NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Menyembunyikan Monster Kecil

"Cepat lakukan, Lucas! Sial, aku sepertinya mulai mendengar samar-samar suara langkah kaki orang berjalan di jalan setapak depan rumah kita!" seru Sarah dengan nada suara tertahan yang dipenuhi kepanikan.

Lucas menarik napas panjang untuk memfokuskan gerakannya. Dengan sentakan martil kecil dan paku, pria itu dengan gerakan cepat memaku ujung kain tebal pada bingkai kayu bagian atas jendela, menutupi seluruh permukaan kaca yang membeku tanpa menyisakan celah sedikit pun.

Seketika itu juga, interior kamar tidur mereka berubah menjadi remang-remang dan gelap, karena seluruh penetrasi cahaya matahari pagi telah terhalang oleh lapisan kain tebal yang Lucas pasang.

"Sudah... semuanya sudah tertutup dengan rapat," gumam Lucas seraya turun dari kursi kayu dengan napas yang terengah-engah.

Keringat dingin bercampur dengan sisa hawa beku tampak membasahi dahinya yang lebar. Pria itu menempelkan telinga kasarnya pada dinding papan rumah kayu mereka, mendengarkan dengan saksama suara langkah kaki dan obrolan ringan para petani di luar yang perlahan-lahan mulai berjalan menjauh meninggalkan pekarangan bukit mereka.

Setelah merasa situasi di luar benar-benar aman, Lucas memutar tubuhnya, menatap Sarah yang masih berdiri kaku dengan tubuh merinding di samping boks bayi.

"Kita tidak akan pernah bisa bertahan jika terus-menerus menggunakan metode penyamaran seperti ini, Sarah. Kain seprai tua ini hanya bisa menyembunyikan visual bunganya, tetapi tidak akan pernah bisa meredam hawa dingin murni yang dipancarkannya. Jika ada salah satu kerabat atau warga desa yang nekat bertamu dan melangkah masuk ke dalam ruangan ini, mereka akan langsung merasakan sensasi dingin ekstrem seolah-olah sedang masuk ke dalam sebuah lemari es raksasa," tutur Lucas dengan nada suara penuh kecemasan yang mendalam.

Sarah mengusap kedua lengan atasnya yang dipenuhi bulu kuduk yang meremang akibat sisa suhu kamar. "Aku tahu betul risiko itu, Lucas. Tapi untuk detik ini, ini adalah satu-satunya cara fungsional yang bisa kita lakukan. Kita harus tetap bersikap tenang di luar rumah, seolah-olah seluruh kehidupan keluarga kecil kita berjalan dengan sangat normal di mata warga desa. Mulai hari ini, pasang larangan keras: jangan pernah biarkan ada satu orang pun tamu yang diizinkan untuk melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama ini, mengerti?"

Lucas menganggukkan kepalanya secara perlahan tanda setuju, meskipun di dalam hatinya yang terdalam, dia sadar betul bahwa menyembunyikan sebuah rahasia magis sedahsyat ini tidak akan pernah bisa bertahan lama hanya dengan modal selembar kain seprai tua.

Lucas melangkah dengan perlahan menuju ke sudut ruangan kamar yang paling gelap dan remang-remang. Di sana, di bawah tumpukan kain-kain bekas dan karung goni tua, tersembunyi sebuah peti kayu ek kuno berukuran sedang yang terkunci rapat oleh slot besi tebal.

Dengan tangan yang masih menyisakan getaran halus, Lucas merobek kancing kemejanya, mengeluarkan sebuah kunci perak usang berukir aneh dari kalung rantai yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat di balik dadanya.

"Apa yang sebenarnya sedang kau coba lakukan, Lucas?" tanya Sarah dengan nada suara berbisik yang teramat lirih, khawatir getaran suaranya akan kembali mengusik tidur White.

"Kakek buyutku... dia mendiang yang bukan sekadar berprofesi sebagai penebang kayu biasa di hutan purba ini, Sarah. Beberapa saat sebelum dia mengembuskan napas terakhirnya ratusan tahun lalu, dia mewariskan kunci perak dan peti kuno ini kepadaku. Beliau sempat berpesan dengan sangat serius bahwa suatu saat nanti, tatanan dunia fana ini akan berubah menjadi tempat yang teramat asing dan berbahaya, dan isi dari buku di dalam peti ini yang akan menjadi pemanduku untuk bertahan hidup," jawab Lucas sembari memasukkan kunci perak tersebut dan memutarnya hingga terdengar suara klik besi yang berat.

