
“Ya tidak tahu deh, gue cuma curiga. Lo itu orangnya absurd, bisa saja kan lo sembunyikan sesuatu yang besar. Seperti... tunangan rahasia? Atau jangan-jangan lo diculik dari pesantren untuk jadi asisten pribadinya?”
Kanza menunjuk ke arah Tasya dengan sisa bumbu gorengan di jarinya.
“Gue mah tidak punya rahasia negara, cuma tidak mau ribet saja. Lagian, urusan gue dan dosen yang itu, ya urusan gue dan dia di ruang dosen saja. Lo tidak perlu tahu sedalam sumur.”
Tasya manggut-manggut sambil menyunggingkan senyum nakal yang bikin Kanza makin was-was.
“Oke deh, rahasia lo aman sama gue untuk sementara. Tapi jangan kaget ya kalau suatu saat gue berhasil membongkar puzzle rahasia lo itu.”
Kanza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hadeh, lo saja yang aneh, hobinya jadi detektif dadakan. Tapi tidak apa-apa lah, selama lo tidak membocorkan tingkah gue ke seluruh penjuru kampus.”
Tasya nyengir lebar. “Tenang, gue bukan tipe yang suka cari ribut tanpa alasan. Tapi lo harus siap kalau gue jadi teman paling nyebelin yang bakal terus menempel buat cari tahu kebenarannya.”
Kanza tertawa keras, menyadari bahwa ia baru saja menemukan rekan yang setara tingkat keanehannya.
“Itu baru namanya teman, Tas! Kita berdua sama-sama absurd dan bar-bar, cocok banget buat bikin kampus ini jadi lebih berwarna!”
Di salah satu sudut kampus yang sepi, Kanza Arumi berjalan santai masuk ke ruang toilet wanita.
Saat ia baru saja mendorong pintu, ia hampir bertabrakan dengan seseorang yang baru keluar dari salah satu bilik.
Sosok itu adalah Zahira, mahasiswi semester lima yang selalu terlihat tenang, namun kali ini ada ketegangan halus yang mendadak menyeruak di udara.
Kanza melirik Zahira dengan senyum nyeleneh dan tatapan nakal andalannya. Ia bersandar di pintu sambil melipat tangan.
“Wah, Mbak Zahira, masih betah juga ya di kampus? Semester lima, sudah seperti mahasiswa teladan yang mau jadi penghuni tetap perpustakaan. Gimana nih, kuliah sambil mengurusi hati yang katanya sedang retak seribu?”
Zahira hanya mengangkat alis, menatap Kanza dengan ketenangan yang dipaksakan, meski ada kilatan kecewa yang tertangkap di matanya.
“Aku fokus dengan jalan hidupku, Kanza. Tidak perlu memberikan komentar yang tidak perlu, apalagi yang tidak berdasar.”
Kanza nyengir lebar, sama sekali tidak merasa terancam.
“Ah, santai saja, Mbak. Aku cuma mau bilang... jangan-jangan karena bayangan masa lalu itu, kamu jadi betah di sini? Kalau hati sudah penuh drama, kuliah yang harusnya ringan pun jadi terasa berat, lho. Hati-hati, nanti malah tesisnya isinya curhatan semua.”
Zahira tetap diam, menunduk sebentar seolah menelan emosinya, lalu angkat bicara dengan suara lembut namun sangat tegas.
“Kadang diam adalah jawaban terbaik untuk orang yang memilih berisik tanpa alasan yang jelas.”
Kanza tertawa kecil, suara tawanya menggema di ruangan sunyi itu.
“Wah, puitis banget! Cocok jadi penulis novel religi. Tapi jangan lupa, Mbak, di dunia nyata yang puitis belum tentu menang. Yang menang itu yang gerakannya cepat dan tepat sasaran.”
Zahira berjalan meninggalkan area toilet tanpa berkata lebih banyak, langkah kakinya terdengar teratur meski hatinya mungkin sedang berantakan.
Kanza hanya berdiri di sana dengan senyum penuh arti, merasa memenangkan satu ronde kecil.
Setelah Zahira benar-benar pergi, Kanza berdiri di depan cermin besar, sambil nyengir sinis menatap pantulan dirinya sendiri.
Ia mulai merapikan jilbabnya yang sedikit miring akibat aksi jambak-jambakan tempo hari.
“Hadeuh, Zahira itu ya... kelihatan tenang di luar seperti air danau, tapi dalamnya pasti berantakan seperti kapal pecah,” gumamnya dalam hati.
