Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEO YANG KU TABRAK.
Hujan tipis mengguyur kota New York sejak pagi. Deretan gedung pencakar langit berdiri megah, memantulkan cahaya matahari yang tertutup awan kelabu. Di antara bangunan-bangunan itu, berdiri Wesley Corporation, perusahaan teknologi dan investasi terbesar yang dipimpin seorang CEO muda yang terkenal dingin sekaligus berpengaruh, Galaxy Adelion Wesley.
Di hari pertamanya sebagai anak magang, jantung Grizella Madeline Dealova berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya.
Ia merapikan blazer hitam yang sedikit kebesaran, lalu menarik napas panjang.
"Aku tidak boleh gagal. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali."
Grizella berasal dari keluarga sederhana. Mendapatkan kesempatan magang di perusahaan kelas dunia adalah impiannya sejak lama. Ia bertekad membuktikan bahwa kemampuan lebih penting daripada koneksi.
Begitu pintu lobi terbuka, matanya langsung dibuat kagum oleh kemewahan interior perusahaan. Lantai marmer mengilap, lampu kristal raksasa, serta para karyawan yang berlalu-lalang dengan pakaian formal membuatnya sedikit gugup.
Namun rasa gugup itu segera berubah menjadi semangat.
"Aku pasti bisa."
Seorang staf HR menghampirinya.
"Selamat datang, Nona Grizella. Mari saya antar ke ruang orientasi."
Grizella mengangguk sopan.
Selama pengarahan, para peserta magang diberi tahu mengenai aturan perusahaan. Salah satunya adalah larangan mengganggu CEO.
"Kalau bertemu Tuan Galaxy," ujar HR, "usahakan jangan membuat kesalahan sekecil apa pun."
Beberapa peserta langsung saling berbisik.
"Aku dengar beliau pernah memecat direktur hanya karena laporan terlambat lima menit."
"Katanya wajahnya saja sudah bikin orang gemetar."
Grizella hanya tersenyum tipis.
"Sehebat apa pun seorang CEO, dia tetap manusia."
Sementara itu...
Di lantai paling atas.
Galaxy Adelion Wesley sedang memandang hamparan kota New York dari balik jendela kaca setinggi langit-langit.
Setelan jas hitam yang dikenakannya membuat sosoknya terlihat semakin berwibawa.
Wajahnya tampan dengan tatapan tajam yang sulit ditebak.
Namun di balik semua itu, masih tersimpan luka yang belum sembuh.
Pandangannya tanpa sengaja berhenti pada sebuah bingkai foto yang terletak di sudut ruangan.
Foto pernikahannya.
Dengan satu gerakan dingin, ia membalik bingkai itu hingga menghadap meja.
"Jangan pernah percaya pada cinta lagi..."
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk."
Sekretarisnya datang membawa jadwal.
"Tuan Galaxy, hari ini ada orientasi anak magang."
Galaxy hanya mengangguk.
"Batalkan semua yang tidak penting."
"Baik, Tuan."
Di sisi lain, Grizella diminta mengantarkan beberapa dokumen ke ruang arsip.
Ia membawa setumpuk map sambil membaca petunjuk lokasi di ponselnya.
"Ruang arsip... belok kanan... lalu lift khusus?"
Karena terlalu fokus membaca arah, ia tidak menyadari seseorang berjalan dari arah berlawanan.
Bruk!
Seluruh map terlempar ke lantai.
Bahkan secangkir kopi panas ikut tumpah mengenai jas hitam mahal milik pria itu.
Suasana lorong seketika membeku.
Semua karyawan yang melihat kejadian itu langsung menahan napas.
"Waduh..."
"Itu... CEO!"
Grizella mendongak.
Matanya bertemu dengan sepasang mata tajam yang memancarkan wibawa luar biasa.
Pria itu tinggi, tampan, dan memiliki aura dingin yang membuat siapa pun enggan mendekat.
Galaxy Adelion Wesley.
CEO perusahaan ini.
Grizella langsung berdiri.
"Maaf. Saya tidak sengaja."
Galaxy menatap noda kopi di jasnya.
Tatapannya dingin.
"Kau pikir kata maaf bisa membersihkan jas ini?"
Nada bicaranya datar, tetapi cukup membuat seluruh lorong terasa mencekam.
Grizella mengangkat dagunya.
"Saya memang salah. Tapi Tuan juga berjalan sangat cepat tanpa melihat depan."
Semua orang langsung membelalakkan mata.
Tidak ada yang pernah berani membantah Galaxy.
Sudut bibir Galaxy bergerak tipis.
Bukan marah.
Melainkan... tertarik.
"Namamu?"
"Grizella Madeline Dealova."
"Anak magang?"
"Ya."
Galaxy menatapnya beberapa detik.
Berbeda dengan semua orang yang selalu gemetar di hadapannya, gadis ini justru berani menatap balik.
Keberanian itu terasa... menyegarkan.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Galaxy berjalan meninggalkannya.
Para karyawan langsung mengerumuni Grizella.
"Kau gila?"
"Itu CEO!"
"Kupikir tadi kau bakal langsung dipecat."
Grizella menghela napas pelan.
