"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahara kesal
"Harsa..... kang Herman...."
"Hei Sumi palsu!" bentak Sahara berkacak pinggang di atas pagar rumah Bintang.
"Harsa.... Kang Herman..."
"Ish.. kamu tuli ya, kalau tuli itu berobat dulu ke dokter sana jangan jadi hantu" gerutu Sahara melempar sosok Sumi palsu itu dengan satu buah batu kerikil dan sosok itu langsung kepanasan.
Bukh.
"Sstt... aduh aduh" ucapnya
"Aduh.. aduh.. sudah tuli loyo lagi apa perlu Sahara sembur dengan semburan naga Sahara" gumam Sahara masih berkacak pinggang di atas pagar.
Sosok itu kembali berjalan bolak balik di depan rumah Bintang sambil memanggil nama Harsa dan Herman, mengabaikan Sahara yang sebenarnya sudah dia lihat sejak tadi Sahara bolak balik ke rumah Bintang dan keluar untuk ke rumah Sigit
"Kamu cari masalah sama Sahara yang cantik cetar membahana ini, awas saja kamu ya" ucap Sahara manggut manggut.
"Harsa...."
Puk.
"Aduh!" pekiknya saat Sahara sekarang melemparkan batu besar ke arah sosok Sumi.
"Terus saja pura pura nggak lihat Sahara sejak tadi, nanti akan Sahara ganti pakai batu raksasa kalau kamu pura pura lagi" gerutu Sahara menunggu reaksi sosok Sumi.
"Harsa..."
"Ya Allah Sahara kesal sekali dengan hantu ini, dia sepertinya hantu yang masih TK!" kesal Sahara akhirnya turun dan berdiri di depan sosok Sumi itu.
Plak. Plak.
"Rasakan tamparan rasa istri sah dari Sahara! berani kamu mengganggu Keluarga apalagi Harsa yang masih polos dan belum mengenal cinta!" bentak Sahara menampar pipi sosok Sumi yang langsung terpental beberapa meter saking kuatnya tamparan Sahara.
"Hiks... Harsa...."
"Astagfirullahaladzim Sahara benar benar marah Ini!" pekik Sahara mengeluarkan bola api dalam mulutnya dan membakar sosok Sumi yang sekarang menghindar.
"Nah kan ketahuan kamu cuma pura-pura , Sumi asli itu tidak pernah mengacuhkan Sahara, dia itu baik dan tidak sombong seperti kamu, pergi sana" ucap Sahara
"Kenapa aku harus pergi!" ucap sosok itu yang sekarang berubah memiliki energi gelap dan menatap tajam Sahara.
"Ya karena kamu harus pergi lah, kamu buat orang pusing dan berisik, ada bayi sedang tidur, bayi besar Sahara namanya Dirga, Harsa dan Dimas, cepat pergi karena Sahara harus puk puk mereka!" jawab Sahara
"Aku juga bisa melakukan itu" ucapnya
"Hihihihi... tidak ada makhluk halus yang boleh sentuh manusia milik Sahara selain Sahara sendiri! ingat itu!" ucap Sahara meledek
"Ggrrrr! rasakan serangan ku!" bentak sosok Sumi maju dan menyerang Sahara.
Sahara sama sekali tidak takut, dia menghindari serangan sosok itu dengan mudah bahkan beberapa kali menendang sosok itu hingga terpental beberapa meter karena sosok itu menurut Sahara adalah sosok lemah.
"Aaakhhh!" pekik sosok itu saat Sahara menjambak rambutnya hingga terlepas.
"Kamu dari tadi hanya mengulur waktu Sahara kan, dengarkan ini ya, aku Sahara tidak akan pernah membiarkan sosok apapun mengganggu ketentraman keluarga cah Bagus, dia Itu anakku! jadi jangan ganggu mereka" ucap Sahara yang sekarang menatap datar sosok yang sedang berteriak karena kesakitan seluruh rambutnya terlepas.
"Hiks... ampun, ampuni aku..." lirihnya karena dia tidak tahu kalau Sahara adalah sosok yang kuat.