“Gue mah santai saja, hidup ini untuk dinikmati dengan segala keabsurdannya, bukan untuk dipikirkan terus sampai tumbuh uban.”
Lalu dia tertawa kecil, memutar-mutar ujung kerudungnya.
“Tapi ya, kok Zahira itu sepertinya hobi sekali melirik gue terus, ya? Padahal gue sih cuek bebek, tidak merasa punya saingan. Mungkin dia iri dengan pesonaku yang tidak masuk akal ini.”
Kanza kemudian membetulkan jilbabnya dengan gaya sok cool, memastikan penampilannya tetap oke untuk bertemu suaminya nanti.
Dengan langkah penuh percaya diri yang sedikit ditambah-tambahkan, Kanza keluar dari toilet, tetap dengan gaya absurd dan nyeleneh khasnya yang selalu berhasil membuat orang lain mengelus dada.
Dalam hatinya, Kanza sudah mengambil kesimpulan mutlak: Zahira itu jelas-jelas masih mencintai Hanan Arkan dan sekarang sedang menderita patah hati akut.
Dan sebagai "pemenang" hati sang dosen, Kanza merasa harus tetap waspada dengan gaya yang paling santai.
Setelah menyelesaikan jadwal kuliah dan mengajar yang cukup padat, Kanza Arumi bersama suaminya, Hanan Arkan, melanjutkan perjalanan menuju rumah Umah untuk mengikuti pengajian malam rutin.
Sesampainya di sana, aroma harum kayu gaharu dan teh melati menyambut mereka, bersama dengan senyum hangat dari Umah dan beberapa ibu-ibu jamaah pengajian yang sudah berkumpul rapi.
“Alhamdulillah, Kanza, Hanan, sudah hadir tepat waktu,” sapa Umah dengan nada ramah yang selalu menyejukkan hati.
Suasana majelis tersebut terasa sangat hangat; ibu-ibu mulai bersenda gurau sambil menata hidangan ringan di atas karpet.
Tak lama kemudian, salah seorang ibu-ibu yang memang dikenal hobi menjodohkan orang, mulai melontarkan candaan dengan nada serius tapi penuh harap ke arah Hanan.
“Mas Hanan ini selain ganteng dan pinter, wibawanya itu lho, menenangkan sekali. Anak Ibu sudah besar-besar dan lulus kuliah semua, kapan nih Mas Hanan mau mampir ke rumah buat pinang salah satu dari mereka?”
Ucapan itu seketika mengundang tawa renyah dari para ibu lainnya, membuat suasana majelis menjadi sangat cair namun sedikit "panas" bagi telinga seorang istri.
Kanza yang tidak mau kalah, dengan gaya barbar dan absurdnya, langsung membalas tanpa sensor, sambil memasang wajah sok sedih yang didramatisir.
“Waduh, Bu! Kalau Mas Hanan sampai menerima pinangan anak Ibu, nanti nasib Kanza bagaimana dong? Apa Kanza harus mengajukan surat pindah domisili ke pojok kulkas saja biar tidak kedinginan sendirian?”
Semua yang hadir pun tertawa lepas mendengar jawaban spontan tersebut.
Beberapa ibu bahkan sampai terbahak-bahak sambil menepuk pundak Kanza, merasa terhibur dengan keberanian menantu Umah yang satu ini.
Hanan hanya bisa tersenyum kecil sambil menyandarkan punggungnya ke pilar jati, menatap istrinya dengan gelengan kepala, seolah sudah sangat maklum dengan tingkat kejenakaan Kanza yang melampaui batas normal.
"Mbak Kanza ini memang unik sekali, sifatnya yang ceplas-ceplos selalu bisa membuat suasana jadi hidup dan tidak kaku,” kata Aisah sambil terkekeh sambil menuangkan teh ke cangkir-cangkir.
Pengajian malam itu pun berjalan dengan penuh keceriaan. Kanza dengan segala candaan absurd dan tawa lepasnya berhasil mengubah suasana yang biasanya sangat serius menjadi jauh lebih ringan.
Kehadirannya membuat ibu-ibu yang hadir merasa betah berlama-lama, seolah pengajian malam itu bukan hanya sekadar menimba ilmu, tapi juga ajang hiburan berkat kelakuan "ajaib" sang istri dosen.
~~~NEXT~~~
Salam Hangat Dari Penuliss....