"Kalau memang harus dipecat karena kecelakaan, berarti perusahaan ini tidak seadil yang kukira."
Ucapan itu tanpa sengaja terdengar oleh Galaxy yang belum benar-benar pergi.
Pria itu berhenti melangkah.
Lalu tersenyum sangat tipis.
Senyuman yang bahkan belum pernah dilihat para direksi.
Sore harinya...
Grizella dipanggil ke lantai paling atas.
Semua peserta magang memandangnya dengan rasa iba.
"Habis sudah."
"Pasti mau dipecat."
Grizella mengetuk pintu ruang CEO.
"Masuk."
Ruangan itu begitu luas dengan pemandangan seluruh kota New York.
Galaxy berdiri membelakanginya.
Tanpa berbalik, ia berkata,
"Mulai besok kau tidak perlu mengikuti program magang."
Grizella mengepalkan tangan.
"Kalau memang saya dipecat, saya terima."
Galaxy akhirnya berbalik.
Tatapan matanya lurus ke arah Grizella.
"Bukan."
Ia berjalan perlahan hingga berdiri tepat di depan gadis itu.
"Aku punya pekerjaan yang jauh lebih cocok untukmu."
Grizella mengernyit bingung.
Galaxy menyelipkan kedua tangannya ke saku celana.
Mulutnya membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.
"Mulai besok..."
"Kau menjadi asisten pribadiku."
Grizella membeku.
Ia bahkan tidak sempat menjawab ketika Galaxy menambahkan satu kalimat lagi.
"Dan ada satu syarat yang tidak bisa ditawar."
"Bersiaplah tinggal bersamaku di penthouse mulai besok."
Deg!
Jantung Grizella seolah berhenti berdetak.
Sementara di balik pintu ruang CEO, sepasang mata wanita misterius memperhatikan semuanya dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku tidak akan membiarkan wanita itu merebut Galaxy dariku..."
Grizella memeluk erat setumpuk map berisi dokumen yang harus diantarkan ke ruang arsip. Ia terus melangkah menyusuri lorong panjang Wesley Corporation sambil sesekali melihat petunjuk arah di ponselnya.
"Ruang arsip... belok kanan, lalu lift khusus," gumamnya pelan.
Karena terlalu fokus membaca petunjuk, ia tidak menyadari seseorang sedang berjalan dari arah berlawanan dengan langkah cepat dan mantap.
Bruk!
Tubuh mereka bertabrakan cukup keras.
Map-map yang dibawa Grizella berhamburan ke lantai. Bersamaan dengan itu, secangkir kopi panas yang dibawa salah satu staf ikut terlepas dan tumpah tepat mengenai jas hitam pria tersebut.
Suasana lorong mendadak sunyi.
Semua mata langsung tertuju kepada pria yang kini berdiri diam dengan jas mahalnya yang ternoda kopi.
Beberapa karyawan langsung menelan ludah.
"Astaga..."
"Itu Tuan Galaxy..."
"Anak magang itu tamat."
Grizella buru-buru berjongkok mengambil dokumen yang berserakan.
"Maaf... saya benar-benar tidak sengaja."
Tidak ada jawaban.
Saat ia mendongak, napasnya tertahan.
Pria di hadapannya memiliki postur tinggi, wajah yang nyaris sempurna, serta tatapan dingin yang membuat udara di sekitar terasa membeku.
Dialah Galaxy Adelion Wesley.
CEO Wesley Corporation.
Galaxy melirik noda kopi di jasnya, lalu kembali menatap Grizella.
"Kau pikir satu kata maaf cukup?"
Nada suaranya tenang, tetapi begitu tajam hingga membuat semua orang bergidik.
Grizella menarik napas panjang.
"Saya memang salah karena tidak melihat jalan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Tapi Tuan juga berjalan sangat cepat tanpa memperhatikan orang lain."
Kalimat itu membuat seluruh lorong seolah kehilangan suara.
Tidak ada seorang pun yang pernah berani membalas ucapan Galaxy seperti itu.
Seorang manajer bahkan hampir menepuk dahinya sendiri.
"Habis sudah..."
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Galaxy menatap Grizella beberapa detik lebih lama.
Tatapan gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Yang ada hanyalah keberanian dan rasa tanggung jawab.
Hal itu membuat Galaxy merasa penasaran.
"Siapa namamu?"
"Grizella Madeline Dealova."
"Anak magang?"
"Ya."
Galaxy mengangguk tipis.
"Berani juga."
"Bukan berani," jawab Grizella tenang. "Saya hanya mengatakan kenyataannya."
Beberapa karyawan nyaris pingsan mendengar jawaban itu.
Galaxy memalingkan wajahnya.
"Aaron."
Seorang pria berkacamata segera menghampiri.
"Ya, Tuan."
"Ganti jas ini."
"Baik, Tuan."
Galaxy kembali menatap Grizella sebelum berjalan melewatinya.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat berkata tanpa menoleh,
"Jangan membuat kesalahan lagi."
Grizella menghela napas lega.
"Saya akan berusaha."
Setelah Galaxy pergi, suasana langsung riuh.
"Kamu luar biasa."