"Terlambat, kamu sudah membuatku marah dan Kemarahan Sahara tidak akan bisa membuat kamu selamat" jawab Sahara menginjak sosok itu hingga sosok itu terbakar di kaki Sahara yang sama sekali tidak merasa kepanasan.
"Akhirnya... aduh Sahara butuh yang adem adem, anak anak Sahara mana ya, Sahara mau ajak mereka ke rumah Sigit, Kenanga masak telur balado" gumam Sahara merapikan pakaian dan rambutnya kembali.
"Ibunda, Ibunda kenapa ceroboh" ucap Argadana yang sudah ada di belakang Sahara.
"Ceroboh bagaimana?" tanya Sahara
"Lihat ini, sosok yang sudah jadi debu itu sudah meninggalkan sesuatu di baju Ibunda" jawab Argadana menunjuk sesuatu yang ada di ujung baju depan Sahara.
"Iya Ibunda, lihat di baju Ibunda ada kutunya, ini kutu gaib yang bisa menyedot energi yang dia tempeli" ucap Anggadana .
"Iuhh... kutu? jauhkan itu dari rambut indah Ibunda, nanti rambut ibunda jadi banyak kutu dan tidak akan di usap Ayahanda kalian" ucap Sahara merinding.
"Biar Arga ambil Ibunda, Arga punya rencana bagus" ucap Argadana
"Iya iya, ambil saja dan bilang pada Amartha jangan keluyuran, Ibunda mau temani ayah kalian dinas di luar rumah cah Bagus dulu" ucap Sahara segera menghilang setelah kutu itu di ambil Argadana.
"Hahahha... lihat Angga, kita punya mainan baru, ayo kita buat kerusuhan di tempat Rudin" ajak Argadana
"Radini" ucap Anggadana
"Ibunda panggil dia Rudin jadinya namanya Rudin" balas Argadana merangkul Anggadana.
Mereka menghilang dari sana, mereka akan mengawasi lahan Radini terlebih dahulu terutama rumah Radini yang selalu tidak pernah bisa mereka masuki karena di penuhi dengan energi Luca yang begitu kuat. Dan jika ada celah mereka akan masuk untuk membalas perbuatan iblis Luca itu.
•••••••••••••••
Pagi harinya.
Pagi itu Dirga berkeliling rumah Lingga untuk mencari bau yang cukup menyengat dan membuat beberapa para pekerja yang sedang memperbaiki rumah Bintang merasa terganggu dengan baunya. Dan setelah lama mencari bersama Dimas, ternyata Itu adalah sebuah jari tangan yang mungkin adalah milik salah satu sosok itu karena jari tangan itu masih terus bergerak kesana kemari.
"Bakar langsung Dirga" ucap Dimas
"Iya kak" jawab Dirga mendoakan jari tangan itu terlebih dahulu lalu membakarnya sampai jadi abu dan abunya dia simpan untuk di satukan dengan makam sepuluh mayat yang terpaksa mereka bakar beberapa hari yang lalu.
"Sekarang kamu bersiap ikut Sigit, kakak mau ke bengkel, dan satu lagi, jangan tanggapi kalau Radini datang menemui kamu, jauhi dia" ucap Dimas
"Memangnya Dirga menanggapi dia kemarin kemarin? Dirga juga cuekin dia ko" jawab Dirga ketus
"Ya mungkin saja ada sikap kamu yang buat dia tertarik, dia itu tipe perempuan yang teliti, tidak mungkin akan menyerah begitu saja kalau mengincar seseorang" ucap Dimas
"Dia kan sudah menikah kak, tidak mungkin datang ke sini lagi" ucap Dirga
"Kamu tidak patah hati memangnya?" ledek Dimas
"Dirga akan patah hati kalau sarapan buatan kak Kania habis" jawab Dirga langsung berlari ke arah rumah Lingga lagi.
"Hei anak kurang ajar! sudah tua juga bukannya tobat malah mau jadi pebinor!' teriak Dimas terkekeh dan ikut menuju ke arah depan rumah Lingga.