Lucas membuka penutup peti kayu tersebut. Di dalam rongganya, tergeletak sebuah buku tebal kuno bersampul kulit hitam pekat bertekstur kasar—kulit naga—yang sudah menghitam dimakan usia zaman. Jutaan butiran debu mikro berterbangan ke udara saat Lucas mengangkat buku masif itu keluar dari peraduan sunyinya.

Di bagian tengah sampul kulit tebal tersebut, tampak terukir sebuah lambang kuno berbentuk lingkaran matahari bersinar yang dikelilingi oleh jalinan pecahan kristal es yang tajam—sebuah simbol mistis yang selama ratusan tahun ini selalu dianggap Lucas hanyalah sebatas karya seni hiasan ukiran belaka tanpa makna.

"Kakek buyutmu... apakah beliau adalah seorang penyihir?" Sarah terbelalak lebar, hampir tidak mempercayai fakta sejarah keluarga suaminya sendiri.

"Penyihir pelindung klan malam," ralat Lucas pelan dengan nada suara yang sarat akan wibawa kuno.

Pria petani itu menaruh buku besar tersebut di atas meja kayu kecil, lalu mulai membalikkan satu per satu halaman perkamen kertas yang sudah menguning rapuh dengan gerakan tangan yang teramat hati-hati agar tidak merusaknya.

Gerakan jemari kasar Lucas mendadak terhenti di sebuah halaman tengah. Halaman tersebut menampilkan sebuah ilustrasi gambar tangan kuno yang teramat hidup: sesosok bayi mungil yang sedang mengambang di udara, dikelilingi oleh pusaran kepingan salju abadi di tengah-tengah hamparan gurun pasir yang gersang.

"Lihat dan baca baris kalimat ini dengan saksama, Sarah. 'Anak-anak Bintang dari dimensi Planet Diamond'" baca Lucas dengan suara serak yang bergetar hebat menahan badai emosi.

"Buku literatur kuno kakekku ini menyebutkan secara detail tentang eksistensi ras Pegasus dan ras Kristal murni. Mereka memendam sebuah inti energi kehidupan yang teramat masif dan memiliki suhu dingin mutlak di dalam jantung mereka sejak lahir. Jika anak-anak dari ras ini merasa terancam, mengalami stres emosional, atau kondisi psikologis mereka sedang tidak stabil, inti energi dingin tersebut secara otomatis akan melepaskan barier sihir untuk membekukan apa pun yang berada di sekitar radius mereka sebagai bentuk pertahanan diri absolut untuk melindungi nyawa mereka dari kematian."

Sarah melangkah mendekat, tubuhnya menempel pada bahu Lucas. Sepasang matanya menyusuri deretan tulisan tangan kuno dengan tinta hitam yang sudah memudar tersebut, membaca baris demi baris hukum magis semesta yang tertulis di sana.

"Jadi... putri kecil kita White adalah salah satu bagian dari anak-anak bintang ras Pegasus itu, Lucas?" gumam Sarah takjub, sebelum kemudian matanya terpaku pada sebaris kalimat peringatan berwarna merah di bagian bawah halaman.

"Tunggu... tapi di halaman bagian bawah ini tertulis sebuah peringatan fatal... kekuatan es murni milik mereka... bisa memicu daya tarik masif bagi para... pemangsa?"

Lucas menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang kian memucat pasi, seolah seluruh pasokan darah di tubuhnya telah menguap habis.

"Demon Energi dingin murni dari sisa-sisa ras klan Pegasus adalah magnet konsumsi yang paling dicari bagi bangsa Demon dan makhluk malam berdarah dingin lainnya," baca Lucas dengan suara yang kian serak dan beraura mencekam.

"Mereka memiliki kemampuan indra supranatural yang sanggup merasakan getaran sisa energi es murni ini dari jarak puluhan bahkan ratusan mil melintasi batas kota."

Seketika itu juga, Sarah dan Lucas saling berpandangan di dalam keremangan kamar tidur mereka. Sebuah gelombang ketakutan baru yang jauh lebih mengerikan kini merayap perlahan, mencengkeram relung hati kedua suami istri petani tersebut.

Krisis mereka saat ini bukan lagi sekadar memikirkan bagaimana cara menyembunyikan kaca jendela yang membeku dari penglihatan para petani desa Arcania, melainkan tentang fakta mengerikan bahwa para predator malam supernatural di luar sana—mungkin saat ini—sudah mulai menegakkan telinga mereka, mengendus aroma sisa energi es White yang mulai bocor ke atmosfer Bumi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!