"Aku kira kamu langsung dipecat."
"Belum pernah ada yang berani membantah CEO."
Grizella hanya tersenyum tipis.
"Aku hanya tidak ingin diperlakukan seperti orang yang bersalah sendirian."
Dari kejauhan, Galaxy yang belum masuk ke lift sempat mendengar ucapan itu.
Entah mengapa, sudut bibirnya terangkat sangat tipis.
Sudah bertahun-tahun tidak ada orang yang berani berbicara jujur di hadapannya.
Dan gadis magang itu... berbeda.
Tanpa diketahui Grizella, sejak saat itu perhatian sang CEO mulai tertuju kepadanya.
Pintu lift terbuka perlahan.
Begitu keluar, Grizella langsung disambut suasana yang jauh berbeda dari lantai-lantai lain. Koridor dipenuhi dekorasi mewah, lantai marmer mengilap, dan jendela kaca yang memperlihatkan panorama Kota New York dari ketinggian.
Di ujung lorong, terpampang sebuah pintu besar dengan tulisan berwarna emas:
CEO – Galaxy Adelion Wesley
Grizella menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.
"Masuk."
Suara berat itu terdengar tenang, tetapi penuh wibawa.
Ia membuka pintu perlahan.
Ruangan itu sangat luas. Di balik meja kerja berwarna hitam, Galaxy sedang berdiri menghadap jendela, membelakangi Grizella.
"Selamat sore, Tuan. Anda memanggil saya?"
Galaxy tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang membuat Grizella semakin gugup.
Akhirnya, Galaxy berbalik.
Tatapan matanya kembali bertemu dengan mata Grizella.
"Namamu Grizella Madeline Dealova."
"Benar, Tuan."
"Kau tahu kenapa kupanggil?"
Grizella menelan ludah.
"Kalau karena kejadian tadi... saya sungguh minta maaf."
Galaxy menggeleng pelan.
"Aku tidak pernah memanggil orang hanya untuk mendengar permintaan maaf."
Ia berjalan mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah.
"Aku memperhatikanmu sejak pagi."
Grizella mengernyit bingung.
"Nilaimu selama seleksi magang paling tinggi. Kau juga satu-satunya orang yang berani membantahku tanpa kehilangan sopan santun."
Grizella terdiam.
Ia sama sekali tidak menyangka Galaxy mengetahui hasil seleksinya.
"Tapi..." lanjut Galaxy, "aku melihat sesuatu yang lebih berharga."
"Apa itu?"
"Kejujuran."
Ruangan kembali sunyi.
Galaxy menatapnya lekat-lekat.
"Aku membutuhkan seseorang yang berani mengatakan kebenaran, bukan seseorang yang hanya pandai menjilat."
Jantung Grizella berdegup semakin cepat.
"Apa maksud Tuan?"
Galaxy kembali ke mejanya, lalu mengambil sebuah map berwarna hitam.
Ia meletakkannya tepat di hadapan Grizella.
"Mulai besok, kau tidak lagi menjadi anak magang."
Grizella membeku.
"Apa... saya dipecat?"
"Tidak."
Galaxy menyilangkan kedua tangannya.
"Aku mengangkatmu menjadi asisten pribadiku."
Mata Grizella membelalak.
"Sa-saya?"
"Ya."
"Tapi saya belum punya pengalaman."
"Itu urusanku."
"Tapi masih banyak karyawan yang lebih senior."
Galaxy tersenyum tipis.
"Mereka berpengalaman."
"Lalu kenapa saya?"
"Karena aku memilihmu."
Jawaban singkat itu membuat Grizella kehabisan kata-kata.
Galaxy lalu menyerahkan sebuah dokumen kontrak.
"Ada satu syarat."
Grizella mulai membaca isi kontrak itu.
Semakin dibaca, matanya semakin melebar.
"Ini..."
"Kau harus tinggal di penthouse milikku selama menjadi asisten pribadiku."
"Apa?!"
Galaxy tetap tenang.
"Asisten pribadiku harus siap bekerja kapan pun dibutuhkan."
Grizella langsung menggeleng.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menerima syarat seperti itu."
Galaxy menatapnya tanpa berkedip.
"Kau boleh menolak."
"Tapi kesempatan ini tidak akan datang dua kali."
Ucapan itu membuat Grizella terdiam.
Di luar ruangan, seorang wanita bergaun putih berdiri sambil mengepalkan tangan.
Tatapannya dipenuhi kebencian saat melihat Grizella keluar dari ruang CEO membawa kontrak di tangannya.
Wanita itu tersenyum sinis.
"Galaxy..."
"Aku sudah kembali."
"Dan aku akan memastikan gadis itu menyesali hari ketika dia bertemu denganmu."
Sementara itu, Grizella sama sekali tidak menyadari bahwa sejak hari pertama magangnya, ia telah menjadi sasaran kebencian seseorang dari masa lalu Galaxy.
Grizella harus memutuskan dalam waktu 24 jam—menerima tawaran menjadi asisten pribadi CEO sekaligus tinggal satu atap dengannya, atau menolak kesempatan yang bisa mengubah hidupnya selamanya.