NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08 - Lebam yang Tidak Sembuh

​Matahari pagi yang menembus tirai kamar tidur utama di Pondok Indah sama sekali tidak membawa kehangatan. Kamar itu kini terasa seperti bangsal rumah sakit yang steril sekaligus mencekam.

Bau parfum mahal dan lilin aromaterapi telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh aroma minyak kayu putih, obat-obatan antiseptic, dan sekelebat bau apak yang samar namun membandel.

​Maya berbaring telentang di tengah ranjang. Selimut sutra marunnya disingkap hingga sebatas pinggang. Gaun malam katun putih yang dikenakannya tersingkap ke atas, mengekspos bagian perutnya yang membuncit serta kedua paha dan kakinya.

​Aryo berdiri di sisi ranjang, memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Wajah pengusaha sukses itu tampak kusut, matanya merah karena kurang tidur selama berhari-hari.

Di sampingnya, berdiri Dokter tirta, seorang dokter spesialis penyakit dalam langganan keluarga Aryo yang sengaja dipanggil secara privat ke rumah.

​"Bagaimana, Dok? Apa sebenarnya yang terjadi pada istri saya?" Suara Aryo bergetar, ada nada keputusasaan yang tertahan di sana.

​Dokter Tirta menghela napas panjang, menurunkan stetoskopnya, lalu membetulkan letak kacamata bermereknya. Ia memandangi tubuh Maya dengan raut wajah yang dipenuhi kebingungan profesional.

​Di atas kulit Maya yang semula putih bersih dan mulus, kini dipenuhi oleh bercak-bercak lebam berwarna biru kehitaman yang mengerikan.

Lebam itu bukan lagi hanya ada di pergelangan kaki kanan seperti dua malam lalu.

Kini, bercak lebam berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa telah menyebar luas: tiga buah di paha kiri, dua di lengan atas, dan yang paling membuat bergidik adalah sepasang lebam besar yang melingkari bagian bawah perutnya yang sedang mengandung—seolah-olah ada dua tangan raksasa yang mencoba mencengkeram dan meremas rahimnya dari luar.

​"Secara medis, Pak Aryo, gejala ini mirip dengan trombositopenia akut atau adanya gangguan pembekuan darah yang parah, sehingga terjadi pendarahan di bawah kulit." Dokter Tirta menjelaskan sambil menyentuh salah satu lebam di paha Maya menggunakan sarung tangan lateks.

​Begitu kulit itu disentuh, Maya spontan meringis dan melenguh kesakitan.

"Sakit, Dok ... rasanya dingin tapi perih, seperti ditusuk-tusuk jarum es ...," lirih Maya dengan suara yang sangat lemah. Wajah jelitanya kini tampak tirus, bibirnya pecah-pecah dan pucat tanpa rona.

​"Tapi ada satu hal yang sangat ganjil," lanjut Dokter Tirta, dahinya berkerut dalam. "Suhu tubuh Ibu Maya di bagian lebam ini sangat dingin. Benar-benar dingin, di bawah suhu tubuh normal manusia. Selain itu, hasil laboratorium darah yang saya ambil kemarin menunjukkan bahwa jumlah trombosit dan faktor pembekuan darah Ibu Maya semuanya normal. Sama sekali tidak ada kelainan sistemik."

​"Lalu kenapa lebamnya bertambah banyak, Dok?! Kemarin hanya di kaki, sekarang sudah sampai ke perut!" Aryo mulai kehilangan kendali atas emosinya.

​"Saya sudah meresepkan salep heparin dosis tinggi dan obat anti-inflamasi terbaik sejak kemarin, Pak Aryo. Harusnya, lebam biasa akan mulai memudar dalam waktu 24 jam. Namun ini ... luka lebamnya justru menghitam dan meluas. Sejujurnya, secara klinis, saya belum pernah melihat kasus seperti ini. Kulitnya tidak mengalami trauma fisik, tapi jaringan di bawah kulitnya hancur seperti bekas hantaman hebat."

​Dokter Tirta terdiam sejenak, memandangi Aryo dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebagai dokter yang lama berkecimpung di dunia medis, ia tahu beberapa hal di dunia ini tidak selalu bisa dijelaskan oleh buku teks kedokteran.

​"Saran saya, bawa Ibu Maya ke rumah sakit besar untuk pemindaian menyeluruh, termasuk USG kandungan secara intensif. Kita harus memastikan janinnya tidak terganggu oleh ... kondisi aneh ini."

​Setelah menulis resep tambahan yang ia sendiri ragu akan khasiatnya, Dokter Tirta berpamitan. Aryo mengantarnya hingga ke depan lorong, lalu kembali ke kamar tidur dengan langkah lunglai.

​Begitu pintu ditutup, Maya langsung menangis histeris. Ia merangkak mendekati Aryo, mencengkeram kemeja suaminya dengan sisa-sisa kekuatannya.

"Mas! Ini bukan penyakit biasa, kan! Dokter itu bodoh, dia tidak tahu apa-apa!" jerit Maya, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang kuyu.

​"Tenang, Maya ... tenang, pikirkan bayinya." Aryo mencoba menenangkan, memeluk tubuh ringkih istri mudanya.

​"Bagaimana aku bisa tenang, Mas?! Lihat perutku!" Maya histeris, menunjuk sepasang lebam hitam yang melingkari rahimnya. "Setiap malam, saat jam dinding berdentang ke angka dua, aku merasa lebam-lebam ini bergerak! Rasanya seperti ada jari-jari kurus yang merayap di bawah kulitku, terus ... terus coba mencakar anak kita dari dalam! Ini pasti ulah perempuan kampung itu, Mas! Ini kelakuan Sekar!"

​Mendengar nama Sekar disebut dengan penuh emosi oleh Maya, dada Aryo sejujurnya bergemuruh.

Ego besarnya bergolak antara rasa bersalah, kemarahan, dan ketakutan yang mendalam. Ia teringat kembali noda darah hitam yang menempel di atas surat perjanjian cerai di kantor Baskoro beberapa hari lalu—darah yang menolak untuk mengering.

​"Jangan menuduh sembarangan, Maya. Sekar tidak mungkin sekejam itu," bantah Aryo, lebih untuk menenangkan hatinya sendiri daripada membela mantan istri sahnya.

​"Kamu membelanya?! Setelah apa yang terjadi pada rumah ini, Mas? Sungguh? Setelah ... setelah ketukan pintu malam itu? Kamu masih membela perempuan penyihir itu?!" Suara Maya melengking tinggi, nyaris gila oleh rasa takut dan sakit fisik yang menderanya.

"Dia mau membunuhku, Mas Aryo! Dia mau membunuh anakmu! Kalau kamu tidak bertindak, aku dan bayimu akan mati di ranjang ini!" pekik Maya lagi.

​Aryo terdiam. Ia menatap lebam di perut Maya. Di bawah cahaya lampu kamar yang benderang, ia bersumpah melihat warna biru kehitaman pada lebam itu sedikit berdenyut—mengikuti ritme detak jantung yang lambat dan asing, bukan detak jantung Maya.

​"Iya ... iya, aku akan urus," bisik Aryo akhirnya, suaranya parau. "Aku akan cari cara untuk menyembuhkanmu. Aku berjanji."

​Siang itu, setelah Maya tertidur karena pengaruh obat penenang, Aryo duduk sendirian di ruang kerja lantai bawah. Ia merenung dalam kegelapan yang sengaja ia ciptakan dengan menutup gorden.

Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, ke rumah joglo di Banyuwangi, ke lemari jati tua milik Ki Demang yang selalu menebarkan aroma wangi kemenyan yang magis.

​Aryo meraih ponselnya. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia mencari kontak nama "Sekar". Ini adalah pertama kalinya ia mencoba menghubungi wanita itu setelah penandatanganan surat di Jakarta.

​Panggilan tersambung.

​Tuttt ... tuttt ... tuttt ....

​Setiap nada sambung terasa seperti detak bom waktu di telinga Aryo. Pada nada sambung kelima, panggilan itu diangkat. Namun, tidak ada suara salam atau sapaan hangat yang biasa ia terima dulu.

Yang terdengar dari seberang sana hanyalah keheningan yang pekat, disusul oleh suara gemerisik daun-daun bambu yang tertiup angin kencang—sebuah latar suara yang sangat khas dari pekarangan belakang rumah joglo Kemiren.

​"Sekar? Ini aku, Aryo," buka Aryo, mencoba menekan getar di suaranya agar tetap terdengar berwibawa sebagai laki-laki.

​Hening sejenak. Kemudian, terdengar suara helaan napas lembut, diikuti oleh suara Sekar yang begitu tenang, begitu dingin, seolah-olah ia sedang berbicara dari dunia yang berbeda.

​"Iya, Mas Aryo. Ada apa? Apa surat-surat dari pengacaramu ada yang kurang?"

​"Sekar, tolong ... jangan berpura-pura lagi," Aryo langsung menembak ke inti masalah, rasa frustrasinya pecah. "Maya sedang sakit keras. Tubuhnya dipenuhi lebam aneh dan dia ketakutan setengah mati. Rumah baru kami diteror hal-hal yang tidak masuk akal. Aku tahu ini perbuatanmu, kan. Aku tahu garis darah keluargamu! Hentikan semua ini, aku mohon!"

​Di seberang telepon, terdengar suara tawa kecil dari Sekar. Tawa yang sangat halus, sangat anggun, namun sanggup membuat bulu kuduk Aryo meremang hebat hingga ke tengkuk.

​"Sakit? Lebam? Mas Aryo, kamu ini bicara apa? Aku di sini hanya seorang janda yang sedang menikmati sisa hidup di desa, menjahit kain batik dan merawat rumah peninggalan bapak. Bukankah kamu sendiri yang bilang di kantor pengacaramu, bahwa sihir dan takhayul itu tidak ada di abad ke-21? Bahwa dinding beton Jakartamu bisa melindungi wanita mudamu dari segala hal?"

​"Sekar! Jangan main-main denganku! Apa yang kamu inginkan, hah?! Harta? Saham? Aku bisa ubah perjanjiannya! Aku bisa berikan lebih banyak uang untukmu, asal kamu hentikan kegilaan ini!" teriak Aryo, emosinya meledak di dalam ruang kerja yang sepi.

​Suara angin dan gemerisik bambu di seberang telepon mendadak berhenti secara instan, menyisakan sunyi yang teramat sangat mencekam.

Suara Sekar kembali terdengar, kali ini nadanya merendah, berat, dan sarat akan ancaman yang mematikan.

​"Uangmu tidak bisa membeli rahim yang subur, Mas. Dan uangmu tidak akan pernah bisa membayar harga diri yang sudah kamu injak-injak di depan altar pernikahan kita. Nikmatilah apa yang sudah kamu pilih. Lebam itu ... itu baru permulaan dari akar yang sedang tumbuh. Jaga baik-baik istrimu, Mas Aryo. Jangan sampai dia mati sebelum bayinya sempat menyapa dunia."

​Klik.

​Sambungan telepon diputus secara sepihak.

​Aryo terpaku, ponselnya perlahan turun dari telinganya. Tangannya gemetar hebat. Di dalam ruang kerja yang benderang oleh lampu meja, udara mendadak terasa sedingin es.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba aroma bunga kantil yang layu bercampur bau anyir darah berembus kencang entah dari mana, memenuhi ruangan kerja Aryo, membuat pria itu terbatuk-batuk sambil mencengkeram dadanya yang mendadak terasa sesak luar biasa.

​Di lantai atas, sayup-sayup terdengar suara Maya kembali menjerit histeris, menandakan bahwa teror lebam itu sedang bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

1
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
kinoy
dah lah speechless AQ..nr x ni baca crt mistis tp penjelasannya runtut jls
kinoy
ah tmbh seru aj ni crt
kinoy
cerdik x tuh detektif
Buna
ya Allah, jauh amat typo-nya. dari sekarat ke sejarah 😆😆😆
kinoy
wah..mulai ancur2an ni
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kenapa Mbah Sukri tahu soal kisah hidup Sekar yaa 🤔

Apakah cerita penghianatan Aryo telah beredar luas di desa Sekar?
Buna: Mbah Sukri bukan orang biasa, Kak. Penjelasan ada di Bab selanjutnya. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!